(Tanggapan atas penilaian Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di harian Singgalang, Senin, 27 April 2009 halaman B-13 yang berjudul “Sastrawan Sumbar Malas Berkarya”)
Oleh: Fatris Mohammad Faiz*
Yth. Bapak Gubernur,
Jika Bapak punya hari libur disela-sela jadwal Bapak yang padat mengurusi rakyat, datanglah ke toko-toko buku yang menjual buku-buku sastra, atau bacalah koran Minggu terbitan Jakarta (terutama halaman seni dan sastra), maka Bapak tentu akan memberi penilaian lain. Di antara sederetan buku sastra, Bapak akan menemui sederetan nama yang telah Bapak nilai sebagai sastrawan pemalas itu: Leon Agusta, AA Naavis, Rusli Marzuki Saria, Wisran Hadi, Upita Agustin, Darman Moenir, Haris Efendi Thahar, Khairul Jasmi, Yusrizal KW, Iyut Fitra, Adri Sandra, Agus Hernawan, Sondri BS, Nelson Alwi, Raudal Tanjung Banua, dan masih banyak lagi—yang kesemuanya kita ‘angkat topi’ atas karya dan penghargaan yang diraih dalam dan luar negeri. Atau yang lebih terbaru: Gus tf Sakai, yang lewat karyanya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, meraih tiga penghargaan bergengsi, yakni SEA Write Award 2004 dari Kerajaan Thailand, Hadiah Sastra Lontar 2001, dan Penghargaan Pusat Bahasa Jakarta. Sedangkan buku Perantau-nya (2007), selain terpilih sebagai karya terbaik 2008 versi Ruang Baca Koran Tempo, juga meraih Khatulistiwa Literary Award 2008, mendahului Andrea Hirata yang Bapak dengung-dengungkan itu.
Lalu, Bapak akan mulai membaca, atau membolak-balik; wacana apa yang diusung Gus tf dan beberapa penulis lainnya (yang belum ‘uzur’), seperti Iyut Fitra, Yetty A.KA, Raudal Tanjung Banua, Farizal Sikumbang, Deddy Arsya, Anda S, Sayyid Madani S, dan nama lainnya dalam buku-buku, rubrik-rubrik sastra yang telah mereka tulis dan hasilkan. Bapak tentu paham bahwa Sumatera Barat tidak hanya sebatas teritorial, dan alamnya tidak hanya indah dalam foto, tetapi sarat akan sejarah dan budaya.
Anugrah Sastra Pena Kencana, penghargaan yang diberikan terhadap karya-karya sastra yang terbit di koran, orang menyebutnya sastra koran, tahun ini juga diraih oleh beberapa penulis Sumatera Barat. Zelfeni Wimra untuk cerita pendek, Romi Zarman, Esha Tegar Putra, dan Deddy Arsya untuk karya puisi. Mereka belumlah 27 tahun, belumlah matang secara politis, Pak. Mereka masih berkutat dengan bangku perkuliahan, bergelut dengan diktat, mereka harus mengerjakan tugas-tugas akademik yang dibebankan pengajar mereka di universitas, tetapi tahukah Bapak kalau mereka ternyata dapat menelurkan puluhan tulisan, bahkan ratusan tulisan dalam usia mereka yang masih muda itu? Sayang sekali, Bapak cepat sekali menilai. Cepat sekali Bapak menilai, Pak…
Bila Bapak berkenan menghabiskan segelas kopi dan duduk di antara lapak-lapak diskusi yang sepi di ujung-ujung kampus, atau di pinggir Taman Budaya sana, Bapak tentu tahu dan sedikit mengerti, apa yang dicita-citakan dan dikerjakan orang-orang yang Bapak sebut sebagai sastrawan itu. Atau jika Bapak datang melongok ke rumahtangga mereka, ke bilik-bilik mereka, Bapak tentu akan lebih paham lagi dan Bapak tentu akan menggigit lidah Bapak sendiri. Bapak akan tahu, betapa banyak para “mujahid” sastra yang menelaah, dan berkarya. Sayangnya, tak ada forum sastra yang mewadahi. Hanya koran (nasional dan daerah), tak ada majalah sastra Sumatera Barat, tak ada forum pertemuan sastrawan sebagai wadah, tak ada, Pak…
Bapak ingin sastrawan Sumatera Barat dapat dan harus menjadi agen wisata, bukan, Pak? Karena Bapak mengambil contoh, sebelum Laskar Pelangi muncul, Belitong tidak begitu dikenal dunia luas. Bapak tentu ingin, sastrawan, lewat karya-karyanya, dapat pula memperkenalkan Sumatera Barat yang elok dan indah ini ke dunia luar. Bapak tentu tidak bermaksud menyamakan sastrawan dengan Uda-uni Sumbar barangkali, atau Minang Talenta yang juga ikut memperkenalkan Sumatera Barat ke luar.
Jika Uda-uni, Minang Talenta, atau yang semacamnya, mendapat perhatian yang besar oleh Bapak, tentu tidaklah akan disesalkan. Minang Talenta, atau Uda-Uni, Tour De Singkarak yang berkaliber internasional yang melibatkan 19 negara, memang semua itu adalah ikon budaya kita, sekaligus agent bagi pengenalan budaya Minang kita yang tinggi ini kepada masyarakat luar. Agar keindahan alam dan keelokan budaya kita ini dapat dikenal pula oleh orang-orang luar negeri. Agar mereka berdatangan bagai kelabang yang diusik api ke negeri kita yang permai ini.
Maka, dalam program untuk memperkenalkan Minangkabau yang permai ini, segala kalangan tentu harus dilibatkan. Sastrawan juga tentu saja. Maka dengan itu, Bapak rela memotivasi sastrawan itu, sebagaimana yang Bapak gembar-gemborkan di media masa, dengan mengeluarkan dana Rp. 5 juta (setelah dipotong pajak 15 %) untuk masing-masing karya. Upaya ini tentu membantu sastrawan, setidaknya untuk biaya penerbitan buku. Tapi mungkin tidak. Buku seperti apa kiranya yang terbit dari Rp. 5 juta (setelah pemotongan pajak 15%) itu? Namun, buku-buku sastra terbit juga di tangan mereka yang Bapak sebut pemalas itu. Dongeng-dongeng Tua (2009) Iyut Fitra, Kampung dalam Diri (2008), Pengantin Subuh (2009) Zelfeni Wimra, dan sejumlah buku sastra lainnya yang masih terkatung-katung mencari dana penerbitan.
Jika harus menilai, Bapak tentu paham bahwa kerja sastra bukanlah kerja hingar-bingar. Ia adalah kerja yang butuh perenungan yang mendalam, keseriusan yang telaten. Karena itu ia bersipat empiris. Ia tidak serta-merta menjadi ‘wah’, dianggap hebat dan menjadi agent daerahnya. Barangkali karena itu juga, ia lepas dari pengamatan Bapak. Ia lupa Tuan prioritaskan, karena ia (sastra) tidak ‘menjual’ dalam penilaian pemerintah hari ini. Bapak, Bapak bukan orang pertama yang menilai (baca:menyepelekan) karya sastrawan Sumatera Barat. Beberapa tahun belakangan Tuan Marlis Rahman—wakil Gubernur Sumatera Barat—juga telah menilai bahwa sastra (dalam hal ini Fakultas Sastra Unand) hanya melahirkan manusia yang kaya teori tapi miskin aplikasi.
Di masa Majapahit, Pak, hiduplah beberapa sastrawan yang dibiayai istana. Tersebutlah seorang empu, Prapanca namanya. Ia seperti keluar dari alur para penulis ketika itu yang memuji dan menjilat istana. Maka dari itu lahirlah Nagarakertagama. Yang menarik bukanlah tentang empu Prapanca, melainkan tentang Majapahit-nya. Kerajaan yang ada di tanah Jawa, yang dikenal memiliki ribuan balatentara yang tak takut mati, yang dalam agenda kerjanya sering melakukan perang, malah memelihara penulis. Kerajaan itu berdiri pada abad ke-13, Tuan. Hayamwuruk, sampai Raden Wijaya, Raja Majapahit itu tahu betul betapa pentingnya penulis, betapa perlunya sastrawan, pencatat sejarah, agar tidak melulu lupa.
Di abad-abad ke-13 hingga ke-18, kerajaan-kerajaan di nusantara punya penulis, punya sejarawan, punya sastrawan. Abdul Qadir Munsyi, Tuan, penulis terkenal itu dipelihara Inggris pada abad ke-19. Begitu pun Majapahit. Dan sudah selayaknya, di singgasana Bapak yang agung itu, memelihara sejumlah pengamat sastra sebagaimana dulu Raffles memelihara Munsyi . Raffles tak keliru menilai masyarakat hingga menguasai Sumatera. Bapak tentu juga paham, belajar sejarah tak semata mengetahui apa yang buruk.
*bersama teman-teman mendirikan komunitas Rumahteduh. Sedang menyelesaikan skripsi di Fakultas Sastra Universitas Andalas.
SUMBER: PADANGEKSPRES Minggu, 3 Mai 2009.

Terimakasih “Atas Malasnya” Pak Gubernur..
(Ah, Mengapa Meratap Tak Berketentuan)
Owaaaikkk!
Sebetulnya aku sudah mulai mengantuk. Mataku sudah sangat berat. Sudah sangat terakuk-akuk aku ini. Lagi pula, di luar langit tak indah benar.Kelam tak berketentuan saja. Sudahlah tak indah, berbadai pula. Eh, tapi suasana yang seperti ini, aku suka juga. Ada nuansa lain di telingaku manakala bunyi angin berdesau-desau, ada pula rinai sedikit. Rinai menjelang subuh, apa tak asik itu? Itulah, aku tidak tahu, apakah malam ini malam yang indah atau malam yang bercilaput? Ya, kita anggap saja, ini malam menjelang pagi yang basah!
Eh, mataku agak terbelalak. Bagaimanalah tidak, ketika kubaca pada blog ini, ada tulisan rupanya.Ketika kusimak, kubaca, kupatut dengan mata yang besar-besar, lalu kutakar-takar sendiri; eh rupanya si penulis Fatris Mohammad Fail sedang “meratap-ratap”. Sedang marah. Sedang berang. Sedang tak berkeenakan ketika Pak Gamawan Fauzi. Pasalnya, yang gubernur kita ini , ‘menggugat’ bahwa “Sastrawan Sumbar Pemalas” . Tampaknya, Fatris tidak setuju dengan pernyataan Pak Gubernur yang begitu. Fatris luka. Fatris tercabik-cabik perasaannya. Fatris seperti memburangsang pada keadaan di ruang hati yang galau (?). Ah, mengencani kekecewaan, manalah enak!
Aku, mungkin pro-Pak Gamawan, bukan lantaran beliau seorang gubernur.Sumpah, bukan soal itu. Tak ada urusanku dalam soal “pengambilan” muka, sekalipun kerja rutinku tukang abadi peristiwa–ah terjemahkan sajalah sendiri. Sumpah mati!Ditembak petus aku…sekali lagi… tak niatlah aku untuk mengambil muka dengan menyatakan mendukung pendapat Pak Gamawan.
Berpendapat, bernilai-nilai…apa salahnya, Fatris?
Kalau di mata Pak Gamawan sastrawan Sumbar pemalas, ya biar sajalah. BIasalah itu. Mengapa harus diperserius benar. Bisa saja, maksudnya Pak Gamawan sekedar memberi semangat. Memberi cambuk.Memperlacut kita, supaya kencang itu lari, supaya mendongkak kuda menerjang….. Kena cambuk itu memang berbaring-baring jejak yang kita terima. Memang pedih. Tapi kan ada maknanya juga.Minimal, bila kita gagal mencari tahu apa maknanya, setidaknya kita sudah kena cambuk. Sudah berjejak di punggung buruk ini. Kan biasa itu.
Marah berjadi-jadi itu kurang baik bagi kesehatan pikiran dan jiwa. Marahlah. Marahlah dengan cerdas.. Jika marahnya menuncak, coba berwudhu. Atau simbur kepala itu dengan air. Mendingin jadinya itu. Bisa menggigil kita.Salah-salah bersimbur di malam air, lebih-lebih bila di Bukittinggi, bisa dek kura kita! Menggeretat semua itu!
Seorang sastrawan, seorang kreator. Seorang kreator pikiran tak (mau) bergantung kepada sisi dan ruang orang lain. Kita punya ruang sendiri. Ruang kita luas. Seluas alam terkembang jadi pikiran. Pikiran kita luas, lebih luas dari sekedar buku yang diterbitkan. Jadi, kita-kita ini, sebetulnya, diperhatikan atau tidak diperhatikan, dinilai tidak dinilai…yang penting berkarya. Mau dihargai karya intelektual ini atau tidak, terserah dunia. Biarkan dunia yang menilai, serahkan kepada publik segala karya-karyamu itu!
Tak perlu pula kita membaca-baca orang lain yang hebat-hebat itu dulu. Si anu , karyanya sudah dimuat di sana. Si anu dapat pengharagaan itu. Koran anu kaya dengan karya-karya si anu yang berasal dari Minangkabau…tak perlu itu.
Makanya, itu cambuk dari Pak Gubernur. Nyuruh kita supaya berkarya hebat.
Aku kira, sastrawan “hati” tak butuh pengakuan-pengakuan formil. Syukuri, untung masih mau Pak Gubernur bicara begitu, itu pertanda, soal sastra “ada” dalam pikiran dan jiwanya. barangkali beliau gamang ketika negeri ini suatu ketika kehilangan para sastrawan.Jadi, itu pernyataan, anggap saja sebuah pancingan “pemanas” hati.
Pendapat saya, nagari Minangkabau ini soal sastra beradik kakak dengan India. Inilah nagari para pujangga…di mana wilayah dan rakyatnya bersusun dari satu kata ke kata yang lain. kalau kau tak percaya, buka-bukalah tambo itu.Hahaha…
A…lah…masih untung kita ketika masih ada pemerintah yang menghargai satu buku dengan Rp 5 juta. Hebat itu. Tapi ingat, ketika orang beragih, jangan pula diprotes-protes peragihan orang itu. Ih, kecil banget.Ndak boleh itu. pengumpat itu, buruk psikisnya. Manalah cukup uang segitu? Ah, jangan begitu. Kalau saya lebih setuju, tak usah saja para sastrawan dikasih-kasih uang “dp” untuk menerbitkan buku. Toh, banyak orang yang butuh sebuah karya sastra. Ingat, dunia sastra adalah dunia industri yang paling bermasa depan. Pendapat saya, kita tak harap uang Rp 5 juta dari Pak Gubernur itu, tak penting itu….Pikirkan saja, bagaimana membuat karya yang laku, lalu laris manis di atas dunia….Ha, kaya kitakan? Dan tak tertutup kemungkinan , kita menjadi “penulis” terlaris di mata penerbit….dan suatu kali, kita punya karya ditunggu-tunggu.
Saya sedang menuju ke sana. Sedang menulis. Saya harap, ha terkejut saja orang manakala buku Pinto Janir dari Sumbar, tiba-tiba digemari orang dan laku keras di pasaran.Hebatkan? Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, Fatris.
Aku pribadi mengucapkan terimakasih pada Pak Gubernur, atas pernyataan “malas” itu tadi. Aku saja merasa terlecut…
Tapi, saya doakan sajalah, siapa tahu Fetris nanti jadi gubernur….ha…kasihlah kawan-kawan ini “uang” penerbitan yang banyak.
Eh, orang bilang, kaca dibikin untuk bercermin. saat mana kita berkaca ke belakang, tercermin segalanya.
Dan pada cermin masa lalu, saya melihat bahwa Chairul Anwar, besar oleh karyanya sendiri, bukan karena “gubernurnya”.
Setahu saya, tak pernah terdengar oleh saya Chairil Anwar “meloncing-loncing” karya….tak pernahkan? Tapi Chairil tetap besar.
Sekarang, di mana ada waktu, menulis saja dulu. Mau bilang apa orang, yang penting nulis.
Saya tak pernah kecil hati manakala saya tak tersebut-sebut dalam kamus persastraan Sumatera Barat, walaupun saya telah menulis sejak bocah, sejak 13 tahunan dengan bergudang-gudang tulisan.. Gila saya. Dihitung-hitung, sekeranjang buruk karya saya…tak pula saya peduli, diakui apa tidak! Sebagian dipublikasikan, sebagian saya peram-peram, siapa tahu kalau sudah menetas menjadi “buah emas”.. Saya berharap, karya yang terperam ini menjadi harta karun. Bayangkan, bila suatu hari saya mati, lalu kawan-kawan yang lain seperti Da Kawe (Yusrizal KW), Da Gust TF, Da Adri Sandra, Da Alwi Karmena, Da Harris, Da Amran SN, membuka rahasia kepada publik…Ayo usai lemari (file) Pinto Janir……Ha, siapa tahu bertemu dengan ratusan arsip puisi saya, ratusan essai saya, puluhan lagu-lagu saya, eh di atas pagu saya juga banyak lukisan-lukisan buruk saya……
Coba bayangkan, seandainya karya saya sempat menjadi besar atau dibesarkan oleh kawan-kawan…apa ndak kaya jadinya ahli waris saya itu? Jadi gini, besarnya seorang sastrawan bukan karena Pak Gubernur-nya, tapi karena karyanya yang memang pantas menjadi besar lalu dibesarkan, bukan dibesar-besarkan. itu pembesaran yang terpaksa namanya itu.
Ha, bila karya saya besar setelah saya mati, bisa tersenyum saya di akhirat nanti (eh, di akhirat ada senyum apa tidak ya?).
Jadi tak usah kita sesalkan pendapat Pak Gubernur itu.Tak usah pula kita deret ukur tentang betapa banyaknya sastrawan Sumbar yang berkarya di koran-koran. Bairkan saja nanti Buk Guru Bahasa Indonesia yang menjelaskannya kepada para muridnya ketika mengenal atau belajar sastra tentang siapa-siapa sastrawan yang pernah hidup di Minangkabau.
Sekarang, apakah kita berkeinginan nama disebut-sebut setelah mati di sepanjang sejarah nanti?
Nah nulis saja dulu. Tak usah terlalu banyak tersinggung….
Yang orang lain sudah maju…yang kita bagaimana?
Untuk itu, jangan pernah berhenti menulis?
Salam Kompak: Pinto Janir. .
kepada yang terhormat pak pinto janir…
saya membaca tulisan bapak dulu ketika masih kecil di koran CANANg, koran mingguan. ketika itu saya masih kecil dan belum bisa menulis. saya sering dibacakan bapak saya tulisan pak pinto.
saya merasa terhormat sekali bisa dikritik oleh pak pinto. saya pernah ingin bertamu ke rumah pak pinto di gunung pangilun, dulu. tapi saya gugup, dan saya tidak jadi datang bertamu.
jika bapak bilang saya marah, tentulah tidak. tetapi itu juga sebuah penilaian bapak, sebagaimana pak Gamawan. semua bebas menilai, toh, pak? toh kita tengah berada di negeri demokrasi.
saya setuju dengan bapak, sastrawan dibesarkan oleh masyarakatnya, bukan gubernurnya.
Kepada Fatris MF
Eh, sebelumnya, tak usahlah Fatris berapak-apak pula ke awak, tua benar rasanya diri ini. Ber-Uda sajalah. Itu, lebih dekat kesannya!
Ha..Uda Pinto sebenarnya, bangga kepada Fatris. Uda dapat menangkap sinyal kreatif dalam diri Fatris. Mencit, dari kecil sudah kelihatan ekornya. Bukan Uda mengatakan Fatris itu mencit, sih tidak. Bukan itu maksud Uda. Jiwa berkesenian Fatris itu sudah tampak sejak Fatris bocah. Kesukaan Fatris pada dunia tulis menulis tampaknya juga dimulai di saat Fatris kanak-kanak. Terkana-kana dek Fatris, belum bisa Fatris membaca, tapi antusias Fatris untuk mencari tahu dan mendengar… sungguh luar biasa.
Itu tanda-tanda orang berbakat itu, Fatris.
Uda sangat yakin, Fatris akan menjadi pengarang hebat suatu saat nanti. Fatris akan menjadi seniman yang dihargai oleh suatu zaman.
Tidak ada maksud Uda untuk mengeritik Fatris; tak ada itu. Jangan Fatris terlalu serius benar, sudah banyak orang yang serius yang mati oleh keseriusannya sendiri. Tigasaja tanda-tanda orang yang candu memperserius-seriuskan sesuatu; pertama; kalau merokok hirupnya dalam.Bila perlu tak keluar-keluar asapnya…kalau terpaksa juga keluar, paling-paling yang keluar itu…ya batuk-batuk kecil.Kedua; bicara berat…tak seberat isinya. Tiap bicara keningnya berkerut gadang .Ketiga; gampang bercarut pungkang kalau beleknya disinggung orang.
Itu saja Fatris.
Teruslah Fatris menulis atau berbuat apa saja di ranah seni dan budaya ini. Ketika Fatris berkarya, tak usah dengar-dengar benar kata orang…tak perlu pula minta persetujuan orang banyak…setuju tidak setuju…yang penting ; kita berbuat!
Eh, fatris, kirimkanlah salam Uda satu ke Bapaknya Fatris…
Dan, Uda doakan, semoga Fatris menjadi orang hebat.
Kirimkan juga salam Uda ke para sastrawan muda Minangkabau ini.
Dan bertumpang iklan Uda satu; kalau ada para penulis itu yang bersuku Sikumbang, tlg sarankan ia masuk ke Forum Pemuda Sikumbang Alam Minangkabau. Di Forum ini, para dunsanak Sikumbang mempercayai Uda menjadi presiden Forum Pemuda Sikumbang. Fatris, ini email Uda: pinto.janir05@gmail.com.
maksud pak gamawan itu mungkin saja hendak berdialektika..yahhh biasalahh..ladeni saja dengan karya..
Aku yang berdiri didepan rumahmu
dengan kaki tak bersepatu,
dengan badan tak berbaju,
disini hujan sangat lebat,
matahari menikam jiwaku,
benarkah ada kedamaian dalam keteduhan?
benarkah ada kebersamaan dalam sebuah rumah?
jikalau itu benar adanya,
dan sudilah kiranya
aku..
duduk sambil meneguk kopi
dan mencelupkan satu roti kering
dan kita bencengkrama
sambil mengumpulkan kumpulan-kumpulan terbuang itu,
ya.. yang terlupakan itu.
ataukah aku harus
melalui pintu-pintu
yang sudah ada sejak zaman nenek buyut ku itu?
aku belum kalah!!!!
satu hal yang menarik,
tanggapan Faiz menggugat “tanggungjawab” pemerintah daerah untuk lebih serius memikirkan tumbuh dan runtuhnya sastra dan seni disumbar.
yang terhormat, bang feb.
haha…lah jauah bana jakarta, yow? awak tapaso mancaliak dari TV se lai. acok bana kalua di tipi mah. haha..agiah taruih, bang. jan biaan lolos. awak ndak mangarati hukum do, tapi awak yakin, abang di jalan nan bana ko ha..
salam, bang. semoga sehat selalu. alah lahia anak? haha.
umurnya masih hamil 15 minggu diperut ibunya. doakan ya.
beberapa minggu kemarin sempat 2 hari di Padang. ingin datang ke PKM, tapi khawatir tmn2 libur.
salam ya.
btw Gamawan kemarin itu ikut di deklarasi SBY.
bahkan memberikan saran tagline “SBY Berbudi” apa diambil dari Sastrawan yg dia bilang malas itu?
pak gamawan sebenarnya sedang belajar beretorika…soalnya 2014 mau maju jadi capres…sunguiknya saja yang dipanjangin tu…nulis saja kita terus, jangan takut dipergunjingkan…salam…