RETAK PERADABAN
kuamanatkan darah pada lawan
di sini, gentar genderang basah
memaku pedang pahlawan
dalam pigura kaca merah jambu
kupilah dahulu perih kelahiran
langkah peradaban seakan singgah
berlama-lama
bermanja-manja
di rahim perempuan tua
yang tak menyaring tawar susu
2007
TEMBANG HUJAN BADAI
naik halilintar aku menyerang
ketika badai terus mengibar panji
dari doa yang terus tertahan
dan tadah tangan kita melar
menampung pupus air
yang diharamkan membuncah
kubasuh genap tanggal takdir
kau hitung saja jarak akhir
ayo, siapa takut ikut?
bersiaplah, kilat itu mengerjap
pada gandrung kecupku
melimpahkan maut
puncak gelinjang tubuhmu
2007
MUSIM TUBUH
kepunahan itu semacam bianglala
sehabis kau mimpikan hujan
kemudian angin menghempas
ke dinding retak kota tenggara
sebelum segala rintang
dibangun ke bentuk asal
kita baru saja jumpa
selendang kabut terurai panjang
di hulu parit dadamu
cahaya merambati bentang tanah
pada seluruh tumpang
hingga kecut puting itu
merupa bunga daging kering
di sudut taman para mambang
tempat kuluntakan nasib dan tahun
ketika murung terlalu mudah meruyak
untuk ditulis sebagai sajak
2007-2008
SI BUNGKUK
–penantang ombak
sekali itu, puan
sekali itu laut berlipat
langit bertaut
menjelang petang
laju sampan melagukan gurindam
hidup berpantang sesal,
harap merapal bebal
rekatkan
sulam rindu si ruak ayam
dalam masa
dalam cemas
ingin ia cabik bulu
hingga telanjang
biar tercuri pandang beralih
lalu satu persatu
malaikat berjatuhan,
terjengkang di pasir sansai
langgam mantra jatuh terlepas
biar kubakar tanah berpijak
dengan api di pelupuk mata
kini tak lagi kita sudahi bersama
aku si bungkuk
yang menantang tegak
limpah ombak
sedangkan di kepal,
jerat semakin kusut jua
badai berkutat tetap
dalam bungkam bibir pasi
sedang geraham,
amatlah lancar memamah dendam
yang tak tega kulayangkan
untuk menakik bimbang
2008
GANTUNG JEJAK
derap pacu lemas berputar
setelah rusuk retak
sepenggal lengang menyempal tuah
bikin malas memilih arah
hari yang kembali basah
kecipak itu belum terbaca
jauh jarak tempuh menuju tua
menggantung jejak pada antara
usah kau lamunkan labuh
berkepanjangan
karat knalpot membagi udara demam
di semesta cabik
nafasku terbatuk
menghidu peluh pendar waktu
sebentang di dunia akhir
2008
TENTANG PENULIS
Chairan Hafzan Yurma. Lahir di Jambi, 23 April 1984. Kuliah di Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas Padang. Menetap di Rumah Kreatif Kandangpadati. (koeboe_84@yahoo.com/http://koeboe1984.blogspot.com).

honor saudara segera dikirim ke rekening 2 hari setelah terbit. terimakasih.
red.
uda… ajarin buat puisi dunk…
aku pengen banget bisa nulis puisi tapi gak pernah bisa..
gimana?
kamu belajarnya di RAPI_poem addict aja gimana?
dimana tuh RAPI_poem?
berulang-ulang membaca gantung jejak membuat saya curiga. barangkali ada yang belum dituliskan penyair pada sajak itu. benar-benar gantung. atau pada saat ini lagi musim sajak yang setengah matang? dengan kalimat pembuka yang ‘digelap-gelapkan’ seperti “derap pacu lemas berputar” membawa pembaca (saya) pada kesimpulan prematur bahwa sepanjang sajak ini pembaca akan dimanjai dengan segerombol kata-kata yang berloncatan lincah. tapi ungkapan klise nan biasa melukai perjalanan menuju orgasme sajak pada bagian “hari yang kembali basah”
ah, saya benar-benar curiga. barangkali penyair ini tak mau mengeluarkan jurus kata pamungkasnya. tapi selama ungkapan “usah kau lamunkan labuh berkepanjangan” tidak dihilangkan dari sajak ini, maka ungkapan “bikin malas memilih arah” dapat dimaafkan.
RAPI-Poem Addict berada di JATOS-Jangnana Utara KM 33
berminat?Hubungi Ketua Pemuda
Ok ketua pemuda.. nanti saya cari.. kira-kira ongkosnya berapa kesana? (buat Jhon Keats: kalau mau yang telanjang, mendingan lihat foto porno…huahaha…hahaha…)
Boleh..boleh…
kalau dari rumah anda kira-kira tiga kali naik angkot, 1 kali naik pesawat, 2 kali naik helikopter, nah pas nyampe didekat perbatasan ada batu besar yang ada loboang kecil sebagai pintu masuk ke Jangnana. setelah lewat lurus saja. dipersimpangan pertama belok kana. RAPI-Poem Addict sekitar 33 m dari simpang jalan sebelah kanan tepat.
membacanya membuat saya seperti melihat sejumput kain putih kuntilanak. Walau takut dan gugup, penasaran memaksa memaku mata dalam kata
wah anak rumah teduh………