Kepada Taufik Ismail
Di hari-hari ketika orang banyak berteriak tentang kebenaran di jalan-jalan kota, di lorong-lorong sempit perumahan, hingga gubuk-gubuk tak terurus yang ditempeli gambar-gambar politikus, kita merasa hari-hari kita membutuhkan puisi, juga sastra.
Di Padangekspres Minggu, Fadlillah mengusulkan akan adanya sebuah pertemuan sastrawan di minangkabau karena sastra dan budaya telah kian dimarjinalkan. Ia telah dikesampingkan. Ia telah di nomor 16-kan setelah ilmu sains.
Tapi Taufik Ismail telah memulai beberapa waktu lalu. Memulai dengan sebuah gebrakan baru: rumah puisi. Di Aia Angek sana. Sebuah tempat dimana puisi didokumentasikan. Di rumah itu kelak, atau mungkin telah, disimpan dokumentasi puisi yang tiap hari berhamburan datang. Setidaknya, menilik usulan Fadhlillah tadi, satra dan budaya tidak akan termarjinalkan. Tidak akan dinomor 16 kan.
Tapi saya mulai ragu. Rumah puisi yang terletak di…yang diapit gunung dan lembah itu seperti penjara puisi. Puisi dirumahkan, ia tak lagi hidup ditengah masyarakatnya. Puisi akan marjinal dari masyarakatnya. Puisi menyublim di carut marut kota.
Taufik yang datang sebagai angkatan 66, tentu tahu, bahwa puisi tak memiliki rumah. Melainkan sebaliknya, puisilah yang membangun rumah-rumah. Ada sepotong sajak Cairil yang berkupasan masalah saja:
Rumahku dari unggun timbun sajak// kaca jernih dari luar segala nampak//kulari dari gedung lebar halaman/aku tersesat tak dapat jalan…
Kembali ke Taufik (baca:Engku Taupik)…
Mungkin karena yang berbicara adalah Taufik, maka sejenak ia didengarkan. Karena pada saat yang sejenak itu juga adalah saat ketika sastra menjadi santapan politik. Orang-orang angkat bicara tentang sastra di waktu yang sejenak itu demi untuk menunjukkan bahwa mereka, sebagai pajabat Negara peduli terhadap sastra. Saya juga baca sastra lho! Sastra sejenak menjadi kuda dengan mata tertutup. Silahkan tuan-tuan pejabat naik, menungganginya hanya untuk disebut sebagai pejabat yang peduli pada kesusastraan. Jika taufik angkat bicara, pejabat-pejabat teras daerah silahkan turut angkat bicara. Katakan, puisi taufik sejajar dengan alquran, katakan setelah membaca puisi taufik saya menjadi merinding. Wahaha… pejabat institut atau universitas yang sekalipun tak membaca sastra, silahkan angkat bicara. Wali-wali kota-kota, ca-leg-ca-leg silahkan baca puisi. Ini saat Anda memampang wajah bahwa anda peduli. Lalu setelah itu, lupakan sastra kembali.
Rumah Puisi, kelak tentu akan memberi kehangatan baru buat kesusasteraan di Minangkabau ini. Tapi adakah sebuah rumah kelak akan memingit sosok yang berada di dalamnya (puisi)? Apakah ketika puisi dirumahkan, ia tak lagi bebas menyublim bersama orang-orang yang tinggal di risau cuaca kota, juga dinginnya perkampungan? Engku Taufik harus menjawab hal ini, Ngku! Engku yang “datang-kembali” ke ranah Minang di usia senja tentu bukan hanya sekedar pulang kampung sebagaimana yang terjadi tiap hari raya. Tentu bukan sekedar melakukan ceramah-ceramah di sana sini, dengan walikota itu dan ini. Berkoar-koar berkata sampai berbusah,”masy…arrakat kita rabun membaca, pincang menulisss!!”. lalu duduk dengan orang tetua-tetua dan berbincang tentang generasi sekrang yang manja:”wah..kalau saat kami dulu..wuihh…jangan dikata, ah..tak bisa disebutkan lagi. ah..uh..ih..” mengenang…mengenang masalalu yang pahit itu, masalau yang tak mungkin terjamah oleh generasi sekarang. Masalalu yang teramat sangat berbahaya itu, masa penuh kecamuk revolusi itu.
ada sepotong sajak Chairil, Ngku:
kau datang terlampau senja/ kisahmu bagiku hanya kenangan
Demikian, Ngku!!
Salam
F.M.Faiz
plok….plok… keren
saya tersentuh n menjadi sedikit berpikir
dan sedikit berbicara
spt yg saudara tulis bicaralah..berpikirlah…
setelah itu lupakan….
maaf sebelumnya jika nanti terlupakan, bukan maksud saya begitu tapi pilihan hidup yang memaksa demikian…
wassalam….
F.M.Faiz yang terhormat.
saya terkejut membaca tulisan saudara. tapi, ada baiknya kita diskusikan hal ini empat mata. saya undang saudara untuk berdiskusi bulan april nanti, di Aie angek. juga saudara-saudara rumahteduh, untuk membicarakan seputar rumah puisi ini.
Membaca perdebatan saudara F.M.Faiz dengan sastrawan sekaliber Taufik Ismail, sangat menarik. Keraguan saudara F.M.Faiz layak direnungkan. Sebab segala sesuatu di negara tercinta ini, bila telah dibikinkan rumah, dia seolah tak berbinar dan tak bernas lagi. Tinggal hanya sebagai mitologi yang seolah hanya asyik dikenang, bukan ditumbuhkembangkan. Simak saja dunia teater kita yang saat ini makin kehilangan gregetnya.
Seperti halnya Chairil Anwar, saya lebih condong menyatakan bahwa seniman, termasuk di dalamnya sastrawan, adalah makhluk nomaden. Dia tidak mengenal sangkar untuk menjadi sangat kreatif dan terus berkarya. Ketika segala sesuatu sudah “di-rumah-kan”, sepertinya kehilangan makna.
Ini memang memerlukan dialog panjang. Tapi untuk berdialog, apakah semua harus ke Aie angek, sementara sebagian besar tak tahu tepatnya dan berapa jauh jarak yang harus ditempuh? Kenapa tidak berdialog melalui media maya ini, yang lebih mampu menjangkau sampai di mana pun kita berada.
Ini hanya sumbang saran. Semoga dunia seni Indonesia, termasuk teater dan sastra di dalamnya kembali menemukan gairah pengkaryaannya seperti masa lalu.
Salam
Ki Gading Seta yang asli Wong Yogya