Oleh: Edo Virama Putra
Bahasa gambar merupakan bahasa yang sulit dipahami ketika seseorang menafsirkannya. Ia disampaikan lewat gambar, bukan kata. Dari bahasa gambar makna akan tersampaikan kepada setiap orang. Begitu juga dengan bahasa gambar bergerak; bahasa film, yang merupakan media visual untuk menyampaikan sesuatu. Dari film akan tampak gambar yang berbicara secara keseluruhan. Ia dibentuk oleh serangkaian peristiwa yang direkam oleh sebuah alat yang kita kenal dengan kamera, kemudian hasil rekaman itu diolah kembali lewat editing. Dan barulah ia dikenal dengan film(gambar bergerak). Dewasa ini anak muda Indonesia lagi demam akan film dokumenter. Sebuah film boleh dibilang belum dikenal dan diminati luas oleh masyarakat. Sebab film dokumenter merupakan bahasa gambar yang merekam fakta-fakta yang telah terjadi dan dijadikan bukti sejarah. Ia bukan film komersil yang digilai oleh masyarakat Indonesia seperti film”Ayat-Ayat Cinta”. Ia merupakan genre baru yang akan bertarung dalam dunia perfileman Indonesia. Di padang(28 April 2008), tepatnya pada Teater Tertutup Fakultas Bahasa Sastra dan Seni Universitas Negeri Padang dipenuhi oleh anak muda yang akan menonton film dokumenter secara gratis. Pemutaran film dokumenter ini diadakan oleh salah satu tv swasta nasional dan sebuah komunitas film. Acara ini merupakan serangkaian perkenalan kepada kampus-kampus tentang pembuatan film dokumenter dan langkah sukses mengikuti lomba film dokumenter.
Film pertama disuguhi “Tumbuh Dalam Badai”, sebuah karya dari IGP Wiranegara, produksi 2007, durasi 33 menit. Merupakan kisah diskriminasi dalam masyarakat Indonesia terhadap anak tahanan politik seputar korban kemanusiaan 1965. mereka bertarung dalam hidup ketika dikucilkan masyarakat sekitar. Mereka adalah anak-anak dari tahanan politik yang pantang menyerah. Dalam masyarakat mereka mengembangkan diri, menjawab sekaligus menunjukan kepada khalayak mereka bukan pemikul dosa dari orangtua yang terlibat dalam tragedi 1965. seperti contoh Wangi Indrya, dalang wayang kulit yang juga penari dan penyanyi. Ia merupakan seorang anak seniman dalang kulit yang pada zaman Orde baru menjadi tahanan politik. Ia menuturkan bagaimana perlakuan yang ia dapat dalam masyarakat. Sejak kecil ia sudah dikucilkan. Sebab ia dimata gurunya anak”PKI”. Sehingga membuat dirinya tak mau lagi pergi kesekolah. Dan ia memilih menjadi seniman dalang wayang kulit. Selain Wangi Indrya, ada dua seniman lain yang mirip masalahnya. Kedua seniman ini mampu bertahan hidup dan bahkan merubah nama mereka dalam tanda pengenal. Serangkaian peritiwa mereka tuturkan dengan lugas. Dan inilah menurut penulis; film yang membuka”luka lama”. Film ini mempunyai daya tarik dari segi pendidikan. Sebab sejarah tak hanya dalam bentuk tertulis, tapi juga dalam bahasa gambar. Film ini mencatat dan memvisualkan peristiwa dari anak-anak yang merupakan korban 1965. Dari film ini mayarakat dididik untuk tidak mengucilkan mereka. Sebab mereka bukan pemikul dosa sejarah Indonesia. Dan ini juga tamparan bagi pelaku sejarah yang telah merekayasa sejarah itu sendiri. walaupun sejarah ditulis oleh orang yang menang. Tapi imbasnya bagi kemanusiaan sangatlah dahsyat. Ketiga anak-anak korban dalam film tersebut patut diacungkan jempol. Mereka mampu bertahan sebagai manusia baja ditengah kondisi bangsa Indonesia yang carut-marut.
Berlanjut pada film yang kedua, dengan judul”Renita-Renita” karya Tonny Trimarsanto. Lucu sekali. Bahkan membuat kita terbahak-bahak. Film ini merupakan potret kehidupan waria di Jakarta. Produksi tahun 2007 dengan durasi 15 menit. Waria dalam masyarakat Indonesia belum mendapatkan “penerimaan” dalam tatanan sosial. Mereka adalah orang-orang yang diragukan dan dihujat. Masalahnya waria jenis transeksual dalam gender. Imej yang dibangun selalu negatif; seperti pelacuran. Mereka menjajakan diri untuk mendapatkan rupiah. Ini akibat dari tidak diterimanya dalam masyarakat. Tapi kisah Renita cukup mewakili kehidupan waria di seluruh pelosok Indonesia. Disini penulis masih ragu kalau film ini mendapat”penerimaan” dalam masyarakat. Sebab waria di Padang adalah orang yang selalu diburu satpol pamong praja. Walaupun film ini menawarkan konsep”penerimaan” tapi akan butuh waktu yang panjang. Film ketiga menawarkan lain dari yang lain. Film dengan judul”Water From Heaven” adalah potret Indonesia yang memilukan dalam kacamata pendidikan. Karya Wawan Sumarmo ini mengusung tema pendidikan. Film yang diproduksi tahun 2006 dan berdurasi 15 menit memukau penonton. Bercerita tentang seorang anak SD, Badruzaman, yang harus menyeberangi sungai yang arusnya deras supaya bisa sampai di sekolahnya. Bentuk fisik sekolah yang sudah tak layak pakai; atap bocor, dinding yang retak, tapi ini tidak menyurutkan semangatnya untuk sekolah demi mengejar cita-citanya. Hemat penulis, film ini bernarasi kuat dari segi cerita. Seorang Badruz yang disorot dan memiliki kekuatan dalam film ini. Juga pada kekuatan gambar; film ini merekam gambar yang tajam dan mewakili sekali. Gambar dalam film ini bercerita kuat. Bagaimana pendidikan di Indonesia itu sendiri. Apalagi ketika photo Pak Presiden di dipajang pada ruangan sekolah Badruz. Sangat satir sekali. Sesuatu yang kontradiktif.
Film dokumenter dengan judul”Suster Apung” merupakan film terbaik Eagle Award 2006. Sebuah karya Andi Arfan Sabran dan Suparman Supardi ini menyuguhkan kepada penonton Padang potret seorang suster dalam pengabdian pada masyarakat kepulauan di Sulawesi. Dengan fasislitas minim ia melayani masyarakat antar pulau yang butuh pertolongannya. Ini merupakan perjuangannya selama 29 tahun dalam pengabdian pada masyarakat. Unik dan mengharukan. Ia meninggalkan kelurganya dan menentang ombak sampai kedaerah perairan Flores. Ia melawan batas kewenangannya sebagai perawat. Serta tidak meneyerah pada keterbatasan fasilitas yang terdapat di daerah terpencil. Inilah humanisme sejati. Lalu bagaimana pula dengan”Gubuk Reot di Atas Minyak Internasional?”. Film yang menggambarkan pengelolaan sumber daya alam di daerah Wonocolo, sebuah desa yang masih terjebak pada persoalan kemiskinan dan pendidikan. Disatu sisi penghasil minyak terbesar, dilain sisi pendidikan masih terabaikan. Dan film ini finalis Eagle Award 2007. Karya anak muda Indonesia; Tedika Puri Amanda dan Kukuh Martha Afni telah membangkitkan gairah masyarakat setempat dalam pengelolan dan pendistribusian minyak didaerahnya. Sekaligus membantu biaya pendidikan oleh buruh tambang minyak. Sebuah tekad yang kuat untuk pendidikan bagi orang Desa Wonocolo. Film terakhir”Kepala Sekolahku Pemulung”, karya dari Jastis Arimba dan Victor Benedict Doloksaribu, dengan durasi 15 menit dan produksi tahun 2007, dan Pemenang Eagle Award 2007. Ini adalah gambar seorang kepala sekolah di Jakarta yang diluar sekolah berprofesi sebagai pemulung. Ia menuturkan gaji guru lebih kecil dari pemulung. Kepala Sekolah Madrasah setingkat SMP ini menimbulkan pro dan kontra dari kalangan guru, murid, dan masyarakat sekitar madrasah. Yang jelas Pak Mahmud harus berjuang dalam kehidupan kota Jakarta yang keras. Apalagi ia harus membiayai pengobatan bagi istri tercinta yang menderita kanker otak. Sanggupkah gaji guru dan hasil jerih payah yang diperoleh dari memulung membiayai? Dan film ini telah membawa efek bagi donatur ketika menonton film ini. Bagi penulis film ini sangat satir sekali. Ia adalah corong penyadaran bagi masyarakat Jakarta yang individualistis.
Suguhan menarik telah ditonton oleh anak muda Padang. Lalu bagaimana kelanjutannya? Roadshow Eagle Award ini setidaknya jembatan bagi anak muda Sumatra Barat dalam berkarya di dunia film dokumenter yang notabennya media penyadaran dalam dunia pendidikan di Indonesia dan Sumbar khususnya. Film dokumenter adalah media untuk menyadarkan masyarakat dalam degradasi moral ataupun penyimpangan lain. Setidaknya film dokumenter diatas telah menjawab fenomena di Indonesia. Dan hasilnya telah dibuktikan ketika film itu diputar secara reguler oleh stasiun tv swasta yang memilih jalan”lain” dari tv swasta yang lain. Penulis telah menelusuri minat film dokumenter sangat banyak di Sumbar, bahkan antusias sekali. Dan medianya tentu Eagel Award atau festival lain yang memfasilitasi film dokumenter. Semoga!
Penulis adalah Sekretaris Komunitas Putapilem

Suguhan menarik telah ditonton oleh anak muda Padang. Lalu bagaimana kelanjutannya?
(EVP)
lalu pertanyaannya adalah???
HALO APAKABAR SINEAS/ANAK MUDA PADANG???
sineas padang sedang belajar menanam bunga di RAPI flora
Garin Nugroho pernah mewanti-wanti pada seluruh anak didikannya pada sebuah workshop pada tahun 2004, bahwa sekurang-kurangnya ada 3 kenyataan dalam dunia audio visual.
pertama, kalau ingin kaya mari bikin sinetron. kedua, kalau mau terkenal bikin video klip atau film layar lebar. dan yang ketiga kalau ingin kaya dalam artian kehidupan ayo bikin dokumenter. dengan dokumenter anda tidak hanya diajarkan bagaimana memahami teknis film, akan tetapi labih dari itu anda akan memahami kehidupan itu sendiri.
tapi sayangnya, distribusi dokumenter di indonesia berputar diarea-area ekslusif semacam festival-festival. atau pemutaran-pemutaran, dikarenakan agenda-agenta tertentu. sudah saatnya dokumenter dibuat massive. sehingga masyrakat diberikan pilihan dan alternatif dalam menyaksikan tontonan.
kabarnya ada komunitas film MataKata yang telah memproduksi beberapa dokumenter. merupakan sesuatu yang luar biasa jika seandainya semangat untuk memproduksi dokumenter bisa disinergikan dikota ini.
bagaimana?