Feeds:
Tulisan
Komentar

Anoreksia Kritik

Oleh: Condra Antoni*

Dalam ilmu kesehatan, anoreksia adalah kelainan psikis yang diderita seseorang berupa kekurangan nafsu makan meski sebenarnya lapar dan berselera terhadap makanan. Kalaupun mereka makan, maka mereka akan memuntahkan kembali makanan tersebut.

Pembahasan tentang anoreksia dalam kehidupan pernah dilaukan oleh Noah St John dalam bukunya Permitted To Succeed (Izin Untuk Sukses, Interaksara, 2005). Dalam buku tersebut Noah membahas tentang apa yang disebut dengan anoreksia sukses. Ia membahas tentang bagaimana seseorang tidak bisa sukses karena dia sendiri yang menghambat dirinya untuk mencapai kesuksesan dengan mengaktifkan impuls-impuls negatif sehubungan dengan penegasian self-esteem (menghargai ketidakterbatasan kemampuan diri sendiri).

Dalam tulisan ini, penulis mencoba berurai papar tentang anoreksia kritik yang menjangkiti keindonesiaan kita. Lanjut Baca »

Donny Syofyan
Dosen Sastra Inggris Unand

Anda pasti kenal dengan Ernest Hemingway, seorang priyayi sastra sejagad? Ia sangat terkenal dengan magnum opus-nya yang monumental The Old Man and The Sea (1952). Tapi sebenarnya, ia pertama kali mengibarkan sayap keunggulannya lewat novel The Sun Also Rises (1926). Novel ini bisa dikategorikan sebagai sebuah prosa penting yang menjadi pionir mewartakan problem “generasi yang hilang” (lost generation). Novel yang mengambil latar pasca Perang Dunia I ini melukiskan geliat generasi pascaperang yang diselimuti diskriminasi, hilangnya pegangan agama, eskapisme dan ketidakmampuan untuk mengambil sikap serta bertindak. Istilah “lost generation” pertama kali tersebut dalam sebuah percakapan oleh Gertrude Stein, salah satu anggota lingkaran ekspatriat pada dekade 1920-an di Paris. Sesuatu yang dianggap spontan dan tak berarti saat pertama diucapkan tanpa disadari menjadi label bagi kalangan ekspatriat dari Amerika Serikat dan Inggris yang menolak konvensi tradisional Amerika dan Inggris demi mereguk gaya hidup yang lebih menarik di Paris, tempat yang digambarkan Hemingway sebagai negeri tak bermoral untuk mabuk dan menjalin hubungan intim.
Dengan kebiasaan nongkrong di cafe sepanjang the Boulevard Montparnasse untuk minum-minum, ngobrol dan mejeng menikmati orang-orang yang keluyuran, golongan the lost generation ini menjadi kumpulan orang-orang yang membuang jauh-jauh keyakinan dan tananan nilai sebelum perang, semisal cinta, romantisme, optimisme, kemakmuran, dan harapan. Bagi mereka, semua itu hancur lebur bukan saja bersamaan dengan kepiluan yang ditinggalkan perang tapi juga lantaran menguatnya budaya konsumersime, money Lanjut Baca »

Di saat-saat ketika kesenian skian jauh terasa dari masyarakatnya, ketika kesenian telah egois dalam batang tubuhnya sendiri, sepertinya sebuah sajak perlu kita baca kembali.

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samudra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi

Fatris Moh. Faiz

Selasa (13/1) pukul empat sore, orang-orang memenuhi teater tertutup Taman Budaya Sumatera Barar. Sebagian besar adalah pelajar.

Lebih dari sepuluh remaja yang tergabung dalam grup teater Jalan, membuat panggung bergemuruh. Suara dan hentakan kaki mereka seperti hentakan derap kebebasan orang yang baru kelur dari penjara. Penjara apa saja.

Mereka yang seharusnya ada ditempat-tempat les, atau tempat pembelajaran lainnya, sekarang berjalan di panggung dengan leluasa. Diterangi lampu dan ditonton banyak orang.

Pementasan itu berlangsung sejam. Pementasan yang diprakarsai Balai Bahasa Padang dan disutradarai S Metron M itu terlihat mencoba menjemput para remaja untuk berkesenian. Tentu tidak gampang. Lanjut Baca »

(Tanggapan atas penilaian Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di harian Singgalang, Senin, 27 April 2009 halaman B-13 yang berjudul “Sastrawan Sumbar Malas Berkarya”)

Oleh: Fatris Mohammad Faiz*

Yth. Bapak Gubernur,

Jika Bapak punya hari libur disela-sela jadwal Bapak yang padat mengurusi rakyat, datanglah ke toko-toko buku yang menjual buku-buku sastra, atau bacalah koran Minggu terbitan Jakarta (terutama halaman seni dan sastra), maka Bapak tentu akan memberi penilaian lain. Di antara sederetan buku sastra, Bapak akan menemui sederetan nama yang telah Bapak nilai sebagai sastrawan pemalas itu: Leon Agusta, AA Naavis, Rusli Marzuki Saria, Wisran Hadi, Upita Agustin, Darman Moenir, Haris Efendi Thahar, Khairul Jasmi, Yusrizal KW, Iyut Fitra, Adri Sandra, Agus Hernawan, Sondri BS, Nelson Alwi, Raudal Tanjung Banua, dan masih banyak lagi—yang kesemuanya kita ‘angkat topi’ atas karya dan penghargaan yang diraih dalam dan luar negeri. Atau yang lebih terbaru: Gus tf Sakai, yang lewat karyanya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, meraih tiga penghargaan bergengsi, yakni SEA Write Award 2004 dari Kerajaan Thailand, Hadiah Sastra Lontar 2001, dan Penghargaan Pusat Bahasa Jakarta. Sedangkan buku Perantau-nya (2007), selain terpilih sebagai karya terbaik 2008 versi Ruang Baca Koran Tempo, juga meraih Khatulistiwa Literary Award 2008, mendahului Andrea Hirata yang Bapak dengung-dengungkan itu.

Lalu, Bapak akan mulai membaca, atau membolak-balik; wacana apa yang diusung Gus tf dan beberapa penulis lainnya (yang belum ‘uzur’), seperti Iyut Fitra, Yetty A.KA, Raudal Tanjung Banua, Farizal Sikumbang, Deddy Arsya, Anda S, Sayyid Madani S, dan nama lainnya dalam buku-buku, rubrik-rubrik sastra yang telah mereka tulis dan hasilkan. Bapak tentu paham bahwa Sumatera Barat tidak hanya sebatas teritorial, dan alamnya tidak hanya indah dalam foto, tetapi sarat akan sejarah dan budaya.

Anugrah Sastra Pena Kencana, penghargaan yang diberikan terhadap karya-karya sastra yang terbit di koran, orang menyebutnya sastra koran, tahun ini juga diraih oleh beberapa penulis Sumatera Barat. Zelfeni Wimra untuk cerita pendek, Romi Zarman, Esha Tegar Putra, dan Deddy Arsya untuk karya puisi. Mereka belumlah 27 tahun, belumlah matang secara politis, Pak. Mereka masih berkutat dengan bangku perkuliahan, bergelut dengan diktat, mereka harus mengerjakan tugas-tugas akademik yang dibebankan pengajar mereka di universitas, tetapi tahukah Bapak kalau mereka ternyata dapat menelurkan puluhan tulisan, bahkan ratusan tulisan dalam usia mereka yang masih muda itu? Sayang sekali, Bapak cepat sekali menilai. Cepat sekali Bapak menilai, Pak…

Bila Bapak berkenan menghabiskan segelas kopi dan duduk di antara lapak-lapak diskusi yang sepi di ujung-ujung kampus, atau di pinggir Taman Budaya sana, Bapak tentu tahu dan sedikit mengerti, apa yang dicita-citakan dan dikerjakan orang-orang yang Bapak sebut sebagai sastrawan itu. Atau jika Bapak datang melongok ke rumahtangga mereka, ke bilik-bilik mereka, Bapak tentu akan lebih paham lagi dan Bapak tentu akan menggigit lidah Bapak sendiri. Bapak akan tahu, betapa banyak para “mujahid” sastra yang menelaah, dan berkarya. Sayangnya, tak ada forum sastra yang mewadahi. Hanya koran (nasional dan daerah), tak ada majalah sastra Sumatera Barat, tak ada forum pertemuan sastrawan sebagai wadah, tak ada, Pak…

Bapak ingin sastrawan Sumatera Barat dapat dan harus menjadi agen wisata, bukan, Pak? Karena Bapak mengambil contoh, sebelum Laskar Pelangi muncul, Belitong tidak begitu dikenal dunia luas. Bapak tentu ingin, sastrawan, lewat karya-karyanya, dapat pula memperkenalkan Sumatera Barat yang elok dan indah ini ke dunia luar. Bapak tentu tidak bermaksud menyamakan sastrawan dengan Uda-uni Sumbar barangkali, atau Minang Talenta yang juga ikut memperkenalkan Sumatera Barat ke luar.

Jika Uda-uni, Minang Talenta, atau yang semacamnya, mendapat perhatian yang besar oleh Bapak, tentu tidaklah akan disesalkan. Minang Talenta, atau Uda-Uni, Tour De Singkarak yang berkaliber internasional yang melibatkan 19 negara, memang semua itu adalah ikon budaya kita, sekaligus agent bagi pengenalan budaya Minang kita yang tinggi ini kepada masyarakat luar. Agar keindahan alam dan keelokan budaya kita ini dapat dikenal pula oleh orang-orang luar negeri. Agar mereka berdatangan bagai kelabang yang diusik api ke negeri kita yang permai ini.

Maka, dalam program untuk memperkenalkan Minangkabau yang permai ini, segala kalangan tentu harus dilibatkan. Sastrawan juga tentu saja. Maka dengan itu, Bapak rela memotivasi sastrawan itu, sebagaimana yang Bapak gembar-gemborkan di media masa, dengan mengeluarkan dana Rp. 5 juta (setelah dipotong pajak 15 %) untuk masing-masing karya. Upaya ini tentu membantu sastrawan, setidaknya untuk biaya penerbitan buku. Tapi mungkin tidak. Buku seperti apa kiranya yang terbit dari Rp. 5 juta (setelah pemotongan pajak 15%) itu? Namun, buku-buku sastra terbit juga di tangan mereka yang Bapak sebut pemalas itu. Dongeng-dongeng Tua (2009) Iyut Fitra, Kampung dalam Diri (2008), Pengantin Subuh (2009) Zelfeni Wimra, dan sejumlah buku sastra lainnya yang masih terkatung-katung mencari dana penerbitan.

Jika harus menilai, Bapak tentu paham bahwa kerja sastra bukanlah kerja hingar-bingar. Ia adalah kerja yang butuh perenungan yang mendalam, keseriusan yang telaten. Karena itu ia bersipat empiris. Ia tidak serta-merta menjadi ‘wah’, dianggap hebat dan menjadi agent daerahnya. Barangkali karena itu juga, ia lepas dari pengamatan Bapak. Ia lupa Tuan prioritaskan, karena ia (sastra) tidak ‘menjual’ dalam penilaian pemerintah hari ini. Bapak, Bapak bukan orang pertama yang menilai (baca:menyepelekan) karya sastrawan Sumatera Barat. Beberapa tahun belakangan Tuan Marlis Rahman—wakil Gubernur Sumatera Barat—juga telah menilai bahwa sastra (dalam hal ini Fakultas Sastra Unand) hanya melahirkan manusia yang kaya teori tapi miskin aplikasi.

Di masa Majapahit, Pak, hiduplah beberapa sastrawan yang dibiayai istana. Tersebutlah seorang empu, Prapanca namanya. Ia seperti keluar dari alur para penulis ketika itu yang memuji dan menjilat istana. Maka dari itu lahirlah Nagarakertagama. Yang menarik bukanlah tentang empu Prapanca, melainkan tentang Majapahit-nya. Kerajaan yang ada di tanah Jawa, yang dikenal memiliki ribuan balatentara yang tak takut mati, yang dalam agenda kerjanya sering melakukan perang, malah memelihara penulis. Kerajaan itu berdiri pada abad ke-13, Tuan. Hayamwuruk, sampai Raden Wijaya, Raja Majapahit itu tahu betul betapa pentingnya penulis, betapa perlunya sastrawan, pencatat sejarah, agar tidak melulu lupa.

Di abad-abad ke-13 hingga ke-18, kerajaan-kerajaan di nusantara punya penulis, punya sejarawan, punya sastrawan. Abdul Qadir Munsyi, Tuan, penulis terkenal itu dipelihara Inggris pada abad ke-19. Begitu pun Majapahit. Dan sudah selayaknya, di singgasana Bapak yang agung itu, memelihara sejumlah pengamat sastra sebagaimana dulu Raffles memelihara Munsyi . Raffles tak keliru menilai masyarakat hingga menguasai Sumatera. Bapak tentu juga paham, belajar sejarah tak semata mengetahui apa yang buruk.

*bersama teman-teman mendirikan komunitas Rumahteduh. Sedang menyelesaikan skripsi di Fakultas Sastra Universitas Andalas.

SUMBER: PADANGEKSPRES Minggu, 3 Mai 2009.

22

Seni dan Nyeni

(Catatan atas Latihan AlamUKM Kesenian Unand)

Latihan Alam Dasar, yang diadakan sejak Jumat-Minggu, 22 April 2008 mengundang banyak pertanyaan: perlukah?

45

Mereka-reka

Wajah dalam Potret
1

” Menunggu Abjad Berikut”

foto; Fatris Mohammad Faiz

Lokasi: Panorama Baru, Bukittinggi

2“Ah..Bunga…”

Foto: Fatris M.F

4“Pengisi Sudut Kanan”

Foto: Fatris Moh. Faiz

6“Lalu, …”

Foro: Fatris Mohammad F.

7“Bukan Pre Wedding”

Foto; fatris MF

8“Adegan Lorong”

Foto; Fatris Mohammad faiz

Golput

Semakin dekat pemilu, semakin sering saya tertawa. Meskipun hanya di dalam hati, ketawa yang tak sampai bunyi itu, konon, merangsang otak untuk menyehatkan tubuh. Saya tak tahu kebenaran ini, tapi yang jelas suasana pemilu benar-benar membuat saya terhibur. Keluar rumah selangkah saja, sudah bertebaran baliho para calon anggota legislatif. Wajah-wajah itu membuat saya ngengir berkepanjangan. Ada yang bergaya orator ulung dengan latar belakang gambar Soekarno menuding. Ada yang seperti berteriak dengan latar foto Megawati mengacungkan tangan. Ada yang kalem, mirip terdakwa kasus korupsi, latar belakangnya gambar Sultan Hamengku Buwono X, yang juga kalem. Calon legislator wanita seperti kontes Miss Universe, Lanjut Baca »

Kepada Taufik Ismail

Di hari-hari ketika orang banyak berteriak tentang kebenaran di jalan-jalan kota, di lorong-lorong sempit perumahan, hingga gubuk-gubuk tak terurus yang ditempeli gambar-gambar politikus, kita merasa hari-hari kita membutuhkan puisi, juga sastra.

Di Padangekspres Minggu, Fadlillah mengusulkan akan adanya sebuah pertemuan sastrawan di minangkabau karena sastra dan budaya telah kian dimarjinalkan. Ia telah dikesampingkan. Ia telah di nomor 16-kan setelah ilmu sains.

Tapi Taufik Ismail telah memulai beberapa waktu lalu. Memulai dengan sebuah gebrakan baru: rumah puisi. Di Aia Angek sana. Sebuah tempat dimana puisi didokumentasikan. Di rumah itu kelak, atau mungkin telah, disimpan dokumentasi puisi yang tiap hari berhamburan datang. Setidaknya, menilik usulan Fadhlillah tadi, satra dan budaya tidak akan termarjinalkan. Tidak akan dinomor 16 kan.

Tapi saya mulai ragu. Rumah puisi yang terletak di…yang diapit gunung dan lembah itu seperti penjara puisi. Puisi dirumahkan, ia tak lagi hidup ditengah masyarakatnya. Puisi akan marjinal dari masyarakatnya. Puisi menyublim di carut marut kota.

Taufik yang datang sebagai angkatan 66, tentu tahu, bahwa puisi tak memiliki rumah. Melainkan sebaliknya, puisilah yang membangun rumah-rumah. Ada sepotong sajak Cairil yang berkupasan masalah saja:

Rumahku dari unggun timbun sajak// kaca jernih dari luar segala nampak//kulari dari gedung lebar halaman/aku tersesat tak dapat jalan…

Kembali ke Taufik (baca:Engku Taupik)…
Mungkin karena yang berbicara adalah Taufik, maka sejenak ia didengarkan. Karena pada saat yang sejenak itu juga adalah saat ketika sastra menjadi santapan politik. Orang-orang angkat bicara tentang sastra di waktu yang sejenak itu demi untuk menunjukkan bahwa mereka, sebagai pajabat Negara peduli terhadap sastra. Saya juga baca sastra lho! Sastra sejenak menjadi kuda dengan mata tertutup. Silahkan tuan-tuan pejabat naik, menungganginya hanya untuk disebut sebagai pejabat yang peduli pada kesusastraan. Jika taufik angkat bicara, pejabat-pejabat teras daerah silahkan turut angkat bicara. Katakan, puisi taufik sejajar dengan alquran, katakan setelah membaca puisi taufik saya menjadi merinding. Wahaha… pejabat institut atau universitas yang sekalipun tak membaca sastra, silahkan angkat bicara. Wali-wali kota-kota, ca-leg-ca-leg silahkan baca puisi. Ini saat Anda memampang wajah bahwa anda peduli. Lalu setelah itu, lupakan sastra kembali.

Rumah Puisi, kelak tentu akan memberi kehangatan baru buat kesusasteraan di Minangkabau ini. Tapi adakah sebuah rumah kelak akan memingit sosok yang berada di dalamnya (puisi)? Apakah ketika puisi dirumahkan, ia tak lagi bebas menyublim bersama orang-orang yang tinggal di risau cuaca kota, juga dinginnya perkampungan? Engku Taufik harus menjawab hal ini, Ngku! Engku yang “datang-kembali” ke ranah Minang di usia senja tentu bukan hanya sekedar pulang kampung sebagaimana yang terjadi tiap hari raya. Tentu bukan sekedar melakukan ceramah-ceramah di sana sini, dengan walikota itu dan ini. Berkoar-koar berkata sampai berbusah,”masy…arrakat kita rabun membaca, pincang menulisss!!”. lalu duduk dengan orang tetua-tetua dan berbincang tentang generasi sekrang yang manja:”wah..kalau saat kami dulu..wuihh…jangan dikata, ah..tak bisa disebutkan lagi. ah..uh..ih..” mengenang…mengenang masalalu yang pahit itu, masalau yang tak mungkin terjamah oleh generasi sekarang. Masalalu yang teramat sangat berbahaya itu, masa penuh kecamuk revolusi itu.

ada sepotong sajak Chairil, Ngku:
kau datang terlampau senja/ kisahmu bagiku hanya kenangan

Demikian, Ngku!!

Salam
F.M.Faiz

Aziz

Abdul Aziz Angkat meninggal setelah keluar dari ruang kerjanya di gedung DPRD Sumatera Utara Selasa 3 Februari 2009. Ratusan pendemo yang menuntut pemekaran wilayah (provinsi) merengsek ke dalam gedung DPRD tersebut. Azis yang mengidap penyakit jantung diserang dan dilempari demonstran. Catatan hitam demokrasi di negeri ini kembali dibuka.

Siapapun yang meninggal, kita tetap bersedih akan hal itu. Namun, politik tetap berjalan. Poster-poster, terus saja bertambah banyak. Belukar-belukar politik yang tumbuh di kota dunia ketiga itu kian bercorak. Tapi adakah semua itu tidak sia-sia?

Abdul Aziz meninggal. Demonstran merangsek ke gedung DPRD Sumatera Utara itu. Mereka menggunakan kekerasan, yang kata Gandhi, jalan ketiga setelah Tuhan. Gandhi barangkali benar, demonstran mungkin tidak salah. Tapi kita tetap sedih pada tiap kematian. Polisi mencari tersangka, juga otak kejadian itu. Dan kita seperti disadarkan: demokrasi ternyata membutuhkan tumbal.(Faiz)

baca juga sumber:

http://www.surya.co.id/2009/02/03/saksi-abdul-azis-angkat-tewas-dikeroyok-demonstran/

Tulisan Sebelumnya »