1 januari di bukittinggi, juga di kota kecil lainnya, orang-orang tengah tertidur pulas sehabis bergadang pergantian tahun. Saya membuka internet dan membaca apa yang terjadi di belahan dunia sana. 400 orang meninggal oleh serangan bertubi-tubi israel.
Sedikit hari sebelumnya, di Indonesia orang-orang mengecam tindakan itu, tidakan yang biadab itu. Tapi kecaman itu hilang di tengah gemuruh terompet, di tengah musik tahun baru yang menggema. Ahkhirnya kita seperti tidak membutuhkan sesuara dari arah lain, sesuara yang datang dari kecamuk perang.
Dalam kedamaian, dalam hiruk pikik tahun baru, kita memang tak butuh disentakkan oleh tragedi kemanusiaan dari Palestina. Karena kita memang tidak butuh.dan kita seperti mengingat kembali apa yang dikatakan mahmoud Darwish, penyair Palestina itu:
Catat! Aku orang Arab/dan nomor KTP-ku 50.000/Dan yang kesembilan akan datang musim-panas nantiā¦.
Catat! Aku orang Arab/Namaku tanpa gelar/Pasien di negeri tempatku tinggal.
Lalu kita melupakan. (Red)
pak redaktur cari sensasi mah
salam komunitas !!
kami komunitas baru di sastra inggris universitas andalas
kulo nuwun…