(catatan atas pementasan Zona X)
Opini: Fatris Moh. Faiz
Mereka datang jauh dari Padangpanjang. Disambut hujan, mereka seperti mengingatkan kita kembali tentang segala keruwetan hidup yang tak menentu. Tentang kecemasan pada kota yang akan tenggelam, atau kemurungan-kemurungan yang bisa muncul tiba-tiba. Dalam guyur hujan, semua itu serba mungkin.
Rabu, 28 Mei, dengan cahaya temaram, dikelilingi lebih dari seratus penonton, pementasan teater itu digelar di laga-laga Taman Budaya Sumatera Barat. Seseorang menari, mungkin hanya bergerak-gerak, seakan menggambarkan sebuah proses kelahiran. Di satu sudut panggung, dengan level yang lebih tinggi, seorang lain yang berkain putih masuk. Sikapnya hati-hati sekali, seperti malaikat yang menjaga sebuah kelahiran dari satu tempat lebih tinggi, lebih terpuji. Mereka berdua terus bergerak, barangkali mencari identitasnya masing-masing. Entah sebagai penjaga atau sebagai manusia yang terus-menerus dijaga.
Gerak yang ditampilkan aktor-aktor STSI Padangpanjang itu, menurut Sutradara Afrizal Harun, berakar dari gerak Uluambek. Uluambek, menurut beberapa literatur, merupakan tradisi religi yang menggambarkan pencaharian, zikir, juga penyerahan diri pada Tuhan. Seseorang yang melakukan ritual itu, seakan tidak mengenal lagi siapa dirinya dan kadang mengeluarkan hentakan kaki yang takharmoni. Hentakan kaki ini merupakan lakuan yang tak disadari dari seseorang yang melaksanakan ritual tersebut. Kesenian melirik lakuan dan hentakan kaki itu dan menjadikannya gerak tari yang dibuat lebih harmoni. Uluambek lebih dikenal sebagai tradisi religi masyarakat pesisir Minangkabau.
Tak berapa lama, mereka berdua diintai beberapa aktor lainnya yang berlaku layaknya si Angkaramurka. Si Angkaramurka dengan bentuk yang kaku, dengan wajah yang kaku, dan tentunya dengan kelakuan yang kaku: mesin. Si Ankaramurka yang diam-diam masuk ke panggung itu disimbolkan dengan gerak, pergelangan tangan ditekuk seperti macan hendak mencakar mangsanya. Di sinilah persoalan terjadi. Sang Malaikat, yang diibaratkan sebagai penjaga itu hilang. Lenyap dengan gerak lurus ke luar panggung. Barangkali sama seperti apa yang ditakutkan malaikat lainnya ribuan tahun silam saat Tuhan akan menciptakan manusia. “…adakah engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah…” Al-Quran mencatat perkataan malaikat ribuan tahun silam itu.
Tinggallah si manusia tanpa penjaga.
Sepeninggal malaikat, delapan pemain itu jadi liar dihempaskan oleh si Angkaramurka, si Mesin yang diciptakan sendiri oleh manusia. Gerak mereka seperti hendak menikam apa saja di dekatnya. Mereka telah cukup kehilangan intipati jiwa sebagai manusia, sepertinya. Manusia yang disepakati oleh beberapa agama di dunia sebagai makhluk pilihan dan memiliki tempat mulia. Tapi mereka telah kehilangan semua itu. Manusia yang kehilangan imbuhan. Semua tergantikan mesin.
Tak salah bila ada kelompok tertentu yang menolak mesin, dan mereka lebih cenderung bepergian dengan sepeda atau berjalan kaki. Mereka jauh dari kebisingan TV, asap knalpot, juga pabrik-pabrik. Barangkali banyak hal yang dapat kita pelajari dari komunitas yang lebih banyak tersisih di pinggiran kota—juga disisihkan sebagai ajaran yang “tidak-sama-dengan-kita”—ini.
“Mesin” Kata itu seakan luput dari ingatan kita di kurun waktu sekarang. Pemanasan global, semburan lumpur, banjir, dan segala kesemrawutan lain yang kita sebut bencana; bukankah berawal dari mesin? Juga keserakahan, tentunya.
***
Kembali ke panggung. Sepeninggal aktor berpakaian putih, mereka tak lagi mempersoalkan identitas sebagaimana alasan mereka terlahir. Bukankah identitas juga yang telah merenggut banyak nyawa? Mereka tambah liar. Musik berdentum, dan gambar-gambar dari siluet itu bergantayangan. Begitu banyak yang ditampilkan siluet itu: orang-orang yang kena radioaktif akibat perang, barisan serdadu, kematian, dan entah apalagi. Babak akhir dari tiga babak Zona X ini terlihat sedikit meneror nurani kita. Babak yang seakan mengajak kita “kembali-menjadi-manusia”.
Mereka masih terus mencari jalan keluar, keluar dari sengkarut persoalan. Di panggung dengan cahaya dominan merah itu mereka menemukan air. Air yang juga merah. Semua berebut untuk mandi, seperti merebut untuk mendapatkan wahyu yang datang dari langit. Wahyu yang berwarna merah, sebagaimana darah. Wahyu yang tak kalah berbahayanya. Wahyu yang membuat sebagian orang berperang atas nama Tuhan, membunuh atas nama kata Yang Maha Suci itu.
Akhirnya mereka mandi juga. Sesuara, mungkin musik, masuk dan mengusik. …so now you do what they told ya… Rage Against The Machine, kelompok musik dari Barat sana juga ikut mengingatkan. “Killing In The Name”mengalun… Those who died are justified, for wearing the badge aku rela melakukan apapun kecuali untuk membunuh… dan mereka mandi dengan air yang jatuh dari atas itu, dengan wahyu itu.
***
Apa yang diusung pementasan ini bisa benar, tetapi juga bisa keliru. Yang datang dari atas butuh tafsir manusia yang di bawah. Maka yang menentukan bukan apa yang datang dari atas, tetapi ketetapan manusia menafsir yang datang itu. Dan tafsir, selalu tak bisa utuh. Itulah kenapa manusia tak bisa sepenuhnya kembali. Sekali pun setiap saat selalu ada titik-titik air yang jatuh dari atas. Tetapi selamanya, titik-titik itu tak selalu menyegarkan.
Zona X, zona yang berbahaya. Wilayah di mana manusia-manusia bergerak liar tak terkendali. Mungkin sebuah peradaban yang berantakan karena pencemaran, limbah, lumpur, kabut asap. Di tengah kekacau-balauan itu, pementasan ini seakan menyorakkan, “kembali-jadi-manusia” berarti kembali kepada langit.
Anjuran itu tak sepenuhnya tepat. “Kembali-jadi-manusia” tidak sepenuhnya berarti kembali kepada langit. Ketika Tuhan memisahkan manusia dari-Nya, menggelincirkan manusia ke dunia, maka identitas kemanusiaan ditandai oleh kemampuan manusia mengenali dan menyebutkan nama benda-benda. Dengan bekal itu, manusia diberi hak menentukan hidupnya sendiri.
Tetapi Tuhan kadang hadir ketika manusia sudah tak berdaya. Dan pementasan pun usai. Gerimis di luar panggung telah reda.
Fatris Mohammad Faiz. Sedang menyelesaikan studi di Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang.

wah… soal film….. ada tuh banyak….. cuma mau tahu aja kan…? tapi menurutku sih… si Yoso itu masih jauh lebih dahsyat nontonnya….
kayaknya yang layak kamu tonton ada film
‘No Country for Old Man’ garapan Koen Kembar…. asyik deh… gila2 gitu… penuh intrik bnget…
Atau film lama… tapi aku masih terkenang dengan film itu…..ya itung-itung kan mau jadi Bapak juga akhirnya…. bagi anak-anak masa depan kita yang belum jelas juga///
udah nonton ini: Persut of Happiness, bintangnya Will Smith
sip…
salam hangat Faiz…
Saya suka dengan Santen-Santen di situ… hahahahaha
tulisanmu seperti petir…. bung
Faiz,
kami ingatkan Sutan sekali lagi.
Hati-hati dalam menafsir. Apalagi jika Sutan menghubungkannya ke dalam konteks keagamaan pula. Kami cemas Sutan akan mengalami nasib tragis.
Kami sudah merasakan sendiri betapa ganasnya para Pidari itu terhadap orang-orang yang pemahamannya berada di luar mereka.
Jika Sutan hendak tahu, istana kami mereka yang membakar, Mamak dan kemenakan kami mereka yang membunuhi. Istri, ibu, dan anak-anak gadis kami mereka yang mencabik-cabik.
Kami katakan, hati-hati saja, Sutan.
Sutan sudah di luar mainstream.
Sutan bisa dipancung!
apa pula yang terjadi dengan “deus ex machina” ini? kita diisolasi, seakan mati. seharusnya liukan-liukan itu lebih sensitif, berada di batas ekuilibrium yang rentan terhadap perubahan. hanya euforia buah sensasi yang serba aneh, pembacaan yang dangkal terhadap evolusi. para aktor itu sama sekali tidak diskursif, aku menyesali itu. barangkali secara sederhana bisa dilihat bagaimana beberapa orang aktor “ketahuan” memakai “jurus” yang sama. waktu menonton, saudara arif dari ruang sempit sudah benar-benar “sasak angok” menunggu pembaruan. ternyata nonsens! tiga pementasan, satu jurus! apa sudah beku oleh dinginnya negeri di pinggang gunung?
ulu ambek, lalu ambek, lulua lambek, alua umbek, hayo….yang mana yang mau dimuntahkan.
ba’a kok layang maco lo nan maenggak ko!?
si nan bana, telunjuk itu menggapai-gapainya, bahkan afandipun memaknai kuas jarinya untuk mengejawantahkan itu.ketika tuhan harus aktual, tuhan harus…..
lalu bebunyi yang menjadi hak milik setiap materi, asal punya massa mesti punya bunyi. itu tak pernah di arifi. bunyi dibuat serba salah, hanya tumbal bagi lobang sunyi, tertuang dicawan tiris! ini tidak adil baginya. dia itu tubuhmu!
ayo boy!
jawab boy!
jawab!
alah sabulan tupai mamanjek,
alah satahun salodang jatuah,
panjek kapucuak buai-buai
jatuah kapangka nan nyo tongga
alun ka pinang namonyo lai
alah bacan denai mangecek
urak-urai mariah sabuah
panek mancucuak jo mausai
pasak babiak di nan tangga
alun tagak alah tajulai
namun samantang itu dibaco
karuah aie di pasa usang
karuahnyo sampai ka katapiang
pitaruah kami usah di pasang
pitaruahnyo nyao nan sakapiang
jiko bak nan ko alek rang mudo
pamenan anak di nagari
raso ka ilang sakijok sajo
ndak katahan, bak merah sago
alah kajaleh dek tuan nan tu?
Vallent,
orang ingin agar tulisannya dimengerti pembaca, biar bisa sampai apa yang dimaksudkannya, Sutan malah memperkeruhnya dengan istilah-istilah yang tak karuan pula penempatannya. Sudah tak jaman, tingkat intelektual seseorang diukur dari berapa banyak dia menggunakan kata-kata sulit, Sutan!
tapi kalau dipikir-pikir, analis Sutan mengenai pementasan itu boleh juga.
iyo bana tu Sutan, urang dari pinggang marapi tu, iyo itu ka itu se tampaknya jurus nan nyo pakai. jurus tajilantang patah tigo, jurus urang sawan, jurus ayam diakuak, jurus….
mini kata nan indak jelah konsep!
hehehe,
lama-lama lah bentuk ruang sempit nampak dek saya rumah teduh ini mah.
dasar urang minang, paliang hebat kalau mangecek (logat JAWA)
ba kecek kawan dedy arsya: sederhana. belajar sederhana kawan!
hahahahah….
oi vallent, malejen wak lai?
denai kan baru kursus bahaso barek ko. kok salah denai jo caro bak nantun, minta maaf ka legaran nan sabalik. arok dek tuah nan kalabiahan, urang subalah ndak dipatenggang. sakik paru-paru kironyo sanak ko mandangakan. sakali lai denai minta maaf. tapi untuak paubek luko, eloklah pakai takok taki denai ko, bilo dunsanak duduak bosan digalanggang lejen:
ba’a kok dingin kota urang tu?
jawek : bia lamak ma **yesssssss
wakakakakakakakak
kaganti langkan baraja lo dek denai nan ijau pucek ko, elok tuan sampaikan penempatan nan salah tu, dima kironyo. nan jaleh, denai lai barusaho manjago tampeknyo. tapi kok ndak sampai nan di makasuik, yo denai baliak-baliak utak dari siko kaateh….