Latest Event Updates

SALAM RINDU

Posted on Updated on

SAUDARA/SAUDARI ANGGOTA RUMAH TEDUH YANG BUDIMAN,

APAKAH  SAUDARA/SAUDARI SEKALIAN TAU NOMOR TELFON FAIZ MOHAMMAD ATAU FATRIS MOHAMMAD. KALAU ADA YANG TAU TOLONG KASIH TAU ADMIN YA, ADMIN SEDANG KANGEN INI. HEHEHE…

TERIMAKASIH.

EH YA, SALAM KEMANUSIAAN!

Carding; Kejahatan Gaya Baru

Posted on Updated on

Dedy Heriyanto 

 

Carding adalah penipuan kartu kredit bila pelaku mengetahui nomor kartu kredit seseorang yang masih berlaku, maka pelaku dapat membeli barang secara on-line yang tagihannya dialamatkan pada pemilik asli kartu kredit tersebut, sedangkan pelakunya dinamakan carder.[1]

Penyalahgunaan kartu kredit dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu[2] :

  1. kartu kredit sah tetapi tidak digunakan sesuai peraturan yang ditentukan dalam perjanjian yang telah disepakati oleh pemegang kartu kredit dengan bank sebagai pengelola kartu kredit.
  2. Kartu kredit tidak sah/palsu yang digunakan secara tidak sah pula.

Selain itu, carding merupakan terminologi yang biasa digunakan para hacker bagi perbuatan yang terkait penipuan menggunakan kartu kredit Baca entri selengkapnya »

Sajak-sajak Tak Berjudul

Posted on

rumah tinggal menyimpan plaza wisata dalam tubuh kita adalah perdu tempat mengadu para pecandu petang hendak berpulang, ke pelukmukah malam? seribu kaki kekanak mendatangi rumah, menyimpan salam di pintalan rambut. menggerus patahan yang lekang adanya kemarau. tubuhku pukau. janggutmu risau. lalu jejantung seperti kehilangan debur laut. mencoba menyulam karang perkenakan di gunduk pasi. dalam diri menyimpan kayuh patah lalu kau akan pulang? di ladang benih menyemai sendiri lengang. hati-hati menjaga diri. pada riang berpasang rajuk, bisik memusing setapak tatap. di halaman kita, putik bunga tak jadi ditelan pejalan yang lalu lalang. kandas di gang-gang. dalam tulang mengguris ritus purba peninggalan hujan hendak di bawa kemana geladak yang sesak? segala labuh karam dalam jantung

kandangpadati-07 –

aku, malam; dalam rumah dan dirimu serantih teluknya dalam, batang kapas lubuk tempurung kami ini seumpama balam, mata lepas badan terkurung

/1/

akulah sesuatu yang selalu mengaku ragu adanya teduh dalam rumah yang telah jauh mengikat kita serupa halnya rambut akar yang menjalar di sepanjang lajur tanah gembur. dan sebagian dari itu hanyalah nasib baik yang terlalu sering menumbuhkan rindu pada diri masing-masing kita membuat retakan-retakan baru di tubuh lain yang mengiris garis luka serupa darah dan airmata hanya pelengkap helat yang menghampar tubuh barangkali kau sempat hafal geriap yang kadang melesap ke muka kita lewat wajah yang tenggelam dalam cibir. menumpah tiap lelangkah yang menetak tiap jalan yang sering kali kau jatuh di situ sementara dalam sendiriku aku menantimu datang mengembala hujan sebab seluruh jiwa yang ada dalam diriku dihujam kemarau

/2/

hanya dalam malam-malamku bersendiri menubuh mimpi inilah sebab segala yang buruk kutinggalkan tentang kalian juga tentang diriku yang tak sulit buat menterjemah cuaca yang lalu ke liuk langkah orang-orang yang sering sekali bertamu ke halaman kita sebut saja mereka para pendatang dengan seribu dendang berpagut di suara-suara musim yang semakin berat sepanjang perjalanan buat melipat senyum dalam mimpipun aku tak punya daya entah barangkali dalam lukaku kalian menari serupa hujan yang selalu menghantui tubuh gigilku, lalu kenapa ragu?

/3/

mungkin aku kelewat cinta bau matahari yang melewati beranda kita hingga aku hanyut lalu di kicau burung yang sering hinggap menelurkan berikat temali yang kali ini semakin meniup-niup pucuk nadi, biarlah tak akan bersemayam dendam meski kau tumpah beribu sumpah ke dalam jantungku yang mendetak-detak gelak menggeletar serupa setampuk dahan menggugur daun dihoyak badai pasang /4/ sementara aku dalam dirimu hanyalah tingkah pujangga— mengikis hari dengan bersendawa lewat sesuara serak yang tak jarang memekak telinga mata ini kasip memejam malam hingga subuhku luka alir darahnya sederas arus bandar dipasung cewang hujan, hujamlah segala kenang akan tikar pandan yang menghela kita dan kisah-kisah patah dalam takut dan hampir seluruh waktu mengerubungi tiap tidur dan jaga

2007

 

TENTANG PENULIS

 

Zulham, Lahir di Bukittinggi pada tanggal 23 Juli tahun 1986.

Nasib Buruk Anak PKI di Atas Panggung

Posted on Updated on

Ini tentang Sumarah, ini tentang seorang perempuan (dan juga jutaan orang di Indonesia) yang hidup di bawah bayang-bayang tragedi 65’. Dia yang bapaknya dibunuh karena dituduh terlibat dalam partai (komunis). Dia, perempuan itu, lalu mewarisi ‘dosa’ bapaknya. Cap bapaknya juga melekat pada dirinya seperti tanda cacar masa kecil yang sulit dihapus.

Kekuasaan telah mencapnya, juga lingkungan sosial, menghukumnya tanpa ampun. Karena cap itu, cintanya kandas.  Suatu ketika, Sumirah mencintai seorang tentara. Namun, tidak mungkin seorang tentara akan mencintai seorang yang pada nadinya mengalir “darahnya” PKI. Karena cap itu pula cita-citanya patah sebelum berkembang. Ketika ia hendak melamar pekerjaan, tidak satu instansi pemerintah pun yang bisa menerima walau nilai pada ijasahnya di atas rata-rata. Lagi-lagi “bayangan bapaknya” menguntit di belakang namanya.

“Saya ingin lari, mencari tempat di mana bayangan bapak tidak lagi dapat menguntit,” kata Sumarah dalam kalut. Lalu ia memutuskan berangkat ke negeri asing, walau melewati birokrasi yang rumit dan bertele-tele, sogok sini sogok sana. Ia telah memutuskan bahwa di negeri asing ia akan tenang, tanpa diikuti oleh “bayangan bapak”.  Ia memilih hidup jadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang dikirim ke luar negeri. “Saya satu-satunya TKW dengan NEM teringgi ketika itu,” begitu akunya.

Sekarang ia hadir di persidangan, di depan hakim, di hadapan penonton. Dengan kepala mendongak dan tatapan lurus, ia mengakui membunuh majikannya sendiri. Ia seorang pembunuh. Apa yang terjadi, Sumarah? Baca entri selengkapnya »

Delvi Yandra meraih Anugrah Adiwarta

Posted on Updated on

JAKARTA- Delvi Yandra oleh teman-temannya akrab disapa Kudil meraih dua penghargaan sekaligus dalam Anugerah  Adiwarta 2011 yang diumumkan Kamis (8/12) malam di Jakarta: jurnalis muda berbakat dan menyisihkan dua pesaing di kategori seni budaya. Karier jurnalistik profesionalnya bermula di Harian Haluan. “Menarilah Mun, Tegakkan Kepalamu…” Tulisan satu halaman koran (plus foto) itu menghiasi halaman rubrik “Panggung” edisi 19 Juni 2011 di Haluan terbitan Padang. Artikel itu ditulis Delvi Yandra, yang penggiat Teater Rumah Teduh. Baca entri selengkapnya »