JAKARTA- Delvi Yandra oleh teman-temannya akrab disapa Kudil meraih dua penghargaan sekaligus dalam Anugerah Adiwarta 2011 yang diumumkan Kamis (8/12) malam di Jakarta: jurnalis muda berbakat dan menyisihkan dua pesaing di kategori seni budaya. Karier jurnalistik profesionalnya bermula di Harian Haluan. “Menarilah Mun, Tegakkan Kepalamu…” Tulisan satu halaman koran (plus foto) itu menghiasi halaman rubrik “Panggung” edisi 19 Juni 2011 di Haluan terbitan Padang. Artikel itu ditulis Delvi Yandra, yang penggiat Teater Rumah Teduh. Liputan tersebut memadukan dua hal: menyentuh jiwa sosial dan pelestarian seni tradisi yang menampilkan satu sosok: Mun sebagai penari piring.
Makmur atau Mun—yang tunanetra atau buta itu—adalah penari piring, yang tampil di panggung ‘nasi goreng’ milik Pak Is di Jalan Nilam Pekanbaru. Liputan itu dengan cermat melukiskan keseharian Mun, menari dari kedai ke kedai.
Begini Mun dilukiskan dalam tulisan yang meraih Anugerah Adiwarta itu. “Tiba-tiba tampak Makmur, dengan berpakaian adat Minang lengkap sarawa galembong dan topi adat kerucut emas di kepalanya, sedang dituntun oleh seorang anak lelaki menuju kedai nasi goreng Pak Is. Tak lupa pula tas jinjing tersampir di bahunya dan tas pinggang untuk menyimpan uang hasil jerih payahnya.
Dengan tongkat dan kedua telapak kakinya, Makmur meraba lokasi di mana dia hendak menari. Apabila sudah pas, barulah dia menggelar lapiknya. Melepas sendal jepit dan duduk di sana. Memang, tubuhnya masih gagah untuk menempuh jarak beberapa kilometer lagi. Tetapi sejak matanya tak dapat melihat akibat tersiram luluk (lumpur) saat terjatuh dari pematang di usia tiga tahun, kesulitan penglihatan menjadi bagian dari hayatnya. Kini dia menjadi penari piring amatir yang mengais rezeki dari iba pengunjung kedai nasi Pak Is.
Usai menggelar lapik, Makmur meraba isi tasnya. Di dalamnya, berisi dua piring untuk menari, tape, kaset Misramolai, buah damar, asbak, toples plastik untuk menam¬pung uang, dua helai karung, dan tamborin.
Azan Isya berkumandang. Makmur menyalakan sebatang Surya dengan penuh khidmat. Dihisapnya dalam-dalam pangkal rokok yang mengepul, sejalan dengan suara adzan. Dia tidak peduli dengan kendaraan yang lalu lalang. Sebotol minuman mineral berukuran besar dan asbak menemani di sela-sela tariannya.
”Delvi menceritakannya seperti sebuah cerpen, yang memang lebih dulu digelutinya daripada jurnalistik. Naskah tersebut dikirimnya ke Lomba Anugerah Adiwarta (dulu Anugerah Adiwarta Sampoerna—red).
Seperti dirilis di situs resminya, Anugerah Adiwarta pada 2011 menerima 1.264 karya jurnalistik. Jumlah itu meningkat sebesar 111 karya dibandingkan pada 2010. Ia terdiri dari 380 karya kategori Cetak/Online, 784 karya kategori Foto Berita, dan 100 karya kategori Televisi, baik lokal maupun nasional. Sementara itu, jumlah jurnalis maupun jurnalis foto yang ikut serta sebanyak 361 orang yang berasal dari 135 media atau bertambah 4 orang dibandingkan 2010.
Dari jumlah tersebut, dewan juri cetak yang berjumlah delapan orang meluluskan tiga karya di bidang seni budaya: Teguh Wicaksono dari Majalah National Geographic Traveler dengan judul “Kenanga Pantai Utara”, Rustika Herlambang dari Majalah Dewi dengan judul “Mencari Ruh Tari Fajar Satriadi”, dan Delvi Yandra dari Harian Haluan.
Wartawan yang Gigih
Delvi Yandra adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas (FH Unand) yang hobi menulis. Pria kelahiran Palangki, Sijunjuang, Sumatra Barat pada 10 Desember 1986 ini mulai bergabung di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang pada 2011. Pertama kali mengenal dunia jurnalistik ketika mengikuti pelatihan sebagai calon wartawan di Haluan Media Grup (Padang) pada Februari 2011. Selanjutnya, bekerja di Haluan Riau wilayah liputan Kota Pekanbaru.
Sejak tahun 2007 sudah aktif menulis cerita pendek, puisi, resensi buku, resensi film dan esai pertunjukan di beberapa media. Di tahun 2007, cerpennya terpilih sebagai salah satu yang terbaik oleh Balai Bahasa Padang. Juga telah dibukukan dalam antologi cerpen bersama: Kembang Gean (2007) dan Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009). Naskah dramanya berjudul “Bakal” telah dipentaskan oleh kelompok Teater Rumah Teduh di ajang Festamasio V di Palembang pada pertengahan tahun 2011.
Ini adalah pertama kalinya mengikuti AAS dan menjadi finalis kategori media cetak/online untuk liputan kemanusiaan bidang seni dan budaya di AAS 2011. Saat ini sedang sibuk menyelesaikan studi di program kekhususan Hukum Internasional, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang.
Esha Tegar Putra, temannya di Kandang Pedati menyebut Delvi sebagai sosok yang gigih. Sebelum magang di Haluan, katanya, Delvi menulis di dinding kamarnya, “Doakan saya menjadi wartawan yang benar.”
Berganti Nama
Semula kegiatan ini bernama Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS), “terhitung mulai malam ini nama tersebut resmi diganti menjadi Anugerah Adiwarta,” ujar Ade Armando, perwakilan dari dewan juri pada malam Anugerah Adiwarta, di Finance Club Ballroom, Graha Niaga, Jakarta.
Perubahan nama tersebut, ungkap Ade Armando, upaya untuk memperkuat independensi Anugerah Adiwarta sebagai ajang penghargaan bagi peningkatan kualitas jurnalistik di tanah air. Selain itu juga untuk membuka kesempatan bagi jurnalis lainnya yang ingin berpartisipasi membangun kualitas jurnalistik dan mampu mendorong terciptanya karya-karya berkualitas bagi kepentingan masyarakat luas.
Secara khusus, Atmakusumah Astraatmadja, anggota dewan juri final AAS 2011, menyoroti perkembangan yang terjadi di Kategori Cetak dan Online Liputan Investigatif. Menurut Atmakusumah, yang tahun ini adalah tahun keduanya menjabat sebagai juri final bidang jurnalistik, bahwa dari seluruh liputan investigatif yang masuk, sedikit sekali yang benar-benar bisa dikatakan karya investigatif.
”Beberapa syarat utama liputan investigatif di antaranya harus ada skandal yang diungkap bagi kepentingan masyarakat umum dan juga ada proses penelusuran yang dilakukan oleh jurnalis atau media itu sendiri. Hal ini yang masih jarang saya dapatkan walaupun tahun ini jumlah keseluruhan karya liputan investigatif yang masuk ke panitia meningkat dibanding tahun lalu,” ujar Atmakusumah. Penghargaan tambahan untuk kategori Juri TV dimenangkan oleh Nanang Purwono dan Arif Prasetia dari JTV (Jawa Pos TV). (h)
selamat bung delvi yandra,,,
keuletan dan kegigihan bung terbayar kini dengan prestasi yang bung raih,
bagi adik2 di rumahteduh yang pengen cerita proses kudil dalam dunia jurnalistik simak terus jadwal di rumahteduh ok,,,
bung, delvi yang baik… memang energic dan apic,