<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumahteduh, community</title>
	<atom:link href="http://rumahteduh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahteduh.wordpress.com</link>
	<description>Ayo....belajar...</description>
	<lastBuildDate>Sun, 04 Oct 2009 13:35:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='rumahteduh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/87f986d60400564e7321ef68e72d76e8?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rumahteduh, community</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Adakah yang Bisa Bantu?</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/adakah-yang-bisa-bantu/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/adakah-yang-bisa-bantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 13:35:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[  Minggu, 4 Oktober 2009 &#124; 03:35 WIB
”Nak, adakah yang bisa bantu Amak…?” Pertanyaan perempuan itu seperti menagih kepedulian. Matanya memerah, seperti kurang tidur. Peluh di mukanya, tak hendak ia seka. Tangannya penuh debu setelah sejak pagi hingga siang sendirian memberesi rumahnya yang rata dengan tanah akibat gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=510&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- end judul + lead --> <!-- end headline --> <!-- isi berita -->Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:35 WIB</p>
<p><span id="article_body">”Nak, adakah yang bisa bantu Amak…?” Pertanyaan perempuan itu seperti menagih kepedulian. Matanya memerah, seperti kurang tidur. Peluh di mukanya, tak hendak ia seka. Tangannya penuh debu setelah sejak pagi hingga siang sendirian memberesi rumahnya yang rata dengan tanah akibat gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat dan provinsi lain di Sumatera.</p>
<p>Segelas air putih dan sepinggan nasi tanpa lauk, kecuali sambal lado, menemaninya istirahat sejenak di bawah rerimbunan pohon manggis, Sabtu (3/10) siang. ”Hujan bakal turun, langit mendung. Entah ke mana Amak harus berteduh,” kata perempuan paruh baya bernama Syamsimar (50) itu.</p>
<p>Syamsimar yang tinggal bersama anak yang masih duduk di sekolah dasar memimpikan bisa istirahat di dalam tenda dan makan secukupnya. Selebihnya, ia berharap bantuan tenaga relawan atau TNI untuk membereskan reruntuhan.</p>
<p>”Syukur-syukur relawan membantu mendirikan pondok sementara untuk sekadar tempat berteduh dengan memanfaatkan material yang masih bisa digunakan. Relawan seharusnya dikerahkan untuk merobohkan dan membereskan puing-puing bangunan. Kalau dibiarkan bisa mengancam keselamatan jiwa kalau ada gempa susulan,” kata Syamsimar.</p>
<p>Maatar, Ketua RT 04 RW 01, Kelurahan Sungai Sapiah, Kecamatan Kuranji, Padang, menyebutkan, tidak hanya Syamsimar yang memimpikan bantuan tenda, bahan makanan, dan bantuan relawan atau tenaga TNI untuk merobohkan bangunan yang rusak parah. Banyak warga, yang karena janda, dan atau suaminya merantau, perlu bantuan relawan.</p>
<p>”Kebutuhan mendesak korban gempa perlu segera diadakan, terutama tenda dan bahan makanan,” kata Maatar.</p>
<p>Di RT 04 terdapat 67 keluarga (sekitar 300 jiwa) korban gempa. Rumah milik warga yang umumnya bekerja sebagai buruh tani itu rusak berat, tak bisa ditempati lagi.</p>
<p><strong>Bantuan tersendat</strong></p>
<p>Maatar mengemukakan, bantuan yang telah ia terima untuk korban sebanyak itu baru enam tenda plastik, satu kardus mi instan, 10 kaleng ikan sarden, dan 10 botol saus cabe/tomat.</p>
<p>Menurut Maatar, korban gempa sangat mengharapkan bantuan tenda. Satu keluarga satu tenda. Laporan sudah diberikan, tetapi baik lurah maupun camat tak pernah melihat langsung kondisi warga.</p>
<p>Di RW 05 Sungai Sapiah, bantuan yang sampai ke tangan korban gempa juga masih minim. ”Ada 367 jiwa korban gempa, tetapi bantuan pertama yang kami terima hanya dua karung kecil beras dan dua kardus mi instan. Bantuan pertama baru kami terima hari ini,” kata Ketua RW 05 Sudirman KS, Sabtu.</p>
<p>Menurut dia, warga sangat mengharapkan bantuan tenda dan bahan makanan yang mencukupi. ”Di Posko Induk Kota Padang, bantuan banyak datang, tetapi entah kenapa warga kami belum mendapatkan, kecuali dua kardus mi dan dua karung kecil beras,” kata Sudirman KS.</p>
<p>Di Kelurahan Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, ratusan warga yang rumahnya rata dengan tanah juga mengeluhkan bantuan yang belum sampai.</p>
<p><strong>Belum ada</strong></p>
<p>Penanggung jawab penerimaan bantuan di Posko Induk Kota Padang, Cory Saidan, menyebutkan, bantuan tenda belum diterima. ”Kami akan usahakan meminta ke Posko Bencana Sumatera Barat,” katanya.</p>
<p>Menurut Cory, keluhan warga yang mengatakan belum menerima bantuan biasa terjadi. Bantuan yang datang jumlahnya terbatas. Namun, ada pula warga yang menerima bantuan dari penyumbang yang memberikan langsung di lapangan.</p>
<p>Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mengemukakan, korban gempa lebih suka membuat tenda darurat di halaman rumahnya. ”Pengungsi tidak terkonsentrasi di suatu tempat pengungsian. Kebutuhan tenda yang diharapkan masyarakat akan diusahakan.”</p>
<p>Hingga Sabtu petang, bantuan tenda di Posko Bencana Sumatera Barat minim. ”Bantuan tenda tidak banyak,” kata petugas di bagian pendataan penerimaan bantuan di posko itu.</p>
<p>sumber: <span id="article_body">(yurnaldi)</span></p>
<p>http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/04/03353899/adakah.yang.bisa.bantu#</p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/510/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=510&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/adakah-yang-bisa-bantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sumatera Barat Hari Ini</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/sumatera-barat-hari-ini/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/sumatera-barat-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 13:25:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Minggu yang penuh asap dan pasir. Hari ini hari ke-5 setelah gempa memporak-porandakan Sumatera Barat. Beragam bantuan yang datang, laut darat dan udara. Hampir tiap menit bantuan datang timpa-bertimpa. Namun restribusi tetap saja tak sampai ke sasaran.
Di Pariaman, masyarakat terpaksa menghentikan truk pengangkut bantuan karena sebelumnya tak ada yang sampai ke tangan warga. Dan masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=507&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Minggu yang penuh asap dan pasir. Hari ini hari ke-5 setelah gempa memporak-porandakan Sumatera Barat. Beragam bantuan yang datang, laut darat dan udara. Hampir tiap menit bantuan datang timpa-bertimpa. Namun restribusi tetap saja tak sampai ke sasaran.</p>
<p>Di Pariaman, masyarakat terpaksa menghentikan truk pengangkut bantuan karena sebelumnya tak ada yang sampai ke tangan warga. Dan masih banyak lagi cerita kekacauan yang lebih semrawut.</p>
<p>Pemerintah dan pejabat negeri ini sepertinya sangat tidak siap dengan bencana. Padahal, pesta-pesta demokrasi baru usai dan menghabiskan uang Negara milyaran rupiah. Quo vadis Monseur..… mau di bawa ke mana negeri ini, Tuan?</p>
<p>Silahkan tinggalkan komentar saudara, teman, bapak, ibu..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/507/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=507&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/04/sumatera-barat-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Rabu Sore, 30 September 2009</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/03/catatan-rabu-sore-30-september-2009/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/03/catatan-rabu-sore-30-september-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 14:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[
Jika dahulu Tuan datang ke kota kecil kami, pada sore hingga malam hari, di sepanjang pantai dengan ombak berdebur dan nyiur yang melambai, akan tuan temui orang-orang yang asyik bercengkrama. Apalagi ketika malam tiba, sepanjang pantai itu pula, akan Tuan dapatkan harum jagung bakar dan suara ombak yang lebih hangat lagi. Di jalan-jalan utama kota, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=495&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-503" title="IMG_1166" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/10/img_1166.jpg?w=500&#038;h=333" alt="IMG_1166" width="500" height="333" /><br />
Jika dahulu Tuan datang ke kota kecil kami, pada sore hingga malam hari, di sepanjang pantai dengan ombak berdebur dan nyiur yang melambai, akan tuan temui orang-orang yang asyik bercengkrama. Apalagi ketika malam tiba, sepanjang pantai itu pula, akan Tuan dapatkan harum jagung bakar dan suara ombak yang lebih hangat lagi. Di jalan-jalan utama kota, pedagang kaki lima menjajakan makanan yang bias Tuan nikmati sampai larut tiba.</p>
<p>Sejak sore itu, Rabu 30 September 2009, kota kecil kami diterjang. Orang-orang panic dan terluka, rumah dan gedung retak dan hancur,banyak diantara kami yang tertimbun.<br />
Esok harinya orang-orang berdatangan ke kota kecil kami dengan corak dan ragam berbeda. Dari Negara mana-mana, dari daerah mana saja.</p>
<p>Untuk melihat gambar silahkan klik</p>
<p>http://fatrismohammadfaiz.multiply.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=495&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/10/03/catatan-rabu-sore-30-september-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/10/img_1166.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1166</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anoreksia Kritik</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/anoreksia-kritik/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/anoreksia-kritik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 16:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[ESAI DAN OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/anoreksia-kritik/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Condra Antoni* 
Dalam ilmu kesehatan, anoreksia adalah kelainan psikis yang diderita seseorang berupa kekurangan nafsu makan meski sebenarnya lapar dan berselera terhadap makanan. Kalaupun mereka makan, maka mereka akan memuntahkan kembali makanan tersebut.  
Pembahasan tentang anoreksia dalam kehidupan pernah dilaukan oleh Noah St John dalam bukunya Permitted To Succeed (Izin Untuk Sukses, Interaksara, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=494&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Condra Antoni* </p>
<p>Dalam ilmu kesehatan, anoreksia adalah kelainan psikis yang diderita seseorang berupa kekurangan nafsu makan meski sebenarnya lapar dan berselera terhadap makanan. Kalaupun mereka makan, maka mereka akan memuntahkan kembali makanan tersebut.  </p>
<p>Pembahasan tentang anoreksia dalam kehidupan pernah dilaukan oleh Noah St John dalam bukunya Permitted To Succeed (Izin Untuk Sukses, Interaksara, 2005). Dalam buku tersebut Noah membahas tentang apa yang disebut dengan anoreksia sukses. Ia membahas tentang bagaimana seseorang tidak bisa sukses karena dia sendiri yang menghambat dirinya untuk mencapai kesuksesan dengan mengaktifkan impuls-impuls negatif sehubungan dengan penegasian self-esteem (menghargai ketidakterbatasan kemampuan diri sendiri). </p>
<p>Dalam tulisan ini, penulis mencoba berurai papar tentang anoreksia kritik yang menjangkiti keindonesiaan kita. <span id="more-494"></span></p>
<p>Saat kita membaca media cetak, menonton televisi, mendengar radio, sering kita disuguhkan dengan berbagai kritik dan analisa atas peristiwa. Berbagai hal di kritisi dan di analisis baik itu oleh orang yang memang berlatar belakang parallel dengan topik peristiwa yang dikritisi dan dianalisis, pengamat, ataupun orang yang hanya sebatas melihat sepintas lalu, lantas mencoba mengkritisi dan menjustifikasi hasil pengamatan-sepintas lalunya. Ini adalah fenomena zaman baheula yang tiada alpa berulang sampai pada kekinian.  </p>
<p>Sehubungan dengan efektifitas kritik, salah satu ungkapan (pesimis) yang cukup popular adalah kritik atas kritikus (baca : komentator) sepak bola. Bahwa, kritikan seorang kritikus sepakbola tidaklah mengakibatkan skor suatu pertandingan berubah. Kita lihat ketika suatu pertandingan berlangsung di layar kaca, pada saat yang sama kritikus sepakbola memaparkan tentang analisa-analisa dan kemungkinan yang ada. Tapi tetap saja skor pertandingan sebagian tidak bisa diprediksi, begitupun dengan gaya permainan para pemain yang tidak sesuai dengan harapan dan penuh ketidakterdugaan. </p>
<p>Kita juga bisa melihat ada ketidaksinambungan ruang antara pemain dan komentatornya.   Pemain berada di ruang bebas kritik yang mengamini setiap peristiwa secara spontan. Sedangkan kritikus atau komentator sepakbola berada di ruang lain yang ber AC dengan setelan jas dan dasi berbicara cuap-cuap tentang sekumpulan orang yang berlari kian kemari bersimbah keringat di lapangan terbuka. </p>
<p>Barangkali hal inilah yang terus menggejala di bangsa ini. Kebobrokan Indonesia sebagai bangsa sudah sedemikian menggema di seantero jagat. Tapi persoalan bangsa ini justru semakin bervariasi. Kebobrokan tersebut bukan sekedar diketahui. Tapi telah berjibun kritik dan solusi yang ajukan sebagai penawarnya.  </p>
<p>Kenyatannya kritik dan sosusi tersebut memang tak ubahnya kritik atas sepakbola dari ruang berbeda. Tidak jelas entah di mana kelirunya penawar, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, sangat sedikit sekali (untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali) bekerja di wilayah kebobrokan tersebut. Tidak ada efek jera atas kebobrokan yang sudah diketahui, dikritisi, dan diberikan solusi oleh khalayak dunia.  </p>
<p>Padahal, dalam sebuah peradaban, bagaimanapun, kritik adalah sebuah jalan keluar yang dikenal ampuh untuk pencerahan. Banyak perubahan telah terjadi sebagai efek langsung dari kritik. Pada tingkat yang paling sederhana, kritik orangtua terhadap anaknya yang tidak pada aturan agama dan moral lalu disertai dengan solusi dalam bentuk pengajaran dan nasehat-nasehat kebaikan, adalah sebuah bangunan awal yang kokoh untuk membentuk kepribadian anak di masa yang akan datang. Kritik pada berpotensi signifikan memanusiakan kemanusiaan anak.  Padamulanya adalah kritik. Ia berperan sebagai sebuah entitas penggerak perubahan untuk menuju sebuah kelebih-baikan dan kelebih-beradaban.  </p>
<p>Akan tapi, justru yang menggejala dalam situasi keindonesiaan hari ini adalah  apa yang disebut sebagai anoreksia kritik. </p>
<p>Fenomena ini bisa dilihat dari respon banyak Decision maker bangsa ini terhadap kritik. Mereka tentunya bukan tidak tahu bahwa mereka sedang dikritik. Mereka tentunya juga sangat memahami detil dari persoalan yang semakin hari semakin beragam. Tapi ketika kritik itu hadir di hadapan mereka, mereka memalingkan muka, bersikap pura-pura mendengar dan pura-pura mengamini sebagai reaksi elegan penolakan. Ini adalah gaya penolakan kelas elit penguasa tentunya. Karena mereka ingin tetap kelihatan baik walaupun dalam hati menolak. </p>
<p>Pada dasarnya tentunya mereka yang dipercaya sebagai pengemban amanah rakyat butuh kritik. Sebab menerima kritik dengan tulus adalah keputusan heroik yang menguntungkan mereka di masa yang akan datang. Ketika mereka menseriusi kritik dengan objektif, maka tentunya mereka punya langkah ke depan yang lebih bermartabat di mata rakyat. Dengan demikian, bangsa ini kiranya membutuhkan decision maker yang tidak terjangkit anoreksia kritik yang akut. </p>
<p>*Penulis adalah Alumni Sasing Unand Bp 02. Sekarang  staf pengajar Politeknik Batam, Koordinator Polybatam Language Centre</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/494/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=494&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/anoreksia-kritik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Sun Also Rises: Potret Generasi yang Hilang</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/the-sun-also-rises-potret-generasi-yang-hilang/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/the-sun-also-rises-potret-generasi-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 16:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[ESAI DAN OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/the-sun-also-rises-potret-generasi-yang-hilang/</guid>
		<description><![CDATA[Donny Syofyan
Dosen Sastra Inggris Unand   
      Anda pasti kenal dengan Ernest Hemingway, seorang priyayi sastra sejagad? Ia sangat terkenal dengan magnum opus-nya yang monumental The Old Man and The Sea (1952). Tapi sebenarnya, ia pertama kali mengibarkan sayap keunggulannya lewat novel The Sun Also Rises (1926). Novel ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=491&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Donny Syofyan<br />
Dosen Sastra Inggris Unand   </p>
<p>      Anda pasti kenal dengan Ernest Hemingway, seorang priyayi sastra sejagad? Ia sangat terkenal dengan magnum opus-nya yang monumental The Old Man and The Sea (1952). Tapi sebenarnya, ia pertama kali mengibarkan sayap keunggulannya lewat novel The Sun Also Rises (1926). Novel ini bisa dikategorikan sebagai sebuah prosa penting yang menjadi pionir mewartakan problem “generasi yang hilang” (lost generation). Novel yang mengambil latar pasca Perang Dunia I ini melukiskan geliat generasi pascaperang yang diselimuti diskriminasi, hilangnya pegangan agama, eskapisme dan ketidakmampuan untuk mengambil sikap serta bertindak. Istilah “lost generation” pertama kali tersebut dalam sebuah percakapan oleh Gertrude Stein, salah satu anggota lingkaran ekspatriat pada dekade 1920-an di Paris. Sesuatu yang dianggap spontan dan tak berarti saat pertama diucapkan tanpa disadari menjadi label bagi kalangan ekspatriat dari Amerika Serikat dan Inggris yang menolak konvensi tradisional Amerika dan Inggris demi mereguk gaya hidup yang lebih menarik di Paris, tempat yang digambarkan Hemingway sebagai negeri tak bermoral untuk mabuk dan menjalin hubungan intim.<br />
      Dengan kebiasaan nongkrong di cafe sepanjang the Boulevard Montparnasse untuk minum-minum, ngobrol dan mejeng menikmati orang-orang yang keluyuran, golongan the lost generation ini menjadi kumpulan orang-orang yang membuang jauh-jauh keyakinan dan tananan nilai sebelum perang, semisal cinta, romantisme, optimisme, kemakmuran, dan harapan. Bagi mereka, semua itu hancur lebur bukan saja bersamaan dengan kepiluan yang ditinggalkan perang tapi juga lantaran menguatnya budaya konsumersime, money<span id="more-491"></span>-oriented dan tiadanya ketulusan hubungan sosial. Kegamangan mendamaikan antara kepercayaan masa silam dan tuntutan masyarakat arus utama saat itu membuat kalangan the lost generation tersebut mengalami suasana moral yang bangkrut serta spiritual yang steril. Mereka terdampar dalam syahwat fatamorgana; kecanduan alkohol dan kehidupan seks bebas.<br />
      Banyak warga Amerika di Paris menjadi penulis dan seniman bohemian sebagai reaksi protes terhadap budaya konsumtif dan business-oriented ala Amerika. Mereka menghabiskan hari-harinya di kafe dan malamnya dari satu pelukan wanita ke wanita yang lain. Bagi kelompok ini, cinta, harapan dan agama menjadi konsep yang asing seusai Perang Dunia I untuk kemudian diganti oleh kebebasan seks dan apatisisme moral. Kebiasaan mereka ngumpul di kafe-kafe maupun gonta-ganti pasangan sejatinya terkait erat dengan trauma yang mereka alami pascaperang.<br />
      Novel The Sun Also Rises ini adalah semi-otobiografis berdasarkan pengembaraan Hemingway di Prancis dan Spanyol pada tahun 1924-1925. Walau karya-karyanya sebelumnya mendapatkan banyak pujian moderat dan apresiasi kritis, namun novel ini-lah yang mengantarkannya mendulang sukses secara internasional dan menjadikannya sebagai pemuka kelompok the lost generation. Lewat seting masyarakat ekspatriat Amerika dan Inggris yang bepergian antara Paris dan Pamplona, The Sun Also Rises nyaris mewujud sebagai bible bagi individu-individu yang diterpa disorientasi hidup. Ini tak terlepas dari kekuatan karya ini yang secara brilian menangkap fenomena kebusukan moral dan alienasi sosial yang dialami oleh kelompok generasi yang hilang tersebut.<br />
      Potret generasi yang hilang terpatri jelas pada diri setiap tokoh dalam novel ini. Tokoh pertama yang diperkenalkan dalam novel ini adalah Robert Cohn. Dia dianggap sebagai orang luar (outsider) disebabkan berdarah Yahudi. Sepanjang novel ia dianggap rendah dan selalu terpisah dengan yang lainnya, “He had a hard, Jewish, stubborn steak” (Ia memiliki darah yang keras, Yahudi dan kepala batu) [h.18]. Kutipan ini secara gambang menegaskan latar belakangnya sebagai keuturunan Yahudi, karenanya berbeda dengan lainnya. Sementara ungkapan bahwa “garis keturunannya” (his streak) keras dan berkepala batu (hard and stubborn) menunjukkan bahwa Cohn adalah orang yang sukar bergaul dan diajak berurusan.<br />
      Walaupun menjadi korban diskriminasi, ia adalah sedikit orang yang berani menyentil kelompok generasi yang hilang itu betapa tidak berartinya mereka, terutama ketika ia mengatakan kepada Jake Barnes, “You know what&#8217;s the trouble with you? You&#8217;re an expatriate. One of the worst type&#8230; Nobody that ever left their own country ever wrote anything worth printing. Not even in the newspapers&#8221; (Kamu sadar apa kesulitanmu? Kamu seorang ekspatriat. Salah satu jenis paling buruk&#8230;Tak seorangpun yang meninggalkan kampung halamannya menulis sesuatu yang pantas diterbitkan, bahkan tidak juga di surat kabar) [h.120], atau ketika ia menyapa, ”Hello, you bums” (Hai gembel) [h.50]. Ungkapan-ungkapan ini secara harfiah menjadi tamparan di wajah Jake; alangkah tak bermaruahnya Jake lantaran minggat dan meninggalkan negara sendiri. Sungguh mengejutkan, seseorang yang tidak disukai dimana-mana dan kerap menjadi objek diskriminasi—Cohn—ternyata mampu membaca karakter-karakter sampah di kalangan generasi yang hilang ini. Terma “bums” (gelandangan) menurut definisi adalah sebagai asosasi orang yang tak berguna. Ini secara tepat mempertontonkan the lost generation.<br />
      Potret sosial kelam kalangan generasi yang hilang ini pula dihiasi oleh lemahnya kontak dengan agama. Mereka kehilangan agama secara keseluruhan. Sebetulnya mereka insaf dengan konsep ini tapi sudah kehilangan harapan. Ini bisa terbaca dari ungkapan Jake, sungguhpun ia enggan menerima keterlepasannya dari Tuhan, “I was a little ashamed, and regretted that I was such a rotten Catholic, but realized there was nothing I could do about it, at least for a while. I only wished I felt religious and maybe I would the next time” (Aku sedikit malu dan menyesal sebagai seorang Katolik karatan, tapi aku sadar tak ada yang bisa diperbuat untuk itu, setidaknya untuk saat ini. Aku hanya berharap merasa relijius dan mudah-mudahan aku bakal menjadi relijius di kemudian hari) [h.97].<br />
      Eskapisme menjadi dandanan sosial berikutnya dalam novel ini. Tiap orang ingin melarikan diri guna menghindari tantangan hidup. Tapi, bagi seorang Jake, ia paham tak ada tempat terbaik buat menghindari masalah, “Listen, Robert, going to another country doesn&#8217;t make any difference. I&#8217;ve tried all that. You can&#8217;t get away from yourself by moving from one place to another. There&#8217;s nothing to that”  (Dengar Robert, melarikan diri ke negara lain tak ada bedanya. Aku sudah pernah mencoba itu semua. Kamu tak bakal bisa lari dari dirimu sendiri, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tak ada gunanya itu) [h.19). Inilah sebentuk eskapisme the lost generation—bepergian alias “menapaktilasi” satu tempat ke tempat lain. Hanya saja, metode ini tidak cukup manjur untuk jangka panjang. Sungguhpun Jake sudah berupaya terus bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain, toh ia tetap terdampar pada zona yang sama dengan kelompok the lost generation itu.<br />
      Ada hal menarik dengan Robert Cohn, meskipun ia ikut-ikutan lari dari kenyataan hidup, ia masih saja “takes a bath, has a shave and a haircut and a shampoo, and something put on his hair afterward to make it stay down” (mandi, bercukur dan kemudian mengenakan sampo pada rambutnya agar bisa tenang) [h.103]. Hal ini menampakkan bahwa kendatipun dianggap sebagai orang luar, Cohn masih memandang perlu melarikan diri dari realitas yang pahit serta kesia-siaan.<br />
      Eskapisme ini makin beranak pinak dengan tabiat-tabiat rapuh lainnya, semisal kebiasaan minum alkohol. Jake ingat ketika masa perang, “There was much wine, an ignored tension, and a feeling of things coming that you could not prevent happening. Under the wine I lost the disgusted feeling and was happy. It seemed they were all such nice people” (Begitu banyak anggur, ketegangan yang terabaikan maupun perasaan terhadap banyak hal yang tak sanggup kamu hindari. Lewat anggur aku kehilangan rasa jijik dan jadi bahagia. Seolah-olah semuanya adalah orang-orang baik) [h.150]. Terkesan bahwa alkohol membuat para veteran perang ini lari dari kenyataan, sebuah kebiasaan yang terus menghinggapi mereka hingga usai perang. Untuk sesaat, ini menjadikan mereka lupa dengan sendiri dan problem hidup yang mereka hadapi. Kadar alkohol yang tak terbatas yang mereka konsumsi betul-betul mewujud sebagai bahan bakar sikap eskapisme ini.<br />
      Simpul kata, “generasi yang hilang” (the lost generation) secara literal memang berarti hilang (lost). Tabiat dan tindakan segenap karakter dalam novel ini tak satupun yang positif dalam hidup mereka, belum lagi sikap diskriminatif yang mereka yang sia-sia saja. Tak kalah pentingnya, alih-alih berbuat sesuatu yang produktif dan bermanfaat guna menanggulangi masalah yang ada, kelompok the lost generation ini adanya mengorbit pada lintasan prilaku-prilaku tercela yang sejatinya tak lebih dari sisa-sisa peradaban buas; diskriminasi, hilangnya pegangan agama, eskapisme dan ketidakmampuan untuk mengambil sikap serta bertindak. Secara rinci prilaku ini tecerna jelas dalam kehidupan mereka, seperti cara menggunakan waktu, kedudukan wanita dalam pergaulan, pengaturan uang pribadi, sikap antipati terhadap puritanisme dalam beragama, pandangan terhadap orang-orang Yahudi, sampai pandangan orang-orang Amerika tentang berbagai hal di Eropa pada saat itu.  Ini sungguh sebuah kisah generasi yang hilang.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=491&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/the-sun-also-rises-potret-generasi-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sajak sebatang lisong</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/sajak-sebatang-lisong/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/sajak-sebatang-lisong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 16:23:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/sajak-sebatang-lisong/</guid>
		<description><![CDATA[Di saat-saat ketika kesenian skian jauh terasa dari masyarakatnya, ketika kesenian telah egois dalam batang tubuhnya sendiri, sepertinya sebuah sajak perlu kita baca kembali. 
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=490&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di saat-saat ketika kesenian skian jauh terasa dari masyarakatnya, ketika kesenian telah egois dalam batang tubuhnya sendiri, sepertinya sebuah sajak perlu kita baca kembali. </p>
<p>Menghisap sebatang lisong<br />
melihat Indonesia Raya,<br />
mendengar 130 juta rakyat,<br />
dan di langit<br />
dua tiga cukong mengangkang,<br />
berak di atas kepala mereka<br />
Matahari terbit.<br />
Fajar tiba.<br />
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak<br />
tanpa pendidikan.<br />
Aku bertanya,<br />
tetapi pertanyaanku<br />
membentur meja kekuasaan yang macet,<br />
dan papantulis-papantulis para pendidik<br />
yang terlepas dari persoalan kehidupan.<br />
Delapan juta kanak-kanak<br />
menghadapi satu jalan panjang,<br />
tanpa pilihan,<br />
tanpa pepohonan,<br />
tanpa dangau persinggahan,<br />
tanpa ada bayangan ujungnya.</p>
<p>Menghisap udara<br />
yang disemprot deodorant,<br />
aku melihat sarjana-sarjana menganggur<br />
berpeluh di jalan raya;<br />
aku melihat wanita bunting<br />
antri uang pensiun.<br />
Dan di langit;<br />
para tekhnokrat berkata :<br />
bahwa bangsa kita adalah malas,<br />
bahwa bangsa mesti dibangun;<br />
mesti di-up-grade<br />
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor<br />
Gunung-gunung menjulang.<br />
Langit pesta warna di dalam senjakala<br />
Dan aku melihat<br />
protes-protes yang terpendam,<br />
terhimpit di bawah tilam.<br />
Aku bertanya,<br />
tetapi pertanyaanku<br />
membentur jidat penyair-penyair salon,<br />
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,<br />
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya<br />
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan<br />
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.<br />
Bunga-bunga bangsa tahun depan<br />
berkunang-kunang pandang matanya,<br />
di bawah iklan berlampu neon,<br />
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak<br />
menjadi gemalau suara yang kacau,<br />
menjadi karang di bawah muka samudra.</p>
<p>Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.<br />
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,<br />
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.<br />
Kita mesti keluar ke jalan raya,<br />
keluar ke desa-desa,<br />
mencatat sendiri semua gejala,<br />
dan menghayati persoalan yang nyata.<br />
Inilah sajakku<br />
Pamplet masa darurat.<br />
Apakah artinya kesenian,<br />
bila terpisah dari derita lingkungan.<br />
Apakah artinya berpikir,<br />
bila terpisah dari masalah kehidupan.<br />
19 Agustus 1977<br />
ITB Bandung<br />
Potret Pembangunan dalam Puisi</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/490/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=490&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/06/08/sajak-sebatang-lisong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DI SINI ADA SITTY  (sebuah catatan)</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/di-sini-ada-sitty-sebuah-catatan/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/di-sini-ada-sitty-sebuah-catatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 15:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[ESAI DAN OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[TEATER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Fatris Moh. Faiz
Selasa (13/1) pukul empat sore, orang-orang memenuhi teater tertutup Taman Budaya Sumatera Barar. Sebagian besar adalah pelajar.
Lebih dari sepuluh remaja yang tergabung dalam grup teater Jalan, membuat panggung bergemuruh. Suara dan hentakan kaki mereka seperti hentakan derap kebebasan orang yang baru kelur dari penjara. Penjara apa saja.
Mereka yang seharusnya ada ditempat-tempat les, atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=477&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Fatris Moh. Faiz</p>
<p>Selasa (13/1) pukul empat sore, orang-orang memenuhi teater tertutup Taman Budaya Sumatera Barar. Sebagian besar adalah pelajar.</p>
<p>Lebih dari sepuluh remaja yang tergabung dalam grup teater <em>Jalan</em>, membuat panggung bergemuruh. Suara dan hentakan kaki mereka seperti hentakan derap kebebasan orang yang baru kelur dari penjara. Penjara apa saja.</p>
<p>Mereka yang seharusnya ada ditempat-tempat les, atau tempat pembelajaran lainnya, sekarang berjalan di panggung dengan leluasa. Diterangi lampu dan ditonton banyak orang.</p>
<p>Pementasan itu berlangsung sejam. Pementasan yang diprakarsai Balai Bahasa Padang dan disutradarai S Metron M itu terlihat mencoba menjemput para remaja untuk berkesenian. Tentu tidak gampang.<span id="more-477"></span></p>
<p>Di panggung, Sitty kehilangan akal karena ia harus menebus segala hutang yang ditinggalkan bapaknya. Kata ibunya, Sitty harus membayarnya dengan apa yang dimilikinya. Bapaknya, juga ibunya, dililit hutang pada Datuk Maringgih.</p>
<p>Datuk Maringgih, mungkin simbolisasi kemapaman.</p>
<p>Pementasan itu lebih bercerita tentang Sitty yang hidup di zaman sekarang. Sitty yang remaja. Sitty yang (masih) merupakan simbol dari perempuan yang terbelenggu oleh—mungkin adat, dan hari ini, mungkin Sitty yang terbelengu oleh sekolah.</p>
<p>“Di sini ada sitty,” sesuara dari belakang panggung itu seakan terdengar menjerit. Tapi lebih terdengar meratap kosong yang mengatakan kalau tiap generasi akan melahirkan Sitty dalam bentuk yang lain.</p>
<p>Sitty-Sitty berlahiran.</p>
<p>Ilham Yusardi yang menulis naskah ini tentu tahu, ia hidup di sebuah daerah yang sarat dinamika. Sejarah daerah ini adalah sejarah orang-orang yang tak menyangkal “yang berubah”. Siti Noerbaya, perempuan Minang dalam roman Balai Pustaka, jelas berbeda dengan Siti Nurbaya dalam naskah Ilham Yusardi. Sitty-nya Ilham adalah perempuan hari ini, meskipun tetap berasal dari daerah kebudayaan yang sama.</p>
<p>Sitty meregang nyawa di ujung pementasan itu. Ia memakan santapan yang beracun yang seharusnya bukan untuk dirinya, dan ia tak menyadari itu. Remaja yang mati karena menyantap makanan yang beracun.</p>
<p>“Di sini ada Sitty&#8230;” sesuara itu hilang di ujung pementasan. Para aktor dan penonton yang kebanyakan pelajar itu, besoknya tentu akan kembali lagi ke sekolah mereka masing-masing. Siap-siap menjadi Sitty kembali. Sitty yang harus menanggungkan utang orangtua. “Utang” untuk menjadikan mereka berhasil. Lewat sekolah, lewat les-les. Menyerahkan mereka pada Datuk Maringgih.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/477/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=477&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/di-sini-ada-sitty-sebuah-catatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SASTRA(WAN) YANG MALAS, BAPAK GUBERNUR?</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/sastrawan-yang-malas-bapak-gubernur/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/sastrawan-yang-malas-bapak-gubernur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 15:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[ESAI DAN OPINI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/sastrawan-yang-malas-bapak-gubernur/</guid>
		<description><![CDATA[(Tanggapan atas penilaian Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di harian Singgalang, Senin, 27 April 2009 halaman B-13 yang berjudul “Sastrawan Sumbar Malas Berkarya”)
Oleh: Fatris Mohammad Faiz*
Yth. Bapak Gubernur,
Jika Bapak punya hari libur disela-sela jadwal Bapak yang padat mengurusi rakyat, datanglah ke toko-toko buku yang menjual buku-buku sastra, atau bacalah koran Minggu terbitan Jakarta (terutama halaman seni [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=473&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>(Tanggapan atas penilaian Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di harian Singgalang, Senin, 27 April 2009 halaman B-13 yang berjudul “Sastrawan Sumbar Malas Berkarya”)</strong></p>
<p>Oleh: Fatris Mohammad Faiz*</p>
<p>Yth. Bapak Gubernur,</p>
<p>Jika Bapak punya hari libur disela-sela jadwal Bapak yang padat mengurusi rakyat, datanglah ke toko-toko buku yang menjual buku-buku sastra, atau bacalah koran Minggu terbitan Jakarta (terutama halaman seni dan sastra), maka Bapak tentu  akan memberi penilaian lain. Di antara sederetan buku sastra, Bapak akan menemui sederetan nama yang telah Bapak nilai sebagai sastrawan pemalas itu: Leon Agusta, AA Naavis, Rusli Marzuki Saria, Wisran Hadi, Upita Agustin, Darman Moenir, Haris Efendi Thahar, Khairul Jasmi, Yusrizal KW, Iyut Fitra, Adri Sandra, Agus Hernawan, Sondri BS, Nelson Alwi, Raudal Tanjung Banua, dan masih banyak lagi—yang kesemuanya kita ‘angkat topi’ atas karya dan penghargaan yang diraih dalam dan luar negeri. Atau yang lebih terbaru: Gus tf  Sakai, yang lewat karyanya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, meraih tiga penghargaan bergengsi, yakni SEA Write Award 2004 dari Kerajaan Thailand, Hadiah Sastra Lontar 2001, dan Penghargaan Pusat Bahasa Jakarta. Sedangkan buku Perantau-nya (2007), selain terpilih sebagai karya terbaik 2008 versi Ruang Baca Koran Tempo, juga meraih Khatulistiwa Literary Award 2008, mendahului Andrea Hirata yang Bapak dengung-dengungkan itu.</p>
<p>Lalu, Bapak akan mulai membaca, atau membolak-balik; wacana apa yang diusung Gus tf dan beberapa penulis lainnya (yang belum ‘uzur’), seperti Iyut Fitra, Yetty A.KA, Raudal Tanjung Banua, Farizal Sikumbang,  Deddy Arsya, Anda S, Sayyid Madani S, dan nama lainnya dalam buku-buku, rubrik-rubrik sastra yang telah mereka tulis dan hasilkan. Bapak tentu paham bahwa Sumatera Barat tidak hanya sebatas teritorial, dan alamnya tidak hanya indah dalam foto, tetapi sarat akan sejarah dan budaya.</p>
<p>Anugrah Sastra Pena Kencana, penghargaan yang diberikan terhadap karya-karya sastra yang terbit di koran, orang menyebutnya sastra koran, tahun ini juga diraih oleh beberapa penulis Sumatera Barat. Zelfeni Wimra untuk cerita pendek, Romi Zarman, Esha Tegar Putra, dan Deddy Arsya untuk karya puisi. Mereka belumlah 27 tahun, belumlah matang secara politis, Pak. Mereka masih berkutat dengan bangku perkuliahan, bergelut dengan diktat, mereka harus mengerjakan tugas-tugas akademik yang dibebankan pengajar mereka di universitas, tetapi tahukah Bapak kalau mereka ternyata dapat menelurkan puluhan tulisan, bahkan ratusan tulisan dalam usia mereka yang masih muda itu? Sayang sekali, Bapak cepat sekali menilai. Cepat sekali Bapak menilai, Pak…</p>
<p>Bila Bapak berkenan menghabiskan segelas kopi dan duduk di antara lapak-lapak diskusi yang sepi di ujung-ujung kampus, atau di pinggir Taman Budaya sana, Bapak tentu tahu dan sedikit mengerti, apa yang dicita-citakan dan dikerjakan orang-orang yang Bapak sebut sebagai sastrawan itu. Atau jika Bapak datang melongok ke rumahtangga mereka, ke bilik-bilik mereka, Bapak tentu akan lebih paham lagi dan Bapak tentu akan menggigit lidah Bapak sendiri. Bapak akan tahu, betapa banyak para “mujahid” sastra yang menelaah, dan berkarya. Sayangnya, tak ada forum sastra yang mewadahi. Hanya koran (nasional dan daerah), tak ada majalah sastra Sumatera Barat, tak ada forum pertemuan sastrawan sebagai wadah, tak ada, Pak…</p>
<p>Bapak ingin sastrawan Sumatera Barat dapat dan harus menjadi agen wisata, bukan, Pak? Karena Bapak mengambil contoh, sebelum Laskar Pelangi muncul, Belitong tidak begitu dikenal dunia luas. Bapak tentu ingin, sastrawan, lewat karya-karyanya, dapat pula memperkenalkan Sumatera Barat yang elok dan indah ini ke dunia luar. Bapak tentu tidak bermaksud menyamakan sastrawan dengan Uda-uni  Sumbar barangkali, atau Minang Talenta yang juga ikut memperkenalkan Sumatera Barat ke luar.</p>
<p>Jika Uda-uni, Minang Talenta, atau yang semacamnya, mendapat perhatian yang besar oleh Bapak, tentu tidaklah akan disesalkan. Minang Talenta, atau Uda-Uni, Tour De Singkarak yang berkaliber internasional yang melibatkan 19 negara, memang semua itu adalah ikon budaya kita, sekaligus agent  bagi pengenalan budaya Minang kita yang tinggi ini kepada masyarakat luar. Agar keindahan alam dan keelokan budaya kita ini dapat dikenal pula oleh orang-orang luar negeri. Agar mereka berdatangan bagai kelabang yang diusik api ke negeri kita yang permai ini.</p>
<p>Maka, dalam program untuk memperkenalkan Minangkabau yang permai ini, segala kalangan tentu harus dilibatkan. Sastrawan juga tentu saja. Maka dengan itu, Bapak rela memotivasi sastrawan itu, sebagaimana yang Bapak gembar-gemborkan di media masa, dengan mengeluarkan dana Rp. 5 juta (setelah dipotong pajak 15 %) untuk masing-masing karya.  Upaya ini tentu membantu sastrawan, setidaknya untuk biaya penerbitan buku. Tapi mungkin tidak. Buku seperti apa kiranya yang terbit dari Rp. 5 juta (setelah pemotongan pajak 15%) itu? Namun, buku-buku sastra terbit juga di tangan mereka yang Bapak sebut pemalas itu. Dongeng-dongeng Tua (2009) Iyut Fitra, Kampung dalam Diri (2008), Pengantin Subuh (2009) Zelfeni Wimra, dan sejumlah buku sastra lainnya yang masih terkatung-katung mencari dana penerbitan.</p>
<p>Jika harus menilai, Bapak tentu paham bahwa kerja sastra bukanlah kerja hingar-bingar. Ia adalah kerja yang butuh perenungan yang mendalam, keseriusan yang telaten. Karena itu ia bersipat empiris. Ia tidak serta-merta menjadi ‘wah’, dianggap hebat dan menjadi agent daerahnya. Barangkali karena itu juga, ia lepas dari pengamatan Bapak. Ia lupa Tuan prioritaskan, karena ia (sastra) tidak ‘menjual’ dalam penilaian pemerintah hari ini. Bapak, Bapak bukan orang pertama yang menilai (baca:menyepelekan) karya sastrawan Sumatera Barat. Beberapa tahun belakangan Tuan Marlis Rahman—wakil Gubernur Sumatera Barat—juga telah menilai bahwa sastra (dalam hal ini Fakultas Sastra Unand) hanya melahirkan manusia yang kaya teori tapi miskin aplikasi.</p>
<p>Di masa Majapahit, Pak, hiduplah beberapa sastrawan yang dibiayai istana. Tersebutlah seorang empu, Prapanca namanya. Ia seperti keluar dari alur para penulis ketika itu yang memuji dan menjilat istana. Maka dari itu lahirlah Nagarakertagama. Yang menarik bukanlah tentang empu Prapanca, melainkan tentang Majapahit-nya. Kerajaan yang ada di tanah Jawa, yang dikenal memiliki ribuan balatentara yang tak takut mati, yang dalam agenda kerjanya sering melakukan perang, malah memelihara penulis. Kerajaan itu berdiri pada abad ke-13, Tuan. Hayamwuruk, sampai Raden Wijaya, Raja Majapahit itu tahu betul betapa pentingnya penulis, betapa perlunya sastrawan, pencatat sejarah, agar tidak melulu lupa.</p>
<p>Di abad-abad ke-13 hingga ke-18, kerajaan-kerajaan di nusantara punya penulis, punya sejarawan, punya sastrawan. Abdul Qadir Munsyi, Tuan, penulis terkenal itu dipelihara Inggris pada abad ke-19. Begitu pun Majapahit. Dan sudah selayaknya, di singgasana Bapak yang agung itu, memelihara sejumlah pengamat sastra sebagaimana dulu Raffles memelihara Munsyi . Raffles tak keliru menilai masyarakat hingga menguasai Sumatera. Bapak tentu juga paham, belajar sejarah tak semata mengetahui apa yang buruk.</p>
<p><em>*bersama teman-teman mendirikan komunitas Rumahteduh. Sedang menyelesaikan skripsi di Fakultas Sastra Universitas Andalas.</em></p>
<p>SUMBER: PADANGEKSPRES Minggu, 3 Mai 2009.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-488" title="22" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/05/22.jpg?w=500&#038;h=808" alt="22" width="500" height="808" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=473&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/05/03/sastrawan-yang-malas-bapak-gubernur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/05/22.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">22</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seni dan Nyeni</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/03/22/seni-dan-nyeni/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/03/22/seni-dan-nyeni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 21:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[HAL-HAL YANG TAK PENTING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[(Catatan atas Latihan AlamUKM Kesenian Unand)
Latihan Alam Dasar, yang diadakan sejak Jumat-Minggu, 22 April 2008 mengundang banyak pertanyaan: perlukah?

       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=468&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">(Catatan atas Latihan AlamUKM Kesenian Unand)</p>
<p class="MsoNormal">Latihan Alam Dasar, yang diadakan sejak Jumat-Minggu, 22 April 2008 mengundang banyak pertanyaan: perlukah?</p>
<p class="MsoNormal"><img class="aligncenter size-full wp-image-469" title="45" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/45.jpg?w=487&#038;h=207" alt="45" width="487" height="207" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/468/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=468&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/03/22/seni-dan-nyeni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/45.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">45</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka-reka</title>
		<link>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/03/22/mereka-reka/</link>
		<comments>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/03/22/mereka-reka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 18:40:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahteduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[PHOTOGRAPHY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahteduh.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Wajah dalam Potret

&#8221; Menunggu Abjad Berikut&#8221;
foto; Fatris Mohammad Faiz
Lokasi: Panorama Baru, Bukittinggi
&#8220;Ah..Bunga&#8230;&#8221;
Foto: Fatris M.F
&#8220;Pengisi Sudut Kanan&#8221;
Foto: Fatris Moh. Faiz
&#8220;Lalu, &#8230;&#8221;
Foro: Fatris Mohammad F.
&#8220;Bukan Pre Wedding&#8221;
Foto; fatris MF
&#8220;Adegan Lorong&#8221;
Foto; Fatris Mohammad faiz
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=459&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Wajah dalam Potret<br />
<img class="aligncenter size-full wp-image-458" title="1" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/1.jpg?w=436&#038;h=290" alt="1" width="436" height="290" /></p>
<p>&#8221; Menunggu Abjad Berikut&#8221;</p>
<p>foto; Fatris Mohammad Faiz</p>
<p>Lokasi: Panorama Baru, Bukittinggi</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-460" title="2" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/2.jpg?w=500&#038;h=827" alt="2" width="500" height="827" />&#8220;Ah..Bunga&#8230;&#8221;</p>
<p>Foto: Fatris M.F</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-461" title="4" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/4.jpg?w=300&#038;h=203" alt="4" width="300" height="203" />&#8220;Pengisi Sudut Kanan&#8221;</p>
<p>Foto: Fatris Moh. Faiz</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-462" title="6" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/6.jpg?w=433&#038;h=168" alt="6" width="433" height="168" />&#8220;Lalu, &#8230;&#8221;</p>
<p>Foro: Fatris Mohammad F.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-463" title="7" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/7.jpg?w=296&#038;h=207" alt="7" width="296" height="207" />&#8220;Bukan Pre Wedding&#8221;</p>
<p>Foto; fatris MF</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-464" title="8" src="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/8.jpg?w=499&#038;h=267" alt="8" width="499" height="267" />&#8220;Adegan Lorong&#8221;</p>
<p>Foto; Fatris Mohammad faiz</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahteduh.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahteduh.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahteduh.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahteduh.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahteduh.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahteduh.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahteduh.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahteduh.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahteduh.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahteduh.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahteduh.wordpress.com&blog=3253794&post=459&subd=rumahteduh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahteduh.wordpress.com/2009/03/22/mereka-reka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c3ec2be9ea631172f33d10380212d75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">rumahteduh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumahteduh.files.wordpress.com/2009/03/8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">8</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>