Feeds:
Tulisan
Komentar

Adakah yang Bisa Bantu?

Minggu, 4 Oktober 2009 | 03:35 WIB

”Nak, adakah yang bisa bantu Amak…?” Pertanyaan perempuan itu seperti menagih kepedulian. Matanya memerah, seperti kurang tidur. Peluh di mukanya, tak hendak ia seka. Tangannya penuh debu setelah sejak pagi hingga siang sendirian memberesi rumahnya yang rata dengan tanah akibat gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat dan provinsi lain di Sumatera.

Segelas air putih dan sepinggan nasi tanpa lauk, kecuali sambal lado, menemaninya istirahat sejenak di bawah rerimbunan pohon manggis, Sabtu (3/10) siang. ”Hujan bakal turun, langit mendung. Entah ke mana Amak harus berteduh,” kata perempuan paruh baya bernama Syamsimar (50) itu.

Syamsimar yang tinggal bersama anak yang masih duduk di sekolah dasar memimpikan bisa istirahat di dalam tenda dan makan secukupnya. Selebihnya, ia berharap bantuan tenaga relawan atau TNI untuk membereskan reruntuhan.

”Syukur-syukur relawan membantu mendirikan pondok sementara untuk sekadar tempat berteduh dengan memanfaatkan material yang masih bisa digunakan. Relawan seharusnya dikerahkan untuk merobohkan dan membereskan puing-puing bangunan. Kalau dibiarkan bisa mengancam keselamatan jiwa kalau ada gempa susulan,” kata Syamsimar.

Maatar, Ketua RT 04 RW 01, Kelurahan Sungai Sapiah, Kecamatan Kuranji, Padang, menyebutkan, tidak hanya Syamsimar yang memimpikan bantuan tenda, bahan makanan, dan bantuan relawan atau tenaga TNI untuk merobohkan bangunan yang rusak parah. Banyak warga, yang karena janda, dan atau suaminya merantau, perlu bantuan relawan.

”Kebutuhan mendesak korban gempa perlu segera diadakan, terutama tenda dan bahan makanan,” kata Maatar.

Di RT 04 terdapat 67 keluarga (sekitar 300 jiwa) korban gempa. Rumah milik warga yang umumnya bekerja sebagai buruh tani itu rusak berat, tak bisa ditempati lagi.

Bantuan tersendat

Maatar mengemukakan, bantuan yang telah ia terima untuk korban sebanyak itu baru enam tenda plastik, satu kardus mi instan, 10 kaleng ikan sarden, dan 10 botol saus cabe/tomat.

Menurut Maatar, korban gempa sangat mengharapkan bantuan tenda. Satu keluarga satu tenda. Laporan sudah diberikan, tetapi baik lurah maupun camat tak pernah melihat langsung kondisi warga.

Di RW 05 Sungai Sapiah, bantuan yang sampai ke tangan korban gempa juga masih minim. ”Ada 367 jiwa korban gempa, tetapi bantuan pertama yang kami terima hanya dua karung kecil beras dan dua kardus mi instan. Bantuan pertama baru kami terima hari ini,” kata Ketua RW 05 Sudirman KS, Sabtu.

Menurut dia, warga sangat mengharapkan bantuan tenda dan bahan makanan yang mencukupi. ”Di Posko Induk Kota Padang, bantuan banyak datang, tetapi entah kenapa warga kami belum mendapatkan, kecuali dua kardus mi dan dua karung kecil beras,” kata Sudirman KS.

Di Kelurahan Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, ratusan warga yang rumahnya rata dengan tanah juga mengeluhkan bantuan yang belum sampai.

Belum ada

Penanggung jawab penerimaan bantuan di Posko Induk Kota Padang, Cory Saidan, menyebutkan, bantuan tenda belum diterima. ”Kami akan usahakan meminta ke Posko Bencana Sumatera Barat,” katanya.

Menurut Cory, keluhan warga yang mengatakan belum menerima bantuan biasa terjadi. Bantuan yang datang jumlahnya terbatas. Namun, ada pula warga yang menerima bantuan dari penyumbang yang memberikan langsung di lapangan.

Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mengemukakan, korban gempa lebih suka membuat tenda darurat di halaman rumahnya. ”Pengungsi tidak terkonsentrasi di suatu tempat pengungsian. Kebutuhan tenda yang diharapkan masyarakat akan diusahakan.”

Hingga Sabtu petang, bantuan tenda di Posko Bencana Sumatera Barat minim. ”Bantuan tenda tidak banyak,” kata petugas di bagian pendataan penerimaan bantuan di posko itu.

sumber: (yurnaldi)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/04/03353899/adakah.yang.bisa.bantu#

Sumatera Barat Hari Ini

Minggu yang penuh asap dan pasir. Hari ini hari ke-5 setelah gempa memporak-porandakan Sumatera Barat. Beragam bantuan yang datang, laut darat dan udara. Hampir tiap menit bantuan datang timpa-bertimpa. Namun restribusi tetap saja tak sampai ke sasaran.

Di Pariaman, masyarakat terpaksa menghentikan truk pengangkut bantuan karena sebelumnya tak ada yang sampai ke tangan warga. Dan masih banyak lagi cerita kekacauan yang lebih semrawut.

Pemerintah dan pejabat negeri ini sepertinya sangat tidak siap dengan bencana. Padahal, pesta-pesta demokrasi baru usai dan menghabiskan uang Negara milyaran rupiah. Quo vadis Monseur..… mau di bawa ke mana negeri ini, Tuan?

Silahkan tinggalkan komentar saudara, teman, bapak, ibu..

IMG_1166
Jika dahulu Tuan datang ke kota kecil kami, pada sore hingga malam hari, di sepanjang pantai dengan ombak berdebur dan nyiur yang melambai, akan tuan temui orang-orang yang asyik bercengkrama. Apalagi ketika malam tiba, sepanjang pantai itu pula, akan Tuan dapatkan harum jagung bakar dan suara ombak yang lebih hangat lagi. Di jalan-jalan utama kota, pedagang kaki lima menjajakan makanan yang bias Tuan nikmati sampai larut tiba.

Sejak sore itu, Rabu 30 September 2009, kota kecil kami diterjang. Orang-orang panic dan terluka, rumah dan gedung retak dan hancur,banyak diantara kami yang tertimbun.
Esok harinya orang-orang berdatangan ke kota kecil kami dengan corak dan ragam berbeda. Dari Negara mana-mana, dari daerah mana saja.

Untuk melihat gambar silahkan klik

http://fatrismohammadfaiz.multiply.com

Anoreksia Kritik

Oleh: Condra Antoni*

Dalam ilmu kesehatan, anoreksia adalah kelainan psikis yang diderita seseorang berupa kekurangan nafsu makan meski sebenarnya lapar dan berselera terhadap makanan. Kalaupun mereka makan, maka mereka akan memuntahkan kembali makanan tersebut.

Pembahasan tentang anoreksia dalam kehidupan pernah dilaukan oleh Noah St John dalam bukunya Permitted To Succeed (Izin Untuk Sukses, Interaksara, 2005). Dalam buku tersebut Noah membahas tentang apa yang disebut dengan anoreksia sukses. Ia membahas tentang bagaimana seseorang tidak bisa sukses karena dia sendiri yang menghambat dirinya untuk mencapai kesuksesan dengan mengaktifkan impuls-impuls negatif sehubungan dengan penegasian self-esteem (menghargai ketidakterbatasan kemampuan diri sendiri).

Dalam tulisan ini, penulis mencoba berurai papar tentang anoreksia kritik yang menjangkiti keindonesiaan kita. Lanjut Baca »

Donny Syofyan
Dosen Sastra Inggris Unand

Anda pasti kenal dengan Ernest Hemingway, seorang priyayi sastra sejagad? Ia sangat terkenal dengan magnum opus-nya yang monumental The Old Man and The Sea (1952). Tapi sebenarnya, ia pertama kali mengibarkan sayap keunggulannya lewat novel The Sun Also Rises (1926). Novel ini bisa dikategorikan sebagai sebuah prosa penting yang menjadi pionir mewartakan problem “generasi yang hilang” (lost generation). Novel yang mengambil latar pasca Perang Dunia I ini melukiskan geliat generasi pascaperang yang diselimuti diskriminasi, hilangnya pegangan agama, eskapisme dan ketidakmampuan untuk mengambil sikap serta bertindak. Istilah “lost generation” pertama kali tersebut dalam sebuah percakapan oleh Gertrude Stein, salah satu anggota lingkaran ekspatriat pada dekade 1920-an di Paris. Sesuatu yang dianggap spontan dan tak berarti saat pertama diucapkan tanpa disadari menjadi label bagi kalangan ekspatriat dari Amerika Serikat dan Inggris yang menolak konvensi tradisional Amerika dan Inggris demi mereguk gaya hidup yang lebih menarik di Paris, tempat yang digambarkan Hemingway sebagai negeri tak bermoral untuk mabuk dan menjalin hubungan intim.
Dengan kebiasaan nongkrong di cafe sepanjang the Boulevard Montparnasse untuk minum-minum, ngobrol dan mejeng menikmati orang-orang yang keluyuran, golongan the lost generation ini menjadi kumpulan orang-orang yang membuang jauh-jauh keyakinan dan tananan nilai sebelum perang, semisal cinta, romantisme, optimisme, kemakmuran, dan harapan. Bagi mereka, semua itu hancur lebur bukan saja bersamaan dengan kepiluan yang ditinggalkan perang tapi juga lantaran menguatnya budaya konsumersime, money Lanjut Baca »

Di saat-saat ketika kesenian skian jauh terasa dari masyarakatnya, ketika kesenian telah egois dalam batang tubuhnya sendiri, sepertinya sebuah sajak perlu kita baca kembali.

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samudra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi

Fatris Moh. Faiz

Selasa (13/1) pukul empat sore, orang-orang memenuhi teater tertutup Taman Budaya Sumatera Barar. Sebagian besar adalah pelajar.

Lebih dari sepuluh remaja yang tergabung dalam grup teater Jalan, membuat panggung bergemuruh. Suara dan hentakan kaki mereka seperti hentakan derap kebebasan orang yang baru kelur dari penjara. Penjara apa saja.

Mereka yang seharusnya ada ditempat-tempat les, atau tempat pembelajaran lainnya, sekarang berjalan di panggung dengan leluasa. Diterangi lampu dan ditonton banyak orang.

Pementasan itu berlangsung sejam. Pementasan yang diprakarsai Balai Bahasa Padang dan disutradarai S Metron M itu terlihat mencoba menjemput para remaja untuk berkesenian. Tentu tidak gampang. Lanjut Baca »

(Tanggapan atas penilaian Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di harian Singgalang, Senin, 27 April 2009 halaman B-13 yang berjudul “Sastrawan Sumbar Malas Berkarya”)

Oleh: Fatris Mohammad Faiz*

Yth. Bapak Gubernur,

Jika Bapak punya hari libur disela-sela jadwal Bapak yang padat mengurusi rakyat, datanglah ke toko-toko buku yang menjual buku-buku sastra, atau bacalah koran Minggu terbitan Jakarta (terutama halaman seni dan sastra), maka Bapak tentu akan memberi penilaian lain. Di antara sederetan buku sastra, Bapak akan menemui sederetan nama yang telah Bapak nilai sebagai sastrawan pemalas itu: Leon Agusta, AA Naavis, Rusli Marzuki Saria, Wisran Hadi, Upita Agustin, Darman Moenir, Haris Efendi Thahar, Khairul Jasmi, Yusrizal KW, Iyut Fitra, Adri Sandra, Agus Hernawan, Sondri BS, Nelson Alwi, Raudal Tanjung Banua, dan masih banyak lagi—yang kesemuanya kita ‘angkat topi’ atas karya dan penghargaan yang diraih dalam dan luar negeri. Atau yang lebih terbaru: Gus tf Sakai, yang lewat karyanya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, meraih tiga penghargaan bergengsi, yakni SEA Write Award 2004 dari Kerajaan Thailand, Hadiah Sastra Lontar 2001, dan Penghargaan Pusat Bahasa Jakarta. Sedangkan buku Perantau-nya (2007), selain terpilih sebagai karya terbaik 2008 versi Ruang Baca Koran Tempo, juga meraih Khatulistiwa Literary Award 2008, mendahului Andrea Hirata yang Bapak dengung-dengungkan itu.

Lalu, Bapak akan mulai membaca, atau membolak-balik; wacana apa yang diusung Gus tf dan beberapa penulis lainnya (yang belum ‘uzur’), seperti Iyut Fitra, Yetty A.KA, Raudal Tanjung Banua, Farizal Sikumbang, Deddy Arsya, Anda S, Sayyid Madani S, dan nama lainnya dalam buku-buku, rubrik-rubrik sastra yang telah mereka tulis dan hasilkan. Bapak tentu paham bahwa Sumatera Barat tidak hanya sebatas teritorial, dan alamnya tidak hanya indah dalam foto, tetapi sarat akan sejarah dan budaya.

Anugrah Sastra Pena Kencana, penghargaan yang diberikan terhadap karya-karya sastra yang terbit di koran, orang menyebutnya sastra koran, tahun ini juga diraih oleh beberapa penulis Sumatera Barat. Zelfeni Wimra untuk cerita pendek, Romi Zarman, Esha Tegar Putra, dan Deddy Arsya untuk karya puisi. Mereka belumlah 27 tahun, belumlah matang secara politis, Pak. Mereka masih berkutat dengan bangku perkuliahan, bergelut dengan diktat, mereka harus mengerjakan tugas-tugas akademik yang dibebankan pengajar mereka di universitas, tetapi tahukah Bapak kalau mereka ternyata dapat menelurkan puluhan tulisan, bahkan ratusan tulisan dalam usia mereka yang masih muda itu? Sayang sekali, Bapak cepat sekali menilai. Cepat sekali Bapak menilai, Pak…

Bila Bapak berkenan menghabiskan segelas kopi dan duduk di antara lapak-lapak diskusi yang sepi di ujung-ujung kampus, atau di pinggir Taman Budaya sana, Bapak tentu tahu dan sedikit mengerti, apa yang dicita-citakan dan dikerjakan orang-orang yang Bapak sebut sebagai sastrawan itu. Atau jika Bapak datang melongok ke rumahtangga mereka, ke bilik-bilik mereka, Bapak tentu akan lebih paham lagi dan Bapak tentu akan menggigit lidah Bapak sendiri. Bapak akan tahu, betapa banyak para “mujahid” sastra yang menelaah, dan berkarya. Sayangnya, tak ada forum sastra yang mewadahi. Hanya koran (nasional dan daerah), tak ada majalah sastra Sumatera Barat, tak ada forum pertemuan sastrawan sebagai wadah, tak ada, Pak…

Bapak ingin sastrawan Sumatera Barat dapat dan harus menjadi agen wisata, bukan, Pak? Karena Bapak mengambil contoh, sebelum Laskar Pelangi muncul, Belitong tidak begitu dikenal dunia luas. Bapak tentu ingin, sastrawan, lewat karya-karyanya, dapat pula memperkenalkan Sumatera Barat yang elok dan indah ini ke dunia luar. Bapak tentu tidak bermaksud menyamakan sastrawan dengan Uda-uni Sumbar barangkali, atau Minang Talenta yang juga ikut memperkenalkan Sumatera Barat ke luar.

Jika Uda-uni, Minang Talenta, atau yang semacamnya, mendapat perhatian yang besar oleh Bapak, tentu tidaklah akan disesalkan. Minang Talenta, atau Uda-Uni, Tour De Singkarak yang berkaliber internasional yang melibatkan 19 negara, memang semua itu adalah ikon budaya kita, sekaligus agent bagi pengenalan budaya Minang kita yang tinggi ini kepada masyarakat luar. Agar keindahan alam dan keelokan budaya kita ini dapat dikenal pula oleh orang-orang luar negeri. Agar mereka berdatangan bagai kelabang yang diusik api ke negeri kita yang permai ini.

Maka, dalam program untuk memperkenalkan Minangkabau yang permai ini, segala kalangan tentu harus dilibatkan. Sastrawan juga tentu saja. Maka dengan itu, Bapak rela memotivasi sastrawan itu, sebagaimana yang Bapak gembar-gemborkan di media masa, dengan mengeluarkan dana Rp. 5 juta (setelah dipotong pajak 15 %) untuk masing-masing karya. Upaya ini tentu membantu sastrawan, setidaknya untuk biaya penerbitan buku. Tapi mungkin tidak. Buku seperti apa kiranya yang terbit dari Rp. 5 juta (setelah pemotongan pajak 15%) itu? Namun, buku-buku sastra terbit juga di tangan mereka yang Bapak sebut pemalas itu. Dongeng-dongeng Tua (2009) Iyut Fitra, Kampung dalam Diri (2008), Pengantin Subuh (2009) Zelfeni Wimra, dan sejumlah buku sastra lainnya yang masih terkatung-katung mencari dana penerbitan.

Jika harus menilai, Bapak tentu paham bahwa kerja sastra bukanlah kerja hingar-bingar. Ia adalah kerja yang butuh perenungan yang mendalam, keseriusan yang telaten. Karena itu ia bersipat empiris. Ia tidak serta-merta menjadi ‘wah’, dianggap hebat dan menjadi agent daerahnya. Barangkali karena itu juga, ia lepas dari pengamatan Bapak. Ia lupa Tuan prioritaskan, karena ia (sastra) tidak ‘menjual’ dalam penilaian pemerintah hari ini. Bapak, Bapak bukan orang pertama yang menilai (baca:menyepelekan) karya sastrawan Sumatera Barat. Beberapa tahun belakangan Tuan Marlis Rahman—wakil Gubernur Sumatera Barat—juga telah menilai bahwa sastra (dalam hal ini Fakultas Sastra Unand) hanya melahirkan manusia yang kaya teori tapi miskin aplikasi.

Di masa Majapahit, Pak, hiduplah beberapa sastrawan yang dibiayai istana. Tersebutlah seorang empu, Prapanca namanya. Ia seperti keluar dari alur para penulis ketika itu yang memuji dan menjilat istana. Maka dari itu lahirlah Nagarakertagama. Yang menarik bukanlah tentang empu Prapanca, melainkan tentang Majapahit-nya. Kerajaan yang ada di tanah Jawa, yang dikenal memiliki ribuan balatentara yang tak takut mati, yang dalam agenda kerjanya sering melakukan perang, malah memelihara penulis. Kerajaan itu berdiri pada abad ke-13, Tuan. Hayamwuruk, sampai Raden Wijaya, Raja Majapahit itu tahu betul betapa pentingnya penulis, betapa perlunya sastrawan, pencatat sejarah, agar tidak melulu lupa.

Di abad-abad ke-13 hingga ke-18, kerajaan-kerajaan di nusantara punya penulis, punya sejarawan, punya sastrawan. Abdul Qadir Munsyi, Tuan, penulis terkenal itu dipelihara Inggris pada abad ke-19. Begitu pun Majapahit. Dan sudah selayaknya, di singgasana Bapak yang agung itu, memelihara sejumlah pengamat sastra sebagaimana dulu Raffles memelihara Munsyi . Raffles tak keliru menilai masyarakat hingga menguasai Sumatera. Bapak tentu juga paham, belajar sejarah tak semata mengetahui apa yang buruk.

*bersama teman-teman mendirikan komunitas Rumahteduh. Sedang menyelesaikan skripsi di Fakultas Sastra Universitas Andalas.

SUMBER: PADANGEKSPRES Minggu, 3 Mai 2009.

22

Seni dan Nyeni

(Catatan atas Latihan AlamUKM Kesenian Unand)

Latihan Alam Dasar, yang diadakan sejak Jumat-Minggu, 22 April 2008 mengundang banyak pertanyaan: perlukah?

45

Mereka-reka

Wajah dalam Potret
1

” Menunggu Abjad Berikut”

foto; Fatris Mohammad Faiz

Lokasi: Panorama Baru, Bukittinggi

2“Ah..Bunga…”

Foto: Fatris M.F

4“Pengisi Sudut Kanan”

Foto: Fatris Moh. Faiz

6“Lalu, …”

Foro: Fatris Mohammad F.

7“Bukan Pre Wedding”

Foto; fatris MF

8“Adegan Lorong”

Foto; Fatris Mohammad faiz

Tulisan Sebelumnya »