foto:faizmohammad
Rumahteduh,community
(sebuah komunitas baca)
-pendiddikan, seni, sastra, dan budaya, juga kehidupan dan (T-t)uhan
Redaktur dan Pengelola Blog: Drs. Moh F. Musik: Poppy Zonia (redaktur) Feri, Eko Jibril, Wahyu Aconk. Teater: Muhammad Fadhli (redaktur), Wawan, Benny Atjeh, Doni Boy Nugraha, Sutan Teguh, Eel Maiza, Suhu dan Kiot Saputra. Photography: Muhammad Iqbal (redaktur), Fais Mohammad, Yendra Brutus, Iki. Puisi: , Ben Tan Matee (redaktur), Ired, Ade Kubu. Esai dan Opini: Yani Fisip(redaktur), Fina, Nori. Cerpen: Delvi Yandra(redaktur), Indri. Artikel dan Resensi: Dedy Botak (redaktur),Rahmat Qodri Alang Sagara, Ika SH, Meiza Dona. Berita: Eko Gagah Genta redaktur), Indri Mawardi, Sri Rahma Yeni. Hal-hal yang tak Penting :Rara Azzura(redaktur), Esha Tegar Putra, Fina Kawek, Riko Samek.Penerjemah:Edo Virama Putra, E.Syahadataini Bach.
Alamat Redaksi: PKM Unand, Lantai 2 sayap kanan, Universitas Andalas Padang Sumatera Barat, Indonesia. E-mail: teaterrumahteduh@yahoo.co.id, komunitasrumahteduh@gmail.com. Telpon:+62 751 8214064.
Rumahteduh,community tak lain hanyalah sebuah rumah baca, sebuah rumah untuk menulis, ber-akting, bermusik, berkarya. Ia tetap sebagai rumah yang menyimpan banyak si durhaka di dalamnya, juga si Malin Kundang yang kehilangan arah kembali. Inilah rumah bagi yang kehilangan rumah.
Rumahteduh juga tidak membuka diri bagi tamu yang berkunjung, baik ke blog atau pun ke perkumpulan rumahteduh. Untuk itu kami menerima kiriman tulisan berupa esai, puisi atau apa saja. Kirimkan ke: komunitasrumahteduh@gmail.com atau ke: teaterrumahteduh@yahoo.co.id
Terimakasih,
Redaktur.


selamat pagi
kalau bisa muat juga agenda-agenda rumahteduh ke depannya, atau yang sudah lalu +gambarnya,
thanks
kok masih kosong?
“
redaktur.!!!
redaksinya masih kosong!
mungkin ada kesalahan teknis!
nb: ini bang fahmi yang dulunya sastrawan Sumbar itu kan?
waduh…ternyata Nama-nama besarlah yang berada dibelakang tampilan yang bernama Blog Rumah Teduh ini, saya jadi segan.
hah?Lejen?Bagaimana tuan Redaktur?
hidup rumahteduh hidup rumah teduh
semangat bwt jiwa yg tetenyot
hohohoho
salam bwt hati yg tetenyot
hohoho
hidup rumahteduh
hidup….
apa kbr dunia bru ku????
core ne gi pain???
rumah teduhhhhhhhhh…………
blh gabung gak?
silahkan, mau pesan apa?
om nurul….
pakabar???
pengin nongkrong bareng di ancol lagi.. hhehehe…. kapan kawin???
Untuk para redaksi selamat bekerja…!
diskusi cukup baik, tapi bayak seliweran Hal-hal yang tak penting ya…jadi chaos kesannya..pening juga
hehehehe…
buat brutus
bukan sastrawan brut
jangan buat issu,
apa kabar?
salam buat semua crew rumah teduh
KAPAN PADA MAU TAMAT?
Teman-teman sanggar yang baik…
ku pikir menarik ’singgah’ disini.
Aku, febri diansyah. Kebetulan punya kesempatan belajar banyak–meskipun hanya beberapa malam yang tidak terlalu mesra–di Unand, khususnya PKM.
Dulu, di Sanggar (Tahun 2000), kemudian terdampar. Jauh. Kendati sempat pulang sebentar.
Salam kenal untuk teman-teman…
jika sempat silahkan singgahi beberapa satu “keresahan berpikir” ku dalam beberapa tulisan di:
http://www.febridiansyah.wordpress.com
Karena aku percaya, menulis adalah satu cara melawan lupa.
(diadopsi dengan ’sesuka hati’ dari Milan Kundera)
Salam,
Febri Diansyah
yang baik hati, Bung nurul fahmy
di bolg ini “hal-hal yang tak penting”lah yang menjadi kelebihannya dibanding blog2 lain yang “serius”, tetapi yakinlah Bung, itulah Pergerak-an!semoga setelah terbiasa “Maracaw”menulis komen, kami akan bisa menulis “serius” kelak.
hahahahahahhahahah
di fonto ntu, Qiot paliang buruak!
perge, bilo ang ka bawah lai?
Bung Ben, makanya, usaikan prosesmu di sana, masih banyak tantangan lain, yang tentunya juga menarik di sini (Jambi). Kawin? wah sudah pernah tuh
Ketua Pemuda, okelah kalo begitu, tak perlu risau, teruskan aja sampe bosan, nanti bisa eksplorasi bentuk lain. yang lebih santai tapi agak sedikit “serius”.
Sampai hari ini, Insyaallah saya masih menulis. tapi mungkin publikasi di Padang memang agak jarang. sebab ada medan baru yang kayaknya lebih asik buat sasaran mortir, hehehe. dan kalo kawan-kawan pingin juga melempar mortir ke sini (jambi), saya persilahkan, ke email: budaya_je@yahoo.com, atau jambi_inde@yahoo.com, atau posmetro_jambi@yahoo.com
Kunjungi juga nurulfahmy.wordpress.com, di sana ada sebagian tulisan saya yang dimuat di beberapa media.
salam
semoga bung Nurul
sabar bung nurul..
masih ada sisa perang disini yang harus diselesaikan, dan…
jika bung bersedia silakan jadi penyaksi atau beraksi
sekaligus!!!
tertarik??
tunggu saja….
bung febri yang baik…
salam kenal juga buat bung,
semoga bung betah singgah di rumahteduh ini
dan silakan nikmati secuil sajian ringan kami
oya, bung bilang sempat mengalami malam yang tidak terlalu mesra di PKM. kapan2 kunjungi PKM baru sekarang. sebab kami semua saat ini merasa sangat mesra bersama uda PEMBANTU yang berwajah imut dan lucu yang sekarang telah memiliki satu sanggar yang sangat besar ruangnya hingga mengorbankan ruang-ruang berkreatifitas mahasiswa.
lainnya… saat ini juga ada sanggar madani mart yang menyediakan segala kebutuhan mulai dari pasta gigi sampai roti tawar segala merek, minuman ringan, mie instan, susu kaleng, sabun mandi/cuci, cukur jenggot, produk kecantikan, tak ketinggalan pelurus rambut kriting brangin, pembalut extra, doedorant, pemutih wajah, eskrim bermutu, dan segala kebutuhan lain. silakan bung kunjungi segera sanggar yang satu ini.
selamat bernostalgia…
salam
untuk teman di Rumah Teduh..

bukankah kita sebaiknya terus belajar…
Tp, thx comment nya di
http://www.febridiansyah.wordpress.com
ya..
Oh ya, sebenarnya aku percaya, tanpa harus mendaku sebagai yang terbaik, rumah teduh akan tetap dikunjungi…
Dan satu hal, tentu akan jauh lebih baik jika sarana blog ini kita jadikan tempat diskusi ketimbang sekedar pemenuhan hasrat eksistensialisme.
(ga apa2 ya kalau aku tulis begini
Btw, kupikir kita “rindu” perjumpaan pemikiran teman-teman hingga di ruang publik yang lebih luas. Ya, misalnya surat kabar nasional itu…
Aku percaya intelektual Unand, khususnya RUMAH TEDUH tidak kalah dengan orang-orang yang riuh di pulah sesak ini.
Salam,
Febri Diansyah
nb: salam kenal untuk chiela juga..
dan, jika tidak berlebihan. Satu senyum buat proses diskusi ini.
kalian foto2, bilo tu?
hhh. bunh febri, bukankah kita telah panjang lebar berdiskusi di blog ini(menurut saya) atau jangan2 bung hanya kunjungi subBlog yang tak pentingnya saja, kalau diskusi serius terus bisa gila kita bung hahahah…makanya kita juga gunakan blog ini sebagai tempat bersenda gurau. galak-galak dan bergunjing(daripada nonton gosip) jadi saya pikir bukan hanya sarana penunjukan eksistensi(memangnya pada siapa harus ditunjukan eksistensi kita disini bung? bukankah yg namanya blog ini bajuta banyaknya didunia maya ini?) hahahah lagi2 ada yang menyarankan surat kabar nasional, kenapa harus disempitkan sampai surat kabar nasional? bukankah Blog lebih bebas dan merdeka(tanpa sensor)bahkan bung boleh merencanakan KUDETA disini. jaman sudah berubah bung, sekarang banyak media resmi dan besar yang bahkan hanya beredar di dunia Cyber. kecuali bung ingin dapat Honor ya???huahahahahah..
salam
Sepertinya menarik menanggapi bung dengan id “ketua pemuda” ini.
Segala desahan seringkali sangat dapat tumbuh menjadi semacam revolusi.
Yup, aku sangat setuju!
Tapi, jelas bukan desah yang mengurung diri di kamar gelap.
Ada yang keberatan?
Revolusi tidak pernah lahir dari “gunjingan” saja, bung…
Saya justru tantang anda untuk mengajak Indonesia berpikir melalui media massa.
Bukan hanya mereka yang bisa akses internet, tetapi juga mereka yang mungkin kebetulan baca sepotong koran pembungkus cabai..atau, mereka pemulung yang ngumpulin koran dan baru bisa baca setelah beberapa hari.
Mereka ga bisa akses internet, bung.
Anda lupa?
—
Dan,….
hmm
Beberapa teman sempat bilang hl yang sama sebenarnya. “Simplifikasi persoalan pada media massa”.
Agaknya setelah sekian kali menulis selalu ditolak??
he he he…
Semoga bung tidak tergolong orang yang seperti itu.
Soal honor, kalaupun benar si penulis mendapatkan, aku lebih melihatnya sebagai “insentif” advokasi.
Apakah tanpa honor kita tidak akan lakukan advokasi?
anda bisa jawab sendiri.
Banyak teman yang tunduk diterkam peluru tajam tanpa berpikir tentang honor.
Tapi, sebelumnya tulisan mereka, pikiran mereka menghantui jutaan orang.
Apakah pikiran bung mampu menjadi “virus” jika hanya berteriak di kamar tertutup?
Agaknya masih ada waktu berpikir ulang, bahkan untuk tentang strategi KUDETA.
Bahkan pementasan Teater perlu penonton, bung.
Agar kita bisa intropeksi diri. Menerima kritikan. Dan mengajak lebih banyak orang untuk berpikir.
Ingat, bung…
Peradaban ini dibangun oleh tulisan. Menulis bung.
Dan, media massa adalah salah satu sarana.
Karena, setiap orang bisa bikin blog dan menulis sepuasnya . Tetapi, apakah semua orang bisa menularkan “racun pikirannya” lewat media massa???
Ya dah, salam kenal tuk mu, bung.
Salam untuk diskusi yang menarik ini….
(dan, saya percaya setiap diskusi juga mengandung eksistensi)
Febri Diansyah
Tuan Febri Diansyah yang tidak suka meludah ketika orang sedang makan.
Saya dilemparkan Rumah Teduh ke Blog Tuan. Di Rumah Teduh, Tuan ada memberi tanggapan yang bunyinya… saya kopi-pastekan:
Sepertinya menarik menanggapi bung dengan id “ketua pemuda” ini.
Segala desahan seringkali sangat dapat tumbuh menjadi semacam revolusi.
Yup, aku sangat setuju!
Tapi, jelas bukan desah yang mengurung diri di kamar gelap.
Ada yang keberatan?
Revolusi tidak pernah lahir dari “gunjingan” saja, bung…
Saya justru tantang anda untuk mengajak Indonesia berpikir melalui media massa.
Bukan hanya mereka yang bisa akses internet, tetapi juga mereka yang mungkin kebetulan baca sepotong koran pembungkus cabai..atau, mereka pemulung yang ngumpulin koran dan baru bisa baca setelah beberapa hari.
Mereka ga bisa akses internet, bung.
Anda lupa?
—
Dan,….
hmm
Beberapa teman sempat bilang hl yang sama sebenarnya. “Simplifikasi persoalan pada media massa”.
Agaknya setelah sekian kali menulis selalu ditolak??
he he he…
Semoga bung tidak tergolong orang yang seperti itu.
Soal honor, kalaupun benar si penulis mendapatkan, aku lebih melihatnya sebagai “insentif” advokasi.
Apakah tanpa honor kita tidak akan lakukan advokasi?
anda bisa jawab sendiri.
Banyak teman yang tunduk diterkam peluru tajam tanpa berpikir tentang honor.
Tapi, sebelumnya tulisan mereka, pikiran mereka menghantui jutaan orang.
Apakah pikiran bung mampu menjadi “virus” jika hanya berteriak di kamar tertutup?
Agaknya masih ada waktu berpikir ulang, bahkan untuk tentang strategi KUDETA.
Bahkan pementasan Teater perlu penonton, bung.
Agar kita bisa intropeksi diri. Menerima kritikan. Dan mengajak lebih banyak orang untuk berpikir.
Ingat, bung…
Peradaban ini dibangun oleh tulisan. Menulis bung.
Dan, media massa adalah salah satu sarana.
Karena, setiap orang bisa bikin blog dan menulis sepuasnya . Tetapi, apakah semua orang bisa menularkan “racun pikirannya” lewat media massa???
Ya dah, salam kenal tuk mu, bung.
Salam untuk diskusi yang menarik ini….
(dan, saya percaya setiap diskusi juga mengandung eksistensi)
Febri Diansyah
Membaca “tanggapan” tuan itu, betapa… saya angkat topi kepada Tuan. Salut. Tuan penuh gelora, membara-bara, menyala-nyala. Mulai dari kata-kata sakti yang Tuan deretkan, REVOLUSI, KUDETA, MEMBANGUN PERADABAN, MENULARKAN RACUN PIKIRAN, MENGAJAK INDONESIA BERPIKIR…. Membuat saya ternganga. Betapa.
Sebelumnya selamat, Tulisan Tuan telah dimuat Kompas.
Ada banyak cara yang ditempuh masing-masing kita Tuan. Tidak perlu Tuan bersikeras: Mediamassa, Mediamassa! Sebab Tuan Febri yang bijaksana, tidak ada gunanya mulut Tuan berbusa-busa mendengungkan MEMBANGUN PERADABAN, KUDETA, REVOLUSI, wuahahahaha…. kalau yang Tuan persoalkan masih saja perkara di mana kita harus menulis.
Kalau Tuan benar-benar ingin tulisan Tuan yang bagus itu meracuni orang-orang seperti yang Tuan sebutkan: “Bukan hanya mereka yang bisa akses internet, tetapi juga mereka yang mungkin kebetulan baca sepotong koran pembungkus cabai..atau, mereka pemulung yang ngumpulin koran dan baru bisa baca setelah beberapa hari.” Sebaiknya tulisan Tuan yang bagus dan punya analisis tajam setajam “Pedang Naga Puspa” itu dikirimkan saja ke POSTMETRO PADANG, Tidak ke KOMPAS. Tuan tahu email redaksinya, bukan?
Tampaknya RANTAU tidak memberi Tuan cukup kebijaksanaan dalam menilai. Tuan masih sibuk dengan di koran mana tulisan Tuan harus dimuat, lewat apa pikiran tuan harus disampaikan. Kalau boleh menilai, dalam filsafat, Tuan baru sampai pada tahap berpikir “apa” dan “kenapa”. Tahap rendah. Tuan telah mengakui sendiri, mediamassa adalah salah satu sarana. Bukan satu-satunya, Tuan.
Tuan pun tampaknya terlalu muluk menilai perjuangan menulis Tuan yang kecil itu. MENULIS MEMBANGUN PERADABAN, dsb. Siapa pun mencoba berbuat, Tuan. Selama untuk kemanusiaan, ia sama artinya telah membangun peradaban. Saya kira, Tukang Dendang ikut membangun peradaban. Perabab juga. Siapa pun bagian dari itu.
Tak terkecuali “Tukang Blog” juga Tuan. Mereka tidak mengurung diri di kamar gelap seperti yang Tuan kira. Mereka keluar menemui malam. Tuan tentu tidak GOBLOK untuk mengetahui itu, untuk membedakan mana mereka yang mengurung diri di kamar gelap dan mereka yang berbuat.
Jangan remehkan mereka hanya karena tulisan mereka tak muncul di KOMPAS seperti Tuan. Mereka tidak dibayar Tuan, tetapi mereka mau menulis bukan? Mereka mau memperjuangkan gagasan-gagasannya, menelurkan pikiran-pikirannya?
Ternyata tidak Tuan saja yang bisa menelurkan pikiran-pikirannya dengan cerdas. Mungkin Tuan perlu membaca kembali tulisan-tulisan di blog Rumah Teduh itu. Barangkali Ketua Pemuda benar, Tuan hanya memasuki “hal-hal yang (dianggap) tidak pentingnya saja”!
“Banyak teman yang tunduk diterkam peluru tajam tanpa berpikir tentang honor.Tapi, sebelumnya tulisan mereka, pikiran mereka menghantui jutaan orang.”
Kalau perkara itu yang ingin Tuan katakan, entah telah berapa Tukang dendang yang meninggal dalam kemiskinannya, entah sudah berapa Penggubah Pantun yang tidak pernah dikenang dan larut dalam ketiadaanya, entah telah berapa Perabab yang mati dalam kesepiannya. Sementara, hasil kreasinya telah mengilhami jagat raya. Bahkan hingga kini. Mereka tidak dikenal, Tuan. Nama mereka tidak tercatat dalam Koran KOMPAS seperti Tuan. Apa Tuan akan katakan, mereka tak memberi manfaat apa-apa bagi MEMBANGUN PERADABAN, MERACUNI PIKIRAN INDONESIA, REVOLUSI, KUDETA… dan sederet kata MEGAH lainnya yang Tuan sebutkan?
Tuan semestinya harus tahu pepatah lama, “nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan pandia ka disuruah-suruah. dst…
Tuan tahu, siapakah penggubah pepatah itu? Jelas Tuan tidak tahu. Apakah nama penggubah pepatah itu pernah tercatat. Apakah karena tidak tercatat, ia (yang tak bertanda gambar) akan Tuan katakan tak ada sumbangsihnya bagi Peradaban?
Salam Tuan.
Mungkin benar,
“karatau madang di hulu
babuah babungo balun
marantau bujang daulu
di “siko” baguno balun”
mmm…sepertinya tidak perlu lagi sepatah dua patah kata pembelaan atas pendapat saya terhadap balasan komentar Bung Febri terhadap pendapat saya. saya pikir semuanya telah tersampaikan dengan baik oleh Sodara Deddy dan Tuan Redaktur
oh ya bung, tentang pendapat bung yang mengatakan Revolusi tak pernah lahir dari “gunjingan” mungkin Bung salah. awalnya Fidel Castro bergunjing tentang Rafael Trujillo(pemimpin Rep. Dominika) sebelum dia mengangkat senjata hehehehe….pada 1991(runtuhnya Uni Soviet) Castro dapat kawan bergunjing tentang Amerika, antara lain Hugo chaves dan evo morales. setelah puas bergunjing barulah mereka menentang dominasi Amerika dengan senjata.(sebagai referensi RINGAN bagi penulis Koran Nasional yang AGUNG seperti BUNG FEBRI). jadi saya pikir gunjingan adalah awal yang tepat Bung!
wah…

beberapa teman disini cukup antusias menanggapi beberapa hal yang sayangnya dianggap “ludah”.
jika saya tidak salah memahaminya.
Dan, pak moderator/redatur rumah teduh. Jangan khawatir. saya terus singgah di tempat yang memberikan “tawaran berpikir”. Bukan sekedar eksistensial.
–
agaknya boleh jika saya berpikir, ketika suatu tulisan atau bahkan desah ditanggapi. Tidakkah dia mulai dirasa “penting”? atau minimal “mengancam”?
ha ha ha…
salut untuk teman-teman yang baik disini.
–
pertama, untuk bung deddy arsa (tanpa harus terjebak memanggil “tuan”) hahahaha…
semoga emosi tidak mematikan pikiran kita
wah…saya kira akan sangat menarik jika anda mau kirim email pos metro atau padang ekspress itu…Sangat menarik.
Tapi, mungkin anda juga tidak cukup jeli memelototi surat kabar lokal itu, bung…
Sayang sekali…
mungkin karena anda tidak terlalu tertarik dengan isu yang sering saya–coba–tulis disana.
Tetapi, ya harus diakui, kadang memang lebih sulit dimuat di Padeks ketimbang “bos” group JPPN itu misalnya…
ha ha ha ha…
Dan, tentang sarana. Tentu saja. Jika katakanlah saya berpikir menafikan blog sebagai sarana menyalurkan pikiran, untuk apa saya menulis di satu rumah teduh ini, misalnya..
agaknya tidak perlu seorang yang terlalu cerdas untuk memahami fakta ini.
Dan, ketika seorang teman bilang pada saya. “Anda baru berpikir di tahap “apa” dan “kenapa”.
Tidakkah ini menarik? Bahkan saya pun masih berpikir, belum mampu menjawab dua pertanyaan sederhana itu.
“Kenapa” warna putih ternyata dapat diuraikan menjadi spektrum pelangi, misalnya??
Ah, luar biasa mereka yang bisa menjawab hal ini.
Atau, “kenapa” keluarga perempuan yang harus melamar lelaki di minangkabau?
Hmmm….agaknya anda salah, bung.
Saya belum mampu berpikir tuntas menjawab pertanyaan, “kenapa” seperti yang anda bilang itu.
Dan, kemudian seorang teman bicara lebih jauh.
“tidak perlu ke pulau Jawa untuk menjadi pintar. Di Padang saja cukup”.
betapa sederhananya logika itu.
Ada beberapa hal, teman.
Pertama, tidak ada yang menarik di Pulau Jawa ini, kecuali desakan dan “kegelisahan” untuk terus merasa bodoh, sehingga harus terus dan terus belajar.
Namun, sayang…sayang sekali, jika ada diantara kita yang sudah merasa cerdas. Cukup hanya di Padang.
Kalau benar demikian, saya harus ucapkan selamat untuk teman tersebut.
Berarti anda sudah boleh berhenti belajar. (Bung sudah cukup cerdas, kan?
Ups…tapi bukankah berhenti belajar juga berarti “berhenti sebagai manusia”?
Kita bisa jawab dengan jujur.
Kedua, saya justru tantang bung untuk membuktikan bahwa klaim kecerdasan tersebut berguna bagi masyarakat yang lebih luas. Bukan sekedar ………………. (maaf
—-
Untuk bung “Ketua Pemuda”…
agaknya boleh saya sarankan bung baca lagi garis sejarah pergerakan Huge Caves dan Fidel Castro.
Mungkin anda lupa, bagian ketika mereka “tidak pernah merasa lebih cerdas” misalnya…
Dan, kemudian berpikir bahwa pendidikan penting. Bahwa anak-anak negeri harus disekolahkan keluar daerah. Disusupkan pada banyak tempat.
Tidak cukup hanya di satu kota, kan?
Mereka tidak hanya bergunjing, bung.

Mereka berpikir dengan sangat serius. BUkan sekedar “ngobrol” atau mengisi waktu malam dengan beberapa cangkir kopi. BUkan sekedar itu.
Itu perlu proses panjang.
Dan, tahukah anda, Castro adalah seorang penulis?
Ia menjalari pemikiran dan kesadaran rakyatnya melalui tulisan di berbagai tempat. Menulis, bung.
BUkan hanya bergunjing, Atau, sekedar emosional ketika mulai menulis
–
Lebih dari itu,
salam hormat. setulus saya mampu. untuk teman-teman yang dengan rela memposisikan diri sebagai antitesa.
–
Oh ya,
tentang Rantau.
banyak hal yang harus dipelajari, bung Dedy…
setidaknya bagi saya.
Atau, mungkin bung tidak memandang rantau terlalu penting?
Mungkinkah karena sudah merasa berguna?
semoga ya…..
Salam,
Febri Diansyah
hahaah…akhirnya anda terjebak dengan konsep permainan kata anda sendiri Bung, apakah tanggapan saya sudah mulai “minimal” mengancam ke_intelektualitasan bung? hahaha menarik sekali mengingat saya yang tak pernah menulis untuk koran nasional ini.
Bung, castro juga menulis bung, tapi dia tak pernah mempermasalahkan apakah harus menulis di KORAN lokal< NASIOANAL atau cuma Blog di internet. beda seperti Bung yang mematok menulis harus keluar di KORAN NASIONAL yang katanya lebih luas(mungkin)! dan menganggap tak penting tulisan kawan2 diblog ini(yang padahal juga menulis di KORAN NASIONAL)dan mendiskreditkan media lain. penulis2 di Blog ini, yang JUGA menulis(JUGA DI KORAN NASIONAL seperti yang bung katakan) menyempatkan diri mencari kesenangan berargumentasi jenis lain di BLOG ini. dan kami disini tidak cuma menghabiskan waktu “bergunjing”(mungkin bung menganggap tulisan2 di blog ini hanya gunjingan) di Blog ini bung(tentu bung tak pernah melihat sebagian besar dari kami disini sehari hari, JADI TAHU APA BUNG DENGAN PIKIRAN DAN KONTRIBUSI KAMI untuk KEHIDUPAN YANG KAMI JALANI)”untuk seorang penulis(yang merasa Besar seperti Bung) bung sangat skeptis hahahahah tidak baik untuk perkembangan jiwa raga kepenulisan itu bung
bahkan di komentar balasan bung mencoba LARI dari topik bahasan yang dikritik! mmm…agaknya Ego bung berkembang dengan tidak wajar(seperti perkembangan normal pada anak2 yang berontak terhadap kehidupan dewasa dengan mencari pembenaran). agaknya pepatah lama cocok buat bung: jangan nilai buku dari sampulnya saja,
oh ya, sudah seberapa besar pengaruh beberapa artikel Bung di KORAN NASIONAL dalam “menjalari” pikiran orang banyak?
sepertinya kawan-kawan eh tuan-tu-an disini sibuk dengan “keintelektualitas” ya?
kaum intelek ya?
setelah difikir-fikir ……….
sepertinya “begitu”
hey..hey..sudah..sudah, jangan bertengkar disini! diluar blog ajah, biar bisa pake golok
Bung Ketua Pemuda benar, bung Febri juga benar disatu sisi, Bung dedy juga, jadi LANJUTTTKANNNNNNNN!!!!! hahahahahahahahhaha asal jangan bawa-bawa nama CASTRO lagi!! huh…tau apa kalian soal castro dan kuba!baca dari gugel?dari koran?BullS**t!! TETENYOT!!!
oi da brutus, sopan stek da, uda lah Bp 97 tapi parangai co anak2 jo lai! hp si mita patang lah babaliak an? uda yo bana nyo! Hp cewek, adiak2 awak juo di UKS bacilok jo!
poppyzonia@yahoo.com
http://www.psychorobotic.multiply.com
Yth: Febri Diansyah
jangan bosan bosan nge-blog disini ya

disini memang banyak urang jaek
nanti pas log-in ke 100 anda akan dapat doorprize dari Redaktur kami
selamat menghadapi si Ketua Pemuda dan Deddy Arsya
poppyzonia@yahoo.com
http://www.psychorobotic.multiply.com
om redaktur beneran nulis disini dapat honor??
tuan-tuan
hati-hati “MENEPUK AIR DI DULANG”
Kepada kawan-kawan yang sibuk dengan petualangan pemikirannya, janganlah tuding-menuding. hidupkanlah suasana positif dan kesenangan dalam menambah wawasan. ingat”alam takambang jadi guru” dan janganlah semua manusia dilawan dalam tataran teori. Sebab tidak semua teori menyelesaikan wacana. hanyalah kearifan pemikiran seseorang ketika membuka lembaran kitab-kitab tua. jadikan barat sebagai teropong, dan timur sebagai cahaya. mulailah mencari jati diri yang sehat. moga rakyat INDONESIA mencintai anda semua…
rumahku……. rumahmu
tempat teduh dari gelapnya sunyi
hanya kita yang bisa…………..
hanya kita yang mampu…………
hanya kita yang sanggup……….
oiiii broderrrrr….lama tak jumpa
oiiiianak-anak rumah teduh, kemasi sisa-sisa perhelatan kalian di Orange House! hahahahah…padli ompong masih ompong kah?
salam kangen(band)
ehm ehm ehm…
ternyata bung ketua pemuda masih “cukup semangat” bergulat dengan emosi sendiri…
ya ya ya….
kalau boleh saya saran sih, hmmm…coba baca lagi baik-baik perbincangan awal yang tumbuh di rumah ini….
Dan, sarapan dulu sebelum nulis…ya minimal minum air putih lah…
he he he
Ups…maaf, saya tidak bermaksud sinis dg anda. Bertemu saja belum, kenapa harus sinis. Apalagi mengecam pikiran anda (jika ada).
–
begini bung,
waktu itu saya bergumammm,
“kupikir kita “rindu” perjumpaan pemikiran teman-teman hingga di ruang publik yang lebih luas. Ya, misalnya surat kabar nasional itu…”
tidak perlu saya ulangi kan?
Menurut bung, apakah ada nada “paksaan” atau standarisasi nilai disana?
kalau masih belum paham, silahkan baca lagi.
Anda tau kenapa saya tulis demikian?
Jika bung cukup dewasa tentu tidak akan bersinis ria. (atau merasa tersinggung?). Semoga tidak.
Tapi, sudahlah. Saya percaya kebebasan berekspresi adalah satu andil penting proses intelektual kita semua.
Karena sependek pengetahuan saya, dan berdasarkan pengakuan beberapa teman di sini, pikiran teman-teman “urang awak” itu biasanya original.
Dan, saya pun pernah “berkesempatan” bicara dengan beberapa kawan rumah teduh di beberapa malam disana. Saya kira pemikiran teman2 menarik. Lantas, kenapa tidak berbagi dengan masy luar? Siapa tau bisa ikut andil menyelesaikan benang kusut persoalan negeri ini. Ya, siapa tau. Dengan cara apapun.
Kemudian, tentu tinggal bagaimana kita memilih, bung. Mau menulis di blog saja. Di surat kabar juga. Lokal. Nasional. Atau kapan perlu di daun lontar, he he he…
Saya memang tidak cukup lama bersentuhan dengan pemikiran, ide dan kebiasaan teman-teman. Beberapa malam yang saya habiskan di PKM memang belum mampu membuat kita dekat. (atau, memang belum pernah berjumpa?). Dan, karena itu saya tidak pernah menilai anda atau pun teman-teman di sini.
Terlarangkah, misalnya, ketika saya mengajak kita semua untuk berpartisipasi lebih luas? Ha ha ha…saya kira, tidak juga.
Atau, kalau bung masih cukup resisten, sepertinya usul untuk “menguji ulang kadar toleransi bung atas kebebasan berkespresi dan kebebasan berpikir” mungkin patut ditinjau ulang. Tapi, saya yakin bung tidak demikian. Ya, meskipun saya juga tidak pernah tau identitas bung yang sebenarnya, apalagi melihat karya /tulisan bung di blog ini minimal selain tanggapan atas tanggapan itu.
Ah, jujur, saya senang. Jika tidak berlebihan, “agaknya ada yang ‘terbangkitkan’ lagi ketika berjumpa dengan deret pikiran rekan-rekan disini”.
Oh ya bung…
Jika ada waktu, dan bung berkenan dengan perbedaan pikiran. Mungkin kita bisa diskusi langsung. Bisa jadi di Padang. Atau, dimanapun itu.
Insy. Juni saya ke Padang.
—
Terakhir untuk posting ini,
tentu juga berhubungan dengan satu kutipan kecil di blog saya dari pak redaktur…
“silahkan datang lagi ke blog kami. gimana? haha, anda siap dinyatakan kalah? masa iya,seorang advocad kalah berdiskusi dengan anak usia belasan? yang baru semester 1 kuliah? haha,…di padang memang aneh ya…banyak hal yang jawa tak punya..”
>>> Saya yakin, diskusi bukan seperti sayembara atau bahkan lomba baca puisi. Harus ada pemenang. Yang seklaigus berarti selalu ada yang dikalahkan. Tentu tidak, bung redaktur.
Karena kita tidak sedang berdebat. Melainkan, bertukar pikiran. (saya kira demikian)
Atau, kalaupun ada pikiran yang benar diantara teman kita (masih SD, SMP atau SMU sekalipun), tentu siapaun akan menghormatinya.
Karena, saya percaya. Ide dan pikiran bukan soal umur, senioritas atau jabatan, bung..
Dah ya…

salam hangat tuk rekan rumah teduh…
http://febridiansyah.wordpress.com
wah, panjang juga tulisannya ya Bung:) kenapa tak dimasukin KORAN NASIONAL saja?kan lebih LUAS dan bisa menjalari pikiran emak2 dipasar.
saya memang jarang sarapan waktu menulis bung.
entah bung yang terlalu kenyang waktu menulis sehingga jadi tak berbobot heheheheh…
sepertinya BUNG memang harus lebih memahami arti media sebelum menulis. kayaknya bung cocok jaDI LOPER KORAN DARIPADA PENULIS(COBA LAMAR KE koran nasional jANGNANA bUNG) OKEH, jUNI SAYA tunggu bUNG DI pkm, selamat menulis Bung. saya tetap tak sepakat KORAN NASIONAL lebih luas dari Blog ini.
hahahahahah…(dengan ANGKUH)
oh ya, bung lucu sekali, saya terhibur dari beban mid test semester 2 kemaren. doain supaya nilai saya banyak yang A
mmm(tersenyum simpul)
oi…oi..makin seru aja neh
hajaaaaarrrrrrrr…..
ttd
Redaktur Musik
poppyzonia@yahoo.com
http://www.psychorobotic.multiply.com
aduhhhh..pusing saya! Pak febri ini kok gak ngerti2 juga, katanya penulis! Bung ketua itu dari awal gak setuju kalo penghuni Blog ini Pak febri bilang cuma sekedar memenuhi hasrat eksistensi
saya kutip komen bapak:
“Dan satu hal, tentu akan jauh lebih baik jika sarana blog ini kita jadikan tempat diskusi ketimbang sekedar pemenuhan hasrat eksistensialisme.
”
(ga apa2 ya kalau aku tulis begini
lalu Bung ketua juga gak setuju dengan pendapat pak febri yang:
“Btw, kupikir kita “rindu” perjumpaan pemikiran teman-teman hingga di ruang publik yang lebih luas. Ya, misalnya surat kabar nasional itu…”
sementara pak febri kasi penjelasan berbelit-belit! gak da hubungan! payah…pake nuduh-nuduh tulisan orang cuma “gunjingan” lagi!
padahal Pak febri sendiri yang bilang:
“Tapi, sudahlah. Saya percaya kebebasan berekspresi adalah satu andil penting proses intelektual kita semua”
lalu Pak Febri juga nantang2 Ketua pemuda:
“Saya justru tantang anda untuk mengajak Indonesia berpikir melalui media massa.”
Bukankah Blog ini juga Media masa?masalahnya anda itu mendiskreditkan media lain! bagaimana mungkin anda akan bertukar pemikiran dengan orang-orang yang telah anda remehkan terlebih dahulu. aneh!
bagaimana rasanya ketika anda menulis tentang suatu permasalahan di media lalu tiba-tiba ada orang asing yang bilang: ah…sekedar pemenuhan hasrat eksistensialisme.
begitukah cara anda ketika ingin bertukar pikiran dengan orang lain TUAN PENULIS? sepertinya rantau dan ilmu pengetahuan membuat anda besar kepala Tuan!
mengaku salah itu bukan suatu kejahatan yang merendahkan harga diri Tuan penulis!
iya neh, keknya si Febri ini emang jago ngeles n jaim hihihii…..
mmm..
SEPERTINYA SAUDARA FEBRI MEMANG SALAH
proton@yahoo.com
hidup ketuapemuda
hidup…….
Orang berbudaya, baca POSTMETRO PADANG!
terbit setiap hari!
Om Febri, Jawa hebat ya
bisa mencetak orang secerdas Om
Oya Om, kalau keluarga laki-laki yang pergi melamar perempuan di minangkabau, pasti Om dikatakan tidak beradat.
sebaiknya Om juga baca Fatsal-fatsal Orang Tidak Beradat.
heheheh.
Tampaknya blog ini kekurangan PUISI, Pak Redaktur
biar lebih ADEM, dan DINGIN, dan SEJUK, dan TEDUH kepalanya ni orang-orang, biar tak sibuk cikarau-mancikaraui, sipak-menyipak, tanduak-mananduak, toncik-manoncik, sebaiknya kasih puisi yang banyak, Pak Redaktur.
Om Febri,
Mari MERANTAU ke dalam diri!
*wah..wah..!!
kayaknya ada yang main keroyokan nih…*
apakah kita berhak meng-klaim benar atau salah, yang sesungguhnya kita hanya mengira-kira saja, kita hanya berpendapat, menyampaikan pemikiran kita..
*oya bagi siapa yang ada waktu, tolong ceritakan padaku bagaiman perjalanan menjadi seorang laki-laki, yang sepertinya mayoritas pengguna blog ini adalah lelaki!*
ckckck…
hebatnya teman-teman ini..
dan, selamat ujian mid semester..
jeng febri yang manis,rupawan,tampan hingga bulan pun menangis karenanya….
saya rasa jeng febri memang pintar,”penulis gt loh”.
barangkali saja semenjak bergabung dgn blog ini,jeng sdikt merasa panas otaknya karena selalu saja berdebat dgn ketua pemuda…
saran saya yang notabene nya seorang aktor bersertifikat sebaiknya,jeng perbanyak dulu nonton film bollywood,hanya untuk sekedar pencerahan saja atau untuk pencarian jati diri jeng febri yang hilang di telan jangnana..
saya tawarkan kepada jeng febbri untuk menonton film kal ho na ho,itu adalah film yang sangat cocok buat jeng febri saat ini.
SELAMAT MENIKMATI JENG FEBRI………..
Yth: penikmat blog
saya cuma menghimbau kepada penikmat Blog ini agar tetap semangat untuk Log-in di sini.
Jangan ada yang sampai berkecil hati OK:)
atas nama
REDAKTUR BLOG
pak redaktur ini peringatan keras lho!!!!!!
1.puisi bung faiz telah dimuat di koran Padang Ekspres minggu 21 April 2008. sementara puisi yang dimuat itu sudah lebih dulu beredar dalam blog RUMAH TEDUH!
nb: tolong di tarik kembali honor yang telah diberikan kepada saudara Faiz!!
2. gara2 terlalu banyak berKECAMUK di BLOG RUMAH TEDUH!! adek2 yang baru mengecap duania kampus! rata2 nilai Mid test mereka BerKECAMUK juga!!
tolong di tindak lanjuti!!
salam pak redaktur
to : b Febry
apa kabar b’??
katanya mau datang ya ke padang buylan juni??
halo rumah teduh, bisa gabung ga?? gimana caranya?
Halo Bung catra, silahkan berperang disini.
caranya mudah saja, silahkan Bung beli sebuah pisau yang tajam(yang tumpul juga boleh) lalu berperanglah dengan lapang hati.
ttd
Redaktur Musik
to: “b juga” brutus

he he he
iyo, insy..Juni…tapi mungkin ka Medan dulu..
itupun kalau kawan-kawan “dak keberatan”
tp ambo kabari baliak…
kalau buliah,
ambo minta nomor HP angku jo Faiz…
Lah cegak nyo?
Salam
http://febridiansyah.wordpress.com/
SAYA TIDAK KEBERATAN
ya…semoga ada waktu “yang baik”.
alangkah senang bisa belajar dengan rekan disini.
sekedar tawaran…
kita coba pelajari salah satu persoalan kongkrit hari ini. Kita coba diskusikan dan dibedah menggunakan pisau analisis dan perspektif masing-masing.
misal:
tentang pendidikan di sumbar saat ini sekaligus “hari depan” nagari kita ini.
Banyak yang bilang, pendidikan formal justru sebuah “kejahatan” yang dibungkus sedemikian rupa.
Atau,
Karena saya melihat beberapa tulisan tentang mahasiswa di blog ini, mungkin menarik. Terutama dalam hubungannya dengan seberapa jauh sistem pendidikan tinggi kita yang tumbuh dari otoritarian ini menyumbangkan sikap mementingkan diri sendiri dari lulusan kita.
Atau,
mungkin tentang sepotong daun yang jatuh di halaman PKM
Atau,
mungkin kita bisa bicara ringan tentang sebuah novel, seperti Dunia Sophie, Bumi Manusia (dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer itu)…….
Atau,
tentang perempuan
Lelaki,
Atau,…?
ah…apapun itu, semoga berguna…
–
Satu kutipan sederhana,
mungkin teman disini lebih dekat dengannya…
“Seorang terpelajar itu harus adil bahkan dari dalam pikirannya…”
(PAT)
–
Oh ya, tiba-tiba saya teringat dengan sebuah buku biru yang sempat saya kenal di Padang.
Julian Benda, “Pengkhianatan Seorang Intelektual”
Mungkin Faiz tau, karena kita coba beli buku dari uang sisa cetak Pimnas itu..
Dah ya…
Salam,
http://febridiansyah.wordpress.com/
hahaha…satu perang lagi tak masalah bagi saya yang Putra Jangnana ini pak febri. anda menambah segar pertempuran di sini
tetapi, karena kita disini sesama tamu, baiknya pak febri lapor dulu sama yang punya blog. biar nanti beliau tak tersinggung hihihih…silahkan pak febri setor tulisan yang mau didiskusikan ke alamat redaksi, saya yakin pasti akan direlease kalau dianggap menarik sama si Tuan Redaktur. saya disini menunggu sembari mengasah pisau.
Nb: tentang wanita sepertinya menarik, berhubung jasa seorang pahlawan emansipasi wanita sedang dirayakan bangsa ini.
feminism mungkin
terima kasih tuan redaktur
honornya sudah saya terima walaupun sedikit terlambat
mudaha2an tulisan saya yang lain layak untuk dimuat di blog ini.
tentang setor tulisan ke redaksi, saya kira tidak usahlah…Karena saya tergolong orang yang awam dengan diskusi teman2 disini.
Anda kan dah lihat, fokus tulisan saya cenderung ke mana..
Karena itulah, saya coba belajar disini.
Dan, jika tidak keberatan (jika dizinkan juga nih ma pak redaktur
dapatkah gunakan id asli?
hanya tawaran…
menurut anda,
“wanita” atau “perempuan”?
Satu kutipan kecil….teman2 tentu tau siapa yang pernah bicara demikian….
“Kesetaraan adalah sesuatu yang utopis. Sesuatu yang tidak mungkin. Kecantikan wanita adalah kutukan bagi lelaki. Pesonanya merupakan awal kebodohan bagi lawan jenisnya untuk menerima eksistensi wanita secara rasional dan sejajar. Hingga, pemujaan terhadap perempuan hanya sekedar produk Kristianitas dan Sentimentalitas Jerman”.
menarik
wanita atau perempuan?
saya lebih cendrung menggunakan wanita (tanpa mempertimbangkan alasan linguistik)
memang jika dilihat dari segi linguistik, dalam bahasa indonesia saat ini kata “wanita” mengalami ameliorasi sehingga artinya lebih tinggi dan positif. Hal ini terbukti dengan penggunaan kata “wanita” yang dipilih untuk mewakili gender ini dalam tubuh birokrasi bangsa ini.
sedangkan kata “perempuan” mengalami peyorasi sehingga arti yang terdahulu lebih baik dari sekarang(walaupun secara etimologis kata ini punya arti yang tinggi)
tapi sejarah mungkin telah memilih hahahaha..
silahkan pilih yang mana saja, karena masing masing kata itu ada sejarahnya dan bisa dikaji lebih lanjut dengan ilmu linguistik(yang saya cuma kenal kulitnya saja)
kalau anda pilih mana?
hihi, pak febri ini anti feminisme mungkin
tapi saya sepakat kesetaraan adalah suatu yang utopis
sepertinya cita-cita Kongres Perempoewan Indonesia 1 1928 belum berhasil ya pak febri hehe..
Maaf, bung febri sepertinya kurang menghargai perempuan atau wanita seperti yang anda sebutkan..
Ingatlah bahwa IBU anda seorang perempun.
atau anda lupa bahwa ibu anda adalah perempuan
mbak kartini yang baik
suka atau tidaknya bung Febri dengan perempuan itu urusan beliau! memang benar setiap manusia dilahirkan seorang perempuan, akan tetapi tampa seorang lelaki toh perempuan mungkin tidak akan melahirkan!!so
saya sangat yakin bung Febri punya perspektifnya sendiri sehingga beliau mengeluarkan statement yang demikian!
to: b’ febri
bekolah awak kiriman no HP wak jo Faiz!
mungkin k E mail atau ka friendster
si Faiz lah lumayan cegak! lah bisa mambaliak kini (maksudnyo lah bajlan2 baliak)
hidup tjoet nyak dhien!!!
Ibu KARTINI yang baik…
aduuh, maaf…
kemaren malam saya sudah tulis permintaan maaf yang sangat besar untuk ketelodoran saya tersebut…
–
he he he… dak lah bu…
–
tentu saja bukan itu yang saya maksud, bu Kartini…
kutipan itu sengaja saya sampaikan disini sebagai awal dari proses diskusi.
Anda tentu pernah baca pokok-pokok pikiran seorang yang sangat “sinis” memandang realita…Athur Schopenhauer.
Ia menulis demikian…
Tentang omongkosongnya kesetaraan perempuan.
–
catt: saya coba tulis itu dengan beberapa pendekatan, jika anda mau silahkan cigok ke:
http://febridiansyah.wordpress.com/2008/04/21/perempuan/
–
Pada prinsipnya saya sangat tidak setuju dengan pandang Kakek Buyut, Om, pakde Schopenhauer itu.
“Saya memuji Asia yang dipahami lebih mengerti memposisikan wanita sesuai dengan posisi yang layak. Di bawah pria. Bahwa posisi wanita sebagai subordinat dari pria adalah soal wajar. Asia Mencontohkan dengan baik”
ia bahkan menmbahkan demikian ibu Kartini…ckckck
Tapi apakah ia benar?
Saya kira tidak.
Mungkin ibu pernah dengar tentang konsepsi aliran eksistensialism juga…
Bahkan di aliran yang Kadang sering dikecam inipun, sebuah eksistensi (keberadaan) manusia tidak pernah dilihat dalam hubungan ordinat dan sub-ordinat. tidak pernah dilihat dalam hubungan siapa yang menguasai dan siapa yang dikuasai. Atau, siapa yang harus tunduk karena memang ia wajib tunduk. dan sebaliknya.
maaf, bu..kepanjangan..
(dak bayar kan, pak redaktur kalau balasannya kepanjangan??)
he he he
saya hanya ingin bilang…
(setidaknya menurut saya)
kesetaraan perempuan dengan lelaki bukanlah perdebatan..
karena memang ia seharusnya dan darisononya SETARA.
persoalannya adalah, ketika begitu banyak perempuan yang memilih mnundukan diri atas nama kekuasaan lelaki. Bahkan, tidak jarang dengan legitimasi agama.
—
Oh ya, diskusi ini–setidaknya menurut saya–justru menjadi lebih menarik ketika kita mau bicara tentang kebudayaan matrilinial…
Sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita.
sesuatu yang saya pikir mengajarkan banyak hal…
sangat banyak…
–
Dan, coba bandingkan dengan beberapa kutipan Jawa…
(maaf tanpa bermaksud chauvinisme)
“Wanita atages wani di tata”
yang namanya wanita itu ya harus wani (berani) di tata (diatur).
Nah, untuk bung ketua pemuda…
mungkin kita perlu berpikir ulang tentang tafsir etimologis “perempuan” dan “wanita”…
konon…
arti kata “wanita” berkembang dan dikondisikan keberadaannya dari aspek “fungsi” saja…
tidak lebih bagai sebuah komoditas dagang…
“jadi wanita, ya harus wani di tata”…
atau,
“Wanita ibarat awan dadi theklek bengine ganti dadi lemek (siang jadi bakiak, malam naik pangkat jadi—maaf—alas untuk ditindih)”
saya yakin semua perempuan yang mengunjungi blog ini tidak akan setuju dengan kutipan ini.
Tapi, apa boleh buat, bukankah pada sebagian besar pikiran kita “lelaki” atau pun “perempuan” kadang juga mengamini kutipan tersebut?
sedangkan perempuan?
dalam bahasa sangsekert, konon kata ini berakar dari “empu”…
ia yang dihormati, ditinggikan derajatnya…dijunjung.
yang atas percampuran dengan garis komunikasi melayu…terjadi penyesuaian kata dengan tambahan “puan”..
kalau “rem” nya saya dak tau…
hehehe…
Yaaa….siapa tau diskusi ini menarik bagi teman-teman disni.
Salam hormat untuk bu Kartini
Dan Tjoet Nyak Dhien..
–
khusus untuk pak Faucault (yang tidak enak/susah ditulis, tapi enak dilafadz kan..he he he…kita sering bilang dengan Fuko…lebih simpel)
btw, bukankah Fuko yang sebenarnya juga tidak suka perempuan…
hehehe
tp thx..
karena setiap orang pasti punya pendirian dan keyakinan masing-masing
–
Salam,
http://febridiansyah.wordpress.com/
wah kemarin hari bumi jadi, save our eaRTH
bila bicara soal perempuan, mungkin ini bisa menjadi salah satu menu pilihan untuk malam ini..
Perempuan versi Nietsche
Segala sesuatu tentang perempuan adalah teka-teki, dan segala sesuatu tentang perempuan mengandung satu pemecahan: ia dinamai kehamilan.
Bagi perempuan, lelaki adalah sarana: tujuan selalu si anak. Tapi apakah perempuan bagi lelaki?
Lelaki sejati ingin dua hal: bahaya dan permainan. Untuk alasan itu ia menginginkan perempuan, sebagai permainan yg paling berbahaya.
Lelaki harus dilatih untuk berperang dan perempuan dilatih untuk rekreasi sang prajurit: segala hal lain cuma kesintingan.
Sang prajurit tak suka buah yg terlalu manis. Sebab itu ia suka perempuan; bahkan perempuan yg paling manis pun masih tetap pahit.
Perempuan mengerti anak-anak lebih baik daripada lelaki, tetapi lelaki lebih kekanak-kanakan daripada perempuan.
Ada anak kecil yg sembunyi dalam diri lelaki sejati: ia ingin bermain. Mari, perempuan, temukan si anak dalam diri lelaki!”
Biar perempuan menjadi mainan, murni dan bagus layaknya batu berharga berkilau oleh kebajikan-kebajikan suatu dunia yg belum lagi ada.
Biar kejap bintang, berkilauan dalam cintamu! Biar keberanian ada dalam cintamu! Dgn cintamu engkau harus menyerang dia yg mengilhami dirimu dgn ketakutan.
Biar kehormatan hadir dalam cintamu! Perempuan cuma tahu sedikit tentang kehormatan. Tapi biar ini menjadi kehormatanmu: selalu mencintai lebih dari dicintai dan jgn pernah nomor dua dalam hal ini.
Biar lelaki takut perempuan ketika perempuan mencintai. Maka perempuan menanggung setiap pengorbanan dan segala hal lain yg ia pandang tak berharga..”
“Engkau mengunjungi perempuan? Jgn lupa bawa cambukmu!”
seperti yang saya bilang Pak Febri, sejarah telah tertulis dan inilah hasilnya. “wanita” mengalami ameliorasi sedangkan ‘perempuan” mengalami peyorasi. sebagai catatan, bisa dipastikan siapa pun akan ragu, jika hati harus lebih berpihak pada perempuan daripada pada wanita. itulah bukti hebatnya hegemoni patriarki dalam masyarakat mana pun, sehingga jangankan “pria” yang menguasai, yang dikuasai pun, yaitu wanita, merasa takut, khawatir, bahkan merasa menikmati penguasaan itu. Bagi kelompok terakhir ini, hegemoni kekuasaan pria akan dinikmatinya sebagai perlindungan dan kasihsayang
Sejarah telah tertulis?
History?
Strory milik para lelaki?
ha ha ha
Dalam sebuah diskusi dengan beberapa teman jurusan sejarah itu, dulu, seorang perempuan bicara –setengah mengecam– kenapa History? Bukan Shestory?
Karena dulu, ketika History lahir, para pemenang dari segala pemenang adalah lelaki?
Oh ya…SEJARAH.
saya kurang tau, sejarah yang mana?
ada yang bilang “sejarah bukan soal benar dan salah”, tetapi ia lebih sebagai bentuk dominasi seklaigus kepemilikan para pemenang…
Satu pertanyaan kecil, apakah sejarah yang tumbuh justru bertentangan dengan sistem nilai tetap akan di terima sebagai sebuah keniscayaan? Tanpa mempertanyakan?
Saya justru masih rada yakin, pilihan antara “perempuan” atau “wanita” bukan semata soal teknis bahasa.
oh ya…
adakah suara perempuan disini?????
masa iya, anda biarkan para lelaki membuka setiap lipat gaun yang anda kenakan…
ha ha ha..
Mohon maaf…
saya tidak punya cambuk seperti pak pemulung atau Nietsche.
Daaan, kenapa Minangkabau ini sangat menghormati perempuan?? Bukan justru “menindasnya” meskipun dalam bungkus kasih sayang.
Tidakkah matrilinial itu luar biasa?
BUAT NAK FEBRI YANG GELISAH AKAN DUNIA FEMINISME..
MENGKAJI SEJARAH ADALAH SUATU KEHARUSAN.
SEBAB, TUHAN MENCIPTAKAN LELAKI-PEREMPUAN. TEMAN SAYA MAXIM GORKI PERNAH BERKATA “SETIAP ORANG HARUS TAHU SEJARAHNYA”
NAH, NAK FEBRI KESANNYA MENGGURUI… KEBUDAYAAN TELAH MENCATAT PEREMPUAN SUDAH SESUAI DENGAN FUNGSINYA DAN DI ZAMAN SEKARANG PEREMPUAN TELAH DICERDASKAN OLEH BEBERAPA TOKOH FEMINIS, NAMUN ITU TIDAK CKUP BAGI PEREMPUAN MINANG KABAU.
KENAPA?????
BARAT ADALAH ‘VIRUS’ FEMINISME YANG BOLEH DIBILANG RACUN BAGI PEREMPUAN MINANG. KARNA TIDAK SEMUA PANDANGANNYA SESUAI DENGAN KONTEKS KULTURAL MINANG.
BARAT IALAH BARAT, ASIA IALAH ASIA!!!
JANGAN-JANGAN NAK FEBRI ADALAH KAKI TANGAN KAUM ORIENTALIS???!!!!!?
NAH, MEMANG PERSOALAN MATRILINEAL ITU LUAR BIASA, PEREMPUAN MEMILIKI HAK WARIS YANG PALING TINGGI DALAM KULTUR MINANG, PERSOAALNNYA ADALAH….
BAGAIMANA FLEKSIBILITAS ADAT DALAM KANCAH GLOBAL,
KITA JANGANLAH MENYAMAKAN DENGAN BARAT DAN JUGA BER-NOSTALGI(L)A TENTANG ‘PERSAMAAN’ LELAKI DAN PEREMPUAN!!!
MUDAH2AN NAK FEBRI MEMBACA LEBIH TENTANG FEMINISME. DENGAN ARTI KATA JADIKAN AL-QURAN SEBAGAI SUMBER DAN JANGAN BERSUMBER PADA; SIMONE DE BEUVOIR, HELLEN XICOSE, VIRGINIA WOLF, DAAAN..
KETUA PEMUDA!!
“menghormati”
“menghormati” sebagai simbol saja! hahahaha..bukankah hak bicara tetap tak punya. keputusan tetap ditangan lelaki!
kenapa anda tiba2 bersimpati pak febri?hihihi…
memang tak sebatas tata bahasa. ini masalh Tuhan pada akhirnya. kenapa dia mencipta wanita/perempuan dari tulang rusuk adam sehingga terciptalah dunia yang dikuasai laki-laki dan di_amini wanita/perempuan itu. memang sepertinya kita butuh perempuan/wanita didiskusi ini pak febri
untuk T.S ELL(D)IOT
SAYA ADALAH ORIENTALIST DAN SAYA BENCI KONSEP FEMINISME! hahahahahahah…dan sepertinya kaum feminist tak kan pernah berhasil Bung!
di indonesia perjuangan mereka sejak 1928 hampir tak berarti secara general. apakah T.S Elliot telah paham dengan surat An Nisa?
(waktu kuliah saya pernah dapat D untuk mata kuliah Women in Literature gara-gara saya mengecam feminism huahahahaha…dosennya jadi sensi)
waduh…gara-gara komputer ngadat, 1 ID saya ketauan hihihi….
eyang T.S ELL(D)IOT yang dah tua hingga harus nulis dengan huruf besar semua..he he he..
iya eyang….iya…
sepertinya eyang agak lupa juga nih, apa iya feminisme = emansipasi perempuan yang sedang dan terus diperjuangkan rekan-rekan padusi di Indonesia saat ini?
Apakah feminisme kemudian identik dengan segala hal yang berhubungan dengan penuntutan hak oleh perempuan??
seperti: afirmatif action dalam penentuan calon anggota legislatif di Partai (30%) itu.
pertanyaan yang sama juga berhubungan bahkan dengan,
apakah Kartini seorang feminis?
banyak yang bilang tidak, eyang…
tapi apakah konsep kesetaraan perempuan dengan lelaki berarti sama dengan feminisme, kemudian diartikan sebagai BARAT…kemudian berarti (karena kita Asia) maka Barat harus ditolak??
hmm…agaknya kita harus memikirkan ulang logika ini…
ini hanya usul eyang T.S ELL(D)IOT….
tentu sama sekali tidak menggurui eyang…
jangan sensi gitu donkkk
hehehe
Dan, tentu Al-Qur’an sebagai sumber…
hmm….
memang luar biasa eyang ini…
tapi saya “takut” baca Al Qur’an itu eyang, ntar kalau beda-beda tafsir jangan2 bisa diserang FPI….
ehm ehm…
atau eyang mo kasi petunjuk???
wah, senang sekali…
btw, orientaslis?
kaki tangan para orientalis?
ckckck…
kalaupun mau jadi orientalis, sepertinya lebih enak jadi “kepala”nya, dari pada jadi tangan..apalagi tangan kiri.
hahaha…
VONIS anda luar biasa eyang…
bgaimana menurut anda jika Al-Qur’an turun dari Barat yang anda kecam itu?
maaf saudara-saudara yang berbahagia
saudara-saudara hanya akan ditertawakan oleh nenek saya jika memperdebatkan feminisme di Minangkabau
sebelum nenek saya menertawakan saudara-saudara
lebih baik saya yang tertawa besar-besar untuk mengenang kebesaran saudara-saudara
untuk Saudara (“S” besar) Febri yang baik
ini Minangkabau, bukan Jawa!
Oya, saudara-saudara,
para lelaki yang sibuk mengurus perempuan.
ketahuilah, perempuan itu lebih kuat dari saudara-saudara.
ia menstruasi setiap bulan, ia melahirkan saudara dengan bersusah-payah, perpeluh-keringat, betapa sakit dan ngilu, berdarah-darah…
Selamat berjuang mengalahkan perempuan!
jika alquran turun di barat, barangkali nabinya bukan Muhammad, tetapi Santo Paulus…
Jika alquran turun di Jawa, mungkin nabinya Ronggowarsito
jika alquran turun di puncak gunung merapi, mungkin nabinya Si Amaik Panjang Gombak
Sedikit Tentang Perempuan
Di kota-kota, perempuan terpelajar berbicara tentang feminisme, emansipasi, dan kesetaraan gender dengan penuh semangat. Mereka menggugat. Tetapi lihatlah bagaimana perempuan-perempuan di tengah sawah, sambil merenggut-renggut siangan atau tengah bertanam padi, juga memperbincangkan hidup mereka.
Lelaki mereka bekerja di sawah dengan upah 30.000 rupiah sehari. Menghabiskan banyak waktu di kedai-kedai kopi. Sementara perempuan bekerja di sawah juga seharian. Mulai dari ketika pagi masih rabun, mereka sudah tiba di sawah, bergelut lumpur, berpanas dan berhujan, tetapi dengan upah 25.000 rupiah sehari. Mereka bekerja sampai petang menjelang nanti. Tanpa duduk-duduk, tanpa mengangkang di kedai-kedai kopi. Tanpa goreng pisang, ketan sipulut hitam, atau lontong gulai paku. Dan tentu saja tanpa berbatang-batang rokok untuk mereka hisap—walaupun pada kenyataannya ada juga di antara mereka yang mengunyah sirih bercampur tembakau, sugi namanya.
Dan nilai uang 5.000 rupiah itu tentu saja tak kecil.
Laki-laki dan Perempuan, sama-sama dapat bekerja menerima upah ke sawah-sawah, atau menggarap sawahnya sendiri. Tetapi ada memang yang berbeda. Di daerah ini, untuk mengupah bertanam atau bersiang padi misalnya, jarang sekali diperankan oleh laki-laki. Untuk keduanya biasanya selalu merupakan kerja perempuan. Sementara untuk membajak sawah, baik dengan kerbau dan sapi, ataupun dengan mesin pembajak, bukan bagian dari kerja perempuan, ia lebih sering menjadi wilayahnya laki-laki.
Tetapi tahukah kita bahwa penghasilan lelaki dan perempuan—yang menerima upah ke sawah-sawah itu—tak jauh berbeda sebenarnya. Bahkan jika dihitung-hitung, penghasilan bersih perempuan barangkali lebih tinggi, jauh lebih tinggi. Mereka, perempuan-perempuan itu, menerima gaji bersih, tanpa potongan apa pun, untuk kemudian disumbangkan sebagai pendapatan rumah tangga mereka, membeli lauk-pauk, atau apa saja.
Sementara kaum laki-laki punya daftar belanja yang panjang. Perempuan membawa sarapan pagi mereka dari rumah, sedangkan laki-laki sebelum bekerja akan singgah terlebih dahulu di kedai-kedai, memesan ketan-goreng, segelas kopi, atau lontong gulai paku.
Betapa. Perempuan-perempuan itu, di tengah sawah berbicara tentang hidup sambil jari-jari mereka terus juga menggaruk-garuk siangan.
Mereka pun menggugat. Menggugat suami-suami mereka yang kadang kelewatan, yang menghabiskan upah bekerja sehari hanya untuk kepentingan mereka sendiri: rokok mereka, biaya duduk-duduk di kedai kopi, ongkos pergi berburu babi, dan sebagai-bagainya.
Perempuan-perempuan itu mungkin tak pernah tersentuh wacana-wacana feminisme kaum kota, penyetaraan gender, emansipasi, dan atau apalah namanya. Jika pun ada keinginan-keinginan melawan dominasi laki-laki, bahwa di sawah ada lapangan-lapangan pekerjaan tertentu, tetapi tetap saja ada yang memisahkan mana yang bisa dimasuki perempuan dan mana yang hanya milik laki-laki, bersebab kekuatan atau tenaga yang berbeda mungkin, atau yang lain.
Maka ketimpangan itu dijadikan dan ditanggapi hanya sebatas keluh-kesah sesama mereka yang akan menguap segera. Tetapi setidak-tidaknya, bukankah mereka juga menggugat?
PUISI untuk PEREMPUAN
selamanya, akan tak bisa kita pahami percakapannya
bagaimanapun, di matanya sepi terus tampak
sebagai ombak, sebagai desak.
ingin ia sebenarnya melepas sesak
begitu banyak yang tak bisa kita masuki dari dirinya
–lubuk berhantu, atau sebuah lubang yang mengirim kita
jauh, entah ke pusaran mana
akan ada saja
yang tak pernah sudah kita kenali dari dirinya
patahan-patahan garis di bawah mata usia,
atau kesunyian malam-malam buta
–laut berombak, atau seekor hiu yang pelupa
PUISI untuk PEREMPUAN 2
malam terlihat lelah. tapi bangku dan laman
tetap bersikeras menunggu. ranting-ranting itu
mulai mengenal, apa benar yang dinanti lelaki
di situ?
tentang perpindahan burung-burung
tentang paruh yang kelak berubah tumpul
atau tentang benua mana
akan sedia tampung?
dan sesuatu apakah yang membuat kita terus di situ?
lelaki itu tahu, hatinya ingin berkata
: selalu ada memang yang terus berganti
dan kenapa harus tak abadi
malam terlihat lelah. tapi bangku dan laman
tetap bersikeran menunggu, hingga mereka saling berpangku
dan ranting-ranting di laman itu
seperti melambaikan sesuatu
–adakah punya tangan ia hendak menggapaimu?
Isa
; perempuan
hidup bermula dari sebiji kacang
tumbuh di perut perempuan perawan
Maryam tidak melahirkan jutaan bedil
hanya kecambah, katamu
sekali, ketika perang tak punya bapak yang sah
tapi hidup punya ibu yang malang
Pdang, 2008
Ayo berdebat dengan puisi!
Ayo berdiskusi dengan puisi!
aku mintakan kau
mencari duri dalam
dagingku
“Jangan kutuk kegelapan, nyalakan lilin!”
Puisi Untuk Deddy
ambo ndak pandai
manulis puisi…
ambo numpang galak se..
huehuheuuee..
lanjutkan sodara!
nah, sekarang sudah lengkap
pro feminism:
T.S ELLIOT dan Deddy Arsya
kontra feminism:
FEBRI dan Ketua Pemuda
coba diskusikan di Sub Blog yang tepat. Sub Blog Essay dan Opini (mungkin lebih tepat). atau kirimkan tulisan kawan-kawan ke redaksi Rumah Teduh.
selamat ber”perang”!
saya dak tau arti feminisme?
apaan tuh???
he he he…
yang saya tau, perempuan tidak pernah lebih rendah dari lelaki…
untuk pak Dedy Arsya…
sebaiknya anda baca dulu…
saya menyampaikan satu perspektif tentang “nilai Jawa” itu sebagai perbandingan…
janganlah seperti katak dalam tempurung…karena saya yakin anda tidak seperti itu.
saya yakin anda sudah lebih jauh berpengalaman dan telah belajar sangat banyak tentang hidup. Jangan mengecewakan saya sebagai fans anda donk…
he he he
begini, bung dedy…
saya mengutip Jawa agar kita tahu betapa pentingnya sistem nilai yang kita miliki tentang penghargaan terhadap kaum perempuan itu.
–
“Wanita atages wani di tata”
yang namanya wanita itu ya harus wani (berani) di tata (diatur).
“Wanita ibarat awan dadi theklek bengine ganti dadi lemek (siang jadi bakiak, malam naik pangkat jadi—maaf—alas untuk ditindih)
–
Apakah itu benar? Tentu, tidak.
masa iya perempuan disamapersepsikan dengan barang…
gila aja…
ibuku juga perempuan, bung…
dan, aku tau, Siti Hawa atau Eva seklipun bukan sekedar pelengkap semata.
diskusi ini muncul dari pilihan kata antara “perempuan” dan “wanita”…
dan kita mencoba menelusuri beberapa pemahaman tentang itu…
Oh ya…
saya juga ingin tanya nih…
duluan mana anda dengan GM yang bilang:
“jangan hanya mengutuk gelap, mari nyalakan lilin?”
Salam hormat tuk pak Dedy (dengan “D” besar)
-juga-
mmmmmhhhh….
sptnya saya juga mau bertanya…Setara dari sudut pandang mana yang di inginkan; perempuan, wanita, ibuku, tuan putri dari Utara atau apapun sebutannya.
ini pertanyaan yang sama, yang saya ajukan ketika saya berdiskusi dengan aktifis perempuan di Kalyanamitra.dari kesimpulan saya mereka tidak menjawabnya dengan benar…setelah hampir empat atau lima tahun yang lalu, hari ini saya mau menayakan ini lagi, sekali lagi: Kesetaraan dari sudut pandang mana yang diinginkan perempuan?saya berharap ada yang mau membantu saya..terimakasih
Salam
Bagi kawan-kawan simpatisan blog diberitahukan bahwa
kategori Musik Rumah Teduh Telah terhubung ke http://www.rumahteduh.multiply.com
silahkan melihat-lihat, kirim komen dan “perang”
Bagi yang mau kirim karya musik silahkan ke Redaksi di:
komunitasrumahteduh@gmail.com
salam
OOO TUan Redaktur Saya sudah selesai bekerja Jam 8 Pagi ini
tolong diiklankan kamar baru kita yang di http://www.rumahteduh.multiply.com
salam
Nb: Gaji tolonglah dinaikkan pak redaktur
numpang mampir boleh ya?
Yth. Redaktur
Tolong sambungan kabel Rumah yang download musik dialihkan ke http://www.rumahteduh.multiply.com
terimakasih
Nb: apa anda sakit setelah melatih sastra Inggris 2005?
halo penghuni blog rumahteduh
Permisi! Saya numpang ber”teduh” sambil curi-curi ide. Salam dari Makassar…
selamat siang kawan-kawan
setelah sekian lama bercokol do Blog ini baru satu orang yang menimbulkan kesan menyenangkan bagi saya di komen pertamanya. yaitu…
tengtedenggggg………
dul abdul rahmannnnnn….
selamat buat anda dari makasar
anda mendapatkan uang tunai sebesar J 30.000.000,-(setara dengan USD 1.000.000.000,-) nanti akan saya kirim lewat SMS
Yth: The Next Act
Dahulu perempuan menginginkan kesetaraan dari segi menyampaikan pendapat -ini yang diperjuangkan oleh Kartini mati-matian-. sesuai dengan perkembangan zaman, perempuan semakin berkembang pula, dan ingin kesetaraannya di kembangkan pula. ada beberapa kesetaraan yang secara tidak sengaja dikembangkan oleh perempuan dan ada yang sengaja dikembangkan oleh perempuan.
Yth: febri
mungkin itu adat di Jawa. lain pula dengan adat di Minangkabau, Batak, Aceh, dan lainnya. Ingat, ini Indonesia bung! Indonesia mempunyai banyak kebudayaan. jangan anda samakan dengan negara lain.
Abang-abang dan kakak-kakak, tak adakah tersedia kolom buat cerpen anak?????
Kalqau misalnya ada, saya mau mengirimkan cerpen anak saya yang sudah terbit,,, ting kiu
Balas ke blog saya yah, Kakak,,,.
oiii..icha
ini saya pinjamkan pisau. sana bunuh diri!
Yth. Kawan-kawan di rumah Teduh
Sebulan sudah saya di jangnana untuk meliput Gangster. kehidupan disini memang keras! sejak 1 bulan ini 327 orang tertembak mati didepan saya.
Sedikit orang yang tersenyum dari situasi ini adalah Fayette, sang Tuan Redaktur. Warnetnya dikawasan Jatos, Jangnana’s Town Square, laris manis. Disaat seperti ini setiap orang membutuhkan informasi yang akurat untuk bertahan hidup. Informasi yang hanya bisa didapatkan dari internet. Informasi yang beredar di Blog. Blog yang dikelola sendiri oleh Fayette. Dari dulu, membuka sebuah warnet yang tercanggih adalah cita-citanya. Walaupun uang yang didapatkan dari usahanya itu terkadang tak seberapa, tetapi Fayette sangat menikmati bisnis warnet. Dia suka melihat ekspresi setiap wajah manusia yang sedang asik dengan dunia cyber. Apalagi jika ada yang bertanya padanya seputar teknologi informasi itu, Fayette akan menjelaskannya dengan berapi-api. Bahkan MayJend. Theban yang kakupun menjadi seorang pecinta dunia cyber setelah mendapat ceramah dari Fayette.
sore ini saya sedang di Jatos, sekedar menikmati Minasnya yang terkenal. ada yang berubah! Jatos memang tak seperti dulu lagi ketika orang-orang kaya bertebaran dijalan-jalannya yang glamor untuk menghabiskan uang. Memang pada saat kekuasaan Jendral Permana telah terjadi jurang yang lebar antara sikaya dan simiskin. Jika orang-orang kaya bermukim di Rumah, maka orang-orang miskin tersebar didistrik-distrik yang terabaikan. Namun walaupun demikian, ada satu hal yang menjadi cirri khas masyarakat Jangnana. Kegemaran mereka untuk berperang. Selalu ada alasan untuk memulai sebuah perang. Dari masalah ember tetangga yang diambil anak tetangga, sampai permasalahan penjualan informasi tentang aset Negara. Hal inilah yang membuat militer selalu mendapat peranan penting dalam kehidupan masyarakat Jangnana. Walaupun Jendral permana dengan ideologi militernya telah hancur, tetap saja militer mendapat perhatian khusus dalam pemerintahan yang dibentuk oleh Ketua Pemuda. Bahkan pergerakan IRED yang mulai terdengar lagi pun menebar aroma militer, walaupun mereka mengaku berjuang atas nama kaum minoritas dan rakyat tertindas. Dinegri ini tak ada yang lebih penting dari perang. Mereka cuma kenal perang. Semua anak bercita-cita menjadi tentara, dan orang-orang dewasa menikmati bermain senjata. Disinilah satu-satunya didunia seorang penjual martabak berjualan dengan M-16 tergeletak diatas meja dagangannya. Mereka akan berteriak; martabakkk…ayo beli martabak saya…rasa keju special…tretetetetetet…sambil sesekali menembakkan M-16nya keudara. Biasanya setelah sipenjual martabak menembakkan senjata, anak-anak para penjual martabak yang lain akan merengek agar Bapaknya juga menembakkan senjata, sehingga mereka bisa tertawa bangga pada teman-temannya.
“hehe…papaku lebih suka AK-47, bunyinya lebih asik”
begitulah komentar salah seorang anak penjual martabak pada seorang temannya yang juga anak dari seorang penjual martabak.
sekian
Saya betul2 merindukan karimuntiang
Redaktur Blog ini agar segera menghadap KAPOLDA SUMBAR! ada tindakan MAKAR di Blog anda!
rupanya di Jangnana [nya zonia] tidak terdapat perempuan,
anda harus membaca sekuel “Perang Di Jangnana” dengan Judul: Gangster.
Jangnana merupakan dunia paralel dengan dunia anda. layaknya miror concept di sociology of literature.
pernah nonton G-30 S PKI? atau The Kingdom? atau cerita2 Perang lainnya?wanita memang Jarang ikut campur dalam masalah ini bukan?
tetapi di sekuel Perang di Jangnana, Gangster, anda akan melihat pengaruh dari seorang wanita.
Hiks…terpaksa kasi bocoran hiks…
Zonia,kapan anda akan menerbitkan Gangster?saya ingin melihat,apakah gangster punya ciri khas tersendiri atau tidak seperti Jangnana yang biasa-biasa saja?
iya deh saya tunggu terbitnya Gangster, tapi saya harap Anda tidak mengecewakan kaum permpuan Tuan Muda…
Dalam perang Seksual Jangnana, mungkinkah perempuan memegang peran utama?
oh ya, anda suka ayam kalasan?
saya suka menanam akasia di belakang rumah
salam
hahaha..perang seksual terlihat sangat lucu dimata saya nona
Distrik Placebo, 30 April 200818.37
sebuah granat meledak didepan saya, saya terluka dibagian dada.
sambil berlari kearah puing-puing bangunan saya tanamkan lekat2 dikepala saya bahwasanya perang ini baru saja dimulai!
darah yang telah tumpah ini tak akan terbuang sia-sia!
akhirnya pistol yang selama ini saya simpan baik-baik di balik jacket terpakai juga. peluru pertamanya telah menghancurkan jantung seorang perwira musuh.
rasa sakit ini taksebanding dengan kemenangan kecil saya malam ini. peluru itu memang menembus dada, tapi tak sampai merusak organ. sementara mereka pasti akan mulai memperhitungkan saya. hahahaha…besok saya akan lebih serius melakukan perjuangan!saya bukan lagi seorang wartawan yang diutus Blog ini sebagai peliput berita. mulai besok saya adalah seorang pejuang!
Diluar sana perang masih berkecamuk. sebagai seorang yang baru terjun ke medan perang, saya tinggal mencari celah yang tepat untuk menempatkan diri dimedan perang.
salam
percayalah, rumah teduh kalian terasa sangat teduh jika dibayangkan dari sini. apalagi keselatan Jingga.
Yth: Pengguna Blog
kunjungi http://www.rapimusicstudio.multiply.com ya
Yth. Pengunjung Blog
Dukung zonia(band) di ajang -indie 8- radio Sushi FM
caranya
ketik: indie(spasi)zonia(spasi)umur(spasi)nama(spasi)alamat
kirim ke: 08126600991
saat ini zonia telah berada diposisi 5 setelah menjadi penantang diawal minggu ini.
terimakasih atas dukungannya
cheeerrrsss….
Bang ketua pemuda, sia yang inyo bunuh diri, saiya vuma menyarankan. Bilang aja bang yang mau bunuh diri, nih saya kasih silet,, biar kematiannya lebih drastis,,,.
Jangan mengancam ketua pemuda,,,.
jangan langsung merendah gitu donk. saya juga bukan seorang cerpenis.
Jangnana cerpen yang bagus, di setiap karya pasti ada kekurangan yang dilihat oleh penikmat karya tsb. pada cerpen jangnana, terlalu banyak istilah yang tidak diketahui oleh pembaca. kalau pembaca orang-orang di dekat anda, pasti mereka tau. tapi yang membaca seluruh Indonesia, istilah-istilah yang anda gunakan susah mereka mengerti. sebaiknya anda buat penjelasan tentang istilah2 yang anda gunakan.
terima kasih.
hihii..nanti saya bikinkan catatan kaki
istilah? hanya ada beberapa, Lejen, itupun sudah saya tulis tentang apa itu lejen tepat setelah kata lejen. “warfar” juga saya tulis setelahnya(terjemahan bhs inggrisnya)__apa kata-kata yang dalam bahasa inggris harus saya terjemahkan satu-satu?seperti arti kata “comment” atau lirik lagu Jamest Blunt yang saya kutip. selebihnya hanya nama, apa nama juga istilah akasia(saya bingung)? jadi, apa saya harus bikin catatan kaki tentang nama-nama?, misal: Dubbed Humvee: Sebuah varian mobil militer buatan Amerika. jadi istilah yang mana akasia?
tolong
Tolong dibaca sekali lagi ya
jangan pake sistem scan, biar tak ada yang terlewatkan.
biar akasia bisa membantu saya dalam menulis kedepannya
terimakasih
icha….I Love Youuuuuu…mwuaaaccchhhhhhh….sini bunuh diri sama-sama(jgn pake silet..kan atit :p)
oiii akasia!
saya mau ke PKM hari senin. saya diundang zonia untuk membunuh anda!
lalalalalalalalalal…(nyanyi lagu kangen band)
oi zonia..chat yukk
ID sya ketuapemuda di YM
hahahah..ok ketua
ID saya poppyzonia
Yth. Redaktur Blog
anda royal sekali pada para pegawai anda disini
sepertinya saya akan berhenti dari Trans TV biar bisa fokus di Blog ini
Hallo tuan-tuan,
salam kenal, di sini kelihatannya menyenangkan ya..
lebih dari di istana saya..
Yth. Pengguna Blog
terimakasih telah mendukung zonia di ajang indie 8 radio sushi 99.1 FM.
saat ini zonia berada di chart nomor 1 setelah menjadi penantang minggu lalu.
salam
terus dukung zonia di ajang indie 8 sushi FM
ketik: indie zonia umur nama alamat
kirimke 08126600991
terimakasih
“Rumahteduh juga tidak membuka diri bagi tamu yang berkunjung, baik ke blog atau pun ke perkumpulan rumahteduh. Untuk itu kami menerima kiriman tulisan berupa esai, puisi atau apa saja”
apa pula maksudnya ini bung..?
tidak membuka diri tapi menerima tulisan..
ahh.. bingung saya jadinya bung fais..
macam mana pula ini..
Malam, teman2 yang baik…
diurutan ke 127
–
ternyata ada perubahan potret di headblog…
“ayo belajar…..”
tidak perlu bawa bambu…
hehe2
agaknya teman yg berjubah itu masih meyakini kisah bambu runcing di abad lampau…
apa kabar semua….
hai…
masih seperti yang dulu?
kangen….
pakabar feb…
pakabar k.pemuda…
pakabar deddy…
pakabar f…
pakabar semua-semua…
pakabar zonia
pakabar pemulung…
pakabar mu, juga…
Apa kabar?
hmm…sore ini di kota sesak, masih berdentang takbir atas nama Tuhan yg digunakan untuk “membunuh” hak orang lain oleh serdadu berjubah itu…
aku heran…
yg ku tau, di kampung ku, orang sangat terbuka dengan perbedaan…
Bambu digunakan untuk pagar rumah atau ladang,
bukan memukul orang yg berbeda pemahaman.
Parang digunakan untuk membelah kelapa,
bukan untuk mengejar orang yg didaulat “kafir”
Takbir pun hanya digunakan untuk bercinta dg sang pencipta.
bukan untuk membunuh!
ah…
apa mereka saja yg punya Tuhan!?!?!
-
dan, agak sakit perut sore ini….
…
jihad, katanya!
kalo jadi anggota “orang2 berjubah” itu brapa gajinya sebulan pak febri? saya mo cari cekeran lain neh. setiap demo ato rajia dapat uang makan gak?
cekeran?
maksudnya..yang nyeker gitu ya???
ha ha ha2
bung Antek-antek memang luar biasa…
tp sayangnya saya lum kenalan dg mereka…
teman2 yg baik…
bukan tentang antek-antek. apalagi preman berjubah
–
ada satu tulisan kecil…
“Surat untuk ‘Za”
hal serius dan sepusing korupsi, kapitalisme dan embel-embel segala macam coba ditulis dalam bentuk percakapan dan semi cerita…
–
“Za, kawanku yang baik…
…
Hingga jam 11 lewat 20 menit (1 jam molor, LAGI–seperti kereta Jakarta-Lempuyangan), 3 sosok berjubah masuk. Lengkaplah. Ruangan telah benar-benar penuh. Sesak. Tidak secuil tempat pun tersisa. Dan, seperti biasa, rakyat berkerumunan diluar hingga pinggir-pinggir jalan. Tidak cukup tempat bagi mereka.
Tidak cukup tempat untuk rakyat yang berkerumun, dan juga tidak ada tempat bagi “keadilan” pada sebuah teater absurd hari itu. Pada sebuah persidangan kasus korupsi seorang kerabat penguasa.
“Keadilan menunggu diluar. Jauh disana, bersama hitam pekat got-got kota yang mampet, atau bau anyir bangkai bayi-bayi hasil aborsi yang dibuang di pinggiran sungai. Dan, ia tidak akan singgah, tidak mungkin kembali”.
Percayalah, hukum tidak berarti keadilan. Bukankah banyak Guru Besar Hukum kita bilang demikian? Dengan angkuh.
Karena itulah aku tuliskan surat ini untuk mu.”
….
–
versi lengkap:
http://febridiansyah.wordpress.com/surat-untuk-za/
sekarang adalah dunia dimana politik keberagaman membentuk keseragaman
perbedaan tidak akan muncul jika ia selalu dijadikan tujuan, tapi hargailah ia dalam keseragaman masing-masing. maka dari situlah akan muncul penghargaan akan perbedaan.
namun fakta ksatria berjubah bukanlah sebuah fakta yang statis. kita harus menyediakan waktu untuk penafsiran yang melewati ruang dan waktu kekinian dan kedisinian…mengapa mereka bisa berbuat demikian?
jawablah pertanyaan itu, niscaya jawabannya lebih interpretatif.
terkadang sekelompok orang dengan sadar atau tanpa sadar telah menjalankan kepentingan sekelompok orang lainnya. mungkin masalah hati, mungkin sesuap nasi, atau mungkin sebuah konspirasi. dan didalam keduanya terdapat orang yang bersenang-senang serta orang-orang yang berpikir keras dan orang-orang yang tidak berpikir sama sekali. sementara yang lain berlomba membuat kelompok yang lain, beberapa kelompok yang lainnya ikut bersuara entah demi apa pula. entah apa yang dimaksud dengan salah dan benar saat ini? untuk kepentingan siapa jika kita harus membenamkan diri dalam penafsiran yang melewati ruang dan waktu? dikampung Bung Febri yang nyaman mungkin Takbir digunakan hanya untuk ritual percintaan dengan Tuhan. tetapi bagi sebagian orang takbir mereka digunakan untuk melayani kepentingan Tuhan mereka walau dengan perang dan darah. jadi siapakah yang lebih suci?
tentang “Tuhan” Bung Febri, anda sepertinya agak skeptis hahahah..mungkin anda akan suka Cradle of filth
Tuhan dengan tanda kutip itu siapa ya?
sepertinya pernah dengar…
ya..silahkan lah orang2 yg hobi bermain dengan darah dibalik senandung adzan
hobby kok dilarang!
hehe2
bahkan kalau zonia ingin dikatakan suci pun g pa2…
Sutan Kaciek sampai Sutan Gadang
Saya katakan, sebagai pewaris sah tahta kerajaan Pagaruyuang, patut pula saya memberikan respon atas perdebatan Sutan-sutan di wilayah kekuasaan saya.
Febridiansyah, sepertinya Sutan terkena Sindrom Asperger. Sindrom yang menjadikan seseorang sibuk dan mabuk dalam nostalgianya sendiri.
Tetapi sepertinya Sutan pun tak lengkap bernostalgia. Hah, Asperger yang setengah-setengah pula. Bahwa di kampung Sutan itu, orang-orang “yang sama” seperti yang Sutan sesalkan hari ini, saya katakan, pernah pula bertindak brutal (tidak dengan bambu atau kayu lagi, tetapi dengan Pedang dan Meriam, tidak memukul-mukul dan menghantam dengan kepalan tinju lagi, Sutan, tetapi memancung leher dan merompak-rompak tubuh)
Kita punya sejarah yang panjang, Sutan. Bagaimana azan yang digunakan untuk memanggil manusia untuk sembahyang itu, digunakan layaknya “OPIUM” untuk menambah semangat “JIHAT” (pakai “T”), memukul-mukul yang berbeda, memenggal kepala mereka yang sesat, bid’ah dan tidak “PATUH”.
Si Kemal di Turki sana telah “mengharamkan” suara azan di masjid-masjid. Suara azan membuat kita pusing kadang-kadang. Benar juga kata Marx, dalam konteks ini “AGAMA ITU TUBA”
Tapi dalam konteks ini, Sutan-sutan yang banyak, saya tidak sedang menyesalkan adanya suara azan di wilayah kekuasaan saya, yang berlantun-lantun dan kadang menyesatkan kita: tentang mana yang harus dijawab?
Tentang boleh atau tidaknya suara azan diperdengarkan di setiap masjid, saya serahkan pada nagari-nagari untuk menentukan. Apakah nagari-nagari hanya akan menunjuk satu masjid utama saja di sebuah nagari yang boleh memakai mikrofon untuk mengumandangkan azan, atau tidak satu pun masjid-masjid boleh memakai pengeras suara (seperti kebijakan si Kemal di Turki misalnya)? itu juga saya serahkan kepada kebijakan nagari masing-masing. Adat salingka nagari, Sutan. Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalang. bukankah begitu?
Hanya saja perlu saya sesalkan, sebagai pewaris sah tahta kerajaan, karena orang-orang yang keras dan radikal itu, kita jadi malas mendengar azan. Azan tidak lagi membuat tenang hati dan jantung. Seakan-akan teriakan TAKBIR itu teriakan untuk membunuh.
Hah, lebih baik mendengar “Tanjung Sani” Sutan-sutan yang banyak. Saya ada, Khotic nan maagieh.
SURAT IMBAUAN
Saya sudah mengirimkan surat edaran kepada Pengasuh Blog ini, agar tidak menjadikan blog ini tempat menyusun kekuatan, melemparkan statment yang mendorong nagari-nagari di Luhak maupun di Rantau melakukan makar terhadap kerajaan.
Saya mencium ada aroma pembangkangan di sini. Pengasuh Blog semestinya tanggap akan hal itu. Tulisan-tulisan yang menyerang adat seperti punya Faiz itu seharusnya tidak dimuat.
Perlu diketahui, pihak kerajaan masih cukup hulubalang untuk mengobrak-abrik kantor redaksi Sutan-sutan semuanya. Dua pekan yang lalu, pihak kerajaan telah mengadakan Festival Randai dan Festival Silat Singo Barantai di GSG IAIN.
Kami mencontohkan, begitulah selayaknya Randai. Tidak seperti yang dicatatkan Faiz. Kami katakan pula, pesilat-pesilat itu telah pula kami beri sertifikat, sebagai bentuk persetujuannya mengabdi sebagai hulubalang kerajaan.
Dapat kami katakan, tak ada ruang merekrut pesilat-pesilat itu untuk membantu pelaksaaan makar. seluruh pesilat di selingkar tanah Minangkabau ini, telah disumpah-setia kepada kerajaan di bawah batang sikaladi.
Demikian surat imbaun ini kami tuliskan dengan penuh kesadaran, untuk selanjutnya biarlah Rabab nan manyampaikan.
TTD
BANGSAWAN PAGARUYUANG
Wah, blog Rumah Teduh sedang sakit ya?
kok sepi begitu?
Ah, angek-angek cirik ayam pulo kiroe
hihihi…ya gak papa febri, masa’ dibilang suci gak mau hahahaha…anda sungguh hebat bergurau, atau anda juga senang bermain darah atas nama media lain selain adzan? tulisan mungkin, hehehe..mengingat kata pak Faiz anda seorang penulis yang handal dikoran nasional
Sayyid, angku bana saketek mah
blog-blog cando Rumah Teduh ko
akan lenyap perlahan-lahan.
tando-tando e lah tampak….
sejarah telah membuktikan,
setelah polemik kebudayaan sutan takdir dan armin pane,
dunia perpolemikan (sori untuak kato ciek ko) menjadi sepi. baru muncul generasi polemik lainnya setelah revolusi terpimpin ala soekarno. (polemik gaya pram itu pun polemik “ciliang luko” pulo, polemik “biruang mabuak”. sipak niak sipak niin, ma nan nampak nyo hantam.)
itu lebih mending mah,
urang-urang bantuak Taufiq Ismail, mungkin dek kalah, lari ka puisi. nyo tulih puisi mancaci maki Rapek Akbar PKI, nyo tulih tentang Aidit dan Soekarno manari Lenso jo anak gadih-anak gadih rancak dari Japang. Si Goenawan dkk tamasuk Ali Audah, mengalua an Manifes Kebudayaan.
Nan Papa Rusli, sato pulo, menyorak-nyorak mendukung Manifes tu di Padang.
heheheh
kino, model apo nan karancak polemik awak adohan lai?
POLEMIK yo, ingek, PARANG PITULUIK (PENA)
dak gai parang tinju doh.
POLEMIK NET sabananyo menarik mah,
Polemiknya generasi POSTMO
Tabik untuk Rumah Teduh!
Yth: Penikmat Blog
Terimakasih atas dukungannya pada zonia di ajang indie 8 Sushi FM Padang
sekarang anda bisa Request lagu zonia disemua program Request Sushi 99.1 FM karena zonia berhasil selama 2 Minggu Berturut-turut diposisi 1 Indie 8
salam
untuk Bangsawan Pagaruyung
disini adzan diperdengarkan dalam format “.mpeg”.
bisa pakai winamp!!!
atau, windows media player versi terbaru..
dan, Tuhan pulang ke rumahnya.
enggan bertemua sang garin.
–
he he2
–
yang saya maksud “orang yang menggunakan klaim adzan untuk melegetimasi genangan darah” lebih pada makna sebenarnya. Bukan kiasan.
Dan, Kenyamanan?
haha2 saya kira justru kata itu yang paling tidak nyaman.
yang jadi masalah, tragedi bambu dan monas justru berangkat dari upaya menciptakan “kenyamanan dan kemapanan” pemahaman oleh kalangan tertentu.
Kalangan yang tidak pernah ingin dengan perbedaan pandangan. Perbedaan persepsi.
ini yang saya sebut dengan……
“klaim atas nama Tuhan”
haha2
Febridiansyah,
Sutan tentu juga berharap kenyamanan.
jangan menafikan fitrah manusia untuk memperoleh kenyamanan begitu.
Sutan “berang” kepada FPI
kan juga untuk kenyamanan dalam persepsi Sutan pula.
jadi sah-sah saja memperjuangkan kenyamanan.
tapi tentu saya sepakat dengan Sutan di lain hal.
cara memperjuangkan kenyamanan mereka itu memang tidak tepat.
mengenai Klaim atas nama Tuhan, ya, itulah gunanya Tuhan.
kalau tidak ada Tuhan, siapa lagi yang akan diatasnamakan?
maaf saya ralat kalimat terakhir
yang benarnya: kalau tidak Tuhan, siapa lagi yang akan diatasnamakan?
tanya OM febri, tragedi bambu dan monas berangkat dari upaya menciptakan “kenyamanan dan kemapanan” pemahaman oleh kalangan tertentu atau hanya sebuah permainan untuk mencapai kemapanan bagi kalangan tertentu?
bisa jadi permainan, bung ketpem (ketua pemuda)
hahaha2
Tp apa yang tidak bisa kita sebut “permainan” di dunia yang terus bergerak ini?
tp apapun itu, terlalu angkuh jika seorang manusia mengatasnamakan Tuhan atas pemahamannya yang belum tentu benar…
Dan, menumpahkan darah?
ckckck…hebar ya
apakah ada yang mengaku paling benar atas sebuah tafsir agama?
atau, bung bangsawan pagaruyung?
hahaha2
btw dari pemilihan nama bung, sepertinya ada garis feodalisme yang sangat kental…
atau, salahkan saya yang mungkin mencintai Tuhan yang berbeda dengan bung bangsawan??
Tapi, pada prinsipnya tentu saya tidak akan paksakan pikiran saya pada bung…
Dan, Tidak perlu bilang…”merupakan fitrah manusia untuk nyaman…”
hmmm….
hahaha…siapa yang lebih angkuh, manusia yang mengatasnamakan Tuhan atas pemahamannya yang belum tentu benar…atau manusia yang meragukan Tuhan dengan melecehkanNya dengan akal dan Ilmunya yang dangkal seolah2 tuhan itu hanya sebagai bahan perdebatan (yang MerendahkanNya dimata manusia) untuk menunjukan Ilmunya yang lebih dari manusia lain Bung Febri?
anda ini aneh sekali Bung Febri, pemikiran anda saling bertabrakan hanya dalam beberapa komen saja hahahahah….memangnya anda merasa lebih benar dan lebih mengenal Tuhan dari orang2 berjubah itu Bung febri? mungkin anda tidak merasa perlu memaksakan pikiran anda pada semua orang diblog ini, tetapi dengan gamblang memperlihatkan penuduhan anda seolah olah anda paling benar. kalau anda memang termasuk orang2 yang menerima perbedaan pandangan. Perbedaan persepsi. seharusnya anda bisa berkomentar dengan lebih bijak
untuk kura-kura berpunggung hijau:
Nan saketek itu lo nan kadikana dek urang lain bisuak ko, untuang2 masuak buku sejarah lo bisuak. kalaupun indak, untuak palamak carito 20 taun nan katibo. jadi saran ambo, daripado angku jadi urang pambaco sejarah se taruih, sakali sakali ikuiklah dalam sejarah tu. tapi kalau ndak katalok rasoe, duduak tanang se lah di pustaka.
ckckck…
ada satu kecaman dari teman yang bernama zonia…
hmm…
yang saya tau, Tuhan tak perlu dibela.
dan kalaupun anda tidak tertarik bicara Tuhan, kenapa harus ikut?
sederhana, bukan
atau, apakah ada yang merasa menjadi korban pemaksaan pendapat di blog ini?? Adakah nona zonia?
tidak terlalu penting bagi saya untuk mempertimbangkan konsep kebijakan, jika anda meminta saya bicara dengan bijak. Apa anda mulai jadi Tuan/Nona besar pengatur yang meberi pagar batas bijak dan tidak bijak?
kalau iya pun, ya ga apa-apa…
hehehe2
nona boleh mengimani Tuhan yang nona sebut-sebut setiap waktu. Tp itu tidak menghalangi saya atau siapapun untuk memilih tidak mengimaninya..

Lagipula, saya ragu, apa Tuhan nya nona ikut campur dalam perbincangan blog ini…
–
dan, hmm…
–
tapi, diluar “kenakalan” itu, nona zonia yang baik…
saya percaya, setiap orang boleh berpikir berbeda, bahkan tidak berpikir sekalipun. dan, saya atau siapapun, bahkan anda, tidak berhak melarang pikiran orang. Apalagi hendak memagari…
tentu anda tidak demikian..
apakah ini masih kurang bijak???
kalau masih kurang, apa boleh buat..
mungkin anda harus buka kursus bijak membijak…
–
Dan, agaknya penting bagi nona belajar lebih banyak meniru kura-kura berpunggung hijau..
belajarlah dengannya, kenapa harus mengecamnya…
–
apakah masih kurang bijak, wahai nona yang bijak?
oh ya…
saya dapat kabar dari Tuhan nona zonia…
ia sudah mengundurkan diri…
apa benar?
jeng Febri, anda makin lucu saja
tidak terarah dan bersembunyi dibalik susunan kata-kata ( memang seperti itulah seorang penggiat hukum sepeerti anda di didik )
kalau didalam komen biasa di dalam sebuah Blog anda bisa gamang dengan pemikiran anda apalagi dikehidupan nyata.
saya tak tertarik bicara tentang Tuhan Jeng Febri, komen saya sebelumnya bukan tentang Tuhan ( apa anda tidak membaca dengan baik? )lebih fokusnya: tentang ANDA. tentang keangkuhan anda terhadap konsep ketuhanan. tentu saja saya tak akan memaksakan keimanan saya terhadap Tuhan saya pada anda (tidak pernah kan saya maksa2 anda?) dan tentu saja Dia adalah sesuatu yang diluar pemahaman anda jeng febri.
saya sepakat kita tidak bisa melarang pikiran orang, itu berarti harus siap juga dengan resikonya, tapi sayang, anda hanya bisa bicara ( dan itupun sering salah ) jeng febri yang baik
tentang kura-kura, saya akan terus belajar Jeng Febri, dan saya akan menentukan sendiri apa2 yang akan saya pelajari, tapi terimakasih atas sarannya.
untuk anda jeng Febri, saya adalah seorang LAKI-LAKI, jadi jikalau anda sengaja memanggil saya dg kata “nona” dalam rangka sindiran bagi saya tak masalah (sebagaimana saya memanggil anda “jeng”), tetapi kalau anda salah karna tidak cermat mengamati segala sesuatunya maka saya akan sangat kecewa dengan anda yang katanya seorang advokat. sepertinya anda yang masih banyak butuh belajar febri. paling tidak belajar mengamati dulu sebelum berbicara atau menulis, apa itu tidak diajarkan di semester2 awal waktu anda kuliah?
salam hangat dari Padang
(anak-anak UKS titip salam Buat anda yang katanya mau kepadang)
Tuhan saya belum sempat saya temui Jeng febri, jadi saya tidak tahu ttg hal yang Jeng maksudkan. maaf.
agak melelahkan beberapa hari ini.

pemeriksaan internal kejaksaan justru ah……
—
dan,
semoga tidak ada yang tersinggung dengan panggilan “nona”…
terutama..oh adakah yang menyatakan tak tertarik bicara Tuhan tapi justru memberikan porsi yang terbanyak dalam kata T U H A N??
haha2
dan kalau zonia berbicara tentang advokat…
sudahlah, lupakan itu…
saya pikir tidak perlu label hari ini…
persoalannya sederhana saja,
sebeapa banyak ilmu yang kebetulan sempat kita pelajari bermanfaat bagi “selain diri kita”.
kartu advokat itu pun hanya alat zonia yang baik…
cobalah sesekali turun ke pemukiman yang dihuni orang-orang belum makan 2 hari, dalam mata cekung mereka…bicaralah dengan mereka, dan bung akan paham…masih sangat banyak yang butuh beberapa “benda” kecil yang kita miliki, baik yang ada di kepala kita ataupun, bahkan saku yang tak terlalu dalam…
atau, cobalah baca rekayasa laporan keuangan pemerintah kota bung..dan lihat betapa berlimpah senyum mereka dibalik catatan tentang kebocoran APBD…
dan, saya percaya, bung akan paham..dimana ilmu itu berguna, dan dmana ia menjerat…
cobalah, sesekali saja..
tentang kesan bung/nona, bahwa komentar saya di blog ini justru dipahami sebagai bentuk “kegamangan”…hmm…apa boleh buat..
kadang hidup memang gamang…tidak setegas dan seideal yang dibayangkan banyak orang…
–
hari ini hujan turun menjadi berkah seklaigus bencana..
–
Dan, tidak terlalu penting bagi saya tuk klarifikasi itu…
yang pasti sedikit “menggelikan” mengetahui ada orang yang begitu resisten dan sensitif, kemudian …..hmmm
lagipula, klaim anda tentang inkonsistensi tanggapan saya agak mengkhawatirkan, semoga tidak semakin menegaskan ketidakkonsisten anda, zonia yang baik
–
salam kembali untuk rekan di sana,
meski saya yakin tidak terlalu penting bagi teman2 untuk mengenal dan berdiskusi dengan saya jika jadi pulang sebentar, besok atau lusa…
menggunakan kata “tuhan” bukan berarti membicarakan tentang Tuhan kan Bung Febri?
cobalah untuk meng-idealkan hidup anda Bung Febri yang baik, mencari hidup yang ideal dgn anda sehingga anda tak gamang lagi. ukua bayang-bayang sapanjang badan, maka akan ada hidup yang ideal.
tentang pekerjaan Bung, semoga berhasil.
tentang ilmu, sebelum bermamfaat bagi orang lain tentu saja harus bermanfaat untuk diri sendiri, bukan begitu yang lebih baik?tidak lucu rasanya kalau ilmu bermanfaat bagi orang lain tetapi tidak bermanfaat bagi diri sendiri hehehe…
jika Bung kepadang, bukan diskusi menguras otak yang mereka cari, mungkin perkenalan, percakapan ringan dan secangkir kopi di senja karimuntiang akan lebih baik
salam
lai aman kasadoalahan-e ko? pai bauruik lah lai…
Febridiansyah,
saya sarankan, Sutan tak usah pulang kalau tak punya gagasan baru dan cemerlang! Untuk apa merantau jauh-jauh ke pulau seberang kalau hanya akan mengulang-ngulang kaji lama.
Tuan Bangsawan terlalu keras dengan kemenakan. biarlah dia pulang sekedar minum kopi di karimuntiang.
Sepertinya tuan bangsawan mulai mengajukan diri jadi Satpam perbatasan…
melarang orang-orang pulang..
hehehe2
dan, memang luar biasa kaji anda, tuan…
teruslah melakukan kajian anda dan…pisahkanlah diri anda dibalik pintu kebangsawanan feodal itu.
oh…secangkir kopi…


dan, malam yang hangat (?) di pkm?
tanpa harus kawatir terjebak dalam nostalgia, agaknya tawaran itu menarik..
semoga ada waktu yang baik…
sekaligus melihat dan mungkin juga belajar dari tuan bangsawan yang mengaku serba tau..
hahaha2
Febridiansyah yang jauh di rantau orang,
Sutan tampaknya memang suka berspekulatif,
Sungguh cocok jadi seorang politisi, (dan Advokat, he3)
sekali lagi saya katakan, Sutan sebagai seorang cerdik-cendikia, yang telah menempa diri di universitas ternama pulau JAWA, saya kira, tak sepantasnya mengatakan orang lain serba tahu (jika pendapat itu didasarkan pada subjektivitas Sutan belaka). kalimat-kalimat seperti itu biasanya keluar dari seorang yang putus asa, Sutan! saya kira, Sutan bukan orang yang gampang putus asa.
Kaji memang perlu diulang supaya lancar, Sutan. Tetapi mengulang-ulang saja tentu tidak cukup, mesti ada pencarian baru. dan mengenai usaha untuk memisahkan diri di balik pintu kebangsawanan feodal saya, saya pikir, Sutan berlebihan.
Mengenai paragraf ini:
“saya sarankan, Sutan tak usah pulang kalau tak punya gagasan baru dan cemerlang! Untuk apa merantau jauh-jauh ke pulau seberang kalau hanya akan mengulang-ngulang kaji lama.”saya kira, sebagai seorang calon Advokat, Sutan sebaiknya juga mendalami “ruh bahasa”!
he3
salam
Febridiansyah dan Zonia,
silahkan lanjutkan perdebatan Sutan nan berdua, mengenai Tuhan dan orang-orang yang mengatasnamakan-Nya itu. saya kira, saya bersalah telah mengalihkan perdebatan Sutan-sutan. Saya pikir, perdebatan itu menarik untuk dilanjutkan.
Kepada Orang Rimba,
apa Sutan tahu di mana tukang urut yang PATEN?
saya mau berurut perut,
perut saya sering bermasalah
selalu lapar kalau tidak diisi
Apa ada tukang urut yang bisa menyembuhkan rasa lapar?
terimakasih masukannya Om bangsawan yang mungkin sedang “salah urek” yang mencari tukuang uruik..
hehe2
semoga tuan berhasil mencari tukan sulap itu (tukang urut maksudnya
yang saya kuatirkan, tuan mencari tukang urut perut yang bisa membuat tuan tetap tidak kenyang meskipun sudah makan satu dorom…hehe2
ya, maklum, bangsawan..
ya, secangkir kopi dan malam yang pengap eh..hangat hahahah diPKM, janganlah bawa2 nostalgia kepadang Bung, anda akan kecewa
indak eh… muncunang nan baciloteh tentang tuhan tu ha nan di uruik… kalau ndak tu, bacipok se lah b2… dari pado paniang-paniang bana mamikie tuhan… kok ka jadi intelektual, baok suaro basamo kawan…. kok indak, kubur sendiri aja tuh badan kalo mati…. ha..ha… sok intelek, tok tak ada yg berubah dari bangsa kita.
indak eh… manurui awak rancak muncuang nan baciloteh tentang tuhan tu ha nan di uruik… kalau ndak tu, bacipok se lah b2… dari pado paniang-paniang bana mamikie tuhan… kok ka jadi intelektual, baok suaro basamo kawan…. kok indak, kubur sendiri aja tuh badan kalo mati….
hahahaha…kalau alun tabiaso pakai fasilitas internet, baco buku selah di pustaka lu, bisuak ko pasti2an pakai ID lu yo! takirim 2 mode tu malu wak hahahahah
maklumin aja bro, urang rimbo tumah
nanjak yuk…
nanjak yuk
jangan sampai terjerat dalam konspirasi manusia!!!
jangan2 tuhan salah satu konspirasi!!
Huh,
adalah malam yang melelahkan untuk membaca semua komentar disini
Bacakak se karajo Bapak-bapak Ibu-ibu disiko
GRAND OPENING
IN JULY 2008
“CACTOOS.NET”
BROWSHING; CHATTING; GAME ONLINE
OPEN 24 HOUR AT SIMPANG TALANG BANJAR, JALAN ORANG KAYO HITAM, NO 30. JAMBI…THANKS.
assalamualaikum
bapak-bapak dan ibuk-ibuk yang saya hormati,
sebelumnya kita tak lupa panjatkan salawat dan salam kepada junjungan alam, kekasish tuhan, yaitu nabi muhammad SAW.
nabi bersabda dan saya berkata:
tidak baik bergunjing, atau bertengkar.
jadi inti pokok permasalahannya jangan memperbesar suatu maslah yang dulu hanya secuil. terimakasih.
amin….
wassalam
Salam kenal untuk kawan2 ‘rumahteduh’.. membaca Anda sekalian, seperti mengeja kembali saat kami menghitung bintang tiap malam dalam ‘mimbar’..
Abang ICW.. kali ini tak perlu syarat. Salut untukmu. Kau martil tangguh buat liyan..
apa ini? yang pintar sok intelek dan berilmu, yang sok jadi penengah sok lebih arif dan bijaksana, SAJANGKA ILMU KALIAN SADONYO BARU! dak usah saling meninggi hueuehueeu…SAKOLA SE YG RAJIN BIAR BESAR JADI GANGSTER! kalo ilmu kalian tu bisa jadi PITIH baru OK! lai mangarati? bubar..bubar!!!
HIDUP GANGSTER…!!!!
tp benarkah anda sekarang sudah takut ma-LEJEND malam2 di kampus. kabarnya alasan anda karena hukumannya terlalu BERAT untuk anda……
benarkah itu…?????
apa ini,,,,,
lejend, hukuman,,
sekarang lejend bukan hanya hukuman yang berat tapi nafas habis ma_lejend bau anjiang.
ah..,
itu kan alasan anda saja
apa salahnya anda mengaku saja kalau anda memang sudah takut
saya berjanji :
“tidak akan memberitahukan siapapun kalau anda sekarang sudah takut ma-lejend malam2 di kampus”
hahaha,…legen sekarang bisa bikin mabok, muntah dan kencing tak henti. apalagi sejak saudara Palang Pintu memulai kritik2 pedas terhadap ekspedisi tulang rusuk yang sedang marak 2 tahun belakangan ini. suasana jadi kuran enak, sebagai seorang PA anda pasti tau apa saja yang harus dilakukan kalau badai datang
presiden sudah jadi kakek sejak pk.06.20 WIB, hari ke-17 agustus lalu. “Ini kado selain satu medali emas olympiade yang didapatkan atlet bulu tangkis Indonesia di China”, ujarnya.
sebuah pisau menyayat halus kulit perempuan marga “Pohan” itu. Ia harus lahir, tepat di perayaan kemerdekaan. Mungkin karena si kakek adalah presiden. Hingga, waktu lahir perlu “diatur”.
Sesar, cesar, atau apapun istilahnya, yang pasti, sekarang kelahiran pun dapat jadi komoditas. teknologi kedokteran memang membantu.
tapi, sayang…ia, bayi perempuan itu. akan sangat sulit bertemu kakek yang satunya.
ia, cucu seorang presiden, sekaligus cucu seorang calon tersangka dalam kasus korupsi aliran dana Bank Indonesia Rp. 100 Miliar. sebentar lagi, sayangnya, ada “jemputan” dibalik anugerah seorang bayi perempuan.
beberapa orang berseragam akan mengetuk pintu, dan bilang, “harap ikut kami”. dan, malam akan cukup dingin dibalik jeruji.
anda main api ya?
@ febri
Bila logika berjalan, maka alam pun bisa tunduk, bung..
Hukum alam toh bisa dimanipulasi kalau Anda kaya dan berkuasa..
dan untuk hal yang ‘lainnya’ semoga Anda benar..
salam dari per’empu’an
link ambo ciek pak red: http://kandangpadati.wordpress.com/
dari perempuan (peristiwa)
“Bila logika berjalan, maka alam pun bisa tunduk, bung..”
untuk “anak pegangsaan”..
“ambo pikia sebagian 1/4 bagian hidup ini terdiri dari api. jadi tidak perlu bermain dengannya. hidup saja didalamnya, karena toh ada bagian diri kita yang menyulut lebih dari api”
–
oh ya..
rekan yang baik..
saya belajar menulis beberapa “penggalan” pendek…
(hanya tautan dari blog utama: Iqra’)
http://penggalan.wordpress.com/
Febri Diansyah
biasakan membicarakan hal2 yang berbau akademik ya adek2 ya!!
pak redaktur,
saya juga belajar bikin bog…
saya jadi bingung.
tidak tahu harus berbuat apa.
tunjuki saya…
hehe
oioi;;;…
Am back!!
apa kabar Rumah TEduh?
pak Febri sudah sering muncul di TV ya huhahahaahah selamatt
rumah say telah tumbuh
http://kamounrakenrol.wordpress.com
oarghh..malam di ramadhan tetap saja tidak begitu “hening”
banyak acara tv yang …ah…
“ayoo matikan TV”…
kecuali kalau nunggu adzan magrib yg tercepat..
hehehe2
maklumlah, indonesia bukan negara islam
saran buat dek ketua Pemuda dan dek Febri klo menunggu adzan yang tercepat caranya gampang (tonton aja TV Nasional dari padang).
mudah-mudahan bermamfaat buat adek2
wah..terimakasih terimakasih..ternyata om pegawai rektorat mau membagi “resep rahasia” yang dipraktekkan selama ini
kunjungi dan ikuti gosip-gosip sastrawan dan seniman-seniman terhangat dari sisi kehidupannya yang eksentrik dan nyentrik
salam
tukang gunjing
yuhuuu…ke-o
ada apa dengan disain blog rumah teduh ini?
wah…. wah…. wah….
boleh gabung nga ke forum blog rumah teduh??
salam kenal semua……
yth. Tn. Redaktur
apa yang terjadi belakangna ini?
saia dengar ada ribut-ribut ya?
makanya tuan, jangan bermain dengan perasan dan wanita
bukaknkah tuan sendiri yang sering bilang seperti itu
oia, ketua pemuda yth..,
kenapa beberapa minggu ini hilang dari peredaran di negeri JANGNANA…?
oola….
oya… ada kabar neh..
di rangkaian acara ULTAH UKS tanggal 16-18 desmber bakal ada pementasan teater RUMAHTEDUH..
…2 pementasan keroyokan (dan kalo jadi bakal ada 2 pementasan monoloque juga)
jadi bakal ada 4 pertunjukan teater semuanya…
selain pertunujukan seni lainnya (tari, musik, seni visual, olah vokal, etc)
buat yang minat bikin stand-area dipersilakan dengan pemberitahuan ke panitia sebelumnya.
olaa..
oya… mau nanya neh…
benar kah demikian pak re…..
teeeet teeeet
selamat kebon baru pak re…..
khusus to anggota rumah teduh benny atjeh….sahabatku (ko2m) mencari mu…plis kontak aku di tapian_nauli_00@yahoo.com
karena memang kayaknya dengan cara ini yang bisa membantu.atau siapa saja yang kenal dengan benny atjeh dan tau kontak personnya tolong hubungi aku via email ya…..terimakasih sebanyak2nya…semoga rumah teduh tetap teduh dan bisa memberi keteduhan di kampus unand yang memang sudah sangat teduh….DEMI KEDJAJAAN BANGSA…!!!
maaf space komentar ini di jadikan kolom mencari orang ilang
-tapian_nauli_00-
to : tapianauli
beny ganjo(atjeh) sekarang kerja di jati padang, OP warnet, tapi katanya mau berhenti, karna jd OP malah nambah utang, banyak yang mintak main gratis disana..(turut berduka cita atas musibah ganjo)
uhuk-uhuk…
hei semua (sado alah nyo)
dah lama dak “tersesat” disini…
to : bung febri
tentu saja kama tak mampir kesini
bung sudah punya istri
tidak bebas lg seperti dulu
hahaaa….,
saya cuma becanda
jangan diambil hati
selamat datang kembali
dan selamat menonton…!!!!
hahahhaaaa………….. lg
hehehe2….
iya, dak bisa bermalam di kantor lagi…
sampai sore pun karajo malah tambah banyak
hohoho2
tapi, semoga tidak lupa singgah dan “nonton” pergulatan ide ataupun kenakalan dinsii
to:febri diansyah
b’ katanya akan dialekan pernikahan tu di padang!!!kapan tu!!undang2 lah kami!!
salam sama k’Eka!! (kupu2 nya apa kabar??)
belum. di Padang belum.
untuk buruh seperti awak ko, memang agak sulit. harus kumpulkan receh dulu.
hehe2
tentu akan dikabari.
iyo bang, jan lupo undang kami dak.
siapakah yang menyimpan sepatu di rak buku?
jan kareh bna,yus..
beko berang lo urang yang danga ko..
…
…
kan lai dak babaun do?
pada sepatu pun buku buku bisa belajar.
misal: buku tentang sepatu,
hahaha2….
jika mentari pandangimu, membayangi teduhmu
jika aku tak dirumahmu,
izinkan aku di byangan teduhmu.
halo. hei. woi…..
bulan lalu berjuta orang mati di hari pemilihan umum.
dan 3 pasangan berebut dengan suara orang-orang yang dimatikan.
akhirnya kutemukan juga sebuah rumah untuk berteduh, setelah sekian lama jiwaku melanglang buana didalam kesesakan dunia. trims. mr redaktur. salam hormat.
halo teman,
mari buat kekacauan
agar jadi musik
ya… bukankah musik adalah kekacauan yang harmoni…
mari bermusik!