BUAT SAUDARA(I) BER-ID NOVRA:
BEBERAPA HARI LALU SAUDARA SEPERTI MENGECAM REDAKSI RUMAHTEDUH. KAMI KUTIP…
1
Kepada tuan redaktur yang terhormat, sampai saat ini saya belum menerima honor respon saya yang kesepuluh, mohon dicek lagi. Terima kasih
HONOR RESPON? kami tak pernah memberi honor kepada tiap respon(den).
2
kepada tuan redaktur yang terhormat, jadi bagaimana solusinya, apa perlu saya ulang mengetik nomor rekening saya disini. Terima kasih
DAN SEBELUMNYA SAUDARA (i) TELAH MENGIRIMKAN NOMOR REKENING KEPADA KAMI. HONOR APA YANG SAUDARA MAKSUD? SEDANG KAMI TAK PERNAH MEMPUBLIKASIKAN TULISAN SAUDARA, JUGA KAMI TAK PERNAH MENERIMA KIRIMAN TULSIAN DARI SAUDARA.
SEANDAINYA SAUDARA MENGIRIM TULISAN KEPADA KAMI, DAN LAYAK TERBIT DI MEDIA (BACA: BLOG) RUMAHTEDUH INI, MAKA SAUDARA MEMANG LAYAK MENERIMA HONOUR DARI KAMI.
NAMUN, MENGENAI HONOR YANG SAUDARA MAKSUD, KAMI MEMANG TIDAK PAHAM. HARAP SAUDARA MENGKLASIFIKASIKANNYA LEBIH JELAS. SEANDAINYA RESPON YANG SAUDARA TAMPILKAN LAYAK KAMI BERI HONOR, KAMI AKAN DISKUSIKAN HAL INI DENGAN PENANGGUNG JAWAB RUBRIK-RUBRIK TERLEBIH DAHULU.
TERIMAKASIH
REDAKTUR
Nak, jangan minta honor sama blog ini ya…
kamu jangan gitu, ntar kepalamu tambah sulah disumpahin orang rumahteduh, kamu mau disumpahin?
nah jadi anak baik aja ya…..
kamu cukup urus skripsimu…..
cukup urus kekasihmu…
cucuku yang baik hati, suka berteori….
berhentilah mengemis sama blog ini, tak baik, kita sudah kaya..
jangan minta sama orang lain cucuku…
ingat nama baik Dinasti Kapsul….
nah gitchu…
kalau semua org yg berkomentr di sini meminta imbalan dimana letak keteduhan hatinya. memasuki rmh yg teduh diawali dari hati masing2 saudaraku.
hahahah..ternyata seseorang yang ber-ID novra itu memang mudah terprovokasi dan sangat tidak memahami permainan kata-kata dan bahasa sehingga selain menarik untuk dipermainkan juga mudah di…… hahahahah..semoga saja dia juga “bergurau” soal Honor yang dituntut ke redaksi. Ketua Pemuda memang benAR si novra sangat lucu melebihi komedian manapun di Indonesia, mungkin bisa disetarakan dengan Mr. Bean huhashahaahhaahah…HIDUP SASTRA hahahahahahahahahahahahahahahahahahahah…..
dia terlalu “serius” untuk bermain-main di Rumah ini
knpa tidak ada yang mau memberikan honor saudara/i nova, bukankah blog kita ini kaya, buktinya saya saja penelitian ke Jakarta dan Bandung dibiayai blog.
kita harus memberikan hak orang
waduh…
saya bukan minta honor lho….
jangan salah saya hanya ingin bocor,
soalnya dah gak tahan lagi ne…
ada yang tau gak dimana WC-nya…
wuahuahauaaha…
sekalian ama gaji 13 nya
jangan sampe lupa bung novra
kata redaktur blog bulan ini keluar tuh…
betul ya pak red…
Honor itu apa ya?
apa hubungannya dengan “horor” atau…
kompor?
hmm….
saya rasa honor itu sejenis lawakan pak febri. kan banyak kita lihat di TV acara acara honor yang dilakoni eko patrio dan komeng
oooo gt ya….
berarti itu yang dimaksud oleh…siapa tadi…hmm..ya “seseorang dengan ID NOVRA”…
terimakasih…
atau, jgn2 honor itu sejenis pakaian…
yg imut itu…
yaaang….tuan antek pakai itu, hihihi2
iya dak?
ada-ada aja bung Novra memang…
mungkin punya nya yang lama dah sobek
hahhaha…saya masih pake yg dari sebangsa bambu itu lho pak febri. bung novra itu kaya nya butuh bgt yang namanya honor itu buat beli honornya yg udah sobek
pasti sobeknya di bagian yang ada bambunya…
hua hua hua…
jd gokil nih……
padahal aku sedang bicara dengan antek-antek ketua pemuda yang rapi…
btw..yang rapi ketua pemudanya atau antek-anteknya?
hmmm…
oh ya bung novra..
kalau benar dah sobek honornya, tuh pinjam aja punya pak antek-antek itu…pasti dia punya cadangan banyak…tinggal isi bensinya aja…
mo pulang kampung toh?
pake helm kan?
haha2
Kebetulan yang punya usaha “Rapi Photo/Flora/Music n Recording” itu bapaknya si ketua pemuda. saya hanya antek-antek-nya ketua pemuda
Febridiansyah,
Sutan sebaiknya belajar adat agak sedikit.
Antek-antek ketua pemuda,
Sutan iyolah sabana bodoh!
manolo adoh urang minang nan namuah jadi antek-antek urang.
febri ko iyo dak stek alah jo doh
antah apo apo se komentar nan dilayangan ‘e.
masalah honor nyo hubung2an lo jo kompor, jo horor.
nan iyo iyo se lah Sutan!
kalau lah ilang aka, lah abieh kato, lah saminggu dak mambaco, jan lah masuak juo lai ka blog ko. caliek se lah urang-urang di dalam ko basitagang, baco se komentar urang-urang tu. ko tagie-tagie ka maagieh komentar se. nan berbobot lah stek komentar tu.
hahaha
oi, pengelola blog,
agieh lah honor urang tu
ba’a ko?
novra, mintak taruih !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
hahahahah…angku lai bangsawan tapi andia, minang ko lah barubah. indak co saisuak lai doh (antah baa lo jaman dulu minang ko hahahahaha). angku yo lah masak kanai ota dek Tambo ko mah
untuak febri:
Angku boco mah hahahahaha
Antek-antek ketua pemuda,
meskipun minangkabau telah berubah
Sutan tetap saja tidak berubah-berubah
tetap PANDIR!
mau jadi antek-antek orang.
ketua pemuda pula yang diantek-anteki
kalau masih mau jadi antek-antek orang
carilah induk semang yang “agak” sedikit.
awak yo batanyo ka bangsawan pagaruyuang ciek a.
pagaruyuang tu ado yo?
kalau iyo, ado bangsawan gai?
terima kasih banyak sebelumnya!
hahahaha…Bung bangsawan, bung memang pandai sekali meramaikan suasana hahahaha…agiaaa taruiihhh…
Kopral Cipaik, pagaruyuang tu namo nagari di Sangka, ado gai rumah gadangnyo. jaleh-jaleh lah batanyo tu, pagaruyuang yang ma yang batanyoan??
ibu pagi petai dipetik
kawah hindu intip di benua padam landam
aku buku merek kemana Jalinan
imbuh tak tikus titik dibawa
ibu pagi petai dipetik
bau kemarau hujan matahari ilalang
tolong cabut…
tolong…
we…… lah……..
we…….lah……..
oiiiiii
kalo model iko taruih capek kayo lah waang,,,,
komentar kok bayar,,,,,,,,,,,,,,
kalo dak bapitih kecean,,,,,,,,
bisa lho, waang ngamen atau mengemis……
he…………………..
he,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
he””””””””””””””””’
Maaf, inyiek Novra
siapa yang inyiek per’waang’kan?
berjelas-jelaslah sedikit.
di wilayah kekuasaan saya ini orang sekecil apa pun punya nama, kalau sudah agak besar sedikit diberi gelar.
Maksud komentar Inyiek juga tidak jelas.
ke mana hendak menanduk, ke mana hendak hinggap.
tak jelas.
kata berkias, Nyiek, kata bamato banyak.
kata-kata Inyiek, kata rabun-buta
Semoga Inyiek dapat uang untuk pergi berobat.
Kopralcipaik,
itulah, jadi kopral juga. kepala terbentur terus,
habis napas karena disuruh berlari sepanjang hari.
hormat ke hormat saja kerja
makanya tak tahu apa-apa.
saya sarankan Kopral berhenti sajalah jadi Kopral.
membuat gaduh saja jadi kopral itu.
atau mau Sutan saya tawarkan kerja,
memberi makan dan minum kuda?
Vallent ini apa pula yang ditulisnya?
generasi kita ini memang absurd semua
ketua pemuda gila ke terkekeh-kekeh saja sejak dari kemarin.
ondeh inyiak ko……enggak puluik enggak inyiak mah. lah sapuntaran banang baguluang, layang limeh nan bapaturuikkan. ndak manganai garah inyiak doh. kok bapantang dek inyiak main perai-peraian, kok maha bana ilmu inyiak tu, elok dibuek sksnyo. usulan ka biro bia dijadian sabagai mato kuliah sp, gadang cakaknyo. adiak-adiak mahasiswa ko yo sadang kayo. untuak ka informasi bakeh inyiak, urangko dapek dana dari pertamina cabang sumaniak mah. kok inyiak ka mamintak juo, kana gunonyo? kapambali tanah saunjua tu? lah kalihia angok rasoe?
ckckck…yo salut awak baco komen Bangsawan Pagaruyung ko ha..
komentar yang sangat berbobot…
ckckck…
orang yang paliang tau adat…
dan, yang merasa paling benar…
hua hua hua hua…
jarang2 wak temukan urang co iko…
luar biasa…
ha..tapuak tangan stek ha…
buat bangsawan pagaruyung.
anda telah memakai identitas blog saya untuk komen. sebagai bangsawan anda tentunya bukan seorang pengecut, bukan?
salam
fais
oya, bung febri…salam
aku kangen kamu….bung…haha…
kapan ke padang, katanya juni ya…
aku tunggu
salam
Febridiansyah,
Orang yang kehabisan akal untuk membantah cendrung berbicara seperti Sutan.
Untuk Sutan tahu, tak ada kalimat saya yang mengatakan seperti itu. Komentar Sutan, komentar dari seorang cerdik-cendikia dalam pemerintahan diktator. Ingin membantah, tetapi terhimpit lidah.
Ayo Sutan, beragumenlah dengan lebih baik. Jangan sesalkan apa yang disampaikan oranglain, tetapi carilah bantahannya Sutan. Ah, seperti mengajari Sutan pula saja jadinya.
faiz, di dunia maya tak ada hak milik. apalagi blog yang Sutan tak sata membayar pula. Gratis gitu loh
nan si novra ko indak nampak-nampak lai batang iduangnyo hahaha…
Semakin salut awak jo Tuan Bangsawan Pagaruyung…
yang mengukur intelektualitas orang lain dengan…hmmm…
luar biasa…
begini saja, bagaimana kalau bung susun sebuah tulisan di blog ini..agar kecerdasan dan kecendikiawanan bung bisa dibagi dengan yang lainnya…
dari banyak waktu yang ku temui, sepertinya bung kok mengarah pada tukang marah-marah saja…
hahaha2…
nyinyia mah, kecek urang sa isuak…
tertarik untuk menulis?
atau sekedar nenek yang cerewet…?
hehe2
–
Faiz…
hehe2
susah juo awak mah menanggapi urang sampik aka yang mangaku paliang bana..
Juni, jika tidak ada halangan ambo ka Padang.
Satu rencana kecil dibalik perjalanan dari medan, mungkin.
salam.
Febridiansyah yang baik,
kentut jangan ditahan, nanti sakit perut!
Sutan,
bagaimana mungkin seorang calon advokat seperti Sutan, yang dibesarkan kemeriahan ilmu pengetahuan pulau seberang, menafisrkan pendapat oranglain seperti “alang ditampa layang-layang”?
“Sempit akal”, bagaimana kata itu Sutan simpulkan sebagai pilihan kata yang tepat untuk menilai pendapat oranglain yang berbeda dengan Sutan? Saya yang awalnya mengagumi Sutan, jadi tak habis pikir. Penyakit apa yang Sutan derita hingga membuat pikiran Sutan menjadi seperti ini?
Febridiansyah si perantau yang berhasil,
mungkin karena terlalu lama di rantau, Sutan jadi tak bisa membedakan, antara mana bahasa orang yang sedang marah-marah dan mana bahasa sindiran. Bagaimana bahasa orang nyinyir dan apa pula itu bahasa-bahasa berang, Sutan tampaknya menyamaratakannya saja. Jika Sutan nanti pulang ke Padang, dan singgah di UNAND, berlama-lamalah duduk di lapau UNIANG! Sebaiknya ketika itu Sutan juga membawa buku catatan untuk mencatat apa-apa yang penting dari pengamatan Sutan untuk Sutan bawa ke pulau seberang nantinya.
Oya, tawaran Sutan untuk menyuruh saya menulis di blog ini bagus juga. Tetapi sebelum itu, saya lihat, tak satu pun tulisan Sutan tampaknya yang dimuat di blog ini? Apakah Sutan menganggap blog ini tak pantas untuk tulisan Sutan yang berlevel nasional? Atau… karena Pak Redaktur blog tak mau meloloskan satu pun tulisan Sutan di blog ini?
salam
BERITA PANGGILAN
kepada NOVRA harap segera menghadap ke kantor redaksi.
kabarnya, honor Anda akan diberikan paling lambat sebelum habis pekan ini. Saya harap Anda jangan berkecil hati atas keterlambatan itu,. ya, maklum sajalah. saya juga pernah diperlakukan seperti yang Anda alami sekarang ini, oleh awak-awak redaksi blog ini. Padahal mengenai honor kan kewajiban mereka, hak kita ya?
selamat ya!
bung bangsawan pagaruyung…
saya tunggu tulisannya ya
tentang tulisan saya..
mungkin karena tidak akan memenuhi standar blog yang dikelola teman-teman ini…
tentu bung yang sering di lapau uniang yang paling paham…
–
Dan, oh ya,
baru saja saya terkentut…
hahaha2…
–
Satu hal,
buang saja semua kegaguman itu, bung. Karena tidak akan berguna bagi siapapun…
cobalah buktikan karya bung, dan baru bicara…

bisa jadi saya akan jadi salah satu pembaca setia bung…
hehe2
jadi dak sabaran lo awak mah…
saya faiz…
dengan ini menyatakan bahwa saya bukan bangsawan pagaruyung yang pengecut dengan identitas….
haha…tapi ia mengatasnamakan blog saya..dan anehnya..di atas nomor 38 ia mengatas namakan nilna …haha…kasihan
anak sma dijadikan tumbal…haha
di nomor 34.pada sang bangsawan memakai identitas blog saya..hingga banyak orang yang mengecam saya tadi pagi. ada lewat sms, telepon, juga lewat email…jadi dengan ini saya menyatakan bahwa saya bukan bangsawan pegaruyung. sebab..juka saya masuk dari blog saya, maka foto saya akan keluar…hehe..ketahuan…kalau saya cakep…
salam buat febridiansyah…
saya harusnya banyak belajar dan diskusi hukum dengan anda..semoga kita jumpa di padang…
aku tunggu
salam.
hahah..semuanya lucu…..
bangsawan…dan febri diansyah…ayo..apapun tulisan kalian akan dimuat hukum politik budaya. atau apasaja…sepertinya yang saya liat begito….asal berguna…
ayo…semuanya…saya..dan juga teman-teman yang sering berkunjung ke blog ini menunggu tulisan kalian…
oya, bung valent dah lama gak muncul
kemene aje (gaya ketua pemuda)
bangsawan pagaruyuang anda semakin seksi saja!
tapi janganlah tuan suruh saya mengurus kuda, saya juga tidak ingin menjadi si Midun walaupun saya melihat tuan tak beda jauh dari si Kacak. bangsawan memang harus seperti itu bung. anda telah berhasil memerankannya.
nah,
saya lagi belajar tentang adat dari blog ini. walaupun sedikit dari kesoktahuan pendatang -pendatang disini. semuanya berawal dari kesoktahuan bukan?
kalau begitu,
pertanyaannya saya ulang, APAKAH KERAJAAN PAGARUYUNG ITU ADA?
terimakasih Zonia (bung,nona)
untuk bung bangsawan pagaruyung yang mengerti adat, saya mengharapkan jawaban dari anda. mudah2an jawaban anda membantah hipotesis sejarahwan yang menganggap keberadaan kerajaan pagaruyuang tak lebih dari konvensi-konvensi oknum2 tertentu, termasuk pelaku adat.
kalau tak bersedia mengurus kuda, saya punya tawaran lain untuk Sutan, teknisi terompah bendi. bagaimana? bayarannya lebih lumayan dari tawaran saya sebelumnya.
Pagaruyung ada di mana-mana, Sutan! Baik di luhak dan di rantau! Jika Sutan kemudian balik bertanya, saya bangsawannya Pagaruyung yang mana? Silahkan Sutan pikir-pikir sendiri.
aduh…


bung Faiz yang baik,
sampai melakukan klarifikasi terbuka, sejenis bantahan atas beberapa tuduhan (sepertinya), bahwa Faiz menggunakan ID “bangsawan paraguyuang”..
hehe2 sip sip sip…
–
mau dak ya om bangsawan pakai ID sebenarnya…
–
dan, tentang kolong “Politik, Hukum, dan Budaya”
sepertinya menarik..
–
tapi, saya ragu…
apa bangsawan bisa menulis?
banyak diantara mereka adalah tukang umpat (lisan pula), dan si pengumpul harta?
apa benar?
aduh, maaf, saya hanya ingin klarifikasi nih…
hahaha2
Febridiansyah,
manuver Sutan tidak begitu sulit untuk dibaca, saya kira. Seorang penulis Nasional seperti Sutan, memang punya alasan yang cukup untuk menganggap oranglain tak bisa menulis.
Jika Sutan tidak setengah-setengah membaca Sejarah, Amir Hamzah adalah seorang bangsawan. Orham Pamuk juga “berdarah biru”. penyair-penyair Al Andalus, dan beberapa penulis Abbasiyyah punya garis ikatan yang kuat dengan beberap sultan dan amir.
Ah, sepertinya Sutan masih termasuk orang-orang yang begitu tergoda pada nama, penamaan, identitas, dan sejenisnya.
Ah, jangan terlalu disibukkan oleh ID, Sutan!
tetapi lihatlah apa yang dikatakan ID tersebut!
hahaha juga, Sutan!
hahaha2
mereka bangsawan sejati yang tidak perlu menyebut diri mereka bangsawan..
seperti tuan…
atau mau berlindung nih dibalik klaim nama besar?
buktikan, donk…
hahaha2
tanya: sastra dan kebangsawanan punya sejarah erat kan?
jangan2 orang2 kaya dulu kala tak punya kerjaan lain sehingga harus mencari kesibukan mencari keindahan dan kemewahan dalam bentuk lain, kalo bertani kan gak mungkin, bisa bikin tangan lecet
dan, bangsawan lebih mungkin baca banyak buku.
kalau buruh tani, calo terminal, kusir bendi, buruh pelabuhan???
buku dan koran kan lebih mahal dari beras…
hmm
bersyukurlah jadi bangsawan…tp kenapa tidak berkarya?
Hahahah,
hohohoh,
Febri, febri,
Terimakasih Ketua Pemuda,
kalau boleh, tolong jelaskan agak sedikit lebih banyak kepada Sutan Febri kita ini, semoga dia bisa mengerti kalau Ketua Pemuda yang menjelaskan.
kadang-kadang, saya pikir, Sutan Febri ini terlalu nyinyir.
hehe2
langsung di balas
dan, aduuh..ada satu vonis baru dari tuan bangsawan. “nyinyir”.
ckck
bukankah lebih baik anda jawab pertanyaan bung ketpem..?
Febri, febri,
hahahahah,
“tp kenapa tidak berkarya?”
pertanyaan Sutan sungguh aneh.
setiap orang berkarya, Sutan
berharga atau tidaknya bagi oranglain
itu persoalan lain pula
tentu tidak perlu pula saya katakan kepada Sutan
apa yang telah saya kerjakan?
naif sekali rasanya saya berlaku seperti itu
hehehe
Febri, Febri.
Ketua Pemuda, oho, jadi sebentar ini ketua pemuda bertanya? hahahah. iyalah lelet saya.
yap, saya kira benar itu ketua pemuda, bisa jadi, berkemungkinan serupa itu. hanya saja, tidak di semua tempat. di eropa dan jawa mungkin, tetapi di minangkabau saya tidak yakin.
siapa pun bisa jadi penyair di sini, jadi prosais pun boleh, dan sebagainya. dulu, pantun-pantun yang energik tidak selalu lahir dari pikiran datuk-datuk, bahkan kebanyakan lahir dari tangan-tangan orang biasa. perabab di pesisir sana ada yang hanya toke jawi, Sutan.
Sastra tidak sesempit itu saya kira, yang hanya berkutat pada persoalan “keindahan dan kemewahan” yang ketua pemuda sebutkan. jika Sutan seharian mendengar dendang dalam kamar yang sepi, hati-hati, Sutan bisa bunuh diri. apa dengan demikian sastra (lisan) berbicara hanya tentang keindahan dan kemewahan Sutan?
saya kira, kita tidak bisa mengeneralkan-nya
tuan bangsawan..
beritahukanlah saya yang sangat kurang pengetahuan ini dimana karya tuan bisa saya pelajari, selain sekedar “vonis”…
hehe2
Bung Febri,
Sutan memang seorang yang tekun dan bersedia belajar apa saja tampaknya. Pelajari saja komen-komen saya di blog ini.
hahahahah.
bagaimana kalau tuan membaca tulisan terbaru saya yang terbit di Moscow Times.
judulnya
Alienation in the Stage, a short letter from Indonesia
ada yang bertemu Sukab?
oi..valent…dima kalua tulisan waang? haha…di singgalangan se tulisan waang kanai tulak, di padang ekspress iyo lo…di time???
haha….ang jua pariaman tu..jo karambia niniak-niniak waang…dak kabisa gai tulisan waang kadimuek di situ doh…hahahahaha….
ang lawan lah bangsawan pagaruyuang tu ha. kok ndak si febri. lai talok ang? ang dok bagak. Bauak (tanpa “r” dengan dialeg pariaman yang kental sekali)
oi, ang samo jo ajo sidi mah…ota se waang nan gadangnyo. alah mah, bacaruik den bekolai.
walikota padang
fauzi bahar
huahahahahahahahah….TITTTTiiiiiiiTTTT(Caruik gadang nan kanai sensor ala UKS)
ang iyo lo paik, jan dibaok baok stress tu ka Blog, oi…”moscow times” tu koran lokal piaman yang baru katagak tu yo?atau,…padli lo yang jadi GM sinan? ckckckck..babayo, lah pandai gai baso inggirih
oi!! tertib!!!
Surat Terbuka
dengan ini saya menyatakan tidak sata-sata lagi dengan perdebatan di blog ini. bersebab perdebatan di sini sudah tidak sehat. DAMAM.
Fauzi Bahar, Bapak asal walikota saja, tetapi tidak mengerti adat. “Penghulu, pergilah ke hulu!”
supaya nak jernih pikiran Pak Wali sedikit, inap-manungkanlah kata-kata JILATANG itu.
pikiran Pak Wali “batungau”
salam
oi…
sumbarang se mah, bangsawan. beko den hukum mambaco asmaul husna beko. lai talok? waden ko walikota padang, tolong hormati stek. lah banyak den pabuek untuak kota padang ko mah. contohe lomba perahu naga nan den ambiak an danae dari pemko padang, mamasak sanagari bagai, bisuak proyek apolo lai..antah lah.
ancak blog ko ditutuik se lah lai.
pado den baka rumah kalian beko, atau den sururah mambaco asmaul husna sampai mabuak ?
ahahahahahahaha….samo2 kanai kaduo ee…
sabar wahai anakku. nati sore Blog ini kita bakar sae
adek2 pengunjung blog rumah teduh, tolong tertib ya!!, kita kasih contoh pada masyarakat bagaimana seorang mahasiswa bertutur, academicly!!
mudah2an unand bisa menjadi word class university
saya ingin bergabung!