Ini cerita tentang seorang perempuan. Tentang perempuan yang bisa hidup berbahagia dalam semrawut kota, umbul-umbul partai yang serba berwarna, juga carut-marut politik. Ini cerita tentang perempuan yang terus berusaha berbahgia diantara jutaan, bahkan ribuan juta perempuan yang tak berbahgia di bumi ini.
Belum berapa tahun setelah tamat dari jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas yang malas itu, ia malah berkeinginginan ke Norwegia; sebuah negeri yang barangkali jarang hinggap di benak gadis-gadis yang tinggal di Indonesia yang mengisi malam-malam dengan menonton sinetron dan menghabiskan pulsa telpon untuk pembicaraan yang sama sekali tak penting, atau ugal-ugalan dengan motor pacar di gemerlap jalan raya.
Nun, di Oslo sana, sebuah kota di Norwegia, ia akan menemui Profesor Olle Tornqist. Ia termasuk pengagum sang professor. Kekagumannya berangkat dari membaca beberapa buku sang profesor. Di universitas Oslo itu kelak ia akan belajar ilmu politik. Tentu saja, karena di sana lahirnya “ilmu politik tertua”. Namun, ia lebih tertarik dengan politik beretika, segaimana yang sering dibicarakan sang profesor dalam buku-bukunya. Beretika?
Etika, tatakrama. Ha? Ada apa Ade? Apa yang salah dengan etika?
Politik hanyalah omongan tentang kekotoran, ketololan juga kediktatoran, selebihnya gunjingan tentang menguasai hari depan yang remuk. Setidaknya pikiran itu tak lebih dari apa yang dipikirkan oleh ribuan orang yang menghuni jejeran pulau bersahaja yang berbentuk Indonesia, yang mau tidak mau harus patuh pada aturan yang tentu tak lepas dari muatan politik dan kepentingan penguasa. Nah, etika? (masih) Adakah orang yang berbincang tentang etika dalam berpolitik? Atau sebaliknya: politik beretika? Ada apa Ade? Ketika tiap hari kita memamah berita yang ditulis atau yang disiarkan oleh media tentang perkelahian wakil rakyat dalam gedungya sendiri, janji ini-itu yang tak pernah terlaksana, tentang betapa tidak berartinya nyawa di ibukota sana, tentang lebih pentingnya mendirikan Mall dan gedung-gedung instansi yang berisi pegawai negeri yang tak bekerja, dari pada ratusan orang kehilangan tempat tinggal. Tidakkah semua itu erat hubungannya dengan politik? Ketika sekali lima tahun, rakyat akan dimanjakan dengan slogan-slogan calon legislatif dan sekalian untuk dilupakan kembali. Ah, dimana etika akan diposisikan dalam politik, Ade? Bukankah di usiamu sekarang, gadis-gadis se usiamu lebih senang berkencan dan menghabiskan waktu di Mall dengan pacar, atau mengejar S2 demi menjadi dosen dan bisa hidup nikmat di ruang-ruang kelas megajar mahasiswa yang tak mau membaca, atau malah bekerja di toko-toko penjual hati sekedar menambah uang jajan. kau malah berpikir tentang etika. Apa yang salah, Ade?
Tahun Kelahiran
9 agustus 1984 Masehi, Ia, Ade alifya, dilahirkan. Bukan dilahirkan, tapi “terlahir”, tepatnya.Nun jauh di pedalaman Payakumbuh sana. di sebuah desa yang bersahaja. Penduduknya yang sehari-hari bertani, dan tidak merampok. Jika malam datang, orang-orang di Payakumbuh akan meniup saluang dan berdendang. Agar kegelapan tak terlalu pahit untuk didekap, biar malam tak begitu saja larut dan berganti pagi. Orang-orang di desa memang aneh, setidaknya begitu menurut pemikiran orang kota. Mereka berdendang tentang saudara-saudara mereka yang ditelan oleh kota besar dan tak kembali. Kalau pun kembali, mereka akan membawa sesuatu yang asing untuk masyarakatnya. Sesuatu yang sesungguhnya bisa disebut Modernisme. Namun siapa yang akan mendengar “pekikan mereka yang terhalang karang terjal” itu? Mereka hanya petani yang tak punya banyak pilihan untuk hidup. Mereka juga tak banyak bermimpi. Segala impian mereka akan kesejahteraan hanya ada dalam saluang dan dendang.
Di tanah tempat Ade Alifya dilahirkan, tentunya menyimpan berbagai macam cerita, juga dengungan mistik yang tak kalah. Namun, ia tak bayak berbincang tentang itu. Ia akan pulang kalau kota tempatnya tumbuh menjadi dewasa, tidak lagi membuatnya bahgia. “Kebahgiaan di kota hanya sekeping, dan itu diperebutkan ribuan orang, Nek…” setidaknya begitu jawaban Ade jika ditanya neneknya kenapa sering berkunjung ke Payakumbuh. Atau malah mungkin lebih cengeng kedengarannya, atau malah jauh berbeda. “Sedang kebahgiaan di desa lahir dari tiap manusia,” agaknya terlalu berlebihan jika Ade berkata seperti itu.
Payakumbuh, sebuah negeri yang bersahaja. Setidaknya setelah PRRI selesai, dan orang-orang orang kembali pulang ke rumah atau terkubur bersama luka di rimba-rimba yang entah. “ah… Sejarah,” Ade akan mengerutkan dahi dan melemparkan pandangannya jauh-jauh seakan membiarkan bola matanya yang bulat terlempar.
Delapan hari setelah kelahirannya, Indonesia memperingati kemerdekaan yang ke 39 tahun. Angka yang ganjil untuk sebuah peringatan, sekaligus sebagai angka penutup untuk sebuah tragedi kemanusiaan “Petrus”. Petrus alias Penembak Misterius yang menyebabkan hilangnya ratusan orang yang dicap preman di ibukota. Terlepas apakah namanya pembantaian, ataukah penembakan. Jelas itu berlawanan dengan kemanusiaan.
Petrus Lenyap, Ade Alifya lahir sebagai perempuan. Perempuan yang lahir di zaman yang ganjil. Tapi ia membantah, “Aku lahir di zaman yang seharusnya aku lahir.”
Bersambung
mmm..pak redaktur, mungkin ada sedikiiiittt kesalahan dalam penulisan Biograpi ini atau memang saya yg kurang mengenal ade, seharusnya bukan perempuan bukan?apa ade alifya seorang perempuan? kalau memang seorang perempuan apakan Ade Alifya ini adalah Ade Alifya yang Redaktur Padang Tivi itu?
mohom penjelasannya
salam
Yth. Tn. Redaktur
pertanyaan saya sama dengan Tn. Ketua Pemuda, apa saudari Ade Alifya ini adalah kakak Ade Alifya yang redaktur Padang TV tu? dan apa ia kakak Ade yang katanya anak rumahteduh tu ya?
mohon penjelasannya juga
salam
kayaknya pernih lihat kakak ni deh??? dimana yach???
bener loh bang cha pernah lihat, waduh… kok bisa dejavu gini yah// susah kalau udah terkenal, sering lupa ma orang *ditabok*
iya cha,
kt liatnya di sirkus
masa lupa seh
pareman singgalang tukang iri, gak dibikin bigrafinya sama bg fais
si icha farma ini lagi, siapa yg lebih terkenal ayooo
kayaknya ngetopan kakak ni deh, buktinya adabiografinya.
icha gubrak
icha sok terkenal, piss
putri ni gi
ade ya?apa kabar nih anak?kapan nih dibuat sambungannya bung redaktur?
apa mungkin ade yang item ya?
ade-ade aje…..
kaliang nyo mah ndak?
iyo kan?
jujur se lah
dak baa gai dek kami do,
kami lai nio kawan jo inya nyoh.
alah?
alah sadoalahnyo tuh?
ado lai?
kami ka tutuik a?
capek lah, capek.
suko ati kalian lah!
wan idaih, ndak arok gai doh! ndak anti yo!
ohoi!
baa ga ati duh! (logat bukittinggi mode —> on)
adeee…keh..pai baorgen wak lai
sama rata, sama rasa