Donny Syofyan
Dosen Sastra Inggris Unand
Anda pasti kenal dengan Ernest Hemingway, seorang priyayi sastra sejagad? Ia sangat terkenal dengan magnum opus-nya yang monumental The Old Man and The Sea (1952). Tapi sebenarnya, ia pertama kali mengibarkan sayap keunggulannya lewat novel The Sun Also Rises (1926). Novel ini bisa dikategorikan sebagai sebuah prosa penting yang menjadi pionir mewartakan problem “generasi yang hilang” (lost generation). Novel yang mengambil latar pasca Perang Dunia I ini melukiskan geliat generasi pascaperang yang diselimuti diskriminasi, hilangnya pegangan agama, eskapisme dan ketidakmampuan untuk mengambil sikap serta bertindak. Istilah “lost generation” pertama kali tersebut dalam sebuah percakapan oleh Gertrude Stein, salah satu anggota lingkaran ekspatriat pada dekade 1920-an di Paris. Sesuatu yang dianggap spontan dan tak berarti saat pertama diucapkan tanpa disadari menjadi label bagi kalangan ekspatriat dari Amerika Serikat dan Inggris yang menolak konvensi tradisional Amerika dan Inggris demi mereguk gaya hidup yang lebih menarik di Paris, tempat yang digambarkan Hemingway sebagai negeri tak bermoral untuk mabuk dan menjalin hubungan intim.
Dengan kebiasaan nongkrong di cafe sepanjang the Boulevard Montparnasse untuk minum-minum, ngobrol dan mejeng menikmati orang-orang yang keluyuran, golongan the lost generation ini menjadi kumpulan orang-orang yang membuang jauh-jauh keyakinan dan tananan nilai sebelum perang, semisal cinta, romantisme, optimisme, kemakmuran, dan harapan. Bagi mereka, semua itu hancur lebur bukan saja bersamaan dengan kepiluan yang ditinggalkan perang tapi juga lantaran menguatnya budaya konsumersime, money-oriented dan tiadanya ketulusan hubungan sosial. Kegamangan mendamaikan antara kepercayaan masa silam dan tuntutan masyarakat arus utama saat itu membuat kalangan the lost generation tersebut mengalami suasana moral yang bangkrut serta spiritual yang steril. Mereka terdampar dalam syahwat fatamorgana; kecanduan alkohol dan kehidupan seks bebas.
Banyak warga Amerika di Paris menjadi penulis dan seniman bohemian sebagai reaksi protes terhadap budaya konsumtif dan business-oriented ala Amerika. Mereka menghabiskan hari-harinya di kafe dan malamnya dari satu pelukan wanita ke wanita yang lain. Bagi kelompok ini, cinta, harapan dan agama menjadi konsep yang asing seusai Perang Dunia I untuk kemudian diganti oleh kebebasan seks dan apatisisme moral. Kebiasaan mereka ngumpul di kafe-kafe maupun gonta-ganti pasangan sejatinya terkait erat dengan trauma yang mereka alami pascaperang.
Novel The Sun Also Rises ini adalah semi-otobiografis berdasarkan pengembaraan Hemingway di Prancis dan Spanyol pada tahun 1924-1925. Walau karya-karyanya sebelumnya mendapatkan banyak pujian moderat dan apresiasi kritis, namun novel ini-lah yang mengantarkannya mendulang sukses secara internasional dan menjadikannya sebagai pemuka kelompok the lost generation. Lewat seting masyarakat ekspatriat Amerika dan Inggris yang bepergian antara Paris dan Pamplona, The Sun Also Rises nyaris mewujud sebagai bible bagi individu-individu yang diterpa disorientasi hidup. Ini tak terlepas dari kekuatan karya ini yang secara brilian menangkap fenomena kebusukan moral dan alienasi sosial yang dialami oleh kelompok generasi yang hilang tersebut.
Potret generasi yang hilang terpatri jelas pada diri setiap tokoh dalam novel ini. Tokoh pertama yang diperkenalkan dalam novel ini adalah Robert Cohn. Dia dianggap sebagai orang luar (outsider) disebabkan berdarah Yahudi. Sepanjang novel ia dianggap rendah dan selalu terpisah dengan yang lainnya, “He had a hard, Jewish, stubborn steak” (Ia memiliki darah yang keras, Yahudi dan kepala batu) [h.18]. Kutipan ini secara gambang menegaskan latar belakangnya sebagai keuturunan Yahudi, karenanya berbeda dengan lainnya. Sementara ungkapan bahwa “garis keturunannya” (his streak) keras dan berkepala batu (hard and stubborn) menunjukkan bahwa Cohn adalah orang yang sukar bergaul dan diajak berurusan.
Walaupun menjadi korban diskriminasi, ia adalah sedikit orang yang berani menyentil kelompok generasi yang hilang itu betapa tidak berartinya mereka, terutama ketika ia mengatakan kepada Jake Barnes, “You know what’s the trouble with you? You’re an expatriate. One of the worst type… Nobody that ever left their own country ever wrote anything worth printing. Not even in the newspapers” (Kamu sadar apa kesulitanmu? Kamu seorang ekspatriat. Salah satu jenis paling buruk…Tak seorangpun yang meninggalkan kampung halamannya menulis sesuatu yang pantas diterbitkan, bahkan tidak juga di surat kabar) [h.120], atau ketika ia menyapa, ”Hello, you bums” (Hai gembel) [h.50]. Ungkapan-ungkapan ini secara harfiah menjadi tamparan di wajah Jake; alangkah tak bermaruahnya Jake lantaran minggat dan meninggalkan negara sendiri. Sungguh mengejutkan, seseorang yang tidak disukai dimana-mana dan kerap menjadi objek diskriminasi—Cohn—ternyata mampu membaca karakter-karakter sampah di kalangan generasi yang hilang ini. Terma “bums” (gelandangan) menurut definisi adalah sebagai asosasi orang yang tak berguna. Ini secara tepat mempertontonkan the lost generation.
Potret sosial kelam kalangan generasi yang hilang ini pula dihiasi oleh lemahnya kontak dengan agama. Mereka kehilangan agama secara keseluruhan. Sebetulnya mereka insaf dengan konsep ini tapi sudah kehilangan harapan. Ini bisa terbaca dari ungkapan Jake, sungguhpun ia enggan menerima keterlepasannya dari Tuhan, “I was a little ashamed, and regretted that I was such a rotten Catholic, but realized there was nothing I could do about it, at least for a while. I only wished I felt religious and maybe I would the next time” (Aku sedikit malu dan menyesal sebagai seorang Katolik karatan, tapi aku sadar tak ada yang bisa diperbuat untuk itu, setidaknya untuk saat ini. Aku hanya berharap merasa relijius dan mudah-mudahan aku bakal menjadi relijius di kemudian hari) [h.97].
Eskapisme menjadi dandanan sosial berikutnya dalam novel ini. Tiap orang ingin melarikan diri guna menghindari tantangan hidup. Tapi, bagi seorang Jake, ia paham tak ada tempat terbaik buat menghindari masalah, “Listen, Robert, going to another country doesn’t make any difference. I’ve tried all that. You can’t get away from yourself by moving from one place to another. There’s nothing to that” (Dengar Robert, melarikan diri ke negara lain tak ada bedanya. Aku sudah pernah mencoba itu semua. Kamu tak bakal bisa lari dari dirimu sendiri, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tak ada gunanya itu) [h.19). Inilah sebentuk eskapisme the lost generation—bepergian alias “menapaktilasi” satu tempat ke tempat lain. Hanya saja, metode ini tidak cukup manjur untuk jangka panjang. Sungguhpun Jake sudah berupaya terus bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain, toh ia tetap terdampar pada zona yang sama dengan kelompok the lost generation itu.
Ada hal menarik dengan Robert Cohn, meskipun ia ikut-ikutan lari dari kenyataan hidup, ia masih saja “takes a bath, has a shave and a haircut and a shampoo, and something put on his hair afterward to make it stay down” (mandi, bercukur dan kemudian mengenakan sampo pada rambutnya agar bisa tenang) [h.103]. Hal ini menampakkan bahwa kendatipun dianggap sebagai orang luar, Cohn masih memandang perlu melarikan diri dari realitas yang pahit serta kesia-siaan.
Eskapisme ini makin beranak pinak dengan tabiat-tabiat rapuh lainnya, semisal kebiasaan minum alkohol. Jake ingat ketika masa perang, “There was much wine, an ignored tension, and a feeling of things coming that you could not prevent happening. Under the wine I lost the disgusted feeling and was happy. It seemed they were all such nice people” (Begitu banyak anggur, ketegangan yang terabaikan maupun perasaan terhadap banyak hal yang tak sanggup kamu hindari. Lewat anggur aku kehilangan rasa jijik dan jadi bahagia. Seolah-olah semuanya adalah orang-orang baik) [h.150]. Terkesan bahwa alkohol membuat para veteran perang ini lari dari kenyataan, sebuah kebiasaan yang terus menghinggapi mereka hingga usai perang. Untuk sesaat, ini menjadikan mereka lupa dengan sendiri dan problem hidup yang mereka hadapi. Kadar alkohol yang tak terbatas yang mereka konsumsi betul-betul mewujud sebagai bahan bakar sikap eskapisme ini.
Simpul kata, “generasi yang hilang” (the lost generation) secara literal memang berarti hilang (lost). Tabiat dan tindakan segenap karakter dalam novel ini tak satupun yang positif dalam hidup mereka, belum lagi sikap diskriminatif yang mereka yang sia-sia saja. Tak kalah pentingnya, alih-alih berbuat sesuatu yang produktif dan bermanfaat guna menanggulangi masalah yang ada, kelompok the lost generation ini adanya mengorbit pada lintasan prilaku-prilaku tercela yang sejatinya tak lebih dari sisa-sisa peradaban buas; diskriminasi, hilangnya pegangan agama, eskapisme dan ketidakmampuan untuk mengambil sikap serta bertindak. Secara rinci prilaku ini tecerna jelas dalam kehidupan mereka, seperti cara menggunakan waktu, kedudukan wanita dalam pergaulan, pengaturan uang pribadi, sikap antipati terhadap puritanisme dalam beragama, pandangan terhadap orang-orang Yahudi, sampai pandangan orang-orang Amerika tentang berbagai hal di Eropa pada saat itu. Ini sungguh sebuah kisah generasi yang hilang.