Semakin dekat pemilu, semakin sering saya tertawa. Meskipun hanya di dalam hati, ketawa yang tak sampai bunyi itu, konon, merangsang otak untuk menyehatkan tubuh. Saya tak tahu kebenaran ini, tapi yang jelas suasana pemilu benar-benar membuat saya terhibur. Keluar rumah selangkah saja, sudah bertebaran baliho para calon anggota legislatif. Wajah-wajah itu membuat saya ngengir berkepanjangan. Ada yang bergaya orator ulung dengan latar belakang gambar Soekarno menuding. Ada yang seperti berteriak dengan latar foto Megawati mengacungkan tangan. Ada yang kalem, mirip terdakwa kasus korupsi, latar belakangnya gambar Sultan Hamengku Buwono X, yang juga kalem. Calon legislator wanita seperti kontes Miss Universe, Lanjut Baca »
Kepada Taufik Ismail
Di hari-hari ketika orang banyak berteriak tentang kebenaran di jalan-jalan kota, di lorong-lorong sempit perumahan, hingga gubuk-gubuk tak terurus yang ditempeli gambar-gambar politikus, kita merasa hari-hari kita membutuhkan puisi, juga sastra.
Di Padangekspres Minggu, Fadlillah mengusulkan akan adanya sebuah pertemuan sastrawan di minangkabau karena sastra dan budaya telah kian dimarjinalkan. Ia telah dikesampingkan. Ia telah di nomor 16-kan setelah ilmu sains.
Tapi Taufik Ismail telah memulai beberapa waktu lalu. Memulai dengan sebuah gebrakan baru: rumah puisi. Di Aia Angek sana. Sebuah tempat dimana puisi didokumentasikan. Di rumah itu kelak, atau mungkin telah, disimpan dokumentasi puisi yang tiap hari berhamburan datang. Setidaknya, menilik usulan Fadhlillah tadi, satra dan budaya tidak akan termarjinalkan. Tidak akan dinomor 16 kan.
Tapi saya mulai ragu. Rumah puisi yang terletak di…yang diapit gunung dan lembah itu seperti penjara puisi. Puisi dirumahkan, ia tak lagi hidup ditengah masyarakatnya. Puisi akan marjinal dari masyarakatnya. Puisi menyublim di carut marut kota.
Taufik yang datang sebagai angkatan 66, tentu tahu, bahwa puisi tak memiliki rumah. Melainkan sebaliknya, puisilah yang membangun rumah-rumah. Ada sepotong sajak Cairil yang berkupasan masalah saja:
Rumahku dari unggun timbun sajak// kaca jernih dari luar segala nampak//kulari dari gedung lebar halaman/aku tersesat tak dapat jalan…
Kembali ke Taufik (baca:Engku Taupik)…
Mungkin karena yang berbicara adalah Taufik, maka sejenak ia didengarkan. Karena pada saat yang sejenak itu juga adalah saat ketika sastra menjadi santapan politik. Orang-orang angkat bicara tentang sastra di waktu yang sejenak itu demi untuk menunjukkan bahwa mereka, sebagai pajabat Negara peduli terhadap sastra. Saya juga baca sastra lho! Sastra sejenak menjadi kuda dengan mata tertutup. Silahkan tuan-tuan pejabat naik, menungganginya hanya untuk disebut sebagai pejabat yang peduli pada kesusastraan. Jika taufik angkat bicara, pejabat-pejabat teras daerah silahkan turut angkat bicara. Katakan, puisi taufik sejajar dengan alquran, katakan setelah membaca puisi taufik saya menjadi merinding. Wahaha… pejabat institut atau universitas yang sekalipun tak membaca sastra, silahkan angkat bicara. Wali-wali kota-kota, ca-leg-ca-leg silahkan baca puisi. Ini saat Anda memampang wajah bahwa anda peduli. Lalu setelah itu, lupakan sastra kembali.
Rumah Puisi, kelak tentu akan memberi kehangatan baru buat kesusasteraan di Minangkabau ini. Tapi adakah sebuah rumah kelak akan memingit sosok yang berada di dalamnya (puisi)? Apakah ketika puisi dirumahkan, ia tak lagi bebas menyublim bersama orang-orang yang tinggal di risau cuaca kota, juga dinginnya perkampungan? Engku Taufik harus menjawab hal ini, Ngku! Engku yang “datang-kembali” ke ranah Minang di usia senja tentu bukan hanya sekedar pulang kampung sebagaimana yang terjadi tiap hari raya. Tentu bukan sekedar melakukan ceramah-ceramah di sana sini, dengan walikota itu dan ini. Berkoar-koar berkata sampai berbusah,”masy…arrakat kita rabun membaca, pincang menulisss!!”. lalu duduk dengan orang tetua-tetua dan berbincang tentang generasi sekrang yang manja:”wah..kalau saat kami dulu..wuihh…jangan dikata, ah..tak bisa disebutkan lagi. ah..uh..ih..” mengenang…mengenang masalalu yang pahit itu, masalau yang tak mungkin terjamah oleh generasi sekarang. Masalalu yang teramat sangat berbahaya itu, masa penuh kecamuk revolusi itu.
ada sepotong sajak Chairil, Ngku:
kau datang terlampau senja/ kisahmu bagiku hanya kenangan
Demikian, Ngku!!
Salam
F.M.Faiz
Ditulis dalam ESAI DAN OPINI | 3 Komentar »
Abdul Aziz Angkat meninggal setelah keluar dari ruang kerjanya di gedung DPRD Sumatera Utara Selasa 3 Februari 2009. Ratusan pendemo yang menuntut pemekaran wilayah (provinsi) merengsek ke dalam gedung DPRD tersebut. Azis yang mengidap penyakit jantung diserang dan dilempari demonstran. Catatan hitam demokrasi di negeri ini kembali dibuka.
Siapapun yang meninggal, kita tetap bersedih akan hal itu. Namun, politik tetap berjalan. Poster-poster, terus saja bertambah banyak. Belukar-belukar politik yang tumbuh di kota dunia ketiga itu kian bercorak. Tapi adakah semua itu tidak sia-sia?
Abdul Aziz meninggal. Demonstran merangsek ke gedung DPRD Sumatera Utara itu. Mereka menggunakan kekerasan, yang kata Gandhi, jalan ketiga setelah Tuhan. Gandhi barangkali benar, demonstran mungkin tidak salah. Tapi kita tetap sedih pada tiap kematian. Polisi mencari tersangka, juga otak kejadian itu. Dan kita seperti disadarkan: demokrasi ternyata membutuhkan tumbal.(Faiz)
baca juga sumber:
http://www.surya.co.id/2009/02/03/saksi-abdul-azis-angkat-tewas-dikeroyok-demonstran/
Ditulis dalam ESAI DAN OPINI | 1 Komentar »
DONGENG CINTA BUAT ELLA
Cuma kau. Aku
Selebihnya kekalahan, selebihnya
Dongeng tentang sakit yang tak selesai
Yang terus kita ulang dari halaman berbeda
Dongeng tentang usia
Cuma kau. Aku
Dan kekosongan di antaranya
kita anggap sebagai cinta
Juga kebohongan-kebohongan kecil
Yang selalu kita duga-duga
Mengalir serupa sungai
:cinta kah muara?
SONET PENGHABISAN
I
Ujung jalan itu, ella
Kau, aku telah melewati taman penuh bunga di tikungan yang sama
Pada kelok jalan yang belum penuh
Kau memilih simpang,
lorong cahaya yang panjang
adakah kesiur angin sampai ke sana?
Aku antara gelap gang
catatan keberangkatan, kalimat-kalimat kabur
:kesepian yang tak kunjung tuntas itu
Serupa batukmu yang tak berkesudahan digerogoti mimpi
tentang rumah kecil serupa sorga
di kaki bukit sana.
II
bunga dan kupu-kupu hinggap
bersemayam di tubuhmu, ella
menjelma warna biru malam-malam lesap
kesunyian tergantikan mozard
diam-diam kita renangi musim
daun-daun gugur dari tangkai,
benang sari yang berlepasan,
serupa gugur hujan pengujung tahun yang terkubur kesunyian
Setelahnya kita sibuk dengan cerita tentang sorga
yang tak pernah dijaga tentara.
1999
hujan menghempas di luar
angin patahkan cahaya jalan
lampu kehilangan gelap,
dan orang kembali ke rumah batu mencairkan dingin jadi keringat
aku tahu kapan harus berangkat, ella
JALAN TIK TAK JAM
Aku berjalan
Tiktak jam sembunyi dalam hujan, pada gigil hutan-hutan
Kali-kali simpan dingin pagi
Aku kehilangan mantel, juga catatan
Dan tak bisa lari dari angka-angka kalender
Kau tak akan datang di satu
pagi yang sibuk itu
dan cuaca yang manja dan aroma bunga plastik
Dari sisa cinta yang kau copot dari tiap celana
Anak anak, meja tulis, hutan tropis, spidol berbau amis
cinta dan bait-bait
sebentuk kesangsian akan berangkat
November 2008
SITUJUH
Bukan senja yang bikin kelam,
Kampungmu kian jauh dilamun kabut
Di jalan-jalan tumbuhi lumut
Aku tahu, kita tak akan menemukan telaga di atas sana
Di puncak batas
Kematian bergeming dalam rupa yang lain
Ditulis dalam PUISI | 10 Komentar »
1 januari di bukittinggi, juga di kota kecil lainnya, orang-orang tengah tertidur pulas sehabis bergadang pergantian tahun. Saya membuka internet dan membaca apa yang terjadi di belahan dunia sana. 400 orang meninggal oleh serangan bertubi-tubi israel.
Sedikit hari sebelumnya, di Indonesia orang-orang mengecam tindakan itu, tidakan yang biadab itu. Tapi kecaman itu hilang di tengah gemuruh terompet, di tengah musik tahun baru yang menggema. Ahkhirnya kita seperti tidak membutuhkan sesuara dari arah lain, sesuara yang datang dari kecamuk perang.
Dalam kedamaian, dalam hiruk pikik tahun baru, kita memang tak butuh disentakkan oleh tragedi kemanusiaan dari Palestina. Karena kita memang tidak butuh.dan kita seperti mengingat kembali apa yang dikatakan mahmoud Darwish, penyair Palestina itu:
Catat! Aku orang Arab/dan nomor KTP-ku 50.000/Dan yang kesembilan akan datang musim-panas nanti….
Catat! Aku orang Arab/Namaku tanpa gelar/Pasien di negeri tempatku tinggal.
Lalu kita melupakan. (Red)
Ditulis dalam BERITA | 2 Komentar »
Esai Fatris Mohammad Faiz
Ini beberapa cerita tentang sekolah.
Kita barangkali pernah mendengar tentang Thomas Alva Edison. Seorang anak yang mengerami telur ayam dan membuat ibunya kaget. Thomas mengira telur ayam akan menetas karena suhu yang hangat. dan ia ingin tahu, dan ia pun terus mencoba dengan segala dugaannya itu.
Ibunya, nyonya Edison, yang hidup miskin tak pernah menghalanginya. Dan Edison kecil itu hanya sanggup bersekolah selama tiga bulan. Pada usia 12 tahun Edison pun mulai bekerja, mencari sesuap nasi pagi juga petang hari. namun sang ibu telah menanamkan rasa ingin tahu dan semangat yang tak kunjung padam pada anaknya itu.
Rasa ingin tahu, semangat untuk bereksperimen, dan semangat yang tak pernah habis. Itu saja sudah dianggap cukup rasanya. Dan memang: ia melahirkan lebih dari 1000 temuan buat orang yang hidup di zaman itu. Dan usianya belumlah 35 tahun.
Namun yang menjadi pertanyaan sekarang: apa jadinya seoandainya Thomas Edison jadi murid sebuah sekolah, sebuah institusi yang sibuk dengan tata tertib? Sekolah yang sibuk dengan dengan baju seragam, dan mendaftarkan prestasi? Sekolah yang lebih mendisiplinkan kuku murid ketimbang bertanya: apa yang kau mimpikan tadi malam, Nak? Atau bertanya dari mana nasi berasal?
Pada akhirnya Edison memang bukan seorang ahli teori, ia seorang teknikus. Namun, menurut Goenawan Mohamad dalam satu catatan, seorang penemu bermula dari kebebasan jiwa, dan berlanjut dengan kreasi. Dan keduanya menolak pengekangan. Keduanya melintasi tabu.
Ditulis dalam ESAI DAN OPINI | 4 Komentar »
Yella mati subuh tadi, Fesha menyusul
Dan aku tak berdoa: bingung apakah sorga cukup nyaman buatnya
Bernald berkulit putih pucat telah henghajarnya karena lapar
Setelah perbincangan malam itu, perbincangan yang tak pernah selesai itu
aku tidur dalam lelap,
Membiarkanmu tanpa makanan, tanpa menyalakan pompa udara.
Sorenya TV meronta-ronta minta didengarkan
Menayangkan cerita konyol yang sama sekali tak lucu
Juga kisah selebritis berselingkuh. Tapi aku dan Bernald tidak hirau, kami dalam berkabung.
“TV yang kesepian,” bisik sesiapa.
Bernald yang berkulit sepucat hujan, merasa kesepian. Rasa kehilangan yang akut itu ia telan sendiri. Keperkenalkan dua teman berkulit kuning dan hitam yang sepertinya satu ras dengannya agar ia tak terlalu sendiri. Dan aku, juga Bernald, tahu betapa jahatnya kesendirian. Keduanya mengucapkan salam dengan polah yang aneh pada Bernald, keduanya belum kuberi nama.
Sebetulnya semuanya tak memiliki nama karena aku tak ingin membedakan mereka. Tiba-tiba ia telah bernama dalam puisi. Nama yang bagus. Saat kematiannya aku perlu memberi nama untuknya yang satu Kabau dan satunya Baruak. Tapi kata itu terlalu sporadis.
Sekarang mereka bertiga dalam akuarium kecil. Tanpa Yella, tanpa Fesha.
Lalu kami bertengkar: siapa diantara kami yang kesepian.
Fatris Mohammad Faiz, 2008
Ditulis dalam Uncategorized | 5 Komentar »
Donny Syofyan
*Dosen Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Andalas
Robinson Crusoe adalah sebuah novel karya Daniel Defoe, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1719. Novel ini dianggap salah satu novel pertama dalam bahasa Inggris. Novel ini merupakan otobiografi fiksi tentang tokoh bernama Robinson Crusoe, seorang penumpang kapal berkebangsaan Inggris yang menghabiskan waktu dua puluh delapan tahun di sebuah pulau tropis terpencil, menghadapi suku pribumi, perampok dan pemberontak sebelum akhirnya diselamatkan. Boleh jadi, cerita ini dipengaruhi oleh kisah kehidupan nyata Alexander Selkirk, seorang penumpang kapal Skotlandia yang hidup lebih dari empat tahun di sebuah kepulauan Pasifik bernama Más a Tierra (tahun 1966 nama pulau ini menjadi Pulau Robinson Crusoe (Robinson Crusoe Island) [sumber; Wikipedia].
Banyak orang beranggapan bahwa pengalaman Robinson Crusoe selama terdampar di pulau terpencil merupakan refleksi perkembangan peradaban dan masyarakat. Namun, ada hal yang sama pentingnya yang perlu dilihat dalam novel ini, yakni kemajuan pemikiran politik dan keagamaan dalam masyarakat Robinson Crusoe. Lewat pengalaman seorang laki-laki, kita bisa mengamati kemajuan agama dari ranah pribadi menuju ruang publik, konflik yang melekat dalam kemajuan itu, dan upaya-upaya pemecehannya. Evolusi pemikiran politik dan keagamaan ini mengukuhkan dua hal. Pertama, dalam ranah pribadi, ia memperkuat individualisme keagamaan; sebuah paham bahwa siapa saja bisa dan harus bisa menemukan Tuhannya yang bebas dan lepas dari berbagai otoritas manusia dan medium pengantar, misalnya pendeta. Lanjut Baca »
Ditulis dalam ARTIKEL DAN RESENSI | 3 Komentar »
Ini cerita tentang seorang perempuan. Tentang perempuan yang bisa hidup berbahagia dalam semrawut kota, umbul-umbul partai yang serba berwarna, juga carut-marut politik. Ini cerita tentang perempuan yang terus berusaha berbahgia diantara jutaan, bahkan ribuan juta perempuan yang tak berbahgia di bumi ini.
Belum berapa tahun setelah tamat dari jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas yang malas itu, ia malah berkeinginginan ke Norwegia; sebuah negeri yang barangkali jarang hinggap di benak gadis-gadis yang tinggal di Indonesia yang mengisi malam-malam dengan menonton sinetron dan menghabiskan pulsa telpon untuk pembicaraan yang sama sekali tak penting, atau ugal-ugalan dengan motor pacar di gemerlap jalan raya.
Nun, di Oslo sana, sebuah kota di Norwegia, ia akan menemui Profesor Olle Tornqist. Ia termasuk pengagum sang professor. Kekagumannya berangkat dari membaca beberapa buku sang profesor. Di universitas Oslo itu kelak ia akan belajar ilmu politik. Tentu saja, karena di sana lahirnya “ilmu politik tertua”. Namun, ia lebih tertarik dengan politik beretika, segaimana yang sering dibicarakan sang profesor dalam buku-bukunya. Beretika?
Etika, tatakrama. Ha? Ada apa Ade? Apa yang salah dengan etika?
Politik hanyalah omongan tentang kekotoran, ketololan juga kediktatoran, selebihnya gunjingan tentang menguasai hari depan yang remuk. Setidaknya pikiran itu tak lebih dari apa yang dipikirkan oleh ribuan orang yang menghuni jejeran pulau bersahaja yang berbentuk Indonesia, yang mau tidak mau harus patuh pada aturan yang tentu tak lepas dari muatan politik dan kepentingan penguasa. Nah, etika? (masih) Adakah orang yang berbincang tentang etika dalam berpolitik? Atau sebaliknya: politik beretika? Ada apa Ade? Ketika tiap hari kita memamah berita yang ditulis atau yang disiarkan oleh media tentang perkelahian wakil rakyat dalam gedungya sendiri, janji ini-itu yang tak pernah terlaksana, tentang betapa tidak berartinya nyawa di ibukota sana, tentang lebih pentingnya mendirikan Mall dan gedung-gedung instansi yang berisi pegawai negeri yang tak bekerja, dari pada ratusan orang kehilangan tempat tinggal. Tidakkah semua itu erat hubungannya dengan politik? Ketika sekali lima tahun, rakyat akan dimanjakan dengan slogan-slogan calon legislatif dan sekalian untuk dilupakan kembali. Ah, dimana etika akan diposisikan dalam politik, Ade? Bukankah di usiamu sekarang, gadis-gadis se usiamu lebih senang berkencan dan menghabiskan waktu di Mall dengan pacar, atau mengejar S2 demi menjadi dosen dan bisa hidup nikmat di ruang-ruang kelas megajar mahasiswa yang tak mau membaca, atau malah bekerja di toko-toko penjual hati sekedar menambah uang jajan. kau malah berpikir tentang etika. Apa yang salah, Ade?
Tahun Kelahiran
9 agustus 1984 Masehi, Ia, Ade alifya, dilahirkan. Bukan dilahirkan, tapi “terlahir”, tepatnya.Nun jauh di pedalaman Payakumbuh sana. di sebuah desa yang bersahaja. Penduduknya yang sehari-hari bertani, dan tidak merampok. Jika malam datang, orang-orang di Payakumbuh akan meniup saluang dan berdendang. Agar kegelapan tak terlalu pahit untuk didekap, biar malam tak begitu saja larut dan berganti pagi. Orang-orang di desa memang aneh, setidaknya begitu menurut pemikiran orang kota. Mereka berdendang tentang saudara-saudara mereka yang ditelan oleh kota besar dan tak kembali. Kalau pun kembali, mereka akan membawa sesuatu yang asing untuk masyarakatnya. Sesuatu yang sesungguhnya bisa disebut Modernisme. Namun siapa yang akan mendengar “pekikan mereka yang terhalang karang terjal” itu? Mereka hanya petani yang tak punya banyak pilihan untuk hidup. Mereka juga tak banyak bermimpi. Segala impian mereka akan kesejahteraan hanya ada dalam saluang dan dendang.
Di tanah tempat Ade Alifya dilahirkan, tentunya menyimpan berbagai macam cerita, juga dengungan mistik yang tak kalah. Namun, ia tak bayak berbincang tentang itu. Ia akan pulang kalau kota tempatnya tumbuh menjadi dewasa, tidak lagi membuatnya bahgia. “Kebahgiaan di kota hanya sekeping, dan itu diperebutkan ribuan orang, Nek…” setidaknya begitu jawaban Ade jika ditanya neneknya kenapa sering berkunjung ke Payakumbuh. Atau malah mungkin lebih cengeng kedengarannya, atau malah jauh berbeda. “Sedang kebahgiaan di desa lahir dari tiap manusia,” agaknya terlalu berlebihan jika Ade berkata seperti itu.
Payakumbuh, sebuah negeri yang bersahaja. Setidaknya setelah PRRI selesai, dan orang-orang orang kembali pulang ke rumah atau terkubur bersama luka di rimba-rimba yang entah. “ah… Sejarah,” Ade akan mengerutkan dahi dan melemparkan pandangannya jauh-jauh seakan membiarkan bola matanya yang bulat terlempar.
Delapan hari setelah kelahirannya, Indonesia memperingati kemerdekaan yang ke 39 tahun. Angka yang ganjil untuk sebuah peringatan, sekaligus sebagai angka penutup untuk sebuah tragedi kemanusiaan “Petrus”. Petrus alias Penembak Misterius yang menyebabkan hilangnya ratusan orang yang dicap preman di ibukota. Terlepas apakah namanya pembantaian, ataukah penembakan. Jelas itu berlawanan dengan kemanusiaan.
Petrus Lenyap, Ade Alifya lahir sebagai perempuan. Perempuan yang lahir di zaman yang ganjil. Tapi ia membantah, “Aku lahir di zaman yang seharusnya aku lahir.”
Bersambung
Ditulis dalam Biografi | 15 Komentar »
Bulan-bulan menjelang pemilu, adalah bulan-bulan dimana rakyat kembali diperhitungkan. Kembali di nomor satukan. Lihat, gambar-gambar dengan slogan-slogan murahan itu, perhatikan di tiap-tiap persimpangan. Di hari-hari seperti ini, politik seolah anak kecil yang minta didengarkan.
Kampanye telah dimulai, semua partai seperti angkat bicara: “kami yang lebih dipercaya rakyat!”
Sementara rakyat tetap saja akan memikirkan apa yang akan dimakan hari ini, walau kampanye tetap berapi-api.
Tinggalkan komentar anda tentang kampanye, rakyat, dan santapan hari ini. Juga, apakah sebait puisi masih dapat tempat di tengah slogan yang kian verbal ini?
Salam, redaktur.
foto: Picture of the Year, Lead Awards 2007. A would-be immigrant crawls after his arrival on a makeshift boat on the Gran Tarajal beach in Spain’s Canary Island. Reuters.
Ditulis dalam BERITA, HAL-HAL YANG TAK PENTING | 5 Komentar »
