Foto: Fatris Moh. Faiz
opini: Fatris Moh. Faiz
“Ini Jakarta, Intan, Jakarta!” kata itu keluar dari mulutnya, si Lenggang Dunia pada Istrinya Intan Suri. Apa yang dikatakannya tentang Jakarta, mungkin tak lebih dari apa yang dipikirkan puluhan ribu perantau lain yang datang, menetap, dan tenggelam dalam kota jangkung yang angkuh itu.
Ia datang beserta istri dan dua anaknya setelah kampung tak lagi menjanjikan hidup, kampung tak lagi menjanjikan kemapanan. Mereka berangkat untuk sebuah harapan. Siapa yang bisa membendung ingin dalam diri manusia?
Sabtu malam 17 Mei 2008, Padang menampakkan wajahnya kembali sebagai kota. Jalanan terlihat ramai oleh muda-mudi yang memperingati malam Minggu. Ribuan watt lampu menyala menerangi iklan-iklan yang menjanjikan dunia baru yang nyaman. Dan sebagai kota, Padang tentu tak sepi dari kendaraan yang berlalu-lalang, hiburan dan segala carut-marutnya, dan tempat-tempat kuliner yang menggiurkan.
Di satu pojok Padang yang ingin terus beranjak dari sebutan kota dunia ketiga itu, sebuah pementasan digelar. Dan orang-orang menunggu. “Randai kreasi, kelihatannya ‘baru’,” kata seseorang mengajak saya untuk tidak beranjak dari Taman Budaya Sumatera Barat yang hampir pudar itu.
Randai… saya membayangkan sebuah pementasan yang berlatar dunia antah-barantah, dunia yang jauh dan tak pernah tersentuh dan kita pun tak pernah hidup dalam dunia itu. Barangkali masalampau yang entah ada entah tidak. Barangkali yang saya pikirkan itu, sama dengan yang dipikirkan orang muda lainnya. Kesenian tradisi yang memang kurang peminat itu.
Tapi tidak!
Pementasan itu dimulai. Musik mengalun dan cerita dibuka. Musiknya begitu kaya, begitu beragam. Rabab dan saluang saling menyusup, saling mengisi: dua arus yang berbeda dalam musik (Darek dan Pesisir yang bergumam). Dalam sebuah tulisannya, mungkin mengutip penulis lain, Deddy Arsya mengatakan bahwa saluang dan rabab memiliki perbedaan yang jauh. Salah-satunya dalam metafora. Rabab lebih kasar dan saluang terlalu halus. Keduanya musik yang memang terdengar aneh oleh telinga kita yang terbiasa mendengar band-band hari ini. Ia tak seperti Kangen Band misalnya, yang hampir selalu berkisah tentang cinta yang tak menentu dan cengeng.
Hampir dua puluh orang bergerak, kadang melingkar meniru arah tik-tak jam. Kadang menyisip. Keaktorannya total, tidak setengah-setengah. Dan ia tak lagi menganggap sakral, randai yang harus begini, harus begitu, tak boleh begini tak boleh begitu. Takut akan menyinggung ini, takut akan menyinggung itu.
Seni tradisi Minangkabau memang beranjak dari bawah. Ia tidak lahir dari harem-harem para raja. Maka ia berbicara tentang mereka yang di bawah pula. Ia menghibur mereka yang lelah bekerja, bukan kecemasan mereka yang berkuasa. Maka ia tak berbicara tentang mayapada, langit tujuh warna, atau istana dengan segala kemewahannya.
Dan pertunjukan kali ini seperti hendak menegaskan itu. Kadang penonton begitu saja mengolok-olokkan aktor ketika sang aktor mulai kelihatan antagonis dan dibenci penonton. Kita si penonton, seakan merangkap menjadi aktor, atau sebaliknya. Setidaknya, secara prinsip pementasan, Brecht di Jerman punya hal yang hampir serupa dengan “R”andai.
Ketika “sampai” di Jakarta, pemain randai pun berbahasa Indonesia (dengan dialeg Minang yang kental, juga lucu tentunya). Ia tak menutup diri. Mencoba menyesuaikan diri. Dan ia, dengan demikian, berpotensi untuk berkhianat.
Saya membayangkan Si Padang, cerpen yang pernah menuai banyak protes. Harris Efendi Thahar berkisah tentang mereka yang datang, berlagak, dan berbahasa “aneh” di Jakarta. Tentang lelaki yang sudah kaya-raya di rantau. Karena keberhasilannya itu ia diangkat jadi datuk, dan diajukan jadi Bupati kampungnya. Mak Datuk yang punya banyak toko di Jakarta, tetapi tak mau memberi pekerjaan kemenakannya yang pengangguran. Mak Datuk yang ingin adat tegak dan agama berdiri, maka ia menyumbang berjuta-juta untuk pembanguan masjid kampung halaman, tetapi tak beradat di dalam rumahnya sendiri di perantauan sana. Mak Datuk yang marah-marah pada putrinya karena ketahuan memasukkan lelaki ke dalam bilik, sementara ia sendiri “bertamasya” ke puncak bersama perempuan lain.
Bagaimana mencari identitas bagi seorang si Padang di luar sana? Ia akan anslup, identitas asal seperti melenyapkan diri kepada identitas masyarakat di mana ia memijak bumi dan menjunjung langit. Sekali lagi, dengan demikian, ia berpotensi menjadi pengkhianat, si Malin yang tak kenal ibu.
Barangkali beranjak dari situ, Lenggang Dunia memulangkan (tepatnya mengusir) anak dan istrinya ke kampung. Dia sendiri kemudian kawin lagi dengan seorang perempuan Jawa. Ada khianat di sana. Ada banyak yang tak beres pada Lenggang Dunia: khendak, juga nafsu.
***
TV berwarna 21 inchi itu bicara pada akhirnya. Semua aktor mengarah ke sana, juga penonton. Semua terkesima, ternganga. Intan korong dan dua anaknya mati, diduga bunuh diri. Zulkifli, pimpinan randai itu sepertinya terlalu cepat mematikan pertunjukan dengan cara yang sadis. Sementara Lenggang Dunia senang di luar sana, di Jakarta, dengan istri mudanya. Dan Zulkifli tak mengutuk lenggang Dunia, si Pengkhianat itu. Pementasan usai. Pemain randai kembali ke Padangpanjang, dan penonton kembali ke rumah masing-masing membawa noda-noda khianat itu dan menyelesaikannya di rumah mereka. Pementasan selesai, si pengkhianat tak kunjung sangsai.
Fatris Moh. Faiz, sedang menyelesaikan studi di Fakulatas Sastra UNAND.

akankah sejarah selalu ditulis dalam nama pengkhianatan?
berkhianat?
apakah ia dikatakan berkhianat keika ia tidak memakai bentuk lama? atau apakah kebudayaan itu memang terhukum untuk statis?
tidak ada yang salah dengan bahasa indonesia dengan dialek minang. kita hanya terlalu menutup diri pada sesuatu yang primordial.
saatnya membuka ruang-ruang kemungkinan!!
kebudayaan tidak akan hancur hanya karena perkakas yang sedikit bergeser!
yang lebih penting bagaimana ia dimodifikasi tanpa lari dari hakikat.
Berkhianat itu seksi
Penuh Tantangan yang menggairahkan
dan kita semua adalah pengkhianat. bukan begitu “blogers”?paling tidak untuk sekali pengkhianatan hahahaha…oi kopral, sudah berapa kali kau berkhianat?
perkenalkan
saya seorang tukang fotokeliling. dan sekarang saya tidak ingin berkianat pada siapapun. termasuk pada kamera saya. tapi kamera saya sering berkianat kepada saya. lensa kamera saya sering errorr 99. mohon bantuan kawan-kawan karena saya telah kehilangan pekerjaan saya. kemarena saya pernah ikut bantuan bank mandiri, tapi saya tak terpilih sebagai penerima bantuan. padahal saya telah berharap pada tuhan dengan solat tahajjud, salat dhuha, salat sunat lain-lainnya, dan puasa sunat. tapi kok gak dapat juga bantuan dari bank mandiri ya…
tapi walaupun begitu, dan walau pun lensa kamera saya eror 99, kemaren saya bisa motret dian sastrowardoyo. silahkan klik alamat saya dan downloan foto-foto dian yang cantik itu. http://www.catatancatatan.wordpress.com
hihihihi….
saat itu, disuatu senja yang cerah, saya dan dian sastro sedang nelpon di wartel dekat rumah. ada seorang tukan poto keliling yang menawarkan: poto bang? saya bilang: boleh. foto itu kemudian saya temukan lagi pada tahun 2004 didalam sebuah komputer di UKS-UNAND. makin cantik saja mantan-ku itu heheheh…
Tuan Faiz,
Kami kaum adat merasa bertanggungjawab untuk merespon tulisan ini.
“Seorang perantau adalah seorang pengkhianat, malin yang lupa ibu”. Faiz mungkin benar, tetapi tidak tepat dalam menafsir.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” tidak berdiri sendiri. Ada deretan pepatah lain yang mengiringinya.
“Hinggok mancakam, tabang manumpu.”
“Mande ilang Mande dicari, Mamak ilang Mamak dicari.”
“Setinggi-tinggi terbang bangau, pulangnya ke kubangan jua”
Ketiga pepatah ini mengisyaratkan suatu himbuan lain untuk tidak berkhianat. Ketiga pepatah ini semestinya tidak dicerai-beraikan dari konteks merantau orang Minang.
Faiz seharusnya membaca lebih banyak sebelum menulis. Tak asal kutip pepatah.
Salam
tuan bangsawan, anda sudah mulai terganggu karena kehadiran blog ini hahahahaha…besok saya traktir anda minum kopi biar anda tidak stress lagi akibat menurunnya kwantitas blog ini huahahahahahah
apa yang terjadi jika ternyata saat pulang dari negeri seberang, malin kundang tidak mengenal ibunya lagi lantaran ia terlalu kecil untuk pergi merantau. jangan salah kan malin, karena ia tidak memiliki foto tentang gambaran ibu kandungnya, karena memang sayangnya malin belum mengenal kamera. sekarang dengan kondisinya yang sudah serba cukup, manusia mana yang tidak mau mengaku jadi ibunya. apa yang tidak akan dilakukan oleh rakyat jelata yang serba susah ketika melihat seorang saudagar kaya,? seketika otak “menjual” orangnya muncul seketika?
lalu dimana berkhianatnya?
seandainya ibu adalah adat itu sendiri (bundo kanduang) lalu sesekali berjalanlah ketengah jalan raya dimana seorang ibu mengorbankan anaknya untuk mengemis dijalanan hanya untuk membiayai kredit televisi dan mesin cucinya. lalu tanyakan siapa yang berkhianat untuk siapa?
saya meyakini kalau minang adalah sebuah identitas yang dinamis. ia selalu berubah rubah, dan berubah-rubah itulah identitasnya. alam takambang jadi guru. masuak kandang kambiang maeembek, masuak kandang harimau mangaum. itu adalah kedinamisan itu sendiri.
jangan terlalu cepat untuk tertarik membongkar sesuatu yang bersifat permukaan, karena ada potensi implisit yang masih terbengkalai.
identitas minag memang semakin bias. dan satu hal yang masih bisa dijadikan pegangan adalah bahasa. namun jika terjadi brikolase atau kreolisasi pada bahasa itu jangan langsung tertuju itu adalah sebuah krisis identitas. mari kita rayakan ia adalah identitas baru. namun yang pasti, akarnya tetap kita pegang teguh.
jadi bagaimana?
Kopral kaciek, Sutan sepertinya tidak begitu memahami persoalan.
“Masuak kandang harimau, mengaum.” itu benar. tetapi perlu Sutan ingat, mengaum tidak berarti mesti menjadi harimau.
ada pepatah lain yang harus juga dipergunakan untuk melihat persoalan identitas ini. seperti sudah saya katakan, ada beberapa pepatah lain, dan mungkin masih banyak, seperti yang telah saya catatkan di atas. usaha untuk tidak menjadi harimau, kambing atau ayam itu misalnya terjelaskan dengan pepatah “tabang manumpu” ada pijakan sebelum terbang. “MENUMPU” Sutan! tidak lepas begitu saja.
kenapa saya katakan Sutan tidak begitu memahami persoalan? Pepatah-petitih dalam kerangka berpikir orang Minang sudah menjadi hukum, patokan berprilaku. berani saya katakan, dalam beberapa kasus, alquran memberikan kerangka acuan tidak dengan satu ayat saja, banyak ayat yang di secara lahiriah bisa saja bertentangan. Dalam hadis pun seperti itu. Maka saya kira dan katakan, perlu ada serangkaian ayat yang mengacu pada persoalan yang sama. perlu ada serangkaian pepatah yang mengacu pada persoalan yang sama: RANTAU.
saya tahu, Minangkabau berubah Sutan. tak ada saya sesalkan itu. Pepatah pun, mesti dikaji asbab an nuzul nya.
itu menandakan kedinamisan yang Sutan sebutkan.
jadi, sesuatu yang di luar, Sutan, tak perlu dibongkar. yang di dalamlah yang mesti dikeluarkan.
seperti kata tukang rabab
“nan bathin ambo lahie kan!”
lalu kalau tidak menjadi harimau, jadi apa?
apakah ini sebuah gejala oportunitis baru yang lebih akut lagi dari manusia beridentitas Minangkabau?
padang bengkok hanya kepunyaan bangsa yahudi tuan bangsawan. atau benar adanya hipotesis ini bahwa dalam bangsa minang mengalir darah yahudi? bahkan mengenai RANTAU, bangsa yahudi pun punya DIASPORA, bertebaran keseluruh dunia.
hanya satu pertanyaan untuk hari ini tuan bangsawan yang besar, apakah Minangkabau muncul secara totalitas kedunia sebelum atau sesudah datangnya islam?
mohon bantuannya karena saya hanya melihat minang sebagai sawah dari kejauhan, namun tidak ikut berkubang didalamnya…dan saya benar-benar sedang belajar!!
Hahahah
lah ribuik urang gara2 artikel ko..
Tapi ga apa apalah.. suasana yang bagus untuk membangun..
Tapi dari yang saya lihat hanay ada pertanyaan2 tanpa ada jawaban.
masing-masing saling menyudutkan tanpa ada jawaban yang memuaskan bagi saya dari kacamat orang yang awam..
tentang adanya persamaan orang minang dengan yahudi saya pernah baca di sebuah koran lokal di sumbar ni.
judul lengkap nya “orang minang, cina dan yahudi, perbedaan dan persamaannya”
saya gak ingat lagi udah lama, kalo gak salah sudah 3 tahun lah. udah lupa, maklum udah sering eror di tengah masa yang semakin eror saja.
kalau ada yang bisa jelaskan tolong di beri penjelasan yang ringkas dan mudah di mengerti bagi saya orang awam ini.
jangan pakai bahasa2 dan istilah2 yang sulit di mengerti.
kan ada pameo orang pintar, semakin susah dan sulit orang mengerti dengan istilah2 yang kita ucapkan maka semakin pintar lah kita menurut orang yang mendengarnya.
karena yang mendengar malu untuk bertanya, ntar malah takut takut di cap orang bodoh dan gak intelektual.
hehehehe
salam
saya misalnya, jadi malu kalau tidak mengerti istilah2 tersebut, ya caranya dengan mencari tahu!
Penghianatan, merupakan menyalah gunakan kepercayaan orang lain(ntah dimana aku dapat pengertian tersebut)!.Apakah nenek moyang kita dulu menyiratkan, bahwasanya generasi penerusnya harus memainkan seperti apa yang dimainkannya? kalau memang iya tidak mungkinlah kawan2n kita sekarang mengkreasikan hal tersebut..
ya, kalau saya mencoba untuk menghargai kawan2 kita yang terus berkreativitas dalam kultur lokal, premis yang ditawarkan tim randai tersebut cukup menarik,dan mereka masih berusaha untuk memainkan pamenan adat kita
Jika memang sesuai dengan dugaan penulis tersebut,apakah dilingkungan kita,dekat kita,di kota padang sendiri,tidak ada yang lebih besar potensinya terhadap sebuah penghianatan yang penulis maksudkan tersebut?