Yella mati subuh tadi, Fesha menyusul
Dan aku tak berdoa: bingung apakah sorga cukup nyaman buatnya
Bernald berkulit putih pucat telah henghajarnya karena lapar
Setelah perbincangan malam itu, perbincangan yang tak pernah selesai itu
aku tidur dalam lelap,
Membiarkanmu tanpa makanan, tanpa menyalakan pompa udara.
Sorenya TV meronta-ronta minta didengarkan
Menayangkan cerita konyol yang sama sekali tak lucu
Juga kisah selebritis berselingkuh. Tapi aku dan Bernald tidak hirau, kami dalam berkabung.
“TV yang kesepian,” bisik sesiapa.
Bernald yang berkulit sepucat hujan, merasa kesepian. Rasa kehilangan yang akut itu ia telan sendiri. Keperkenalkan dua teman berkulit kuning dan hitam yang sepertinya satu ras dengannya agar ia tak terlalu sendiri. Dan aku, juga Bernald, tahu betapa jahatnya kesendirian. Keduanya mengucapkan salam dengan polah yang aneh pada Bernald, keduanya belum kuberi nama.
Sebetulnya semuanya tak memiliki nama karena aku tak ingin membedakan mereka. Tiba-tiba ia telah bernama dalam puisi. Nama yang bagus. Saat kematiannya aku perlu memberi nama untuknya yang satu Kabau dan satunya Baruak. Tapi kata itu terlalu sporadis.
Sekarang mereka bertiga dalam akuarium kecil. Tanpa Yella, tanpa Fesha.
Lalu kami bertengkar: siapa diantara kami yang kesepian.
Fatris Mohammad Faiz, 2008
hm….puisi.
salam kenal
uhhuk…..
dak tayo doh
padiah puisi pak fatris mah…. hehehe