[Catatan atas 14 pementasan drama Sastra Inggris UNAND]
Opini: Fatris Moh. Faiz*
Burung yang untuk pertama kali lepas dari sangkar biasanya tak akan terbang dekat. Ia akan mengepak sebebas-bebasnya. Seperti hendak mengganti keterpenjeraannya selama ini.
Di Teater Tertutup Taman Budaya Sumatera Barat, 29-30 Juni 2008, barangkali itulah yang terjadi. Selama tiga hari tersebut, 14 pementasan digelar dari pagi hingga sore hari. Semua berbahasa Inggris. Tentu saja, karena acara ini bagian dari mata kuliah jurusan Sastra Inggris Unand, dan wajib diikuti semua mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Drama. Acara ini untuk pertama kalinya diusung “keluar”. Dan persiapan yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa ini tidak setengah-setengah tampaknya. Ada yang mengaku telah latihan berbulan-bulan, bermalam-malam hingga sakit, dan segala macamnya—dan semangat mereka pantas dipuji.
Di hari pertama, ada Ohio, karya Nickzabone yang bercerita tentang pola hidup hedonis anak muda yang mengalami kebuntuan. Pementasan itu menawarkan norma sebagai jalan keluar, jalan terbaik sepertinya. Sea Gull, karya anton P. Chekov yang dapat penghargaan best art (sebetulnya best artisitic) meraup apresiasi menarik dari seorang juri (baca:dosen) sebagai pementasan ter-surealis. Surealis? Ada Anthony & Cleopatra dengan kisah cinta mereka. Ada Devil Deciple karya George Barshaw yang berkisah tentang pemberontakan atas kungkungan militer di zamannya, yang satir. Juga ada The Crusible dengan segenap sihirnya yang menarik; ada bau kemenyan yang membuat penonton bergidik. Selanjutnya Medea karya Enripides yang menyetrum cinta; cinta yang mengalahkan logika. Ladies Not For Burning yang ditulis Hellen Keller, A Doll House yang membuat wanita seperti pajangan cantik.
Pada hari penghabisan, ada Twelfth Night-nya Shakespeare dengan kostum dan darah-darahan yang lebih menarik. Ada pementasan Yang Tak Terpenjarakan yang bercerita tentang Indonesia dari dua lampu, dari dua sumber cahaya, dari dua level dengan sisi yang sama. Juga ada Frankenstein yang menghibur sekaligus menggugat. Pementasan Frankenstein sendiri bercerita tentang “monster-monster” yang diciptakan ilmu pengetahuan. Kecaman-kecaman dalam dialog tentang ketakbecusan universitas dalam mendidik terlihat jelas. Walau terdengar berlebihan, namun apakah yang salah dari sebuah interpretasi, apa yang salah dari sebuah penolakan?
Menurut Freud, penolakan-penolakan intelektual bukanlah yang terburuk; orang bisa selalu mendapatkan yang terbaik dari penolakan itu. Mungkin saja benar, penolakan terhadap teori-teori ilmiah dunia pengetahuan yang kadang jauh dari kemanusiaan itu, yang telah menjadi acuan bertahun-tahun di universitas tersebut, yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa, menumbuhkan semangat mencipta tanpa dibebani teori-teori yang lebih sering mematahkan itu.
Jika diamati sepenuhnya, separuh dari 14 pementasan terlihat utuh dan pesan yang diusungnya pun “sampai” pada penonton. Penonton ikut terhibur, ikut berpikir tanpa harus mengerutkan dahi oleh sebab setting panggung yang berantakan, tidak hapal naskah, atau masalah teknis lainnya. Sebagian lagi terlihat seperti baru sebatas meraba-raba. Mencoba meraba-raba panggung, meraba-raba keaktoran, meraba-raba dalam gelap ketakmengertian, meraba-raba teater. Hal ini terlihat jelas dari beberapa pementasan. Seperti pementasan dengan kostum yang ingin “mewakili zamannya”, namun terlihat canggung di atas panggung. Dari blocking, pola gerak yang cendrung amburadul, juga pergantian set yang terlalu banyak hingga mengganggu konsentrasi penonton yang jenuh. Seluruh dialog, semua adegan, dalam naskah Shakesphare itu dicoba ditampilkan, dipaksakan untuk tampil. “Sebuah pementasan harus punya sutradara, “ kata S Metron suatu kali saat memberikan wejangan tentang teater di Sukarami, Solok. Nah, di beberapa pementasan terlihat jelas kerja sutradara yang minim. Barangkali juga masih meraba-raba panggung dengan pengetahuan acting sinetron.
Dalam hal interpretasi teks, sebagian besar dari 14 kelompok yang mentas, terlihat sangat gagap. Gagap akan arah interpretasi dari sebuah teks. Bahkan teks cenderung dimamah secara mentah-mentah. Dan bahkan lagi, ada yang hanya apa adanya. Benar-benar apa adanya dan benar-benar dapat mendali. Sebuah drama yang dipentaskan—sebut saja teater—tentunya hasil dari kerja kolektif yang menutut kejelian dalam menginterpretasikan naskah, pembentukan karakter, serapan musik, penguasaan properti dan sebagainya. Juga ada sense of drama yang mestinya “digarap” secara serius dan halus. Kesemuanya itu seakan lenyap dari penampilan sebagian group. Interpretasi naskah yang tak ada, karakter yang tak terbangun, dan properti (yang seharusnya hasil kreasi) malah menutupi pola permainan aktor dan yang lebih parahnya: properti yang kaku dan verbal itu malah memakan dana jutaan rupiah.
***
Saya percaya, kesenian tidak mesti membuat orang pintar dan cerdas. Saya juga percaya, kesenian mampu menjadikan hati manusia lebih halus dan perasa. Apalagi seni teater khususnya. Menjadikan manusia mengerti tedeng-aling, memahami kesedihan sesamanya. Peka terhadap penderitaan manusia yang lain. Kesenian barangkali bisa juga dijadikan media pendewasaan pikiran, pembentukan moral dan prilaku. Menjadikan emosi terkontrol dan tidak cepat marah. Setidaknya “memanusiakan” manusia. Namun ada yang ironis (mengutip dialog Frankenstein yang diadaptasi dari novel Mary Shelley) : ilmu pengetahuan, dunia ilmiah, does not talk about feeling tak sanggup berbuat apa-apa tentang itu.
Sebagai sebuah lembaga ilmupengetahuan, ‘Sastra Inggris telah keluar dari sangkar’. Ungkapan itu tidak berlebihan—setidaknya. Sangkar drama, barangkali, yang selama ini mengikat bahwa hanya naskah klasik yang dapat tempat untuk dipentaskan, atau sangkar kebebasan untuk mementaskan operet di tahun 2007 silam. Yang lain tak. Tak boleh begitu, yang boleh begini, harus begini, tak boleh begitu. Atau sangkar ilmiah yang, oleh beberapa kalangan, dianggap memenjarakan kebebasan ber-ekspresi dan berkreasi. Atau malah sangkar yang lain—yang oleh Adriyetti Amir, dekan Fakultas Sastra Unand, diumpamakan sebagai tempurung. Benarkah selama ini Sastra Inggris Unand berada dalam tempurung?
Sang Dekan tentu tak keliru. “Tempurung” toh hanya sebuah metafora.
***
Akhirnya, juri pun mengakhiri penilaian, dengan nilai-nilai tentunya. Ada yang menang, dan tentu ada yang tidak kalah mau kalah. Itu wajar. Ada yang terpuaskan, tentu ada yang lebih dipuaskan. Bukankah dalam berkesenian semua layak jadi pemenang? Bukankah menang bukan tujuan dalam berkesenian? Namun, dalam mengapresiasi sebuah pementasan, juri seperti kewalahan memberi komentar dan hanya sanggup mengkritik (baca: memuji) dengan kalimat yang hampir sama pada tiap pementasan berakhir. Dalam hal ini, tergambar kalau juri kurang pengetahuan yang up to date tentang drama, tentang teater. Bahkan mungkin lebih jauh: tak mau tahu tentang dunia sastra dan kesenian hari ini. “Serahkan sesuatu pada ahlinya,” kata Muhammad s.a.w berabad-abad silam. Muhammad tentu tak mengecam sebagaimana monster-monster ilmu pengetahuan dalam cerita Frankenstein.
* Fatris Mohammad Faiz, mahasiswa fakultas Sastra UNAND, sedang akan melaksanakan KKN di Payakumbuh. Selain menulis lepas dan wartawan foto, juga sebagai pekerja teater.
SUMBER: padangekspress. Rubrik budaya.tanggalnyo lupo. Atau cari aja di padang ekspres.com




TATA…!!!!!!
foto mu keren,
arif juga keren,
justin paling keren
wakakakaaaa…..
ah..setahu saya dunia hanya selebar sangkar..
Apakah sastra inggris memang selalu begitu ya?
yth. ketua pemudi
walaupun menurut anda dunia hanya selebar sangkar, tapi banyak keindahan di dalamnya…
apakah anda tau itu..????
ma foto yang lain Tn.Redaktur (sementara)
to: palangpintu rumah…
“Apakah rumah juga termasuk sangkar?”
To bung Faiz…
Yo lah jadi penulis handal rubrik budaya kini rekan ko mah
selamat terus menulis
judulnya mengingatkan saya pada burung bapak yang di dalam sangkar…
mungkinkah burung yang di dalam sangkar juga ingin keluar?
@palang pintu rumah
saya belom tau, seindah apakah, anda mau menunjukkan pada saya?
botak memang suka bikin swensasi dengan sangkar. dia mau mendirikan yayasan sangkar nabi luth untuk menampung peminat tubuhnya yang lebih “berbobot” dari kayu arang
hehehe..walaupun demikian SASING telah cukup banyak perkembangan mata kulian dramanya, mulai pakai panggung pertunjukan, mulai pakai sutradara(bahkan dari aktor2 bersertifikat yang dibayar puluhan juta :p), mengontrak musisi2 handal untuk mengisi musik, memakai properti jutaan rupiah, sepertinya ada alasan yang cukup jika para aktor2 bersertifikat lulusan SASING bersedia mencarikan wadah untuk mengarahkan potensi2 muda yang bersemangat itu, tidak hanya mengibarkan bendera PROYEK sekali setahun hueheueue…tapi jika pementasan tahun ini dijadikan balas dendam pementasan tahun lalu, saya pikir cukup membahagiakan hasilnya. sayang para dosen tetap ngangak!!pakak!! hidup anak 05!!! dan selamat KKN semoga dapek dikampuang2, indak saroman ambo dulu dapek di kota, tukang ojek se sasrjana teknik UGM, pakaw den sek eee!!
to :kudil
kenapa anda mengatakan saya suka bikin sensasi?
ah, saya rasa anda sudah……
atau terlalu banyak…….
to :febri diansyah
menurut saya rumah bisa jadi sangkar, tentu saja dalam kondisi kalau saja kita dihadapkan pada rumah yang tidak memberikan kebebasan kepada penghuninya.tapi batas kebebebasan itu sendiri menurut saya berbeda-beda diantara setiap rumah….
begitulah, mohon pencerahannya…,
selamat untuk faiz, yang telah dilantik menjadi mamak “y”,
mamak kapalo kaum di jorong kociak, nagari sijutuh godang, payakumbuah.