Seperti blues yang memekik malam itu, Ika
Aku merasa ada yang terlempar jauh dari diriku
ke satu titik lengking, karam
dan orang-orang telah memajang sebuah dunia baru
di ambang pintu
kita pemungut setiap yang usang
sisa-sisa malam patah dan terlantar.
“Telah jam berapa?”
Segala ditinggal tiktak jam,
jalan-jalan resah dan basah, atau rigkih dendang
mengantarmu pada lelaki yang membawa teka-teki
tentang kota-kota di sorga
yang tak pernah dijaga tentara.
Lewat tengah malam.
Rumahteduh, 4 Juli 2006
faiz, ma puisi untuk awak
ja an lamah faiz, masa cuma ika yang dibuatin puisi
bung Botak yang terhormat,
saudara bisa menyewa psikiater untuk masalah berat di jempol kaki saudara. tapi kalau saudara yakin sebuah puisi mampu mengobatinya, maka itu akan kami lakukan.
terimakasih, Bung!
bung botak yang bodoh, kapan anda bisa belajar untuk jadi sedikit lebih cerdas?