Esai Fatris Mohammad Faiz
Ini beberapa cerita tentang sekolah.
Kita barangkali pernah mendengar tentang Thomas Alva Edison. Seorang anak yang mengerami telur ayam dan membuat ibunya kaget. Thomas mengira telur ayam akan menetas karena suhu yang hangat. dan ia ingin tahu, dan ia pun terus mencoba dengan segala dugaannya itu.
Ibunya, nyonya Edison, yang hidup miskin tak pernah menghalanginya. Dan Edison kecil itu hanya sanggup bersekolah selama tiga bulan. Pada usia 12 tahun Edison pun mulai bekerja, mencari sesuap nasi pagi juga petang hari. namun sang ibu telah menanamkan rasa ingin tahu dan semangat yang tak kunjung padam pada anaknya itu.
Rasa ingin tahu, semangat untuk bereksperimen, dan semangat yang tak pernah habis. Itu saja sudah dianggap cukup rasanya. Dan memang: ia melahirkan lebih dari 1000 temuan buat orang yang hidup di zaman itu. Dan usianya belumlah 35 tahun.
Namun yang menjadi pertanyaan sekarang: apa jadinya seoandainya Thomas Edison jadi murid sebuah sekolah, sebuah institusi yang sibuk dengan tata tertib? Sekolah yang sibuk dengan dengan baju seragam, dan mendaftarkan prestasi? Sekolah yang lebih mendisiplinkan kuku murid ketimbang bertanya: apa yang kau mimpikan tadi malam, Nak? Atau bertanya dari mana nasi berasal?
Pada akhirnya Edison memang bukan seorang ahli teori, ia seorang teknikus. Namun, menurut Goenawan Mohamad dalam satu catatan, seorang penemu bermula dari kebebasan jiwa, dan berlanjut dengan kreasi. Dan keduanya menolak pengekangan. Keduanya melintasi tabu.
Keduanya tentu tak bisa kita dapatkan di sekolah hari ini. Sekolah hari ini telah menjadi sebuah institusi yang selalu ingin membuat penyeragaman untuk siswanya. Hal ini bermula dari kaos kaki dan sepatu, kemudian rambut, bacaan yang harus sama, dan keseragaman lainnya yang kian menjadi-jadi.
Sekolah seakan telah menjadi sebuah in stitusi penyeragaman.
Kini, masa ketika sekolah sedang sibuk-sibuknya dengan prediket apakah sebagai sekolah unggul, atau favorit, dan segala macam predikat lainnya, maka kebebasan berpikir patut kita pertanyakan kembali.
Di Timur Jauh sana, Toto-chan terpaksa dikeluarkan dari sekolahnya. Menurut ibu guru, ia terlalu sibuk dengan diri sendiri, membuka-tutup jendela saat jam pelajaran berlangsung, meyapa dan mengundang pemusik jalanan dari dalam kelas yang dekat sekali dengan jalan itu. Hal seperti ini jelas sebuah perkara yang tak mudah diterima oleh sekolah. Sekolah tidak menerima mental seperti totochan yang banyak Tanya. Jepang pada masa itu adalah jepang yang sedang berbenah untuk menguasai dunia, tahun 40-an.
Akhirnya Ibu menyekolahkannya di sekolah gerbong dimana anak-anak belajar dalam gerbong kereta yang sudah tak dipakai lagi. Dan Toto-chan mendapatkan apa itu makna dari sekolah sesungguhnya yang tidak harus serba diatur, yang tak berkurikulum jelas, yang pelajarannya disesuaikan dengan kemauan murid-muridnya. Sekolah gerbong itu memang melahirkan beberapa orang berpengaruh di Jepang, akhirnya. Sekolah yang berlajarnya tak tentu, kadang di gerbong kadang di bawah pohon kadang di alam terbuka lainnya.
Sekolah di Indonesia, pelu mencermati kembali: apakah sekolah tempat melaksanakan aturan ataukah tempat pendidikan.
sekolah tempat cari diut,
buktinya mantan2 ketua uks bisa punya motor
Saya sebenarnya cukup heran ketika bangsa Indonesia begitu mendewa-dewakan yang namanya “sekolah” sebagai rumah pendidikan di negara maritim ini. Benarkah “sekolah” (baca : pendidikan Indonesia) sudah mampu mengantar bangsa Indonesia mencapai kesejahteraan yang sebenarnya? Ini berkaitan dengan tanggapan Wan Idaih tentang Sekolah dan Segala Hal yang tak Selesai.
Mari kita meneropong sejenak. Orang kaya dan sukses di negara ini adalah saudara-saudara kita keturunan Cina, yang notabene menjadi Taipan tanpa secuilpun gelar yang disandang. Budaknya, justru orang-orang yang bertitle.
Masihkah kenyataan ini belum membuka mata kita bahwa pendidikan Indonesia (“sekolah”) tidak mampu memberi apa-apa pada anak bangsa selain mempersiapkan mereka menjadi budak orang-orang yang tidak berpendidikan formal alias orang-orang yang tidak punya gelar?
Selamat merenung
Ki Gading Seta yang Wong Yogya asli
sekolah tempat penanaman benih-benih dari tumbuhan yang berkembang biak di tanah nusantara ini.
bener ki, sekarang sekolah udah jd media baru perbudakan..
orang yg sekolahnya tinggi jd budak penyedia kerja…..