<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumahteduh, community</title>
	<atom:link href="http://rumahteduh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahteduh.wordpress.com</link>
	<description>Ayo....belajar...</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Jan 2012 19:08:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rumahteduh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rumahteduh, community</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rumahteduh.wordpress.com/osd.xml" title="Rumahteduh, community" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rumahteduh.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Delvi Yandra meraih Anugrah Adiwarta</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2011/12/14/delvi-yandra-meraih-anugrah-adiwarta/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2011/12/14/delvi-yandra-meraih-anugrah-adiwarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 05:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=529</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA- Delvi Yandra oleh teman-temannya akrab disapa Kudil meraih dua penghargaan sekaligus dalam Anugerah  Adiwarta 2011 yang diumumkan Kamis (8/12) malam di Jakarta: jurnalis muda berbakat dan menyisihkan dua pesaing di kategori seni budaya. Karier jurnalistik profesionalnya bermula di Harian Haluan. “Menarilah Mun, Tegakkan Kepalamu…” Tulisan satu halaman koran (plus foto) itu menghiasi halaman rubrik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=529&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2011/12/jpg2"><img class="alignright size-full wp-image-532" title="_" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2011/12/jpg2?w=500&#038;h=332" alt="" width="500" height="332" /></a>JAKARTA- Delvi Yandra oleh teman-temannya akrab disapa Kudil meraih dua penghargaan sekaligus dalam Anugerah  Adiwarta 2011 yang diumumkan Kamis (8/12) malam di Jakarta: jurnalis muda berbakat dan menyisihkan dua pesaing di kategori seni budaya. Karier jurnalistik profesionalnya bermula di Harian Haluan. “Menarilah Mun, Tegakkan Kepalamu…” Tulisan satu halaman koran (plus foto) itu menghiasi halaman rubrik “Panggung” edisi 19 Juni 2011 di Haluan terbitan Padang. Artikel itu ditulis Delvi Yandra, yang penggiat Teater Rumah Teduh. <span id="more-529"></span>Liputan tersebut memadukan dua hal: menyentuh jiwa sosial dan pelestarian seni tradisi yang menampilkan satu sosok: Mun sebagai penari piring.</p>
<p>Makmur atau Mun—yang tunanetra atau buta itu—adalah penari piring, yang tampil di panggung ‘nasi goreng’ milik Pak Is di Jalan Nilam Pekanbaru. Liputan itu dengan cermat melukiskan keseharian Mun, menari dari kedai ke kedai.</p>
<p>Begini Mun dilukiskan dalam tulisan yang meraih Anugerah  Adiwarta itu. “Tiba-tiba tampak Makmur, dengan berpakaian adat Minang lengkap sarawa galembong dan topi adat kerucut emas di kepalanya, sedang dituntun oleh seorang anak lelaki menuju kedai nasi goreng Pak Is. Tak lupa pula tas jinjing tersampir di bahunya dan tas pinggang untuk menyimpan uang hasil jerih payahnya.</p>
<p>Dengan tongkat dan kedua telapak kakinya, Makmur meraba lokasi di mana dia hendak menari. Apabila sudah pas, barulah dia menggelar lapiknya. Melepas sendal jepit dan duduk di sana. Memang, tubuhnya masih gagah untuk menempuh jarak beberapa kilometer lagi. Tetapi sejak matanya tak dapat melihat akibat tersiram luluk (lumpur) saat terjatuh dari pematang di usia tiga tahun, kesulitan penglihatan menjadi bagian dari hayatnya. Kini dia menjadi penari piring amatir yang mengais rezeki dari iba pengunjung kedai nasi Pak Is.</p>
<p>Usai menggelar lapik, Makmur meraba isi tasnya. Di dalamnya, berisi dua piring untuk menari, tape, kaset Misramolai, buah damar, asbak, toples plastik untuk menam¬pung uang, dua helai karung, dan tamborin.</p>
<p>Azan Isya berkumandang. Makmur menyalakan sebatang Surya dengan penuh khidmat. Dihisapnya dalam-dalam pangkal rokok yang mengepul, sejalan dengan suara adzan. Dia tidak peduli dengan kendaraan yang lalu lalang. Sebotol minuman mineral berukuran besar dan asbak menemani di sela-sela tariannya.</p>
<p>”Delvi menceritakannya seperti sebuah cerpen, yang memang lebih dulu digelutinya daripada jurnalistik. Naskah tersebut dikirimnya ke Lomba Anugerah Adiwarta (dulu Anugerah Adiwarta Sampoerna—red).</p>
<p>Seperti dirilis di situs resminya, Anugerah Adiwarta pada 2011 menerima 1.264 karya jurnalistik. Jumlah itu meningkat sebesar 111 karya dibandingkan pada 2010. Ia terdiri dari 380 karya kategori Cetak/Online, 784 karya kategori Foto Berita, dan 100 karya kategori Televisi, baik lokal maupun nasional. Sementara itu, jumlah jurnalis maupun jurnalis foto yang ikut serta sebanyak 361 orang yang berasal dari 135 media atau bertambah 4 orang dibandingkan 2010.</p>
<p>Dari jumlah tersebut, dewan juri cetak yang berjumlah delapan orang meluluskan tiga karya di bidang seni budaya: Teguh Wicaksono dari Majalah National Geographic Traveler dengan judul “Kenanga Pantai Utara”, Rustika Herlambang dari Majalah Dewi dengan judul “Mencari Ruh Tari Fajar Satriadi”, dan Delvi Yandra dari Harian Haluan.</p>
<p>Wartawan yang  Gigih</p>
<p>Delvi Yandra adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas (FH Unand) yang hobi menulis. Pria kelahiran Palangki, Sijunjuang, Sumatra Barat pada 10 Desember 1986 ini mulai bergabung di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang pada 2011. Pertama kali mengenal dunia jurnalistik ketika mengikuti pelatihan sebagai calon wartawan di Haluan Media Grup (Padang) pada Februari 2011. Selanjutnya, bekerja di Haluan Riau wilayah liputan Kota Pekanbaru.</p>
<p>Sejak tahun 2007 sudah aktif menulis cerita pendek, puisi, resensi buku, resensi film dan esai pertunjukan di beberapa media. Di tahun 2007, cerpennya terpilih sebagai salah satu yang terbaik oleh Balai Bahasa Padang. Juga telah dibukukan dalam antologi cerpen bersama: Kembang Gean (2007) dan Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009). Naskah dramanya berjudul “Bakal” telah dipentaskan oleh kelompok Teater Rumah Teduh di ajang Festamasio V di Palembang pada pertengahan tahun 2011.</p>
<p>Ini adalah pertama kalinya mengikuti AAS dan menjadi finalis kategori media cetak/online untuk liputan kemanusiaan bidang seni dan budaya di AAS 2011. Saat ini sedang sibuk menyelesaikan studi di program kekhususan Hukum Internasional, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang.</p>
<p>Esha Tegar Putra, temannya di Kandang Pedati menyebut Delvi sebagai sosok yang gigih. Sebelum magang di Haluan, katanya, Delvi menulis di dinding kamarnya, “Doakan saya menjadi wartawan yang benar.”</p>
<p>Berganti Nama</p>
<p>Semula kegiatan ini bernama Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS), “terhitung mulai malam ini nama tersebut resmi diganti menjadi Anugerah Adiwarta,” ujar Ade Armando, perwakilan dari dewan juri pada malam Anugerah Adiwarta, di Finance Club Ballroom, Graha Niaga, Jakarta.</p>
<p>Perubahan nama tersebut, ungkap Ade Armando, upaya untuk memperkuat independensi Anugerah Adiwarta sebagai ajang penghargaan bagi peningkatan kualitas jurnalistik di tanah air. Selain itu juga untuk membuka kesempatan bagi jurnalis lainnya yang ingin berpartisipasi membangun kualitas jurnalistik dan mampu mendorong terciptanya karya-karya berkualitas bagi kepentingan masyarakat luas.</p>
<p>Secara khusus, Atmakusumah Astraatmadja, anggota dewan juri final AAS 2011, menyoroti perkembangan yang terjadi di Kategori Cetak dan Online Liputan Investigatif. Menurut Atmakusumah, yang tahun ini adalah tahun keduanya menjabat sebagai juri final bidang jurnalistik, bahwa dari seluruh liputan investigatif yang masuk, sedikit sekali yang benar-benar bisa dikatakan karya investigatif.</p>
<p>”Beberapa syarat utama liputan investigatif di antaranya harus ada skandal yang diungkap bagi kepentingan masyarakat umum dan juga ada proses penelusuran yang dilakukan oleh jurnalis atau media itu sendiri. Hal ini yang masih jarang saya dapatkan walaupun tahun ini jumlah keseluruhan karya liputan investigatif yang masuk ke panitia meningkat dibanding tahun lalu,” ujar Atmakusumah. Penghargaan tambahan untuk kategori Juri TV dimenangkan oleh Nanang Purwono dan Arif Prasetia dari JTV (Jawa Pos TV). (h)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/529/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=529&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2011/12/14/delvi-yandra-meraih-anugrah-adiwarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2011/12/jpg2" medium="image">
			<media:title type="html">_</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bingkisan untuk Pak Saidi</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2011/12/10/bingkisan-untuk-pak-saidi/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2011/12/10/bingkisan-untuk-pak-saidi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 08:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=519&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2011/12/1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-521" title="1" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2011/12/1.jpg?w=500&#038;h=296" alt="" width="500" height="296" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=519&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2011/12/10/bingkisan-untuk-pak-saidi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2011/12/1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lagu Orang Usiran</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2011/05/27/lagu-orang-usiran/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2011/05/27/lagu-orang-usiran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 18:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[Lagu Orang UsiraChairil Anwar, Terjemahan Song XXVIII, W. H. Auden Misalkan, kota ini punya penduduk sepuluh juta Ada yang tinggal dalam gedung, ada yang tinggal dalam gua Tapi tidak ada tempat buat kita, sayangku, tidak ada tempat buat kita Pernah kita punya negeri, dan terkenang rayu Lihat dalam peta dan kau akan ketemu di situ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=513&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>
<div>
<div>
<div>
<div>
<div>
<div>
<div align="left"><strong>Lagu Orang UsiraChairil Anwar, Terjemahan Song XXVIII, W. H. Auden</strong></div>
<div align="left">Misalkan, kota ini punya penduduk sepuluh juta</div>
<div align="left">Ada yang tinggal dalam gedung, ada yang tinggal dalam gua</div>
<div align="left">Tapi tidak ada tempat buat kita, sayangku, tidak ada tempat buat kita</div>
<div align="left">Pernah kita punya negeri, dan terkenang rayu</div>
<div align="left">Lihat dalam peta dan kau akan ketemu di situ</div>
<div align="left">Sekarang tidak bisa kita ke situ, sayangku, sekarang tidak bisa kita ke situ</div>
<div align="left">Di taman kuburan ada sebatang pohon berdiri</div>
<div align="left">Tumbuh segar saban kali musim semi</div>
<div align="left">Pasjalan lama tidak bisa tiru, sayangku, pasjalan lama tidak bisa tiru</div>
<div align="left">Tuan Konsol hantam meja dan berkata:</div>
<div align="left">“Kalau tidak punya pasjalan, kau resmi tidak ada.”</div>
<div align="left">Tapi kita masih hidup saja, sayangku, tapi kita masih hidup saja</div>
<div align="left">Dengan pada satu panitia, aku ditawarkan korsi</div>
<div align="left">Dengan hormat aku diminta supaya datang setahun lagi</div>
<div align="left">Tapi ke mana kita pergi ini hari, sayangku, ke mana kita pergi ini hari</div>
<div align="left">Tiba di satu rapat umum: pembicara berdiri dan kata:</div>
<div align="left">“Jika mereka boleh masuk, mereka colong beras kita.”</div>
<div align="left">Dia bicarakan kau dan aku, sayangku, dia bicarakan kau dan aku</div>
<div align="left">Kukira kudengar halilintar di langit membelah</div>
<div align="left">Adalah Hitler di Eropah yang bilang: “Mereka mesti punah.”</div>
<div align="left">Ah, kitalah yang dimaksudnya, sayangku, ah kitalah yang dimaksudnya</div>
<div align="left">Kulihat anjing kecil dalam baju panas terjaga</div>
<div align="left">Kulihat pintu terbuka dan kucing masuk begitu saja</div>
<div align="left">Tapi bukan Yahudi Jerman, sayangku, tapi bukan Yahudi Jerman</div>
<div align="left">Turun ke pelabuhan dan aku pergi berdiri ke tepi</div>
<div align="left">Kelihatan ikan-ikan berenang merdeka sekali</div>
<div align="left">Cuma sepuluh kaki dari aku, sayangku, cuma sepuluh kaki dari aku</div>
<div align="left">Jalan lalu hutan, terlihat burung-burung di pohon</div>
<div align="left">Tidak punya ahli-politik bernyanyi ria mereka konon</div>
<div align="left">Mereka bukanlah para manusia, sayangku, mereka bukanlah para manusia</div>
<div align="left">Kumimpi melihat gedung yang bertingkat seribu</div>
<div align="left">Berjendela seribu dan berpintu seribu</div>
<div align="left">Tidak ada satupun kita punya, sayangku, tidak ada satupun kita punya</div>
<div align="left">Berdiri di alun-alun besar ditimpa salju</div>
<div align="left">Sepuluh ribu serdadu berbaris datang dan lalu</div>
<p>Mereka mencari kau dan aku, sayangku, mereka mencari kau dan aku</p></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/513/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/513/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/513/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/513/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/513/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/513/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/513/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/513/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/513/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/513/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/513/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/513/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/513/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/513/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=513&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2011/05/27/lagu-orang-usiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adakah yang Bisa Bantu?</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/adakah-yang-bisa-bantu/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/adakah-yang-bisa-bantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 13:35:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Minggu, 4 Oktober 2009 &#124; 03:35 WIB ”Nak, adakah yang bisa bantu Amak…?” Pertanyaan perempuan itu seperti menagih kepedulian. Matanya memerah, seperti kurang tidur. Peluh di mukanya, tak hendak ia seka. Tangannya penuh debu setelah sejak pagi hingga siang sendirian memberesi rumahnya yang rata dengan tanah akibat gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat dan provinsi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=510&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- end judul + lead --> <!-- end headline --> <!-- isi berita -->Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:35 WIB</p>
<p><span id="article_body">”Nak, adakah yang bisa bantu Amak…?” Pertanyaan perempuan itu seperti menagih kepedulian. Matanya memerah, seperti kurang tidur. Peluh di mukanya, tak hendak ia seka. Tangannya penuh debu setelah sejak pagi hingga siang sendirian memberesi rumahnya yang rata dengan tanah akibat gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat dan provinsi lain di Sumatera.</p>
<p>Segelas air putih dan sepinggan nasi tanpa lauk, kecuali sambal lado, menemaninya istirahat sejenak di bawah rerimbunan pohon manggis, Sabtu (3/10) siang. ”Hujan bakal turun, langit mendung. Entah ke mana Amak harus berteduh,” kata perempuan paruh baya bernama Syamsimar (50) itu.</p>
<p>Syamsimar yang tinggal bersama anak yang masih duduk di sekolah dasar memimpikan bisa istirahat di dalam tenda dan makan secukupnya. Selebihnya, ia berharap bantuan tenaga relawan atau TNI untuk membereskan reruntuhan.</p>
<p>”Syukur-syukur relawan membantu mendirikan pondok sementara untuk sekadar tempat berteduh dengan memanfaatkan material yang masih bisa digunakan. Relawan seharusnya dikerahkan untuk merobohkan dan membereskan puing-puing bangunan. Kalau dibiarkan bisa mengancam keselamatan jiwa kalau ada gempa susulan,” kata Syamsimar.</p>
<p>Maatar, Ketua RT 04 RW 01, Kelurahan Sungai Sapiah, Kecamatan Kuranji, Padang, menyebutkan, tidak hanya Syamsimar yang memimpikan bantuan tenda, bahan makanan, dan bantuan relawan atau tenaga TNI untuk merobohkan bangunan yang rusak parah. Banyak warga, yang karena janda, dan atau suaminya merantau, perlu bantuan relawan.</p>
<p>”Kebutuhan mendesak korban gempa perlu segera diadakan, terutama tenda dan bahan makanan,” kata Maatar.</p>
<p>Di RT 04 terdapat 67 keluarga (sekitar 300 jiwa) korban gempa. Rumah milik warga yang umumnya bekerja sebagai buruh tani itu rusak berat, tak bisa ditempati lagi.</p>
<p><strong>Bantuan tersendat</strong></p>
<p>Maatar mengemukakan, bantuan yang telah ia terima untuk korban sebanyak itu baru enam tenda plastik, satu kardus mi instan, 10 kaleng ikan sarden, dan 10 botol saus cabe/tomat.</p>
<p>Menurut Maatar, korban gempa sangat mengharapkan bantuan tenda. Satu keluarga satu tenda. Laporan sudah diberikan, tetapi baik lurah maupun camat tak pernah melihat langsung kondisi warga.</p>
<p>Di RW 05 Sungai Sapiah, bantuan yang sampai ke tangan korban gempa juga masih minim. ”Ada 367 jiwa korban gempa, tetapi bantuan pertama yang kami terima hanya dua karung kecil beras dan dua kardus mi instan. Bantuan pertama baru kami terima hari ini,” kata Ketua RW 05 Sudirman KS, Sabtu.</p>
<p>Menurut dia, warga sangat mengharapkan bantuan tenda dan bahan makanan yang mencukupi. ”Di Posko Induk Kota Padang, bantuan banyak datang, tetapi entah kenapa warga kami belum mendapatkan, kecuali dua kardus mi dan dua karung kecil beras,” kata Sudirman KS.</p>
<p>Di Kelurahan Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, ratusan warga yang rumahnya rata dengan tanah juga mengeluhkan bantuan yang belum sampai.</p>
<p><strong>Belum ada</strong></p>
<p>Penanggung jawab penerimaan bantuan di Posko Induk Kota Padang, Cory Saidan, menyebutkan, bantuan tenda belum diterima. ”Kami akan usahakan meminta ke Posko Bencana Sumatera Barat,” katanya.</p>
<p>Menurut Cory, keluhan warga yang mengatakan belum menerima bantuan biasa terjadi. Bantuan yang datang jumlahnya terbatas. Namun, ada pula warga yang menerima bantuan dari penyumbang yang memberikan langsung di lapangan.</p>
<p>Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mengemukakan, korban gempa lebih suka membuat tenda darurat di halaman rumahnya. ”Pengungsi tidak terkonsentrasi di suatu tempat pengungsian. Kebutuhan tenda yang diharapkan masyarakat akan diusahakan.”</p>
<p>Hingga Sabtu petang, bantuan tenda di Posko Bencana Sumatera Barat minim. ”Bantuan tenda tidak banyak,” kata petugas di bagian pendataan penerimaan bantuan di posko itu.</p>
<p>sumber: <span id="article_body">(yurnaldi)</span></p>
<p>http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/04/03353899/adakah.yang.bisa.bantu#</p>
<p></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=510&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/adakah-yang-bisa-bantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sumatera Barat Hari Ini</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/sumatera-barat-hari-ini/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/sumatera-barat-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 13:25:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Minggu yang penuh asap dan pasir. Hari ini hari ke-5 setelah gempa memporak-porandakan Sumatera Barat. Beragam bantuan yang datang, laut darat dan udara. Hampir tiap menit bantuan datang timpa-bertimpa. Namun restribusi tetap saja tak sampai ke sasaran. Di Pariaman, masyarakat terpaksa menghentikan truk pengangkut bantuan karena sebelumnya tak ada yang sampai ke tangan warga. Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=507&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu yang penuh asap dan pasir. Hari ini hari ke-5 setelah gempa memporak-porandakan Sumatera Barat. Beragam bantuan yang datang, laut darat dan udara. Hampir tiap menit bantuan datang timpa-bertimpa. Namun restribusi tetap saja tak sampai ke sasaran.</p>
<p>Di Pariaman, masyarakat terpaksa menghentikan truk pengangkut bantuan karena sebelumnya tak ada yang sampai ke tangan warga. Dan masih banyak lagi cerita kekacauan yang lebih semrawut.</p>
<p>Pemerintah dan pejabat negeri ini sepertinya sangat tidak siap dengan bencana. Padahal, pesta-pesta demokrasi baru usai dan menghabiskan uang Negara milyaran rupiah. Quo vadis Monseur..… mau di bawa ke mana negeri ini, Tuan?</p>
<p>Silahkan tinggalkan komentar saudara, teman, bapak, ibu..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=507&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/sumatera-barat-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Rabu Sore, 30 September 2009</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/03/catatan-rabu-sore-30-september-2009/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/03/catatan-rabu-sore-30-september-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 14:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[Jika dahulu Tuan datang ke kota kecil kami, pada sore hingga malam hari, di sepanjang pantai dengan ombak berdebur dan nyiur yang melambai, akan tuan temui orang-orang yang asyik bercengkrama. Apalagi ketika malam tiba, sepanjang pantai itu pula, akan Tuan dapatkan harum jagung bakar dan suara ombak yang lebih hangat lagi. Di jalan-jalan utama kota, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=495&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-503" title="IMG_1166" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/10/img_1166.jpg?w=500&#038;h=333" alt="IMG_1166" width="500" height="333" /><br />
Jika dahulu Tuan datang ke kota kecil kami, pada sore hingga malam hari, di sepanjang pantai dengan ombak berdebur dan nyiur yang melambai, akan tuan temui orang-orang yang asyik bercengkrama. Apalagi ketika malam tiba, sepanjang pantai itu pula, akan Tuan dapatkan harum jagung bakar dan suara ombak yang lebih hangat lagi. Di jalan-jalan utama kota, pedagang kaki lima menjajakan makanan yang bias Tuan nikmati sampai larut tiba.</p>
<p>Sejak sore itu, Rabu 30 September 2009, kota kecil kami diterjang. Orang-orang panic dan terluka, rumah dan gedung retak dan hancur,banyak diantara kami yang tertimbun.<br />
Esok harinya orang-orang berdatangan ke kota kecil kami dengan corak dan ragam berbeda. Dari Negara mana-mana, dari daerah mana saja.</p>
<p>Untuk melihat gambar silahkan klik</p>
<p>http://fatrismohammadfaiz.multiply.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=495&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/03/catatan-rabu-sore-30-september-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/10/img_1166.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1166</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anoreksia Kritik</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/anoreksia-kritik/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/anoreksia-kritik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 16:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[ESAI DAN OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/anoreksia-kritik/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Condra Antoni* Dalam ilmu kesehatan, anoreksia adalah kelainan psikis yang diderita seseorang berupa kekurangan nafsu makan meski sebenarnya lapar dan berselera terhadap makanan. Kalaupun mereka makan, maka mereka akan memuntahkan kembali makanan tersebut. Pembahasan tentang anoreksia dalam kehidupan pernah dilaukan oleh Noah St John dalam bukunya Permitted To Succeed (Izin Untuk Sukses, Interaksara, 2005). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=494&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Condra Antoni* </p>
<p>Dalam ilmu kesehatan, anoreksia adalah kelainan psikis yang diderita seseorang berupa kekurangan nafsu makan meski sebenarnya lapar dan berselera terhadap makanan. Kalaupun mereka makan, maka mereka akan memuntahkan kembali makanan tersebut.  </p>
<p>Pembahasan tentang anoreksia dalam kehidupan pernah dilaukan oleh Noah St John dalam bukunya Permitted To Succeed (Izin Untuk Sukses, Interaksara, 2005). Dalam buku tersebut Noah membahas tentang apa yang disebut dengan anoreksia sukses. Ia membahas tentang bagaimana seseorang tidak bisa sukses karena dia sendiri yang menghambat dirinya untuk mencapai kesuksesan dengan mengaktifkan impuls-impuls negatif sehubungan dengan penegasian self-esteem (menghargai ketidakterbatasan kemampuan diri sendiri). </p>
<p>Dalam tulisan ini, penulis mencoba berurai papar tentang anoreksia kritik yang menjangkiti keindonesiaan kita. <span id="more-494"></span></p>
<p>Saat kita membaca media cetak, menonton televisi, mendengar radio, sering kita disuguhkan dengan berbagai kritik dan analisa atas peristiwa. Berbagai hal di kritisi dan di analisis baik itu oleh orang yang memang berlatar belakang parallel dengan topik peristiwa yang dikritisi dan dianalisis, pengamat, ataupun orang yang hanya sebatas melihat sepintas lalu, lantas mencoba mengkritisi dan menjustifikasi hasil pengamatan-sepintas lalunya. Ini adalah fenomena zaman baheula yang tiada alpa berulang sampai pada kekinian.  </p>
<p>Sehubungan dengan efektifitas kritik, salah satu ungkapan (pesimis) yang cukup popular adalah kritik atas kritikus (baca : komentator) sepak bola. Bahwa, kritikan seorang kritikus sepakbola tidaklah mengakibatkan skor suatu pertandingan berubah. Kita lihat ketika suatu pertandingan berlangsung di layar kaca, pada saat yang sama kritikus sepakbola memaparkan tentang analisa-analisa dan kemungkinan yang ada. Tapi tetap saja skor pertandingan sebagian tidak bisa diprediksi, begitupun dengan gaya permainan para pemain yang tidak sesuai dengan harapan dan penuh ketidakterdugaan. </p>
<p>Kita juga bisa melihat ada ketidaksinambungan ruang antara pemain dan komentatornya.   Pemain berada di ruang bebas kritik yang mengamini setiap peristiwa secara spontan. Sedangkan kritikus atau komentator sepakbola berada di ruang lain yang ber AC dengan setelan jas dan dasi berbicara cuap-cuap tentang sekumpulan orang yang berlari kian kemari bersimbah keringat di lapangan terbuka. </p>
<p>Barangkali hal inilah yang terus menggejala di bangsa ini. Kebobrokan Indonesia sebagai bangsa sudah sedemikian menggema di seantero jagat. Tapi persoalan bangsa ini justru semakin bervariasi. Kebobrokan tersebut bukan sekedar diketahui. Tapi telah berjibun kritik dan solusi yang ajukan sebagai penawarnya.  </p>
<p>Kenyatannya kritik dan sosusi tersebut memang tak ubahnya kritik atas sepakbola dari ruang berbeda. Tidak jelas entah di mana kelirunya penawar, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, sangat sedikit sekali (untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali) bekerja di wilayah kebobrokan tersebut. Tidak ada efek jera atas kebobrokan yang sudah diketahui, dikritisi, dan diberikan solusi oleh khalayak dunia.  </p>
<p>Padahal, dalam sebuah peradaban, bagaimanapun, kritik adalah sebuah jalan keluar yang dikenal ampuh untuk pencerahan. Banyak perubahan telah terjadi sebagai efek langsung dari kritik. Pada tingkat yang paling sederhana, kritik orangtua terhadap anaknya yang tidak pada aturan agama dan moral lalu disertai dengan solusi dalam bentuk pengajaran dan nasehat-nasehat kebaikan, adalah sebuah bangunan awal yang kokoh untuk membentuk kepribadian anak di masa yang akan datang. Kritik pada berpotensi signifikan memanusiakan kemanusiaan anak.  Padamulanya adalah kritik. Ia berperan sebagai sebuah entitas penggerak perubahan untuk menuju sebuah kelebih-baikan dan kelebih-beradaban.  </p>
<p>Akan tapi, justru yang menggejala dalam situasi keindonesiaan hari ini adalah  apa yang disebut sebagai anoreksia kritik. </p>
<p>Fenomena ini bisa dilihat dari respon banyak Decision maker bangsa ini terhadap kritik. Mereka tentunya bukan tidak tahu bahwa mereka sedang dikritik. Mereka tentunya juga sangat memahami detil dari persoalan yang semakin hari semakin beragam. Tapi ketika kritik itu hadir di hadapan mereka, mereka memalingkan muka, bersikap pura-pura mendengar dan pura-pura mengamini sebagai reaksi elegan penolakan. Ini adalah gaya penolakan kelas elit penguasa tentunya. Karena mereka ingin tetap kelihatan baik walaupun dalam hati menolak. </p>
<p>Pada dasarnya tentunya mereka yang dipercaya sebagai pengemban amanah rakyat butuh kritik. Sebab menerima kritik dengan tulus adalah keputusan heroik yang menguntungkan mereka di masa yang akan datang. Ketika mereka menseriusi kritik dengan objektif, maka tentunya mereka punya langkah ke depan yang lebih bermartabat di mata rakyat. Dengan demikian, bangsa ini kiranya membutuhkan decision maker yang tidak terjangkit anoreksia kritik yang akut. </p>
<p>*Penulis adalah Alumni Sasing Unand Bp 02. Sekarang  staf pengajar Politeknik Batam, Koordinator Polybatam Language Centre</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=494&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/anoreksia-kritik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Sun Also Rises: Potret Generasi yang Hilang</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/the-sun-also-rises-potret-generasi-yang-hilang/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/the-sun-also-rises-potret-generasi-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 16:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[ESAI DAN OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/the-sun-also-rises-potret-generasi-yang-hilang/</guid>
		<description><![CDATA[Donny Syofyan Dosen Sastra Inggris Unand Anda pasti kenal dengan Ernest Hemingway, seorang priyayi sastra sejagad? Ia sangat terkenal dengan magnum opus-nya yang monumental The Old Man and The Sea (1952). Tapi sebenarnya, ia pertama kali mengibarkan sayap keunggulannya lewat novel The Sun Also Rises (1926). Novel ini bisa dikategorikan sebagai sebuah prosa penting yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=491&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Donny Syofyan<br />
Dosen Sastra Inggris Unand   </p>
<p>      Anda pasti kenal dengan Ernest Hemingway, seorang priyayi sastra sejagad? Ia sangat terkenal dengan magnum opus-nya yang monumental The Old Man and The Sea (1952). Tapi sebenarnya, ia pertama kali mengibarkan sayap keunggulannya lewat novel The Sun Also Rises (1926). Novel ini bisa dikategorikan sebagai sebuah prosa penting yang menjadi pionir mewartakan problem “generasi yang hilang” (lost generation). Novel yang mengambil latar pasca Perang Dunia I ini melukiskan geliat generasi pascaperang yang diselimuti diskriminasi, hilangnya pegangan agama, eskapisme dan ketidakmampuan untuk mengambil sikap serta bertindak. Istilah “lost generation” pertama kali tersebut dalam sebuah percakapan oleh Gertrude Stein, salah satu anggota lingkaran ekspatriat pada dekade 1920-an di Paris. Sesuatu yang dianggap spontan dan tak berarti saat pertama diucapkan tanpa disadari menjadi label bagi kalangan ekspatriat dari Amerika Serikat dan Inggris yang menolak konvensi tradisional Amerika dan Inggris demi mereguk gaya hidup yang lebih menarik di Paris, tempat yang digambarkan Hemingway sebagai negeri tak bermoral untuk mabuk dan menjalin hubungan intim.<br />
      Dengan kebiasaan nongkrong di cafe sepanjang the Boulevard Montparnasse untuk minum-minum, ngobrol dan mejeng menikmati orang-orang yang keluyuran, golongan the lost generation ini menjadi kumpulan orang-orang yang membuang jauh-jauh keyakinan dan tananan nilai sebelum perang, semisal cinta, romantisme, optimisme, kemakmuran, dan harapan. Bagi mereka, semua itu hancur lebur bukan saja bersamaan dengan kepiluan yang ditinggalkan perang tapi juga lantaran menguatnya budaya konsumersime, money<span id="more-491"></span>-oriented dan tiadanya ketulusan hubungan sosial. Kegamangan mendamaikan antara kepercayaan masa silam dan tuntutan masyarakat arus utama saat itu membuat kalangan the lost generation tersebut mengalami suasana moral yang bangkrut serta spiritual yang steril. Mereka terdampar dalam syahwat fatamorgana; kecanduan alkohol dan kehidupan seks bebas.<br />
      Banyak warga Amerika di Paris menjadi penulis dan seniman bohemian sebagai reaksi protes terhadap budaya konsumtif dan business-oriented ala Amerika. Mereka menghabiskan hari-harinya di kafe dan malamnya dari satu pelukan wanita ke wanita yang lain. Bagi kelompok ini, cinta, harapan dan agama menjadi konsep yang asing seusai Perang Dunia I untuk kemudian diganti oleh kebebasan seks dan apatisisme moral. Kebiasaan mereka ngumpul di kafe-kafe maupun gonta-ganti pasangan sejatinya terkait erat dengan trauma yang mereka alami pascaperang.<br />
      Novel The Sun Also Rises ini adalah semi-otobiografis berdasarkan pengembaraan Hemingway di Prancis dan Spanyol pada tahun 1924-1925. Walau karya-karyanya sebelumnya mendapatkan banyak pujian moderat dan apresiasi kritis, namun novel ini-lah yang mengantarkannya mendulang sukses secara internasional dan menjadikannya sebagai pemuka kelompok the lost generation. Lewat seting masyarakat ekspatriat Amerika dan Inggris yang bepergian antara Paris dan Pamplona, The Sun Also Rises nyaris mewujud sebagai bible bagi individu-individu yang diterpa disorientasi hidup. Ini tak terlepas dari kekuatan karya ini yang secara brilian menangkap fenomena kebusukan moral dan alienasi sosial yang dialami oleh kelompok generasi yang hilang tersebut.<br />
      Potret generasi yang hilang terpatri jelas pada diri setiap tokoh dalam novel ini. Tokoh pertama yang diperkenalkan dalam novel ini adalah Robert Cohn. Dia dianggap sebagai orang luar (outsider) disebabkan berdarah Yahudi. Sepanjang novel ia dianggap rendah dan selalu terpisah dengan yang lainnya, “He had a hard, Jewish, stubborn steak” (Ia memiliki darah yang keras, Yahudi dan kepala batu) [h.18]. Kutipan ini secara gambang menegaskan latar belakangnya sebagai keuturunan Yahudi, karenanya berbeda dengan lainnya. Sementara ungkapan bahwa “garis keturunannya” (his streak) keras dan berkepala batu (hard and stubborn) menunjukkan bahwa Cohn adalah orang yang sukar bergaul dan diajak berurusan.<br />
      Walaupun menjadi korban diskriminasi, ia adalah sedikit orang yang berani menyentil kelompok generasi yang hilang itu betapa tidak berartinya mereka, terutama ketika ia mengatakan kepada Jake Barnes, “You know what&#8217;s the trouble with you? You&#8217;re an expatriate. One of the worst type&#8230; Nobody that ever left their own country ever wrote anything worth printing. Not even in the newspapers&#8221; (Kamu sadar apa kesulitanmu? Kamu seorang ekspatriat. Salah satu jenis paling buruk&#8230;Tak seorangpun yang meninggalkan kampung halamannya menulis sesuatu yang pantas diterbitkan, bahkan tidak juga di surat kabar) [h.120], atau ketika ia menyapa, ”Hello, you bums” (Hai gembel) [h.50]. Ungkapan-ungkapan ini secara harfiah menjadi tamparan di wajah Jake; alangkah tak bermaruahnya Jake lantaran minggat dan meninggalkan negara sendiri. Sungguh mengejutkan, seseorang yang tidak disukai dimana-mana dan kerap menjadi objek diskriminasi—Cohn—ternyata mampu membaca karakter-karakter sampah di kalangan generasi yang hilang ini. Terma “bums” (gelandangan) menurut definisi adalah sebagai asosasi orang yang tak berguna. Ini secara tepat mempertontonkan the lost generation.<br />
      Potret sosial kelam kalangan generasi yang hilang ini pula dihiasi oleh lemahnya kontak dengan agama. Mereka kehilangan agama secara keseluruhan. Sebetulnya mereka insaf dengan konsep ini tapi sudah kehilangan harapan. Ini bisa terbaca dari ungkapan Jake, sungguhpun ia enggan menerima keterlepasannya dari Tuhan, “I was a little ashamed, and regretted that I was such a rotten Catholic, but realized there was nothing I could do about it, at least for a while. I only wished I felt religious and maybe I would the next time” (Aku sedikit malu dan menyesal sebagai seorang Katolik karatan, tapi aku sadar tak ada yang bisa diperbuat untuk itu, setidaknya untuk saat ini. Aku hanya berharap merasa relijius dan mudah-mudahan aku bakal menjadi relijius di kemudian hari) [h.97].<br />
      Eskapisme menjadi dandanan sosial berikutnya dalam novel ini. Tiap orang ingin melarikan diri guna menghindari tantangan hidup. Tapi, bagi seorang Jake, ia paham tak ada tempat terbaik buat menghindari masalah, “Listen, Robert, going to another country doesn&#8217;t make any difference. I&#8217;ve tried all that. You can&#8217;t get away from yourself by moving from one place to another. There&#8217;s nothing to that”  (Dengar Robert, melarikan diri ke negara lain tak ada bedanya. Aku sudah pernah mencoba itu semua. Kamu tak bakal bisa lari dari dirimu sendiri, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tak ada gunanya itu) [h.19). Inilah sebentuk eskapisme the lost generation—bepergian alias “menapaktilasi” satu tempat ke tempat lain. Hanya saja, metode ini tidak cukup manjur untuk jangka panjang. Sungguhpun Jake sudah berupaya terus bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain, toh ia tetap terdampar pada zona yang sama dengan kelompok the lost generation itu.<br />
      Ada hal menarik dengan Robert Cohn, meskipun ia ikut-ikutan lari dari kenyataan hidup, ia masih saja “takes a bath, has a shave and a haircut and a shampoo, and something put on his hair afterward to make it stay down” (mandi, bercukur dan kemudian mengenakan sampo pada rambutnya agar bisa tenang) [h.103]. Hal ini menampakkan bahwa kendatipun dianggap sebagai orang luar, Cohn masih memandang perlu melarikan diri dari realitas yang pahit serta kesia-siaan.<br />
      Eskapisme ini makin beranak pinak dengan tabiat-tabiat rapuh lainnya, semisal kebiasaan minum alkohol. Jake ingat ketika masa perang, “There was much wine, an ignored tension, and a feeling of things coming that you could not prevent happening. Under the wine I lost the disgusted feeling and was happy. It seemed they were all such nice people” (Begitu banyak anggur, ketegangan yang terabaikan maupun perasaan terhadap banyak hal yang tak sanggup kamu hindari. Lewat anggur aku kehilangan rasa jijik dan jadi bahagia. Seolah-olah semuanya adalah orang-orang baik) [h.150]. Terkesan bahwa alkohol membuat para veteran perang ini lari dari kenyataan, sebuah kebiasaan yang terus menghinggapi mereka hingga usai perang. Untuk sesaat, ini menjadikan mereka lupa dengan sendiri dan problem hidup yang mereka hadapi. Kadar alkohol yang tak terbatas yang mereka konsumsi betul-betul mewujud sebagai bahan bakar sikap eskapisme ini.<br />
      Simpul kata, “generasi yang hilang” (the lost generation) secara literal memang berarti hilang (lost). Tabiat dan tindakan segenap karakter dalam novel ini tak satupun yang positif dalam hidup mereka, belum lagi sikap diskriminatif yang mereka yang sia-sia saja. Tak kalah pentingnya, alih-alih berbuat sesuatu yang produktif dan bermanfaat guna menanggulangi masalah yang ada, kelompok the lost generation ini adanya mengorbit pada lintasan prilaku-prilaku tercela yang sejatinya tak lebih dari sisa-sisa peradaban buas; diskriminasi, hilangnya pegangan agama, eskapisme dan ketidakmampuan untuk mengambil sikap serta bertindak. Secara rinci prilaku ini tecerna jelas dalam kehidupan mereka, seperti cara menggunakan waktu, kedudukan wanita dalam pergaulan, pengaturan uang pribadi, sikap antipati terhadap puritanisme dalam beragama, pandangan terhadap orang-orang Yahudi, sampai pandangan orang-orang Amerika tentang berbagai hal di Eropa pada saat itu.  Ini sungguh sebuah kisah generasi yang hilang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=491&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/the-sun-also-rises-potret-generasi-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sajak sebatang lisong</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/sajak-sebatang-lisong/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/sajak-sebatang-lisong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 16:23:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/sajak-sebatang-lisong/</guid>
		<description><![CDATA[Di saat-saat ketika kesenian skian jauh terasa dari masyarakatnya, ketika kesenian telah egois dalam batang tubuhnya sendiri, sepertinya sebuah sajak perlu kita baca kembali. Menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat, dan di langit dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=490&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di saat-saat ketika kesenian skian jauh terasa dari masyarakatnya, ketika kesenian telah egois dalam batang tubuhnya sendiri, sepertinya sebuah sajak perlu kita baca kembali. </p>
<p>Menghisap sebatang lisong<br />
melihat Indonesia Raya,<br />
mendengar 130 juta rakyat,<br />
dan di langit<br />
dua tiga cukong mengangkang,<br />
berak di atas kepala mereka<br />
Matahari terbit.<br />
Fajar tiba.<br />
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak<br />
tanpa pendidikan.<br />
Aku bertanya,<br />
tetapi pertanyaanku<br />
membentur meja kekuasaan yang macet,<br />
dan papantulis-papantulis para pendidik<br />
yang terlepas dari persoalan kehidupan.<br />
Delapan juta kanak-kanak<br />
menghadapi satu jalan panjang,<br />
tanpa pilihan,<br />
tanpa pepohonan,<br />
tanpa dangau persinggahan,<br />
tanpa ada bayangan ujungnya.</p>
<p>Menghisap udara<br />
yang disemprot deodorant,<br />
aku melihat sarjana-sarjana menganggur<br />
berpeluh di jalan raya;<br />
aku melihat wanita bunting<br />
antri uang pensiun.<br />
Dan di langit;<br />
para tekhnokrat berkata :<br />
bahwa bangsa kita adalah malas,<br />
bahwa bangsa mesti dibangun;<br />
mesti di-up-grade<br />
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor<br />
Gunung-gunung menjulang.<br />
Langit pesta warna di dalam senjakala<br />
Dan aku melihat<br />
protes-protes yang terpendam,<br />
terhimpit di bawah tilam.<br />
Aku bertanya,<br />
tetapi pertanyaanku<br />
membentur jidat penyair-penyair salon,<br />
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,<br />
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya<br />
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan<br />
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.<br />
Bunga-bunga bangsa tahun depan<br />
berkunang-kunang pandang matanya,<br />
di bawah iklan berlampu neon,<br />
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak<br />
menjadi gemalau suara yang kacau,<br />
menjadi karang di bawah muka samudra.</p>
<p>Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.<br />
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,<br />
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.<br />
Kita mesti keluar ke jalan raya,<br />
keluar ke desa-desa,<br />
mencatat sendiri semua gejala,<br />
dan menghayati persoalan yang nyata.<br />
Inilah sajakku<br />
Pamplet masa darurat.<br />
Apakah artinya kesenian,<br />
bila terpisah dari derita lingkungan.<br />
Apakah artinya berpikir,<br />
bila terpisah dari masalah kehidupan.<br />
19 Agustus 1977<br />
ITB Bandung<br />
Potret Pembangunan dalam Puisi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=490&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/sajak-sebatang-lisong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DI SINI ADA SITTY  (sebuah catatan)</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/di-sini-ada-sitty-sebuah-catatan/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/di-sini-ada-sitty-sebuah-catatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 15:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[ESAI DAN OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[TEATER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Fatris Moh. Faiz Selasa (13/1) pukul empat sore, orang-orang memenuhi teater tertutup Taman Budaya Sumatera Barar. Sebagian besar adalah pelajar. Lebih dari sepuluh remaja yang tergabung dalam grup teater Jalan, membuat panggung bergemuruh. Suara dan hentakan kaki mereka seperti hentakan derap kebebasan orang yang baru kelur dari penjara. Penjara apa saja. Mereka yang seharusnya ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=477&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fatris Moh. Faiz</p>
<p>Selasa (13/1) pukul empat sore, orang-orang memenuhi teater tertutup Taman Budaya Sumatera Barar. Sebagian besar adalah pelajar.</p>
<p>Lebih dari sepuluh remaja yang tergabung dalam grup teater <em>Jalan</em>, membuat panggung bergemuruh. Suara dan hentakan kaki mereka seperti hentakan derap kebebasan orang yang baru kelur dari penjara. Penjara apa saja.</p>
<p>Mereka yang seharusnya ada ditempat-tempat les, atau tempat pembelajaran lainnya, sekarang berjalan di panggung dengan leluasa. Diterangi lampu dan ditonton banyak orang.</p>
<p>Pementasan itu berlangsung sejam. Pementasan yang diprakarsai Balai Bahasa Padang dan disutradarai S Metron M itu terlihat mencoba menjemput para remaja untuk berkesenian. Tentu tidak gampang.<span id="more-477"></span></p>
<p>Di panggung, Sitty kehilangan akal karena ia harus menebus segala hutang yang ditinggalkan bapaknya. Kata ibunya, Sitty harus membayarnya dengan apa yang dimilikinya. Bapaknya, juga ibunya, dililit hutang pada Datuk Maringgih.</p>
<p>Datuk Maringgih, mungkin simbolisasi kemapaman.</p>
<p>Pementasan itu lebih bercerita tentang Sitty yang hidup di zaman sekarang. Sitty yang remaja. Sitty yang (masih) merupakan simbol dari perempuan yang terbelenggu oleh—mungkin adat, dan hari ini, mungkin Sitty yang terbelengu oleh sekolah.</p>
<p>“Di sini ada sitty,” sesuara dari belakang panggung itu seakan terdengar menjerit. Tapi lebih terdengar meratap kosong yang mengatakan kalau tiap generasi akan melahirkan Sitty dalam bentuk yang lain.</p>
<p>Sitty-Sitty berlahiran.</p>
<p>Ilham Yusardi yang menulis naskah ini tentu tahu, ia hidup di sebuah daerah yang sarat dinamika. Sejarah daerah ini adalah sejarah orang-orang yang tak menyangkal “yang berubah”. Siti Noerbaya, perempuan Minang dalam roman Balai Pustaka, jelas berbeda dengan Siti Nurbaya dalam naskah Ilham Yusardi. Sitty-nya Ilham adalah perempuan hari ini, meskipun tetap berasal dari daerah kebudayaan yang sama.</p>
<p>Sitty meregang nyawa di ujung pementasan itu. Ia memakan santapan yang beracun yang seharusnya bukan untuk dirinya, dan ia tak menyadari itu. Remaja yang mati karena menyantap makanan yang beracun.</p>
<p>“Di sini ada Sitty&#8230;” sesuara itu hilang di ujung pementasan. Para aktor dan penonton yang kebanyakan pelajar itu, besoknya tentu akan kembali lagi ke sekolah mereka masing-masing. Siap-siap menjadi Sitty kembali. Sitty yang harus menanggungkan utang orangtua. “Utang” untuk menjadikan mereka berhasil. Lewat sekolah, lewat les-les. Menyerahkan mereka pada Datuk Maringgih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&amp;blog=3253794&amp;post=477&amp;subd=rumahteduh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/di-sini-ada-sitty-sebuah-catatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
