Juni 21, 2008 oleh rumahteduh
:Fatris Moh. Faiz
“Aku ingin punya Bapak yang tidak korupsi, Ibu yang tidak suka menonton sinetron, dan teman-teman yang suka membaca…”
Lalu orang bertepuk tangan, berdecak kagum setelah mendengar seorang perempuan remaja mengucapkan kata-kata itu. Nilna R. Isna, begitu namanya ia eja dengan terbata-bata. Kita yang mendengarnya barangkali kagum. Atau berbisik ke hati sendiri: mungkinkah? Berbahayakah? Lanjut Baca »
Ditulis dalam ESAI DAN OPINI | 22 Komentar »
Juni 2, 2008 oleh rumahteduh

Foto: Fatris Moh. Faiz
opini: Fatris Moh. Faiz
“Ini Jakarta, Intan, Jakarta!” kata itu keluar dari mulutnya, si Lenggang Dunia pada Istrinya Intan Suri. Apa yang dikatakannya tentang Jakarta, mungkin tak lebih dari apa yang dipikirkan puluhan ribu perantau lain yang datang, menetap, dan tenggelam dalam kota jangkung yang angkuh itu.
Ia datang beserta istri dan dua anaknya setelah kampung tak lagi menjanjikan hidup, kampung tak lagi menjanjikan kemapanan. Mereka berangkat untuk sebuah harapan. Siapa yang bisa membendung ingin dalam diri manusia? Lanjut Baca »
Ditulis dalam ESAI DAN OPINI, TEATER | 12 Komentar »
Juni 2, 2008 oleh rumahteduh
(catatan atas pementasan Zona X)

Opini: Fatris Moh. Faiz
Mereka datang jauh dari Padangpanjang. Disambut hujan, mereka seperti mengingatkan kita kembali tentang segala keruwetan hidup yang tak menentu. Tentang kecemasan pada kota yang akan tenggelam, atau kemurungan-kemurungan yang bisa muncul tiba-tiba. Dalam guyur hujan, semua itu serba mungkin. Lanjut Baca »
Ditulis dalam ESAI DAN OPINI, TEATER | 9 Komentar »
Juni 2, 2008 oleh rumahteduh

RETAK PERADABAN
kuamanatkan darah pada lawan
di sini, gentar genderang basah
memaku pedang pahlawan
dalam pigura kaca merah jambu
kupilah dahulu perih kelahiran
langkah peradaban seakan singgah
berlama-lama
bermanja-manja
di rahim perempuan tua
yang tak menyaring tawar susu Lanjut Baca »
Ditulis dalam PUISI | 8 Komentar »
Juni 2, 2008 oleh rumahteduh
BUAT SAUDARA(I) BER-ID NOVRA:
BEBERAPA HARI LALU SAUDARA SEPERTI MENGECAM REDAKSI RUMAHTEDUH. KAMI KUTIP…
1
di/pada Mei 5, 2008 pada 6:52 pm
novra
Kepada tuan redaktur yang terhormat, sampai saat ini saya belum menerima honor respon saya yang kesepuluh, mohon dicek lagi. Terima kasih
HONOR RESPON? kami tak pernah memberi honor kepada tiap respon(den).
2
di/pada Mei 8, 2008 pada 9:01 am
novra
kepada tuan redaktur yang terhormat, jadi bagaimana solusinya, apa perlu saya ulang mengetik nomor rekening saya disini. Terima kasih
DAN SEBELUMNYA SAUDARA (i) TELAH MENGIRIMKAN NOMOR REKENING KEPADA KAMI. HONOR APA YANG SAUDARA MAKSUD? SEDANG KAMI TAK PERNAH MEMPUBLIKASIKAN TULISAN SAUDARA, JUGA KAMI TAK PERNAH MENERIMA KIRIMAN TULSIAN DARI SAUDARA.
SEANDAINYA SAUDARA MENGIRIM TULISAN KEPADA KAMI, DAN LAYAK TERBIT DI MEDIA (BACA: BLOG) RUMAHTEDUH INI, MAKA SAUDARA MEMANG LAYAK MENERIMA HONOUR DARI KAMI.
NAMUN, MENGENAI HONOR YANG SAUDARA MAKSUD, KAMI MEMANG TIDAK PAHAM. HARAP SAUDARA MENGKLASIFIKASIKANNYA LEBIH JELAS. SEANDAINYA RESPON YANG SAUDARA TAMPILKAN LAYAK KAMI BERI HONOR, KAMI AKAN DISKUSIKAN HAL INI DENGAN PENANGGUNG JAWAB RUBRIK-RUBRIK TERLEBIH DAHULU.
TERIMAKASIH
REDAKTUR
Ditulis dalam PENGUMUMAN | 62 Komentar »
Mei 26, 2008 oleh rumahteduh
Oleh: Edo Virama Putra
Bahasa gambar merupakan bahasa yang sulit dipahami ketika seseorang menafsirkannya. Ia disampaikan lewat gambar, bukan kata. Dari bahasa gambar makna akan tersampaikan kepada setiap orang. Begitu juga dengan bahasa gambar bergerak; bahasa film, yang merupakan media visual untuk menyampaikan sesuatu. Dari film akan tampak gambar yang berbicara secara keseluruhan. Ia dibentuk oleh serangkaian peristiwa yang direkam oleh sebuah alat yang kita kenal dengan kamera, kemudian hasil rekaman itu diolah kembali lewat editing. Dan barulah ia dikenal dengan film(gambar bergerak). Lanjut Baca »
Ditulis dalam ARTIKEL DAN RESENSI | 13 Komentar »
Mei 26, 2008 oleh rumahteduh

Oleh: Benny S Svarna
Bandung, Agustus 2005
Berawal dari beberapa anak muda yang gandrung dengan baris kata-kata yang kemudian disebut syair, puisi, atau sajak. Mereka kemudian dengan mata yang binar seperti seorang gadis kecil sepakat untuk membuat sebuah pertemuan apresiasi dari dan untuk bersama; mensiasati ruang sempit hegemoni sastra di tanah lahir mereka sendiri. Beberapa orang mulai berdatangan, kumpul, suasana kian ramai, perlahan acara kian meriah, di sesudut ruang orang mulai kembali merapal bait-bait syair dengan gairah muda yang meluap-luap. Ini kebudayaan! Lanjut Baca »
Ditulis dalam ESAI DAN OPINI | 3 Komentar »
Mei 26, 2008 oleh rumahteduh

Membaca sajak Zulham seumpama membaca peta hari-hari yang sakit, barangkali ada yang tak beres. Bila dari keenam sajak Zulham bercerita tentang semangat, juga upaya dalam sakit, adalah sakit yang benar-benar sakit?
serupa apa kiranya bau cintamu?
sama halnya dengan lelehan bijih permata
Pada kamar nomor 115 ia mempertanyakan. ia, Zulham ingin mengangkat, setidaknya mencium bau cinta. biar kelak di luar bisa membedakan: mana bangkai dan mana cinta. Lanjut Baca »
Ditulis dalam PUISI | 1 Komentar »
Mei 14, 2008 oleh rumahteduh
cerpen Zelfeni Wimra
Saya heran. Hari raya masih lama. Ada sekitar tiga minggu. Persediaan ternak pedaging sudah melebihi perkiraan kebutuhan masyarakat. Tapi, ternyata masih kurang. Saya dan beberapa toke ternak yang lain terpaksa menambah sembelihan.
“Kamu masih baru berdagang di sini. Wajar kamu tidak percaya. Kami yang sudah lama berjualan di sini sudah biasa menghadapi ini. Tiap tahunnya memang begini,” Lanjut Baca »
Ditulis dalam CERPEN | Tidak ada komentar »
Mei 14, 2008 oleh rumahteduh

Hari ini, 14 Mei. Mei yang tenang. Tapi Tidak 60 Tahun lalu, ketika Israel memproklamirkan diri sebagai sebuah negara. Di tahun 1948 itu, sebuah negara berdiri dengan sebuah konsep.
Sebagai sebuah negara, apa pandapat anda tentang Israel? silahkan tinggalkan komentar di hari ulang tahun Israel yang ke 60 ini.
Ditulis dalam BERITA | 20 Komentar »