Semakin dekat pemilu, semakin sering saya tertawa. Meskipun hanya di dalam hati, ketawa yang tak sampai bunyi itu, konon, merangsang otak untuk menyehatkan tubuh. Saya tak tahu kebenaran ini, tapi yang jelas suasana pemilu benar-benar membuat saya terhibur. Keluar rumah selangkah saja, sudah bertebaran baliho para calon anggota legislatif. Wajah-wajah itu membuat saya ngengir berkepanjangan. Ada yang bergaya orator ulung dengan latar belakang gambar Soekarno menuding. Ada yang seperti berteriak dengan latar foto Megawati mengacungkan tangan. Ada yang kalem, mirip terdakwa kasus korupsi, latar belakangnya gambar Sultan Hamengku Buwono X, yang juga kalem. Calon legislator wanita seperti kontes Miss Universe, meskipun ada yang posenya seperti bakul jamu, tukang pijat, dan sebagainya. Persaingan begitu ketat, calon wakil rakyat harus menjajakan wajah dan nomor urutnya lewat baliho dan (yang punya uang berlimpah) pasang iklan di koran. Pemilu sebelumnya lebih sederhana, partailah yang menentukan siapa yang duduk atau tidak, pemilih pun mencoblos partai. Sekarang setiap calon harus unjuk gigi.
Di pulau sekecil Bali saja ada 5.079 calon legislator, yang bertarung memperebutkan 399 kursi. Kalau satu orang membuat sepuluh baliho, ada lebih dari 50 ribu baliho. Ini angka terendah, karena seorang calon untuk wakil rakyat di pusat dan provinsi yang wilayah pemilihnya lebih luas membutuhkan lebih dari 300-an baliho. Bayangkan berapa uang yang beredar dalam “bisnis baliho” ini, lalu bayangkan akan ada 4.680 orang yang kalah dan mungkin punya utang.
Berapa miliar atau triliun uang yang habis untuk baliho di seluruh Indonesia? Jika ini mau dihitung, saya bisa urung tersenyum. Saya lebih tertarik membaca slogan yang ada di baliho. Sebagian besar menyebutkan, akan berjuang untuk rakyat, dengan bahasa Indonesia yang rusak parah.
Sebagian besar pula kurang percaya diri sehingga perlu menambahkan foto Soekarno, Megawati, Wiranto, Prabowo, atau Sultan HB X pada latar belakangnya. Bahkan ada baliho dengan latar belakang Presiden Amerika Serikat Obama. Slogannya: “Saatnya orang muda yang tampil”. Karena bukan memilih partai, melainkan memilih orang, rasanya saya akan golput. Soalnya, saya bingung. Dengan sistem pemilu sekarang, domisili pemilih menyebabkan dorongan memilih itu berbeda. Kalau saya berdomisili di Klaten, misalnya, pilihannya gampang: Puan Maharani atau Hidayat Nurwahid. Bukan maksud saya memilih PDI Perjuangan atau memilih PKS, tapi karena Puan cantik dan Hidayat Nurwahid saya kenal pemikirannya. Jadi urusannya personal.
Saat ini saya berada di daerah pemilihan yang calon-calon legislatornya tak saya kenal ulahnya, selain fotonya yang nampang di baliho. Kalau saya mengikuti imbauan “memilih dengan cerdas dan tepat seraya menggunakan hati nurani”, pilihan saya adalah tetap tidak memilih alias golput. Ini menurut “hemat” saya, yang bisa berbeda dengan “hemat-hemat” orang lain.
Masalahnya, kenapa golput diharamkan oleh MUI? Kalau nurani saya berkata: itu calon koruptor, itu calon peselingkuh, itu calon wakil rakyat yang tak pernah sidang, itu calon yang hanya bisa omong, bukankah saya lebih baik menyelamatkan bangsa ini dengan cara tidak memilih mereka? Biar suara mereka tak memenuhi “bilangan pembagi pemilih”.Dengan ongkos yang tinggi berebut kursi di DPR atau DPRD, sudah pasti langkah pertama mereka di Dewan adalah “bagaimana mengembalikan modal”. Untuk apa orang seperti itu diberi kursi? Dan akhirnya, untuk apa memilih kalau tak ada yang layak dipilih?
dikutip oleh Faiz dari temannya Putu Setia
kemarin, saya beru baca agak detil, isi Fatwa MUI tersebut:
———
Setelah melalui perbincangan hampir sehari penuh dalam rapat Komisi Masail Asasiyah Wathaniyah (Masalah Strategis Kebangsaan), kemudian dikerucutkan dalam Tim Perumus dan diajukan ke sidang pleno Ijtima Ulama, disepakati dan diktum keputusannya sebagai beriku:
1. Pemilihan umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.
2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama
3. Imamah dan imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.
4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.
5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.
———-
atau, lihat di website resmi: FATWA MUI: GOLPUT HARAM
Menurutku poin ke-4 dan 5 penting dicermati.
Fatwa itu bilang “WAJIB” memilih pemimpin yang beriman, bertaqwa, terpercaya, dan sebagainya..
Lantas bagaimana sebagian besar caleg adalah “calon koruptor, itu calon peselingkuh, itu calon wakil rakyat yang tak pernah sidang”, seperti yang ditulis dalam artikel diatas??
dalam logika Argumentum a Contrario, tidakkah memilih calon koruptor justru HARAM?
bagaimana jika semua calon demikian? atau sulit membedakan antara calon yang busuk dan tidak busuk?
maka ikut pemilihan umum dan coblos caleg busuk justru HARAM, toh?
hayoooooo…….
hehe2
tapi aku lebih tertarik diskusikan semacam gerakan “TIDAK PILIH POLITISI BUSUK” yang kita coba bangun sekarang.
silahkan lihat web yg relevan:
1. Poster TIDAK PILIH POLITISI BUSUK
2. Masyarakat Anti Politisi Busuk
Poster GOLPUT
Kalau Ricuh Lebih Baik Kami GOLPUT
Terserah MUI ngomong apa, haram, halal, bla..bla…orang yang bakal paling awal masuk neraka aja di dengerin!!
BANYAK PARTAI BIKIN BINGUNG
Sudah menjadi pedoman hatiku, bahwa dalam pemilihan umum 2009 kita harus menentukan pilihan secara bijaksana. Tapi semua partai peserta pemilu, tiada kupandang tinggi, semua sama tak sapun mendapat keistimewaan.
Karena bingung, aku membuat suatu undian. Di atas sekelumit kertas kutulis nama-nama partai. Akhirnya kertas itu kugulung sama serta kumasukkan dalam sebuah kotak kosong, yang kemudian kugoncang-goncangkan.
Dengan mata terpejam kuambil sebuah diantara gulungan-gulungan kertas itu. Ketika gulungan itu sudah kukembangakan, kubuka mataku secara perlahan-lahan. Jantungku turut berdebar keras, Ketika salah seorang di antaranya memperoleh kemenangan.
Ketahuailah… bahwa yang berhasil memperoleh kemenangan adalah……………………………
inilah gambaran bimbang masyarakat, apa yang dijanjikan partai politik tak jua mencapai biduk kebahagiaan.
sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/
assalamu alaikum wr. wb.
Permisi, saya mau numpang posting (^_^)
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/
semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…
Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)
wassalamu alaikum wr. wb.