Donny Syofyan
*Dosen Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Andalas
Robinson Crusoe adalah sebuah novel karya Daniel Defoe, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1719. Novel ini dianggap salah satu novel pertama dalam bahasa Inggris. Novel ini merupakan otobiografi fiksi tentang tokoh bernama Robinson Crusoe, seorang penumpang kapal berkebangsaan Inggris yang menghabiskan waktu dua puluh delapan tahun di sebuah pulau tropis terpencil, menghadapi suku pribumi, perampok dan pemberontak sebelum akhirnya diselamatkan. Boleh jadi, cerita ini dipengaruhi oleh kisah kehidupan nyata Alexander Selkirk, seorang penumpang kapal Skotlandia yang hidup lebih dari empat tahun di sebuah kepulauan Pasifik bernama Más a Tierra (tahun 1966 nama pulau ini menjadi Pulau Robinson Crusoe (Robinson Crusoe Island) [sumber; Wikipedia].
Banyak orang beranggapan bahwa pengalaman Robinson Crusoe selama terdampar di pulau terpencil merupakan refleksi perkembangan peradaban dan masyarakat. Namun, ada hal yang sama pentingnya yang perlu dilihat dalam novel ini, yakni kemajuan pemikiran politik dan keagamaan dalam masyarakat Robinson Crusoe. Lewat pengalaman seorang laki-laki, kita bisa mengamati kemajuan agama dari ranah pribadi menuju ruang publik, konflik yang melekat dalam kemajuan itu, dan upaya-upaya pemecehannya. Evolusi pemikiran politik dan keagamaan ini mengukuhkan dua hal. Pertama, dalam ranah pribadi, ia memperkuat individualisme keagamaan; sebuah paham bahwa siapa saja bisa dan harus bisa menemukan Tuhannya yang bebas dan lepas dari berbagai otoritas manusia dan medium pengantar, misalnya pendeta. Kedua, dalam ruang publik, novel ini menguatkan bahwa toleransi keagamaan—lebih-lebih bagi mereka yang memegang kekuasaan—adalah cara yang terbaik untuk mengatasi konflik yang muncul ketika terjadnya transisi agama dari ranah pribadi menuju ruang publik.
Lewat trial and error dan proses perenungan yang terus-menerus, Robinson Crusoe menemukan kedua hal tersebut dan berhasil menerapkannya. Ia “menemukan Tuhan” tanpa bimbingan siapapun. Ini kemudian mengantarkannya menjadi seorang penguasa yang toleran selama berada di pulau itu seraya tetap menghormati agama. Sungguh mengejutkan, Robinson Crusoe tidak berbuat sesuai dengan definisi personal seorang “Kristen yang baik”. Bisa saja ini hanya sekadar sentuhan realisme seorang Daniel Defoe untuk menunjukkan keberhasilan Robinson Crusoe dalam mewujudkan individualisme keagamaan dan melembagakan toleransi keagamaan selama di pulau itu.
Langkah pertama dalam kemajuan keagamaan Robinson Crusoe terlihat dari penemuan personalnya terhadap Tuhan. Lewat contoh yang diberikannya, ia hendak memperlihatkan bahwa usaha menemukan Tuhan seharusnya adalah suatu tindakan yang merdeka, tanpa perlu bantuan pihak perantara—lembaga maupun manusia. Ia menyatakan bahwa ia ingin bergerak dan menyesali semua dosa-dosanya tanpa bantuan guru atau pemandu manapun, kecuali Bible (h. 160). Cukup aneh, segenap upayanya mencari dan menemukan Tuhan lahir dari sikap memberontaknya terhadap sang ayah. Tentu saja, hal ini tak akan terjadi bila ia serta-merta mematuhi dan menerima “agama lusuh” (hand-me-down religion) dan gaya hidup ayahnya. Kecurigaannya pada ihwal kependetaan menemukan momentum ketika ia bertemu dengan Friday. Dalam usahanya mengkristenkan Friday, Robinson Crusoe sadar bahwa mustahil untuk mengajarkan Friday semua aspek tentang agama, “…yet nothing but divine Revelation can form the Knowledge of Jesus Christ…nothing but a Revelation from Heaven, can form [knowledge of Christ] in the Soul…” (tak satupun kecuali Wahyu suci yang bisa membentuk Ilmu tentang Yesus Kristus…tak ada yang lain kecuali Wahyu dari Sorga yang bisa memberikan [pengetahuan tentang Kristus] di dalam Jiwa) [h. 158].
Robinson Crusoe percaya bahwa dirinya, ataupun pendeta, tidak akan pernah bisa menggantikan posisi wahyu yang suci. Ini adalah sebuah tema yang selalu berulang bagi Robinson Crusoe dan dengan terang-terangan ia mengkritik lembaga kependetaan dalam Gereja Katolik (dan mungkin juga Gereja Anglikan). Ia menyerang lembaga kependetaan dengan dasar bahwa lembaga ini dianggap “preserve the Veneration of the People to the Clergy” (melestarikan pemujaan orang-orang terhadap kependetaan) [h. 157]. Tetapi, karakteristik kependetaan yang haus akan kekuasaan bukan satu-satunya yang menjadi minat Robinson Crusoe. Ia juga menganggap bahwa lembaga ini sudah sangat rapuh dan berperan menghalangi pencarian akan Tuhan, mengingat upaya menemukan Tuhan sepenuhnya adalah tugas setiap individu. Dengan sebuah upaya konversi sunyi di sebuah pulau, dan lewat usahanya mengkristenkan Friday, Robinson Crusoe menjadi yakin bahwa setiap orang hanya membutuhkan dirinya sendiri, Bible dan wahyu suci demi menghampiri kebenaran Tuhan.
Begitu ia menemukan Tuhan, langkah selanjutnya terletak pada upayanya memaksakan Tuhan yang baru ditemukannya pada Friday. Pengenalan Friday terhadap sistem yang belum dikenalnya dan intensitas diskursusnya dengan Robinson Crusoe seputar persoalan keagamaan menjadi landasan yang melahirkan ruang publik keagamaan. Namun, karena hubungannya dengan Friday pada dasarnya sudah baik dan ditambah dengan keraguannya terhadap absolutisme moralitas Kristen, Robinson Crusoe dengan cepat mencoba menjadi seorang yang secara religius sangat toleran. Saat ia bahagia mengetahui Friday menjadi seorang kristiani, kebajikan sisi terdalam Friday memberikan dampak yang cukup berbeda terhadap Robinson Crusoe. Ini membuatnya mempertanyakan Tuhannya sendiri. Sebenarnya, Robinson Crusoe menjadi jauh lebih liberal terhadap agama ketimbang menjadi seorang “pengkhotbah” yang berkemauan keras. Di beberapa tempat dalam novel ini, bisa dilihat bagaimana ia menggugat Tuhan dengan membiarkan saja kekejaman yang berakibat lahirnya dosa-dosa, seperti kanibalisme. Sementara Tuhan tidak “memunculkan” diri-Nya kepada mereka lewat wahyu, atau bahkan Bible, seperti …why it has pleas’d God to hide the like saving Knowledge from so many Millions of Souls, who if I might judge by this poor Savage, would make a much better use of it than we did (Kenapa Tuhan begitu senang menyembunyikan hal-hal seperti Pengetahuan dari Berjuta Jiwa, yang kalau saya nilai lewat seorang “Penjahat malang”, (Pengetahuan) itu akan jauh lebih berguna bila dimanfaatkan) [h. 151].
Robinson Crusoe mengenal Friday—seorang “penjahat malang” dan kanibal—adalah seorang yang baik dengan atau tanpa harus menjadi seorang kristiani. Ini memang sebuah pemikiran sederhana bagi Robinson Crusoe sendiri. Hanya saja, ketidakmampuannya mendapatkan jawaban memuaskan dari pertanyaannya kepada Tuhan ini menjadi alasan yang paling memungkinkan yang membuatnya punya toleransi keagamaan yang kental. Ia tidak bisa berdiam diri membiarkan para kanibal bergelimang dengan dosa-dosa karena kesadisan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, ia “mengomel” kepada Tuhan yang meninggalkan mereka larut di dalam kegelapan. Ia menimpakan kesalahan kepada Tuhan atas terjadinya berbagai sadisme dan kanibalisme. Memang, Robinson Crusoe pernah membunuh beberapa orang kanibal. Tapi, ini dilakukannya karena kemarahan dan pembelaannya melihat seorang Eropa yang hendak dibunuh dan “dimakan” oleh para kanibal, bukan karena arogansi dan intoleransi keagamaan. Dengan kata lain, Robinson Crusoe tidak membiarkan para kanibal bertanggung jawab secara moral atas segenap perbuatannya, dan membunuh mereka lantaran tindakan para kanibal itu betul-betul menjijikkan.
Lebih dari sekadar melarang kanibalisme di “pulau”-nya, Robinson Crusoe tidak pernah menuntut sikap dan ekspresi keagamaan tertentu—tentu dalam hal ini adalah Kristen—bagi semua orang yang menampati wilayah pulau itu. Setelah mengkristenkan Friday, Robinson Crusoe tidak melanjutkan upayanya untuk mengkristenkan ayah Friday, walaupun ia memiliki kekuasaan penuh atasnya maupun atas semua penghuni lainnya. Pada level tertentu, Robinson Crusoe terkesan “menyombongkan” toleransi keagamaan yang telah dibangunnya, “My Man Friday was a Protestant, his Father was a Pagan and a Cannibal, and the Spaniard was a Papist: However, I allow’d Liberty of Conscience throughout my Dominions…” (Temanku Friday adalah seorang Protestan, ayahnya penyembah berhala dan kanibal, dan orang-orang Spanyol adalah Papis. Tapi, Aku memberikan Kemerdekaan berkeyakinan (agama) di wilayahku ini [h. 174]). Walaupun memegang kendali penuh atas masyarakat yang berdiam di pulau itu, Robinson Crusoe menegaskan bahwa ia tidak bakal memaksa mereka memeluk Kristen. Sebagai penguasa tunggal di pulau itu, Robinson Crusoe bisa dikatakan telah mencapai terminal akhir dalam evolusi keagamaan politik dalam memecahkan persoalan agama personal dan agama publik. Pada esensinya, tidak ada agama publik di pulau itu.
Meskipin berhasil “menemukan” Tuhan dan menegakkan panji toleransi beragama, anehnya ia justru stagnan dengan perkembangan kepercayaan Kristennya sendiri. Robinson Crusoe berhenti memenuhi persyaratan untuk menjadi seorang kristiani yang baik. Ia melihat dua hal penting untuk menjadi seorang “kristiani yang baik”. Pertama, menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak Tuhan. Kedua, selalu bersyukur kepada-Nya. Robinson Crusoe dengan tegas menyatakan kedua hal ini, “…’twas my unquestion’d Duty to resign my self absolutely and entirely to his Will…” (ini adalah kewajiban yang tak bisa dibantah untuk menyerahkan diriku secara mutlak pada kehendak-Nya) [h. 95, 102, 114, 121, 135, dan 182]. Betul bahwa ia mencela dirinya yang sering tidak mampu berterima kasih kepada Tuhan, namun tetap ia saja “gagal” memasrahkan dirinya sepenuh hati pada kehendak-Nya. Secara periodik ia bersyukur kepada Tuhan, misalnya atas berlimpahnya hasil panen dan makanan di pulau itu [h. 95], namun itu semua hanya lip service saja. Ia hanya bergantung kepada Tuhan ketika mengarahkan senjata untuk menembak (h. 185). Suatu hal yang bodoh; “menstempel” persetujuan Tuhan hanya untuk sebuah keputusan ketika menembak dengan senjata. Pada waktu yang lain, ia mengatasi konflik antara kehendaknya dan kehendak Tuhan, walaupun akhirnya ia lebih memilih impulsnya sendiri ketimbang tuntunan Tuhan. (h. 125 dan 144-145).
Protestantisme personal seorang Daniel Defoe jelas-jelas “menginjeksi” pengaruh yang nyata atas kritikan Robinson Crusoe terhadap kependetaan. Tidak salah bila kita mengklaim bahwa Daniel Defoe menaruh minat yang tinggi pada toleransi beragama dilihat dari statusnya sebagai “orang luar” (outsider); seorang non-Anglican Protestant. Namun demikian, itu semua tidak bisa menjelaskan hasratnya yang selalu mempertanyakan absolutisme moralitas Kristen, terutama terkait dengan kanibal dan orang-orang yang telah Tuhan tinggalkan dalam kegelapan (pertanyaan ini muncul beberapa kali; hal. 142, 151 dan 168). Dalam pelbagai adegan “penggugatan” ini, Robinson Crusoe tidak memberikan pengecualian bagi ajaran Protestan sekalipun; ia betul-betul mengkritik ajaran Kristen secara umum. Daniel Defoe agaknya hendak menegaskan bahwa toleransi beragama jauh lebih penting daripada alasan-alasan selfish; merupakan tanggung jawab moral bagi segenap pemeluk Kristen, baik Katolik dan Protestan; dan menjadi satu-satunya kunci pemecahan (resolution) konflik antara kedudukan agama sebagai ranah pribadi dan ruang publik.
Canberra, Australia
apa ini?????
ada ada aja
bunuh aja lagi ini!
(Gangster scene 2)
ini kan wacana?
woi dingin oi..
indak lai ko?