( I )
Faiz Mohammad
Jika Tuan dan Nyonya berkunjung ke Pesisir sana, di banyak pintu rumah penerima Bantuan Lansung Tunai (BLT), akan Tuan dan Nyonya temukan stempel merah besar menyala bertuliskan “RUMAH TANGGA MISKIN”. Di Padang pun tidak ketinggalan dengan banyaknya stempel ini beredar. Mengingatkan saya pada cerita orang-orang tentang nama-nama di pintu rumah yang disilangi “X” ketika PRRI meletus puluhan tahun yang silam di ranah ini. Entah siapa lagi yang masih mengingat apa yang terjadi masa itu.Tapi nama-nama pemberontak di daun pintu yang disilangi warna merah itu barangkali menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi perempuan-perempuan yang tinggal di dalamnya, yang lelaki atau anak-bujang mereka tercacat sebagai pemberontak yang naik ke rimba-rimba memanggul senjata. Anak-anak muda yang sanggup berkata “tidak” dengan lantangnya. Tapi kalimat “RUMAH TANGGA MISKIN” membersitkan kebanggaan macam apa?
Ada banyak orang yang menerima—dengan rela entah tidak—pintu atau dinding rumah mereka distempel kalimat serupa itu; menerima alasan dari pihak berwenang: demi kevalidan data, kemudahan pendataan, dan entah apalagi. Tapi bukankah barangkali cap miskin secara tidak langsung telah menghukum orang untuk tetap miskin? Cap miskin, stempel miskin, (atau di Padang, yang sekarang sedang diperdebatkan, namanya adalah Stiker Miskin), tentu bisa menjadi beban psikologis baru di samping kemiskinan itu sendiri.
Ada keluarga yang tidak ingin rumahnya “dilabeli” serupa itu, dan lebih memilih tidak menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ada yang rumahnya cukup bagus, punya televisi berwarna 21 inch. dan berparabola (walaupun hal ini tidak menjadi ukuran mutlak kaya-miskin sebuah keluarga), tapi masih juga mendapat bantuan langsung tunai yang seratus ribu per bulan dan dibayarkan sekali tiga bulan itu. Seseorang pernah mengumpat demikian.
Ada orang ingin tidak disebut miskin walaupun sebenarnya mereka benar-benar kekurangan. Karena kemiskinan adalah aib. Seorang khatib di Pesisir sana pada suatu Jumat pernah menyamakan miskin dengan hina. Namun ada pula orang-orang ingin menyebut dirinya miskin walaupun sebenarnya mereka hidup berkecukupan.
Manusia adalah makluk yang tidak pernah puas. Bukankah begitu? Keinginan, dalam sebuah lagu Iwan Fals, adalah sumber penderitaan. Tapi tanpa keinginan, kita tak mencapai apa-apa. Bukankah manusia harus menjangkau, menggapai, dalam artian lain: berkehendak? Karena, bukankah demikian kodrat manusia yang dianugrahi rasa ingin terhadap sesuatu? Tidak bisa disangkal, kehendak adalah anugrah. Tanpa kehendak, manusia akan stagnan. Maka jika kaya adalah merasa diri cukup, tidak lagi merasa kekurangan (dalam artian materi), adakah manusia yang kaya?
( II )
Sederhana berarti menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan. Apa yang menjadi hak hanyalah segala yang dibutuhkan. Di luar semua itu adalah milik mereka yang kebutuhannya belum tercukupi. Maka jika bermegah-megah, dalam artian mempergunakan apa-apa yang di luar kebutuhan, berarti telah memakan hak orang lain. Barangkali Quran setuju dengan hal itu.
Tapi manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas dan tidak akan merasa cukup, bukan? Orang-orang yang sudah bergaji jutaan per bulan, sudah mendapat tunjangan ini-itu, masih ingin mendapat tambahan lagi: leptop, mobil dinas, dan tunjangan antah-barantah lainnya. Barangkali tak sepenuhnya bisa disalahkan pendapat yang mengatakan, manusia tak ada bedanya dengan kera, bahkan berasal dari beruk. Keempat tangan dan kaki harus terisi, bahkan mulut harus penuh pula, dan masih ingin merebut punya saudara. Selagi ada kesempatan untuk menumpuk kekayaan, kita tak akan mengenal kata selesai, kata sudahlah, kata cukup….
Ronggo Warsito di abad 19 menulis Kalatidha (zaman rusak). Mengalami zaman gila dan rusak/ hati gelap/ pikiran kacau/ mau ikut gila tak tahan/ jika tak ikut gila tak kebagian/ akhirnya kelaparan/ sebenarnya kehendak Tuhan/ seuntung-untunganya yang lupa/ lebih untung yang ingat dan waspada/
Tampaknya sajak dengan tipologi yang “rusak” itu masih bergaung sampai sekarang. Ronggo tak ingin terperangkap ke dalam sistem, zaman, atau pola hidup yang dianggap telah rusak.
Dalam teori ekonomi: pendapatan mempengaruhi kebutuhan dan konsumsi. Sehingganya, kesederhanaan berpotensi lewat begitu saja di wilayah ini; kehidupan sosial punya gerakan besar untuk menjadi timpang, kecemburuan akan mudah berkuasa dalam jantung-jantung manusia. Karena bukankah semakin besar pendapatan, semakin besar pula kebutuhan. Dengan demikian, yang berlebih nyaris tidak ada.
Sementara pada lapangan agama—yang semula diharapkan mampu menjadi cerminan kesederhanaan—malah mengagungkan kemegahan yang lain pula. Orang-orang berpikir tentang masjid agung dengan kubah-kubah megah dan menara-menara menembus langit, mendongak. Bukankah infak, sedekah dan wakaf lebih banyak digunakan untuk membiayai masjid-masjid bersolek diri? Dan anak-anak yatim-piatu hanya diberi tunjangan setiap hari raya? Barangkali kita lupa, kita tidak mendahulukan memajukan sekolah-sekolah dhuafa yang terseok-seok mencari donatur, meramaikan perpustakaan dengan koleksi buku-buku, mengirim anak-anak tak mampu ke sekolah-sekolah, dan sebagai-bagainya yang banyak. Tapi kita malah lebih memilih bersitegang menjadikan kota Padang sebagai salah satu simbol dari tiga tungku sajarangan, dengan akan didirikannya masjid agung. Atau jika dilihat di kampus-kampus universitas negeri di kota ini, malah memilih merencanakan membangun gedung fakultas ini-itu ketimbang memperbanyak jumlah buku di perpustakaan, mengirim guru-guru agama, mengerahkan dosen-dosen belajar lagi agar tidak merasa pintar sendiri dan sok tahu.
Apa yang salah dari agama? Apa yang tidak beres dengan Tuhan? Kemiskinan dekat dengan kekufuran, kata seorang nabi dari jazirah Arab. Dan, kekufuran, sebagaimana udara, bisa menyebar-merebak. Ketika shalat khusyuk telah jadi milik orang-orang kaya. Orang-orang miskin mana punya uang untuk ikut pelatihan sholat khusuk di hotel-hotel berbintang. Orang pergi haji berulang-ulang kali, pergi ber-“wisata religius” (istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Quraish Shihab untuk sinonim kata Umrah) dengan menghabiskan banyak uang, hanya untuk mencari ketentraman jiwa—konon, tanah suci menjanjikan itu. Tapi, bukankah Tuhan berada di mana-mana, bahkan lebih dekat dengan urat leher? Namun yang kita dengar di mesjid-mesjid saban Jumat hanya hanyalah ancaman-ancaman Tuhan tentang neraka yang begitu dekat dengan manusia. Dan mesjid tidak jauh berbeda dengan pengadilan: tempat menghakimi.
( III )
Orang ingin menjadi kaya, berkecukupan dalam hal materi. Hal ini merupakan suatu keniscayaan. Tapi bersikap sederhana barangkali adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan, apalagi bagi mereka yang telah berkelebihan. Kalau orang miskin diberi kesempatan menjadi kaya, pun belum tentu mereka akan hidup sederhana.
Kalau kita hanya bermukim di kota Padang yang jalan-jalannya banyak polisi tidur, lubang dan bergelombang; kenapa mesti harus membeli BMW atau Ferarri, walaupun keuangan kita mencukupi untuk memiliki itu? Kalau kebutuhan kita hanya sekedar untuk berbicara atau SMS-an, kenapa mesti harus memiliki handphone (dalam bahasa Inggris tak lazim dipakai, melainkan mobile phone) berkamera, ber-MP4, atau segala macamnya yang harganya mencapai jutaan itu? Kenapa kita meski memiliki motor semacam motornya Valentino Rossi jika perjalanan kita hanya pulang-pergi kuliah, pacaran, atau ke tempat kerja?
Pada akhirnya, tentang kemiskinan, kenapa orang-orang kaya tidak belajar hidup dalam kesederhanaan? Dalam indahnya berbagi; indahnya memahami orang lain tanpa minta dipahami. Sebagaimana puisi. Bukankah memberi itu tenangkan hati? Kita tak lagi mesti tiap tahun pergi haji, tiap sebentar umrah ke tanah suci, atau mengikuti terapi-terapi dengan biaya jutaan pula, hanya untuk mencari ketenangan jiwa, hanya untuk mencapai predikat kesalehan individu yang semu sebenarnya.
(Padang-Kapencong, 2007)
Faiz Mohammad, sedang akan menyelesaikan studi di Fak. Sastra UNAND

hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
naskahku “membaca karang” kemarin dipentaskan di PAT 4. malam jam 20.00. semua jadi begitu luar biasa (bagiku). soalnya para aktor bermain dengan lebih cair dibanding waktu latihan. secara teknis, mereka sudah mulai akrab dengan persoalan panggung. dialog mereka sampai, dan semangat mereka terbaca. hanya saja, aku sangsi dengan kebertahanan semangat itu. kalau pementasan ini hanya sekali ini dipentaskan, lalu apa gunanya. aku fikir aku sudah berusaha sebisanya untuk ikut campur dalam penggarapan (walau seharusnya aku sudah mati.
satu hal yang menyenangkan, malam itu aku dipanggil kedepan (haha…aku narsis lagi). dihadapan dua ratus penonton yang slaah seorangnya adalah putu wijaya aku harus kembali mengulang tradisi teater kita. ya, pementasan selalu dianggap belu mbenar-benar selesai jika tak ada penjelasan yang menganasir simbol-simbol yang hadir.
awalnya semua termangu diam. tak ada yang mau bertanya atau memberi komentar memuji. diam saja. lalu lama-lama aku jadi gerah. tepat sesaat sebelum aku mereampas mic dari tangan husin yang jadi moderator malam itu seorang penonton tunjuk tangan.
ah, gila! itu erwan fahrizal, dosen yang paling sayang sama aku. bahkan sebelum pementasan dia sudah menjelangku. dikatakannya, dia ingin melihat kejeniusanku lagi. sekali ini lewat sebuah pemetnasan yang kutulisi naskahnya.
aku langsung kagok. husin tenang-tenang saja sambil menyeriuskan wajah buruknya.
“saya senang denga kenakalan fadhli. dia mulai menganasir sejarah, berdiskusi, membaca, dan berdiskusi lagi setelah dulu di pementasan “melintas kanduang” dia menangis karena menganggap kegagalan pementasan itu sebagai akibat dari kesalahan teks yang ia tulis,” katanya.
cepat saja,sebab dua pemerhati setelahnya tak menyoroti aku dan karyaku. setelah mic diserahkan ketanganku aku justru terdiam beberapa saat. semua orang juga terdiam. kami seperti kumpulan batu-batu.
tiba-tiba kau menghembuskan nafas panjang. suara nafas itu bersipongang dihantarkan empat pengeras yang tertancap dilangit-langit gedung ementasan. lalu tiba-tiba semua hadirin tertawa. Pak katil sampai bertepuk tangan dengan wajah yang renyah.
Tak maslah, fikirku.kalau memang pementasan harus diselesaikan dengan penjelasan, aku terpaksa menerima. lalu aku mulai “berceramah”.
“begini, saya memulia membuat naskah ini dengan sebuah pertengkaran kecil dengan ayah. ayah itu, seorang lelaki cina yang mendalami budaya minang. namanya Frederik, guru di SMA 3 Padang Panjang. Pak frederik bersikeras bahwa PKI tertua di Indonesia terdapat di Padang Panjang. sejak tahun 1929 katanya. Saya melandaskan perlawasnan saya pada kenyataan bahwa sejarah tidak mencatat, bofet merah sebagai pangkal gerakan PKI. Bofet merah ada sebagai sebuah tempat berkumpul, orang-orang yang berfikir radikal. dan lagi, bila memang PKI sebagai partai terlahir disana, kenapa tiba-tiba pertaruhan mereka harus beralih ke jawa?
tapi lama kelamaan ayah ini membuatku kagum. aku justru terpesona dengan ratusan data yang ditebar dimuka ku. astaga, aku mulai membaca lagi. dan kurang ajarnya, aku punya kesempatan terbatas sebab naskah harus kukejarkan.
secara kebetulan, suatu malam aku menghabiskan waktu untuk bermain di warnet. bukan buat browding cerpen seperti biasa, malam i5tu aku ngegame. main “perfect world”. aku kalah. namun perlahan-lahan aku mulai berfikir, kenapa sebuah gerakan bisa timbul? Cherinevsky pernah mengatakan, gerakan sosial apalagi yang berbentuk kepartaian tumbuh dari persoalan yang ditanggung oleh levbih dari satu orang. nah, warnet layaknya bofet merah adalah sebuah tempat pertemuan. aku melihatnya sebagai simbol unifikasi yang ambiter. ini kongkrit, dimana seseorang akan “bersapaan” dengan orang lain di dunia sana. namun persoalannya, yang membedakanwarnet dengan bofet merah adalah persoalan maksud. aku hanya bermaksud untuk main.
secaratidak sadar aku sudah terperangkap di kotak individual untuk melakukan persapaan global. aku bahkan baru sadar kalau lawan yang membunuhku, salah satunya adalah dia yang bermain disamping KBU-ku.
ini gila, bikin aku tambah resah. Aku kembali memancing memori yang menyusun “Melintas Kanduang”. ketika aku mua
sory faiz….aku kerja dulu……