Fatris Moh. Faiz
Selasa (13/1) pukul empat sore, orang-orang memenuhi teater tertutup Taman Budaya Sumatera Barar. Sebagian besar adalah pelajar.
Lebih dari sepuluh remaja yang tergabung dalam grup teater Jalan, membuat panggung bergemuruh. Suara dan hentakan kaki mereka seperti hentakan derap kebebasan orang yang baru kelur dari penjara. Penjara apa saja.
Mereka yang seharusnya ada ditempat-tempat les, atau tempat pembelajaran lainnya, sekarang berjalan di panggung dengan leluasa. Diterangi lampu dan ditonton banyak orang.
Pementasan itu berlangsung sejam. Pementasan yang diprakarsai Balai Bahasa Padang dan disutradarai S Metron M itu terlihat mencoba menjemput para remaja untuk berkesenian. Tentu tidak gampang.
Di panggung, Sitty kehilangan akal karena ia harus menebus segala hutang yang ditinggalkan bapaknya. Kata ibunya, Sitty harus membayarnya dengan apa yang dimilikinya. Bapaknya, juga ibunya, dililit hutang pada Datuk Maringgih.
Datuk Maringgih, mungkin simbolisasi kemapaman.
Pementasan itu lebih bercerita tentang Sitty yang hidup di zaman sekarang. Sitty yang remaja. Sitty yang (masih) merupakan simbol dari perempuan yang terbelenggu oleh—mungkin adat, dan hari ini, mungkin Sitty yang terbelengu oleh sekolah.
“Di sini ada sitty,” sesuara dari belakang panggung itu seakan terdengar menjerit. Tapi lebih terdengar meratap kosong yang mengatakan kalau tiap generasi akan melahirkan Sitty dalam bentuk yang lain.
Sitty-Sitty berlahiran.
Ilham Yusardi yang menulis naskah ini tentu tahu, ia hidup di sebuah daerah yang sarat dinamika. Sejarah daerah ini adalah sejarah orang-orang yang tak menyangkal “yang berubah”. Siti Noerbaya, perempuan Minang dalam roman Balai Pustaka, jelas berbeda dengan Siti Nurbaya dalam naskah Ilham Yusardi. Sitty-nya Ilham adalah perempuan hari ini, meskipun tetap berasal dari daerah kebudayaan yang sama.
Sitty meregang nyawa di ujung pementasan itu. Ia memakan santapan yang beracun yang seharusnya bukan untuk dirinya, dan ia tak menyadari itu. Remaja yang mati karena menyantap makanan yang beracun.
“Di sini ada Sitty…” sesuara itu hilang di ujung pementasan. Para aktor dan penonton yang kebanyakan pelajar itu, besoknya tentu akan kembali lagi ke sekolah mereka masing-masing. Siap-siap menjadi Sitty kembali. Sitty yang harus menanggungkan utang orangtua. “Utang” untuk menjadikan mereka berhasil. Lewat sekolah, lewat les-les. Menyerahkan mereka pada Datuk Maringgih.
Salam kenal. Aku pingin belajar dari anda, makanya aku ada di sini.