Hantaran Pendek : Fatris Moh. Faiz
Sebuah puisi baik, tidak mesti ditulis oleh orang baik. Namun sebuah puisi buruk, kerap ditulis oleh orang-orang yang tak tahu bagaimana harus berbuat baik. Sepintar-pintarnya manusia, lebih paling pintar orang yang tak tahu bagaimana harusnya berbuat baik. (surah penghujat: 118. F. Moh. Faiz)
Membaca puisi Hanafi, saya seperti dibawa hadir ke hari jumat yang membosankan. Batapa tidak, tiap jumat siang mendengar khutbah yang berapi-api di mesjid. Dan kemudian pulang tanpa beban apa-apa. Isinya tak lebih dari kecaman, juga keharusan berbuat ini dan itu.
Puisi Hanafi saya dapatkan dari www.bahaskreatif.multiply.com (blog mahasiswa sastra yang isinya “nyastra’ dan tak bisa membedakan mana yang bahasa dan mana yang language). Blog tersebut menulis sumber dengan jelas. Tentu saja: blog mahasiswa sastra!
Kembali ke puisi,
Hanafi yang S2(?)bidang bahasa, tentu tahu betul mana yang puisi, mana yang teori. Bila kita membaca puisi beliau ( hanafi pantas dipanggil dengan “beliau” dan “pak”karena ia juga seorang dosen) kita akan sering menemukan kata “adalah”. Puisi, bagi hanafi barangkali, merupakan petuah. Dan petuah, tentulah intinya khutbah, menggurui. Barangkali saja bapak Hanafi kehilangan buku teori cara membuat puisi (apakah ada buku teori membuat puisi?).
Dalam puisi kontemporer, kata suatu hari jarang sekali kita temui. Tetapi Hanafi mencoba untuk memulai dengan kata yang menggambarkan dunia antah-berantah itu. Bahasa yang diusung dalam puisi Hanafi terlalu verbal, terlalu terang. Nah, kalau ingin berterus terang, buat apa puisi? Nyalakan saja lampu…
Dari kelincahannya menggunakan kata-kata, ia memang tak bisa disandingkan dengan Zulham. Kata-katanya tenang seperti plato. sedang zulham begitu bergelora.
namun bung Hanafi ingin berbuat baik (lihat saja ia menggunakan kata al Quran segala). kami dari segenap redaksi rumahteduh menghargai itu. dan honor atas terbitnya puisi bapak di blog kami akan kami lipat gandakan. semoga bapak terus menulis.
Jangan lemah semangat pak…teruslah mengajar mahasiswa bagaimana menulis yang baik.
Selamat membaca puisi bapak Hanafiiiii….uhuiiiiii…
Si Pengembara Malang
karya: Hanafi
Suatu hari, seorang laki-laki keras kepala mendatangiku
Ia mengaku telah lama mengarungi lautan asmara
Demi menemukan sebuah pelabuhan bernama Cinta Sejati.
Di hadapanku, ia curahkan seribu kisah kasih sedih gembira,
Ia bentangkan layar lebar petualangan penting itu–
Pertunjukan menakjubkan berisi potret tiap persinggahannya,
Mengesankan … sekaligus … membosankan.
Kemudian dengan santun aku bertanya:
“Wahai Tuan Pengembara, telah ditemukankah yang dicari ?
Sudah terpuaskankah hasrat manusiawi di lubuk hati ?
Sudah pahamkah Tuan akan hakekat Cinta Sejati ?”
Sang Pengembara menutup pertunjukkan dunia khayali itu.
Ia memberiku sebuah potretnya, menatapku tajam,
Dan dengan seulas senyuman, di telingaku ia berbisik lirih:
“Wahai yang juga dalam pencarian…
Cinta Sejati itu adalah cinta yang berbuat,
Cinta Sejati itu hanya sedikit berkata,
Cinta Sejati itu tiada pernah kehabisan untuk memberi,
Cinta Sejati itu tiada pernah meminta kembali,
Cinta Sejati itu muncul beserta pengorbanan diri,
Cinta Sejati itu hadir berbalutkan ketulusan hati,
Cinta Sejati itu berwarnakan pengabdian tiada henti,
Cinta Sejati itu bernafaskan ketakwaan kepada Al-Qawi,
Cinta Sejati itu bertamengkan kepercayaan melawan yang keji,
Cinta Sejati itu berbentengkan kesetiaan kokoh abadi,
Cinta Sejati itu bermesinkan kesabaran diri,
Cinta Sejati itu bersifat melindungi bukan mengekangi,
Cinta Sejati itu tahan disakiti tapi tiada ingin menyakiti,
Cinta Sejati itu melepaskan untuk memiliki,
Cinta Sejati itu berbuahkan pengertian bukan pemaksaan,
Cinta Sejati itu berakhir dalam kecanduan bukan kebosanan,
Cinta Sejati itu membuktikan bukan menjanjikan,
Cinta Sejati itu mengalirkan perhatian tiada tertahankan,
Cinta Sejati itu menerima kekecewaan tapi tiada mau mengecewakan,
Cinta Sejati itu memberi kesempatan hidup dan berkembang,
Cinta Sejati itu menilai dengan kebesaran jiwa bukan kepicikan,
Cinta Sejati itu memutuskan dengan kebijaksanaan bukan keegoisan,
Dan Cinta Sejati itu, barangkali, sempurna terwujudkan dalam istana pernikahan.
Wahai yang juga dalam perjalanan…
Telah kuhabiskan waktu ‘tuk mengejar bayangan kebahagiaan,
Sedangkan aku tahu kebahagiaan itu bersembunyi dalam hatiku.
Ku cari dan ku jelajahi daratan-daratan indah menawan,
Sedangkan aku paham itu hanyalah persinggahan.
Akhirnya, kesedihan pada setiap perpisahan dengan mereka;
Pedih, kecewa, dan luka saat bersama mereka, terukir berkali-kali di dada ini.
Kebahagiaan sementara ketika menemukan tanah impian itu,
Hanyalah kesenangan maya menemukan buah-buahan di tengah kelaparan;
Setiap buah yang ku telan melahirkan lagi rasa lapar.
Walau aku telah diberitahu Tuhanku Yang Maha Agung
Bahwa usaha pencarianku hanya akan sia-sia
Dan bahwa akhir pengembaraanku adalah Takdir-Nya,
Kekerasan hati membutakan mataku melihat petunjuk-Nya;
Ketidak sabaran mengantarku ke dalam neraka penyesalan;
Dan ketidak patuhanku ditemani derita ketidak pastian berkepanjangan.
Kini aku telah berhenti mencari hakekat yang telah kupahami.
Walau aku pun terbakar oleh api kebijakanku sendiri,
Tapi aku bukan tamu yang tak tahu berterimakasih
Aku tak ingin menekurkan wajah-wajah gembira para pribumi itu
Dengan membangkitkan tangis pilu melepas pesona sang tamu terhormatnya.
Biarlah daratan ini menjadi persinggahan terakhirku
Karna aku pun telah menanam sebatang pohon harapan di tanah ini
Dan menunggu masa untuk memetik buah kasih abadi yang ku impi.
Namun bila prahara teka-teki Penguasa Alam memusnahkan harapan terakhirku
Dan bila ini juga ternyata bukan pelabuhan itu…, aku akan pulang,
Dan mengakhiri perjalanan panjang melelahkan tanpa hasil ini.
Alangkah baiknya bila ku perbaiki dan ku perindah pelabuhanku sendiri,
Karna aku percaya akan keadilan Sang Pencipta;
Keinsyafanku ‘tuk berangkat menuju dunia kebijaksanaan
Dan mengobati luka kedunguanku dengan ramuan introspeksi
Takkan dicampakkan Tuhanku ke dalam lemari besi ‘tidak peduli’-Nya.
Ia akan pertemukan aku dengan cinta sejatiku, sama baik atau buruknya denganku,
Suatu hari nanti….
Wahai yang masih berada dalam lingkaran kebingungan…
Ketidakadilan yang kau lempar jauh ke jurang kegelapan tak berujung,
Bagi Tuhanmu, bagaikan sebuah meteor jatuh menyala terang di malam kelam
Yang tiada pernah lupa Ia kembalikan dengan panah api Keadilan-Nya.
Benih Kesabaran yang kau tebar di ladang suburmu,
Suatu saat, akan tumbuh menjadi pohon pelindungmu dari serangan kepanasan
Karna panah api Keadilan Tuhanmu itu pun melebur menjadi pupuk Kasih Sayang.
Semoga perihnya sayatan pedang kebijaksanaanku dapat mengajarimu sesuatu.
Semoga kebodohanku tidak menimpa hari-hari mujurmu.
Semoga kekerasan hatiku tidak mengalir dalam darahmu.
Dan semoga bisa kau petik buah manis petualangan cintaku.”
Kemudian, si Pengembara Malang itu pun berlalu dari hadapanku.
Aku pun tercenung dan bersyukur kepada Rab-ku,
Betapa dalam hikmah yang Ia tunjukkan kepadaku.
Cinta memang sebuah rahasia besar Sang Maha Kuasa.
Cinta memang datang tanpa diminta, lewat dari pintu ‘tak terduga’.
Cinta sungguh sering hilang tanpa berita melalui jendela ‘tiba-tiba’.
Keanehan dan kerumitan cinta masih tetap misteri terindah-Nya.
Cinta harus hadir diiringi sahabat-sahabatnya;
Teman setia yang menghibur di kala duka
Sekaligus lawan abadi yang menyerang di suasana gembira.
Cinta memang tiada bisa hidup sendirian;
Tanpa kawan, ia merana dalam hantaman kehampaan,
Bersama mereka pun, ia tertekan dalam damainya keriaan.
Berapa banyak definisi cinta tercipta,
Dan tak terhitung pujangga menyusun kalimat untuknya,
Namun, adakah hakekat cinta itu di lidah manusia ?
Cinta yang murni itu turun dari haribaan Ilahi
Mewarnai kehambaran hidup para hamba-Nya di dunia,
Tidak peduli apakah mereka hamba setia atau durhaka-Nya.
Yang setia memeliharanya baik-baik dalam lembar rahasia hati
Memancarkan kehangatan cinta itu diam-diam dari sikap dan sorot matanya;
Ia paham, tak ada kepastian cinta di luar mahligai rumah tangga.
Yang durhaka menghadiahkan cinta itu pada kerakusan nafsunya
Tunggang langgang ia terhempas diterjang tangan-tangan kekecewaan;
Semoga suatu masa keinsyafan serupa menghinggapinya.
Dan ku teringat kembali nasib si Pengembara Malang,
Ku doakan ia menemukan pelabuhan Cinta Sejati-nya,
Ku doakan ia senantiasa teguh dalam pendirian dan keyakinannya
Dan ku doakan ia tetap tegar dalam kelembutan hatinya
Karna, yang ku tahu…
Lelaki yang baik memiliki kelembutan hati seorang wanita,
Dan wanita yang baik mempunyai keteguhan hati seorang pria.
Potret itu ! Aku belum melihat potret yang diberikannya.
Namun … alangkah kaget dan bingungnya aku, karna …
Itu adalah potret kekasihku … dan … aku ! ! !
– Hanafi
———————————-
Previously posted at http://hanafiannoy.blogs.friendster.com/my_blog/poems/index.html
Tags: karya hanafi
haha..apak dosen di sastra pak? puisi apak rancak mah. ancak apak kirim ka koran lai. dapek honor mah pak. fais tu asal tuduah se tu nyo.
iko awak agiah email koran pak. ka kompas se lah lansuang dak
atau ka postmentro…huahahaha….koran kuniang. puisi apak pasti kalua mah, puisi apa kan rancak bana ko ha. puisi apak kalua pas si sampiang berita pembunuhan, atau narkoba, maliang ayam, pemerkosaan.
tapi dak baa do pak. berbuat baik kan rancak mah pak
awak ingin kenalan juo jo apak.
pak nomor hp fais awak agiahan ka apak
085263470969
inyo kkn dakek jo tampek awak pak. tapi inyo di tampek paliang terisolir bana ko ha.
telepon lah inyo pak. pasti nan manjawek seorang cewek. iko kecek nyo:
maaf, nomor yang anda hubungi sedang terisolir. tunggulah beberapa tahun lagi. untuk meninggalkan pesan silahkan kirim surat ke kantor pos terdekat.
SILAHKAN PAK
pak…awak indak sato do pak. demi allah pak. astagfirullah….sia nan mambuek apak model iko pak? jahat-jahat orang ini. masuk neraka lah dia. iko pasti karajo brutus mah pak. insyaallah beliau si brutus tu masih tingga di pkm pak.
tapi nomor hp nyo indak tahu wak do pak.
asalamualaikum pak
masyaallah pak
allahu akbar!
apo lah karajo kalian ko. indak tamat beko, baru tau raso.
oh. maaf pak. awak indak sata do pak. awak alah tamat. ip awak 3,12 mah pak.
oi kawan-kawan
datanglah ka jambi
ambo kabaralek
PUISI APAK BURUAK!!!!!
adiak wak se ancak pado apak puisi e lai, inyo SD baru
apak dosen sastra pak??kok bisa pak??
huahahahahahahaaa…..pak dosen, asap parahan si Faiz tu waktu kompre!! kalau brutus tu ndak mungkin lai pak, nyo lah siap kompre patang huahahahahaaha…
woi, ambo nyio pai kamambaka Blog Bahaskreatif, sia ikut??
ada fitnah di limau manis kiranya…..
jika yang dimaksudkan “nurul fahmi” adalah nurul fahmy (buya) maka komentar di atas adalah fitnah !!!!
saya tidak pernah sekalipun memberi komentar dengan identitas “nurul fahmi”…dan saya tak bernah berniat membahas atau mengomentari puisi Hanafi (dosen sastra unand)…
terima kasih
kepada pihak terkait mohon dimaklumi
Nurul Fahmy (buya)
08127487288
oi….
buya…
tanggal bara kabaraleknyo…
kami datang rami2 bana ko ha… ka pucuk jambi sembilan lurah,
………….
khusus untuk buya….. kami sediakan onta guling langsung dari mekah plus air zamzam rasa mangga…
oom, azan.
jangan bersembunyi di balik batu..emangya udang..heheheh…
oom, azan.
jangan bersembunyi di balik batu..emangya udang..heheheh…
wakakakakakakakakkk
faiz yang suka njepret
komentar anda terhadap puisi hanafi begitu berlebihan
seolah-olah anda sangat mengerti dengan puisi dan teori-teori puisi kontemporer
saya sarankan anda banyak-banyak baca karya para penyair sufi
ada warna sufi dalam puisi hanafi..dan itu sah-sah saja…seperti iqbal, rumi, dan lainnya..
salam
Pak Abdul, brarti Bapak lebih ngerti dibanding Faiz???
wah…ajaib…puisinya eksotis, strukturalis, kominis, feminis, argumentatif, ekogologis….bagus sekali, pantas diberiwan nobel kesusastraan…baru sekali ini saya lihat dosen sastra yang menulis puisi begitu bagus, sekali…lebih bagus dari komentar faiz..
nah gitu donk
tukan puji, anda benar benar seorang yang sportif dan terkesan edukatif walau sedikit naif jika dibandingkan dengan sikap agresif faiz yang destruktif unstrukturalistif dan pasif sehingga komentar anda jadi sedikit aktif dan masif huehuheuueue…
bung faiz,
banyak membaca ternyata tak membuat anda sedikit menghargai sebuah perbedaan.
pengantar anda seolah-olah anda tak belajar kritik sastra yang baik–yang tentunya sangat anda kuasai. saya takut kita tidak lagi menjunjung tinggi proses belajar (terlepas apakah ia seorang dosen atau bukan) dan menjadikan blog ini tempat saling menyumpahi karya orang lain.
atau anda tak punya tesaurus yang memuat kata ‘apresiasi’ yang sama dengan tesaurus saya..
btw, fotonya bagus
tidak elok kita mempergarahkan orang kawan. nanti jalan akan ditutup oleh Tuhan. apalagi pak hanafi mendoakan yang jelek pada kalian. doa orang teraniaya lebih mabrur. berdoalah supaya tidak dikutuk jadi batu oleh pak hanafi.
Bung faiz..
anda sangat bagus memberikan sebuah apresiasi (penilaian), setidaknya dengan teori anda sendiri. Indonesia memang membutuhkan seorang pencipta teori. Jarang lho bung!!!
Namun…
anda kurang bagus untuk menampilkannya di blog ini, dan membuatnya semakin aneh.
saya tidak tahu apakah segala sesuatu yang pernah anda lakukan adalah cara anda untuk membuat wacana menjadi hangat di hampir setiap blog yang anda datangi…
anda seperti seorang yang menjangkit hero complex, berlagak seperti seseorang yang berada di balik layar untuk menghidupkan sebuah ruang dialektika.
terkait masalah puisi yang anda coba beri komentar, anda telah melahirkan sebuah asumsi bahwa anda adalah orang yang senang bermain-main dalam mengapresiasi pada bagus atau tidaknya sebuah puisi.
ayolah bung!
anda bisa berkontribusi untuk menghidupkan kritik sastra, khususnya di blog ini. seberapa remeh temehnya sebuah karya sastra, ia akan tetap bisa diapresiasi dengan indah bahkan jauh melebihi karya itu sendiri.
puisi merupakan bagian dari softskill jadi jangan terlalu di [persoalkan dan yang terpenting itu akademic, apakah adek2 mahasiswa ini sudah pernah ESQ ini??atau ikut sholat subuh berjamaah di mesjid nurul ilmi??
selamat kepada saudara Hanafi,SS. App.ling atas puisinya mudah2an saudara bisa lebih giat lagi dan bisa memberi contoh yang baik dan motifasi bagi adek2 mahasiswa !!
ih..
pak dosen puisinya panjang sekali..
gimana bisa buat sepanjang itu pak..
oi!
ijan pagarahan jo inyo lai